Welcome N Join Us

Selamat datang di situs kami. semoga tulisan-tulisan kami dapat bermanfaat untuk anda

Kamis, 09 Agustus 2007

REMBULAN DI PAGI MATAHARI (PART 1)

Ia datang setiap saat langit berganti
Ketika semua nafas kembali dalam sadar
Ia serukan kekalahannya pada dunia
Dan membangunkan lawannya
Bukan untuk mengeluh atau memaki penuh benci
Tapi untuk berikan semangat dan kekuatan
Pada lawan yang begitu bersinar baginya
Demikianlah yang dilakukan Rembulan di pagi Matahari
Di setiap hari yang mereka lalui
Di atas langit yang sama
Juni 2007
By, Ressa Novita (Ocha)
Pukul 6 sore, pada jam-jam itulah Matahari merasakan kantuk menyerangnya dengan begitu dashyat. Saat itu tanpa berpikir panjang ia segera mengucap salam perpisahan pada sahabatnya, para awan, melambaikan tangan pada kawan-kawan burung yang hendak kembali ke sarang, setelah itu meredupkan sedikit sinarnya kemudian menutup mata dari indahnya dunia. Dan semua itu berulang setiap hari yang ia lalui.
Ia sadar tak akan selalu semudah itu ia terlelap, karena itu seringkali ia memanggil sekelompok Angin untuk menyejukkan tubuhnya dan tak lupa meminta beberapa Bintang yang lebih dahulu datang untuk menyanyikan sebuah lagu tidur dengan melodi nan lembut untuknya. Maka ia pun akan benar-benar pulas dalam peraduannya yang mulai mendingin.
Matahari tidak pernah memikirkan ataupun perduli pada dunia yang baru saja ia sembunyikan cahayanya. Ia tak pernah tahu dan tak pernah mau tahu, bahwa ketika ia bernafas lega dalam tidur nyenyaknya, dunia lemah, begitu juga dengan segala isi yang ada di dalamnya.
Saat itulah Rembulan datang, mencoba berdiri menggantikan posisi Matahari. Tapi sayangnya Rembulan begitu dingin, tak sedikitpun kehangatan Matahari yang ada padanya. Lalu bagaimana ia dapat menghangatkan dunia? Bagaimana pula ia dapat memberikan cahaya untuk mengusir kegelapan ini? Dalam lamunannya Rembulan putus asa. Ia sadar, ia tak sehebat Matahari. Ia pun tak akan mendapat pujian sebanyak yang didapat Matahari. Matahari hanyalah angan-angan bagi Rembulan.
“Jangan sedih!” suatu hari sebuah Bintang berbisik padanya.
Saat itu Rembulan melemparkan tatapan sinis pada si Bintang.
Ia begitu mungil, seratus bintang macam ia pun tak akan mengalahkan ukuran tubuhku. Tapi ia memiliki apa yang selama ini aku inginkan, cahaya. Ia bahkan memiliki cahaya yang amat terang. Dunia dan isinya pasti akan sangat menikmati keindahannya. Jujur, aku iri padanya. Batin Rembulan.
“Ambillah cahaya Matahari sebanyak yang kamu mau!”
Mendengar lanjutan kata-kata Bintang, Rembulan segera menghilangkan pemikirannya tentang Bintang yang semula membuatnya terlihat sedikit tidak ramah.
“Tapi, bagaimana dengan Matahari?! Apa dia akan baik-baik saja jika aku mengambil cahayanya?!” Tanya Rembulan gelisah.
“Hahaha…” Bintang tertawa kecil.
Bagi Bintang baru kali ini ia melihat mahluk langit yang sedemikian polos dan bodohnya. Apakah mahkluk langit memiliki perasaan sepeka manusia?! Mengkhawatirkan mahkluk lain! Apa mungkin?! Batin Bintang.
“Kita mahkluk langit, bukan manusia atau sejenisnya yang hidup dan melangkah secara horizontal. Memiliki apa yang kita inginkan lebih penting dari apapun. Kenapa kamu harus memikirkan yang akan terjadi pada Matahari?! Toh, ia tidak akan tahu. Ia tak akan terbangun sebelum Ayam-ayam di bumi berkokok. Lagipula kamu kan tahu sendiri, cahayanya tidak akan pernah habis. Tuhan memberinya kepercayaan untuk menyinari seluruh Bima Sakti ini. Ia dianugrahi cahaya abadi yang tak akan redup sekalipun kiamat datang berulangkali dan menghancurkan kita semua”
“Tapi…”
“Tapi apalagi?! Maksud kamu kan baik, ingin memberi kebahagiaan pada dunia di saat Matahari tidak memperdulikan mereka lagi. Ambillah sebanyak mungkin cahayanya! Maka dunia akan mencintai kamu seperti dunia mencintai Matahari”
Bintang berhenti bicara. Membiarkan Rembulan larut dalam pikirannya untuk mempertimbangkan saran Bintang.
Satu hari, satu minggu, satu bulan. Akhirnya Rembulan bertekad bulat untuk mengambil cahaya Matahari. Lebih tepatnya mencuri. Tapi, sungguh Rembulan tidak ingin melebihi Matahari, karena ia sangat mengagumi kehangatan tunggal yang dimilikinya.
Lahirlah Rembulan sebagai sosok yang baru. Dengan cahaya redup yang indah. Cahaya yang menyelimuti tubuhnya bahkan tak setengah dari yang dimiliki Matahari. Ruang kehidupan ini tetap gelap, namun semua makhluk akan merasakan cahayanya setiap kali menatap langit. Dan sejak saat itu ia begitu dikagumi kala Matahari meninggalkan dunia dalam keadaan gelap tanpa cahaya.
Bintang-bintang menjadi mahluk langit yang paling bahagia, kini mereka dapat menikmati cahaya yang begitu hebat, harapan yang tak akan terwujud jika mereka terus menanti keajaiban datang dan membangunkan Matahari sebelum waktunya.
Para Awan menari kegirangan, mereka senang karena selama 24 jam mereka bermandikan cahaya. Makhluk bumi tak akan menganggap mereka hilang bersama Matahari lagi. Biar mahluk bumi tahu, ada atau tidak Matahari, para Awan tak pernah meninggalkan mereka.
Burung-burung malam menyerukan puji-pujian kepada Rembulan. Akhirnya mereka tak lagi kesulitan mencari mangsa. Cahaya Rembulan bagi mereka sangat cukup untuk membantu mereka. Terang namun dingin. Itu lebih baik dibandingkan Matahari yang akan membunuh mereka dengan cahaya panasnya.
Serangga-serangga malam tak henti-hentinya bernyanyi. Mereka menghabiskan waktu sambil menikmati keindahan langit dengan cahaya redup Rembulan dipadu dengan kilauan Bintang-bintang dan tarian Awan nan lembut. Mereka sangat menyukai kehadiran Rembulan. Dan berharap untuk selamanya akan terus seperti ini.
Kebanggaan terbesar dirasakan Rembulan ketika semua manusia mengelu-elukan keindahan cahayanya. Mereka tak sekalipun melupakan kehangatan redup yang mengantar mereka memasuki gerbang di alam yang berbeda, alam mimpi yang penuh dengan keajaiban dan harapan.
Rembulan bagaikan surga bagi mereka semua yang dianugrahi penglihatan sempurna, kecuali Matahari. Si pemilik cahaya Rembulan.
* * *
Ketidaktahuan menaungi cahaya indah Matahari di pagi hari. Seperti biasa ia akan terbangun dengan keengganan menyapa dunia. Biasanya ia akan bergumam barang sejenak setelah ia merasa mual untuk terus menutup mata. Kadang mengeluh akan jenuhnya hidup, kadang berkomentar tentang ketidakadilan dunia yang seringkali dilihatnya, bahkan kadang ia mencibir pelan kepada makhluk-makhluk di sekitarnya yang menurutnya janggal atau terlihat menyebalkan. Setelah selesai dengan rutinitas demikian, ia akan kembali kepada dirinya semula. Yang setiap kali menatap luasnya langit, birunya laut, tingginya gunung dan megahnya kota-kota ciptaan manusia , dengan riang ia akan berseru “Oh, alangkah indahnya dunia!”
Suatu pagi, ia terbangun sebelum Ayam-ayam milik Manusia-manusia di bumi membangunkannya. Sapaan hangat dengan suara yang begitu merdu melintasi pendengarannya.
“Selamat pagi, Matahari!” untuk ke tiga kalinya suara itu datang, membuat Matahari benar-benar harus membeningkan pandangannya yang masih terasa berat.
Segera Matahari menatap ke atas langit. Saat ia berhasil menajamkan mata, ia menemukan bola angkasa yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Bola itu mengeluarkan cahaya, sedikit redup, dan jika terus diperhatikan cahaya itu terus meredup.
Saat melihat cahaya bola itu terus meredup, ia teringat dengan kata-kata Tuhan yang diucapkan padanya milyaran tahun yang lalu, ketika Ia selesai menciptakan bumi.
“Tidak ada cahaya yang dapat menandingi cahaya tubuhmu, kecuali cahaya tunggal Ku. Cahaya apapun akan terus meredup dan mati tanpa sisa, jika bertemu dengan cahayamu. Termasuk bintang, pelangi maupun cahaya-cahaya hebat buatan manusia”
Ah, benar. Dia meredup karena aku terbangun. Mungkin dia akan bersinar lebih lama seandainya saja ia tidak membangunkanku. Padahal dia memiliki cahaya yang sangat cantik, meskipun tidak banyak. Batin Matahari.
Dan dia sangat ramah. Dia tak henti tersenyum padaku.
“Selamat pagi!” Matahari membalas sapaan bola cantik yang tak dikenalnya itu dan tak lupa melemparkan senyuman tanda bahwa Matahari amat senang bertemu dengannya.
Setelah itu Matahari tak lepas memandangnya. Ia bahkan melupakan rutinitasnya di setiap pagi. Dan tidak menyerukan keindahan dunia. Ia terbuai keindahan sesosok cahaya yang sama sekali tidak dikenalnya. Mendengar perihal keberadaannya pun tidak.
* * *
“Ada apa dengan mu, Matahari?! Kamu lupa menyapaku pagi ini! Beberapa pagi sebelumnya juga! Kamu bahkan tidak menghiraukan kedatanganku!” tanya seekor kelelawar dengan nada sedikit meninggi. Maklum, sejak tadi Kelelawar sengaja berdiri di depan Matahari, namun sedikitpun Matahari tidak menyadari kehadirannya. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Kelelawar.
“Matahari!” ulang Kelelawar.
“Ah, pagi Kelelawar!” sapa Matahari singkat.
Setelah itu ia kembali menghiraukan Kelelawar dan melanjutkan rutinitas barunya yang sama sekali belum dimengerti teman-temannya, tak terkecuali Kelelawar.
“Matahari!” panggil Kelelawar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
“Ehm?!” sahut Matahari ringan. Dan ia masih belum benar-benar menghiraukan Kelelawar.
“Apa sih yang kamu lihat sampai-sampai kamu melupakan segalanya?!”
“Aku tidak melupakan apapun!”
Kelelawar mencoba mengikuti arah pandangan Matahari. Dan ia tak melihat apapun yang menarik kecuali langit yang hampir seluruhnya bermandikan cahaya Matahari.
“Ah, sudahlah! Kamu semakin panas dan membuat pandanganku semakin gelap. Kalau aku harus menunggumu menjawab pertanyaan sederhanaku. Bisa-bisa aku mati terbakar disini”
Tanpa memperdulikan Matahari yang juga tidak memperdulikannya, Kelelawar mulai mengepakkan sayap-sayap tipisnya untuk terbang kembali ke pohon tempat tinggalnya.
“Eh, tunggu!”
Tahan Matahari, tiba-tiba. Hampir saja Kelelawar hilang keseimbangan mendengar perintah Matahari.
“Apa?!” tanya Kelelawar, judes.
“Apa ada bola angkasa bercahaya yang menyerupai aku di malam hari?”
“Maksudmu Rembulan?!”
“Oh, jadi namanya Rembulan. Berarti sekarang dunia tidak lagi gelap saat aku tertidur?”
“Kamu salah! Dunia selalu gelap saat kamu tertidur, sekalipun ada 100 Rembulan yang menggantikanmu. Dia begitu kecil dan redup, bahkan aku tidak yakin kalau cahaya yang dimilikinya alami. Tidak seperti kamu. Duh, aku pulang dulu ya! Panas nih!”
“Dan dia akan pergi saat aku terbangun?!”
“Bukannya pergi, tapi tak terlihat. Seperti kamu membuat bintang-bintang tak terlihat. Sudah ah! Jangan tanya lagi!”
“Dan dia tidak terdengar lagi suaranya?!”
“Itu karena kamu berotasi menjauhinya!”
Setelah Kelelawar berlalu, Matahari kembali menatap ke arah bola angkasa yang kini dia kenal sebagai Rembulan. Tapi, terlambat, ia sama sekali tidak dapat melihatnya lagi.
“Oh, padahal aku ingin terus melihatmu di langit ini, Rembulan!”
* * *
Pagi ini Matahari terbangun oleh sapaan Rembulan, sama seperti 100 pagi yang ia lalui sejak kehadiran Rembulan di langit fajar yang seharusnya hanya miliknya. Matahari rela berbagi dengannya, toh ia tidak bertahan lebih dari 30 menit. Lagipula Matahari merasa teramat lebih baik setiap kali terbangun dengan sapaan Rembulan. Membuka mata disertai senyuman bagi Matahari sudah sangat mewakili kalimat yang biasa diucapkannya sebelum kehadiran Rembulan “Oh, indahnya dunia!”.
100 hari berlalu hanya dengan sapaan selamat pagi dari kedua belah pihak, dan keadaan itu terlihat sangat membosankan bagi setaman bunga matahari yang setiap saat mengikuti gerak-gerik Matahari. Mereka sepakat mendorong Matahari untuk memulai pembicaraan.
“Tanyakan padanya, apa yang dia lakukan dihari sepagi ini?” saran setangkai bunga matahari.
“Jangan! Jangan! Mulailah pembicaraan dengan memuji keindahannya!” saran setangkai bunga matahari yang lainnya.
“Bukan begitu! Berbasa-basilah! Tanyakan, apa kamu tidak lelah membangunkanku setiap pagi?”
“Sudah-sudah! Biar aku bertanya sendiri, kalian tidak usah mengajariku!”
Pagi-pagi dengan menghemat kata telah berakhir. Matahari tak lagi sungkan meneriakkan nama Rembulan. Rembulan pun dengan senang hati menceritakan kisah-kisah lucu karangannya sendiri dan membuat pagi Matahari penuh tawa.
“Terimakasih, Rembulan! Kamu selalu ada setiap kali aku membuka mata!”
“Jangan sungkan, apa yang aku lakukan tidak seberapa dibandingkan pengorbananmu pada dunia dan seluruh isi bima sakti ini”
“Ah, apa benar? Mahluk bumi bermimpi saat tidur di malam hari”
“Yah, dan mereka menikmati mimpi mereka”
“Seberapa banyak Bintang yang menemanimu? Oh, senangnya! Mereka begitu indah. Tapi mereka tidak bisa menemaniku. Aku terlalu silau dan panas”
Jika bukan karena bujukan setaman bunga matahari mungkin Matahari tidak akan mengenal Rembulan lebih dari kekaguman akan keindahannya. Begitu juga dengan Rembulan.
Kini, pagi adalah 30 menit penuh arti bagi mereka berdua. Menit berikutnya menjadi lebih berarti bagi Matahari, karena ia percaya Rembulan tak akan pergi meninggalkan pagi miliknya. Sekarang, esok, ataupun lusa. Akan mereka rajut cinta, bersama. Untuk persembahkan kehangatan cahaya pada dunia di dua waktu yang berbeda.

Tidak ada komentar: