Welcome N Join Us

Selamat datang di situs kami. semoga tulisan-tulisan kami dapat bermanfaat untuk anda

Kamis, 20 September 2007

Barisan Makna

Ketika Sang Surya elok bersanding mutiara pagi
Itu kasih di balik sayap-sayap hangatnya
Ketika Peri Surga nyanyikan senandung alam
Itu senyum di antara merdu indahnya
Ketika seorang Hawa menarikan jemari dengan sutra
Itu cantik di dalam ketulusannya

Ketika aku melemparkan rasa menjauh dari hati
Itu luka akan kepedihan jiwa
Ketika aku berbisik dalam diam
Itu keluhan lelah akan perjalanan
Ketika aku berdusta dalam kejujuran
Itu tangis dalam tawa kebahagiaan

Ketika langit hilang cahaya hidup
Itu mimpi untuk hatiku
Itu mimpi untuk semua jiwa
Itu mimpi untuk dunia

Dan ketika mimpi terbaring bersama setangkai mawar putihmu
Itu cinta yang akan menghapus barisan makna yang pernah ada dalam goresan penaku


Karya Manis oleh : Ressa Novita (Ocha)

Selasa, 18 September 2007

Sayap Putih Ini Milikku!!!

Sepasang sayap putih ini milikku!
Sang Pencipta Jiwa mengukir namaku di setiap helai bulunya
Ia juga sisipkan doa di setiap sisinya
Supaya kuat aku melayang tanpa beban yang berat

Sepasang sayap putih ini milikku
Seharusnya arah perjalananku juga!

Aku dihadiahkan indera sempurna untuk merasa
Baiknya rasa itu menjadi penentu kemana aku harus terbang
Langit ke lima, ke enam, ke tujuh...
Atau tidak kugunakan di atas langit
Seharusnya pilihan ada padaku!

Bukankah Sang Pencipta Jiwa yang menarikku untuk bangkit dan hidup
Menghadiahkan indera sempurna agar kunyaman merasa
Sepasang sayap putih maya agar aku tidak hanya duduk diam

Seharusnya dunia mengerti
Ia juga alami hidup dengan nafas yang sama
Seharusnya dunia mengerti
Seperti gemintang lantunkan semangat untuk malamku

Aku ingin terbang kemana aku ingin terbang
Sekalipun langit pilihanku menuntut imbalan darah dan airmata
Karena sayap putih ini milikku

Karya : Ressa Novita

Selasa, 11 September 2007

Launching novel dan kumpulan cerpen, serta lomba

Tanggal 3 November 2007 nanti Komunitas Penulis Jakarta akan mengadakan launching novel I'm Sorry! karya Rachmat Nugraha dan kumpulan cerpen The Mucus karya Ressa Novita di auditorium Universitas Satya Negara Indonesia. Selain itu, untuk memeriahkan launching tersebut Komunitas Penulis Jakarta juga mengadakan lomba baca puisi dan lomba musikalisasi puisi untuk pelajar SMA.
untuk itu, kami mengundang seluruh pelajar SMA/sederajat di Jakarta untuk datang menghadiri acara tersebut dan mengikuti lomba.
keterangan lebih lanjut :
(021) 710 45557 (ressa)
0899 9925 301 (Rachmat)

Pelatihan Penulisan Kreatif perdana KPJ dan USNI sukses

Akhirnya, berkat kerja sama yang baik antara Komunitas Penulis Jakarta dengan Universitas Satya Negara Indonesia, acara Pelatihan Penulisan Kreatif untuk pelajar SMA yang diselenggarakan pada tanggal 8 September 2007 yang lalu berjalan sukses.
Acara perdana Komunitas Penulis Jakarta ini menghadirkan Bambang Widiatmoko, sastrawan beken sebagai pembicara dan dihadiri oleh sekitar 10 sekolah, antara lain SMK Mardi Bhakti, SMA Tri Arga, SMK 63, SMK PGRI 28, SMA Yadika 4, SMA 90, SMA Yadika 2, SMA Yadika 3, SMK 13, dengan jumlah peserta 60 orang.
Acara ini bisa dikatakan sukses, karena dengan persiapan yang hanya 2 minggu dan serba dadakan tapi cukup mendapat respon yang baik dari para pelajar.
Thank's for all

Sejarah lewat sastra? Membosankan atau menarik?

Sejarah mengungkap fakta. Sastra melestarikannya...

Sejarah adalah masa lalu, yang diceritakan kembali sejak kita masih berbaju dan bercelana merah. Oleh sang guru tentunya. Tak jarang kita menahan kantuk atau bosan yang berkepanjangan sampai menunggu bel sekolah yang tak kunjung berbunyi. Tidak begitu banyak pula para pengagum sejarah pada masa kita masih bercelana merah atau bahkan sampai bercelana abu - abu. Sejarah menjadi suatu pilihan yang menarik jika sang guru sangat mahir memainkan kata - katanya dengan intonasi yang berbeda dalam menceritakan kembali kisah tersebut. Jauh lebih seperti dongeng mungkin... maka semua mulut akan dengan tiba - tiba ternganga dan semua mata membelalak dengan lebarnya karena keheranan. Namun tidak banyak pemandangan tersebut saya temui di sela - sela jam sekolah yang mengungkap tentang seluk beluk negara melalui sejarah. Lebih sering kapur yang tiba - tiba melayang dan mendarat di dahi sehingga menyadarkan kita sejenak yang telah membuat sang guru menjadi kesal!

Mungkin mendengar pengalaman ini membuat kita berfikir dua kali untuk menjadi guru sejarah. Mungkin... itu hanya perkiraan saya saja yang menilai dari sebagian masa kecil sampai remaja harus mengikuti mata pelajaran sejarah. Jujur, tidak banyak fakta sejarah yang saya ingat sekarang apabila ada pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang seputar sejarah. Kalau dipikirkan lebih dalam, ada perasaan malu... apa saya kurang mencintai sejarah negara saya sendiri sampai - sampai tidak banyak fakta yang saya tahu walaupun saya pernah mengecap pendidikan sejarah. Namun ada hal menarik yang saya temui baru - baru ini setelah saya berkunjung ke sebuah toko buku dan pandangan saya tertuju kepada satu novel fiksi dengan cover yang cukup berbeda dengan yang lainnya. Sebuah novel karya Langit Kresna Heriadi, Gajah Mada.

Damai yang menyelimuti bumi Majapahit terkoyak di ujung pagi. Kabut tebal yang mengungkung tak menghentikan genderang perang yang ditabuh oleh para Rakrian Dharmaputra Winehsuka - menebar tembang duka. Ra Kuti memberontak, menggulingkan pemerintahan Jayanegara yang dilindungi pasukan Bhayangkara. Kemegahan bumi Wilwatika seketika musnah. Bau darah, aroma pembantaian, debu penjarahan bertaburan...

Itulah sebagian permainan kata - kata yang dituliskan oleh Langit Krisna Heriadi dalam novel fiksinya, Gajah Mada. Sejenak mungkin terasa berat melihat novelnya yang tebal dan judulnya yang mungkin membuat kita berfikir, apakah ini hanya sekedar cerita sejarah yang membosankan? Seperti yang kita dengar di bangku sekolah?

Tapi sebaiknya Anda jangan dulu berkomentar novel ini akan menjadi novel membosankan ataupun tidak menarik sama sekali. Justru dengan membaca novel ini, Anda seakan dibawa ke alam Majapahit dulu. Anda seakan bertemu dengan tokoh - tokoh yang digambarkan di dalam novel tersebut. Novel fiksi ini mencoba mengajak pembaca menelusuri seluk beluk Majapahit dengan sang Gajah Mada yang mungkin cukup dikenal dengan sumpah palapanya saja. Tetapi sudahkah Anda mencari tahu lebih jauh lagi mengenai sang Gajah Mada tersebut?

Bagi saya pribadi, sejarah mungkin bisa saja menjadi menyenangkan dan menarik untuk digali dalam jika saja sejak di bangku sekolah sudah saya temukan media menarik seperti ini. Sejarah yang diungkap melalui sastra...

Mungkin saja saya akan dengan mudah mengingat banyak data atau informasi serta nama - nama yang terkait dengan sejarah tersebut bila saja saya sudah temukan karya sastra yang mencoba menguak fakta sejarah tersebut. Memang belum banyak penulis yang mengkonsentrasikan dirinya dengan membuat karya sastra yang melibatkan latar belakang sejarah. Tetapi bisa saja Langit Krisna Heriadi dengan novel yang sudah menjadi best seller menjadi penggugah para sastrawan untuk lebih mendalami dan menghasilkan karya sastra yang mengusung tema sejarah Indonesia. Inipun menjadi satu penyemangat bagi diri saya pribadi untuk tidak hanya sekedar perduli dalam menghasilkan karya - karya remaja dengan tema yang klise, tetapi juga perduli untuk menciptakan karya yang menguak sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Dengan harapan nantinya akan ada banyak para anak bercelana merah yang antusias mengikuti pelajaran Sejarah di sela - sela jam sekolahnya.

By: Agustina Sriyani

Kamis, 09 Agustus 2007

TAK KAN KULAKUKAN SEGALANYA UNTUK CINTA !

Tak Kan Kulakukan Segalanya Untuk Cinta !

Oleh : Ressa Novita (Ocha)


“Rose, aku cuma mau kasih tau kamu kalau Pak Ricky baru aja jadian sama….”
Suara dari speaker telepon genggamku tak lagi terdengar. Sesaat. Hening.
“Merliana. Ehm… Maaf, Rose! Tapi semenjak kamu lulus Merliana tak henti-hentinya mendekati Pak Ricky. Aku ga tau jelas apa penyebab hubungan mereka bisa sampai sejauh ini. Mungkin Pak Ricky…. Halo?! Rose?! Kamu masih disana kan?! Halo?! Rose?!”
Braakkk!!! Sekuat tenaga kulemparkan telepon genggamku ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
Kenapa?! Entahlah! Kabar yang baru saja kudengar membuat darah di seluruh tubuhku serasa mendidih dan memenuhi kepalaku. Panas. Sangat panas. Selanjutnya aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi. Ricky. Merliana. Hanya 2 nama itu yang terus bergantian menggema di rongga kepalaku.
Tanpa sadar aku berlari, berlari dengan cepat, dan terus berlari. Berlari ke Gedung SMU lamaku yang letaknya lumayan jauh dari kampusku. Aku tak peduli apapun. Aku hanya ingin bertemu Ricky. Saat ini juga. Dan memperingatkannya untuk menjauhi Merliana. Karena gadis itu yang dengan cara liciknya telah memisahkan aku dan Ricky.
* * *
Aku mengenal Ricky 5 tahun yang lalu, saat ia memaksaku membantunya membersihkan Laboratorium Biologi. Ya. Dia adalah guru yang mengajar pelajaran Biologi di SMU ku. Meskipun guru usianya hanya 4 tahun lebih tua dariku dan masih sendiri. Awalnya aku tidak menyukainya, sama seperti murid-muridnya yang lain. Murid-murid men-capnya sebagai guru paling tampan saat pertama kali bertemu, tapi setelah itu tidak ada satupun pujian baik untuknya. Dingin, galak, kejam, dan tidak mau berkomunikasi dengan siapapun di sekolah itu, termasuk rekan seprofesinya. Tapi ternyata sikapnya tidak seperti itu padaku, malah sebaliknya.
Hari berganti hari keakraban pun tumbuh diantara kami. Hanya sebatas akrab. Berawal dari keakrabannya denganku, aku berusaha merubah image nya di depan semua orang dan berhasil. Haha, ternyata dia hanya grogi karena belum terbiasa menghadapi orang banyak yang tidak dikenalnya.
Ditahun kedua keakraban kami, dia bukan lagi guru yang dibenci. Malah begitu banyak gadis yang mengelilinginya, Murid perempuan maupun guru perempuan yang masih lajang. Hubungan kami pun tak lagi sekedar keakraban antara guru dan murid tapi sepasang kekasih. Meskipun kami tidak saling mengungkapkan perasaan kami, tapi kami tahu perasaan kami masing-masing.
Hubungan ini kami jaga rapat-rapat, jangan sampai pihak sekolah mengetahui. Karena statusnya sebagai guru dan statusku sebagai murid dengan prestasi cukup memuaskan. Jika ketahuan terlibat hubungan percintaan, resikonya berat. Dia bisa dipecat sebagai guru, dan bukan tidak mungkin aku pun dikeluarkan.
Ditahun terakhirku sebagai murid SMU, muncul seorang murid baru yang sepertinya mencium rahasia kami. Dialah Merliana, gadis dengan sorot mata yang tajam dipadukan dengan senyuman yang manis. Dia begitu lihai memainkan lidahnya. Sangat menarik. Sampai-sampai ia bisa berada diantara aku dan Ricky tanpa membuat kami curiga. Dalam pikiranku ia hanya seorang gadis yang butuh teman, mungkin Ricky juga berpikir seperti itu.
Tapi ternyata perkiraanku salah. Saat waktuku bersama Ricky menipis karena kesibukanku menjelang ujian akhir. Ricky lebih sering menghabiskan waktunya bersama Merliana. Dan entah apa yang mereka obrolkan setiap saat, berdua. Tapi yang aku tahu perlahan hubunganku dan Ricky merenggang tanpa alasan yang jelas. Dia seringkali melemparkan tatapan benci padaku, bahkan tidak lagi membiarkanku masuk keruangannya. Sampai masa sekolahku ditempat itu berakhir, ia tidak sekalipun menghiraukanku.
Beberapa waktu kemudian aku bertemu Arindi. Gadis hitam manis berambut ikal itu, meminta maaf padaku. Ternyata dia adalah sahabat Merliana yang juga satu kelas dengan Merliana. Arindi tidak suka dengan perbuatan Merliana tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menceritakan semua siasat Merliana untuk memisahkanku dan Ricky dari awal sampai akhir. Sampai saat ini kabar tentang Ricky yang disampaikan Arindi menjadi pelepas rindu setiap kali aku teringat kenanganku bersama Ricky. Dan akan terus seperti itu sampai Arindi menyelesaikan sekolahnya.
Tapi kali ini, tidak cukup hanya dengan berdiam diri setelah mendengar kabar Ricky yang baru saja disampaikan Arindi. Aku harus menemui Ricky. Pertemuan pertama setelah hampir 2 tahun aku meninggalkan sekolah itu.
* * *
“Kamu mau apa kesini?!” Arindi menghadangku di depan pintu gerbang sekolah dengan wajah memerah karena marah.
“Menemui Ricky! Minggir!”
“Aku kasitau kamu bukan untuk mengganggu hubungan mereka!”
“Ndi, aku pernah bersumpah. Siapapun boleh, asal jangan dia! Ga boleh dia! Dia yang telah menghancurkan hubunganku dan Ricky. Dan kamu juga kan yang bilang kalo pacar Meliana tuch dimana-mana. Sedikitpun dia bukan gadis yang baik buat Ricky. Aku ga rela kalo mereka jadian!”
“Kamu ga boleh menemui Pak Ricky! Bagaimanapun juga Meliana sahabatku, dan aku ga akan mengkhianatinya lebih jauh lagi!”
“Kamu ga mau melihat sahabatmu membuat kesalahan kan?! Kamu tahu kan maksud Meliana membina hubungan itu bersama Ricky. Dan tidak perlu dijelaskan lagi kalo Ricky hanya menjadi korban kebenciannya padaku. Aku tidak ingin Ricky terluka! Aku harus menyadarkannya!”
“Apapun alasan kamu, kamu tetap ga berhak mengganggu hubungan mereka!”
“Begitupun dengan Meliana, 2 tahun yang lalu dia juga ga berhak memisahkanku dengan Ricky. Apa salahnya jika sekarang aku sedikit membalas perbuatannya?! Aku ingin yang terbaik buat Ricky meskipun yang terbaik itu bukan aku. Jangan halangi aku!”
Aku mendorong tubuh Arindi sampai nyaris terjatuh dan dengan cepat melangkah masuk ke gedung sekolah.
* * *
Aku masuk tanpa permisi ke ruang Lab. Biologi tempatnya menghabiskan waktu. Tak peduli meskipun saat itu ia sedang sibuk mengajar murid-muridnya.
“Apa yang kamu lakukan disini?!”
Setelah melihat kemunculanku yang tiba-tiba, dengan sigap Ricky berdiri dari bangkunya dan menarik tanganku untuk segera keluar.
“A… aku ga mau kamu terluka! Ja… jadi tolong akhiri hubungan kalian!” ucapku terbata-bata. Ternyata setelah hampir 2 tahun tidak bertemu hati ini tetap berdebar-debar saat berbicara dengannya. Bahkan lebih dari yang pernah kurasakan saat menghabiskan waktu bersamanya dulu.
“Hubungan apa???” tanya Ricky sambil menahan tawanya dengan tampang serius.
“Lho?! Kok malah tanya hubungan apa?! Ya, hubunganmu dengan Meliana!” tegasku kesal.
“Huahahahhahaha….”
Tawa Ricky tiba-tiba meledak. Tawa seperti tawa yang selalu kulihat saat masih bersamanya. Tawa apa adanya yang dulu hanya diperlihatkannya padaku. Sejenak aku terbuai dengannya. Ada rasa ingin memeluknya. Tapi, ini ga lucu!
“Cukup!!! Jangan tertawa lagi!!!” teriakku marah.
Kemarahanku seketika menghentikan tawanya dan wajahnya kembali terlihat serius.
“Aku datang kesini bukan untuk melihatmu mentertawaiku! Aku cuma mau kamu tahu siapa Meliana yang sebenarnya. Dia adalah orang yang….”
“Membuatku melakukan kesalahan terbesar dengan meninggalkanmu tanpa alasan. Aku tahu itu!”
“Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu tetap menjalin hubungan dengannya?!”
“Hubungan apa?!” tanya Ricky sambil kembali tertawa. “Aku tidak pernah mengganti posisimu dihatiku dengan gadis manapun!”
“Jadi yang dikatakan Arindi padaku?!”
“Selama ini aku mendekati semua murid satu persatu hanya untuk mencari tahu tentang kamu yang selama 2 tahun tidak bisa aku temui, yang suaranya saja tidak bisa aku dengar. Akhirnya aku menemukan kabar tentangmu dari Arindi. Aku tahu semuanya dari awal kejadian 2 tahun yang lalu sampai keadaanmu sekarang dari Arindi. Awalnya aku cukup senang, kerinduanmu padamu cukup terobati. Tapi aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku sudah berusaha menemuimu, menghubungimu, tapi kamu tidak pernah sekalipun menghiraukanku. Karena itu aku minta pertolongan Arindi untuk mencari cara agar kamu datang padaku”
“Jadi kamu dan Arindi menjebakku?! Iya?!”
“Kalo tidak dengan cara ini apa kamu mau datang padaku seperti ini?! Kalo tidak dengan cara ini apa kamu mau sekali saja mendengar penjelasanku?! Kalo tidak dengan cara ini mengangkat telepon dariku saja kamu tidak akan sudi kan?! Iya kan?!”
Aku tersenyum puas. Lega. Aku tahu aku baru saja dibohongi. Tapi ini berita baik buat ku. Kenyataannya tidak seperti yang sejak tadi kubayangkan. Tidak ada Merliana. Tidak ada siapapun. Aku senang.
“Jadi kamu dan Meliana ga ada hubungan apa-apa?!” tanyaku sambil tersenyum.
“Lebih dari itu. Bahkan aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. Dia sudah lama pindah sekolah, entah kemana. Arindi, sahabatnya pun tidak tahu dimana dia sekarang. Karena itu, Rose, temani aku mengajar disini seperti dulu lagi. Menghabiskan waktu berdua, hanya kita berdua”
Aku menunduk diam. Kenyataan bahwa tak sekalipun ia melupakanku membuatku sedikit tersentuh. Aku merasakan airmataku mulai membasahi pipiku ketika aku sadari pelukannya mendarat di tubuhku. Dia memelukku. Pelukan yang sangat kurindukan bersamaku sekarang.
“Maafkan aku, Rose! Aku memang bodoh! Aku sangat bodoh! Bisa-bisanya aku mempercayai ucapan Meliana tentang kamu. Padahal seharusnya aku mempercayaimu. Seharusnya aku percaya kalo kamu tidak seperti yang ia katakan. Rose, aku memang ga pantas mendapatkan kata maaf darimu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa selama ini aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.
Didalam pelukannya yang begitu hangat, untuk pertama kalinya aku mendengar kata cinta darinya. Kata yang selalu aku nantikan dalam setiap detik waktu yang kulalui bersamanya. Tapi itu dulu, saat aku masih meyakini dia tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi.
Segera aku mendorong tubuh Ricky agar melepaskan pelukannya.
“Maaf, Ricky! Tapi seharusnya kamu katakan itu 2 tahun yang lalu. Bukan sekarang! Kamu tinggal kenangan untukku. Aku ingin melihatmu bahagia. Tapi tidak denganku”
“Kamu ngomong apa sih, Rose?!”
“Aku juga mencintaimu, Ricky. 2 tahun aku mencoba melupakan rasa itu, tapi rasa itu tidak juga hilang. Sampai saat ini aku tetap mencintaimu. Tapi aku bukan pejuang cinta. Cintaku memang tidak pernah mati, mungkin akan ada untuk selamanya. Sayangnya aku sudah lama membunuhmu dalam hatiku. Tidak lagi aku mengharapkan keajaiban untuk dapat kembali padamu. Maaf, Ricky! Seberapapun inginnya kamu kembali padaku, itu sudah tidak mungkin. Karena disini, dihatiku sudah tidak ada lagi tempat untukmu”
“Tapi, Rose….”
“Rose!!!”
Seorang pria berlari kearah kami. Tangannya menenteng tas ransel cantik berwarna hitam. Tas ransel milikku yang kutinggalkan di taman kampus setelah menerima telepon dari Arindi.
“Steve! Kamu kok bisa tau aku ada disini?!” tanyaku sambil tersenyum sumringah menyambut kedatangannya.
“Kamu kemana aja sih?! Aku kan sudah bilang, tunggu aku di taman! Saat aku sampai disana yang tersisa tinggal tas dan serpihan hand phone kamu ini” protes Steve sambil menunjukan serpihan hand phone Nokia kepadaku.
Aku membalas ocehannya dengan senyum nakal tanpa dosa sambil mengambil kembali tas ranselku yang bertengger manis dibahunya.
“Rose, 1 jam lagi kita harus berangkat. Kamu masih lama?”
Tiba-tiba Steve melirik ke arah Ricky yang berada di belakangku.
“Dia….”
“Oh, Steve! Dia Ricky, mantan guru Biologi ku disini” ucapku basa-basi, padahal aku tahu Steve pasti bisa menebak siapa dia dari ceritaku selama ini. Yah, entah kenapa aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, termasuk masalahku dan Ricky. “Ricky, ini Steve, dia….”
Bibirku kelu. Sanggupkah aku berpisah dengan cara ini. Ricky, baru saja aku mengucap ingin melihatmu bahagia. Tapi apa dengan cara ini kamu akan tersenyum bahagia. Oh, aku ragu. Padahal aku telah memutuskan untuk menanggalkan cinta ku pada Ricky, beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa tiba-tiba aku ragu.
“Rose, tidak ada kata terlambat untuk memilih! Hanya kamu yang berhak menentukan jalan hidupmu sendiri! Jika pilihan terakhirmu bukan aku. Aku rela melepaskanmu. Demi cintaku padamu”
Demi cintamu padaku?! Kamu rela melepaskan aku?! Kamu rela aku memilih Ricky?! Benarkah?! Steve?! Apa aku tidak salah dengar?!
Aku menatap wajah Steve. Air mukanya begitu cerah namun sekilas ada kesenduan dibalik senyumannya. Tak dapat kutahan lagi air mataku, saat melihat ketulusan itu. Cinta yang tulus di wajah Steve.
“Terima kasih, Steve!”
Kubelai rambut pirang kecoklatannya. Kukecup kedua belah pipi Steve. Hangat. Namun saat itu pula kulihat airmata membasahi pipi lembut itu. Airmata yang keluar dari bola mata biru miliknya yang telah bercampur dengan airmataku.
Setelah kukeringkan airmatanya dengan jemariku. Aku menghampiri Ricky yang sejak tadi membisu, namun terukir jelas kemenangan diwajahnya. Ia tahu aku akan berubah pikiran. Tapi tidak!
Aku meraih kedua tangan Ricky, menggenggamnya dengan erat. Seerat mungkin.
“Ricky, aku tidak akan pernah bisa melupakan hari ini. Kata cinta darimu. Juga kebohongan yang membuatku berada disampingmu sekarang. tapi, bersediakah kamu mengucapkan apa yang baru saja Steve ucapkan?!”
“Aku ga akan lepasin kamu lagi, Rose! Ga akan pernah!” tegas Ricky yakin.
Segera aku menarik Ricky ke dalam pelukanku. Memeluknya dengan pelukan terhangat dari semua pelukan yang pernah aku berikan padanya.
“Aku mencintaimu Ricky!”
Aku mempererat pelukanku. Karena ini pelukan terakhir dariku.
“Aku sangat mencintaimu Ricky!”
Dan ini adalah kata cinta terakhir dariku.
“Aku juga, Rose! Mencintaimu lebih, lebih dari segala-galanya di dunia ini!” balas Ricky.
“Tapi aku ingin hidup bersama Steve. Selamanya. Dia calon suamiku, Ricky. Dia menjagaku dengan cintanya selama ini. Meskipun dia ingin menyerahkanku padamu, tapi aku tidak akan meninggalkannya. Karena aku yakin, hanya bersamanya aku akan hidup bahagia. Relakan aku, Ricky!” ucapku sambil melepaskan pelukanku.
“Rose, kamu pasti bercanda kan?! Aku yakin kamu hanya mencintaiku. Dan kamu tidak mencintainya. Kamu ga mungkin bahagia hidup bersamanya!”
“Jangan bicara lagi, Ricky! Bukannya aku ingin membalas perbuatanmu padaku 2 tahun yang lalu. Bukan! Aku memang tidak mencintai Steve. Tapi aku yakin, Steve tidak akan membuangku hanya karena hasutan gadis lain. Seperti yang kamu lakukan padaku. Saat ini aku tak punya hati untuk meninggalkannya hanya untuk memilihmu”
“Rose….”
“Hari ini aku akan ikut Steve ke Inggris. Minggu depan kami akan resmi menjadi suami istri. Setelah itu kamu tidak akan menemukanku lagi di Indonesia. Jadi lupakan aku. Seperti aku yang akan melupakan rasa cintaku padamu mulai detik ini. Selamat tinggal, Ricky!”
* * *
“Rose….”
Steve menarik tanganku dan berusaha menghentikan langkahku yang hendak menuju sedan milik Steve yang terparkir dekat gerbang sekolah.
“Tadi kan kamu bilang kalo 1 jam lagi kita berangkat. Ini udah lewat 1 jam lho!”
“Kamu serius ga mau kembali sama dia?!”
“Jadi kamu ga mau nikah sama aku?!” protesku sambil cemberut. “Ya udah, pulang sana ke Inggris! Dan jangan cari aku lagi!”
Aku melangkah melewati mobilnya menuju jalan raya.
“Rose, kamu mau kemana?!”
“Kemana aja!”
“Tapi kamu kan ga punya siapa-siapa lagi disini!”
“Makanya jangan buang aku! Aku kan sudah meninggalkan cintaku hanya demi kamu!”
“Aneh! Ya udah, ayo masuk ke mobil!”
Aku tidak aneh. Hanya saja aku tidak akan melakukan segalanya untuk cinta. Karena apa?! Karena Steve adalah jawaban dari doaku pada Sang Pencipta. 3 tahun yang lalu, saat Ricky meninggalkanku dan aku merasa aku tak lagi punya harapan untuk kembali bersamanya, aku berdoa pada Tuhan.
“Tuhan, aku mohon turunkanlah malaikat yang paling mencintaiku dalam wujud yang nyata! Maka apapun yang terjadi, aku tidak akan lagi mengharapkan cinta dari seorang pria bernama Ricky”
Dalam doa itu aku bersumpah, jika terkabul aku akan melupakan Ricky. Dan ternyata dalam waktu singkat doa itu terkabul, atau memang Tuhan telah menyiapkannya untukku. Entahlah. Yang kutahu dan kuyakini. Steve adalah malaikat yang Tuhan turunkan untukku. Malaikat yang paling mencintaiku. Bahkan rela berkorban demi kebahagiaanku. Dan aku tidak boleh mengecewakannya.
“Kalo memang kamu memilihku, kenapa harus melakukan adegan seperti tadi?! Atau kamu sengaja ingin membuatku menangis?!”
“Diam! Ga usah dibahas!”
Suatu hari, entah kapan?! Aku yakin. Aku pasti jatuh cinta padanya.
~ TamaT ~

SURAT CINTA ALICE

Surat Cinta Alice
Ketika kabar cinta tersampai lewat kata-kata…
Kertas putih sebagai saksi…
Cinta didalam sana yang terindah…
OLEH : RESSA NOVITA (OCHA)

Goreskan pena mu di atas selembar kertas biru… Layangkan untukku bersama namamu… Maka aku akan merasakan… Keindahan cinta yang kini melekat di hidupmu…

“Pos!!!”
“Terima kasih, pak!”
Minggu pagiku yang cerah diawali dengan datangnya surat cinta dari sahabatku, Alice, yang saat ini berada jauh di Biak.
Sambil berjalan masuk ke teras rumah, aku merobek amplop putih itu dan mengeluarkan selembar kertas putih dari dalamnya. Dengan hati-hati kubuka lipatan kertas tipis itu dan membaca tulisan berpena biru itu dengan seksama.

Dear Ariessa,
Akhirnya hari ini datang juga. Ini adalah surat cinta yang pernah kita sepakati 5 tahun yang lalu…

Yup! Ini bukan sembarang surat cinta. Kesepakatan yang pernah aku buat bersama sahabatku 5 tahun yang lalu, surat cinta adalah surat yang akan mengabarkan satu sama lain tentang cinta yang kami rasakan dan kami yakinkan untuk selamanya.Keyakinan besar akan cinta yang sulit untuk didapatkan. Tapi hari ini untuk pertama kalinya surat itu datang diantara kami.

…tapi sebelum itu bagaimana kabarmu, Ka Ardon dan teman-teman yang lain, Floren, Febrian, Aldi, Anne, Erick, my sweet brother Ka Ajie, Ka Hedy, Ka Iyos, Ka Beni, Ka Reki, dan Ka Odie? Kalian pasti baik-baik saja kan? Aku sangat merindukan kalian semua. Oh iya, bagaimana keadaan my prince Gama…

Aku melipat kembali surat yang belum selesai kubaca itu setelah membaca nama Gama menghiasi kalimat di kertas itu. Nama itu mengingatkanku pada masa-masa sekolahku bersama sahabatku.
Alicia Martina Leva, yang biasa kupanggil Alice adalah seorang gadis yang terlihat begitu dewasa, anggun, penuh percaya diri dan selalu menginginkan kesempurnaan. Ia baru merasakan kenyamanan di sekolahnya sendiri, ketika ia bertemu denganku dan orang-orang yang namanya disebutkan di surat itu. Tapi paling membuatnya mengagumi bahkan memuja SMU Gaeshiera adalah seseorang yang bernama Gama Abife Farghesa.
Di tahun keduanya di sekolah swasta itu, Alice yang saat itu menjabat sebagai ketua klub Tari bertemu dengan Gama salah seorang anggota klub basket.
Biasanya Alice senang menghabiskan waktunya di sekret klub tari bersamaku, Anne dan Floren yang sama-sama bergelut di klub yang sama. Tapi, siang itu Anne dan Floren tidak menampakkan batang hidung mereka dan karena bosan aku mengajaknya ke sekret klub Basket yang letaknya tepat disebelah sekret klub tari. Aku punya banyak teman di klub ini, selain itu kakakku adalah kapten klub Basket ini, namanya Ka Ardon. Di sanalah untuk pertama kalinya Alice bertemu dengan Gama.

Kembali ke masa lalu…

“Alice, kita duduk disini aja!” pintaku sambil menarik Alice dengan sedikit memaksa untuk bergabung bersama beberapa anggota klub Basket. ”Ehm… Boleh ga kami numpang duduk disini?” tanyaku basa-basi pada Erick yang saat itu sedang santai-santai sambil mendengar musik.
“Tentu saja! Masa sih adik kesayangan pak kapten tidak boleh main disini! Duduk disebelahku, Rica sayang!” jawabnya ramah sambil membetulkan kursi disebelahnya.
“Ariessa Rislany! Bukan Rica! Emangnya makanan!” protesku sambil menggeser kursi yang tersedia untuk…
“Riessa!!! Jauh-jauh dari Erick!!! Pria itu beracun!!!” teriak Ka Ardon yang suaranya menggema dari ruangan bagian dalam. (Warning : Riessa panggilan sayang My Sweet Brother, Ka Ardon). Tentunya aku menggeser kursi untuk mencegah teriakan tadi, tapi…ya sudahlah…
Berusaha untuk tidak menghiraukan teriakan kakakku, seketika aku pun asik berbincang dengan pria tampan yang selalu berjaket biru itu. Dan Alice.
Lho?! Kenapa suara Alice tiba-tiba menghilang dari peredaran telingaku?! Menyadari hal itu aku memutar badanku kesegala arah untuk menemukan di mana Alice duduk. Dan aku segera menemukannya asik berbincang dengan seorang anggota klub basket bernama Gama.
Selama ini aku selalu tak sungkan bergabung dengan teman-teman kakak di klub Basket, karena aku akrab dengan mereka semua. Tapi Gama, aku tidak terlalu mengenalnya, bahkan aku belum pernah bertegur sapa dengannya. Gama terlihat dingin, pendiam dan tidak mudah akrab dengan orang lain. Aku jadi malas mendekatinya. Karena itu aku sedikit terkagum-kagum melihat kedua orang itu tiba-tiba ngobrol asik tanpa memperdulikan apapun disekitar mereka.

Kembali ke masa kini…

Hari-hari berikutnya sejak kejadian itu aku masih melihat kewajaran dalam diri Alice. Si Miss Pe-De ini terus menggoda Gama dengan daya tariknya. Alice yang biasanya, memang seperti itu bila sudah menangkap kelebihan tampang seorang pria. Dan aku akui komentar Alice benar, Gama punya wajah yang sangat manis apalagi dipadukan dengan kulit gelap dan matanya yang indah.
Tapi keadaan itu tak bertahan lama. Kira-kira satu bulan kemudian, aku mulai melihat gelagat aneh Alice didepan pria itu. Ia menunduk malu dan tak jarang salah tingkah setiap kali bertemu dengan Gama. Bahkan setiap Alice melihatnya dari kejauhan, ia selalu histeris malu-malu.

Kembali ke masa lalu…

“Gama?! Oh, my God! Oh, my God! He’s so sweet!”

Kembali ke masa kini…

Komentar manis yang disertai dengan wajah memerah tentunya.
Perlahan tapi pasti, Alice mengakui bahwa ia menyukai Gama, bahkan perasaannya mungkin lebih dari sekedar suka.

Kembali ke masa lalu…

“Ariessa!!!”
Alice berlari cepat kearahku yang sedang asik melamun sendirian di sekret klub Tari.
“Kenapa sih?” tanyaku bingung.
“Gama! Gama!” Alice mendesahkan nama pria itu pelan sambil mengatur nafasnya. “Manis! Manis banget! Dipadukan dengan topi dan jaket hitamnya. Hari ini dia manis banget!”
“Yee… Kirain kenapa” jawabku kecewa.
“Ar, kayaknya aku jatuh cinta deh sama dia!”
“Udah tau tuh!” kataku santai tak menghiraukan.
“Lho?! Kok reaksi kamu gitu sih?!”
“Ga usah kamu kasih tau, aku juga udah tau, Ne!”
“Aku kan baru kasih tau kamu hari ini, kenapa kamu bisa tau duluan?”
“Seorang Alice yang penuh percaya diri, riang, yang selalu mudah beradaptasi dengan siapapun, yang pintar, dewasa, bijaksana dan penuh wibawa. Dalam hitungan detik berubah menjadi Alice yang tidak aku kenal, yang pemalu, mudah gugup, selalu kehilangan kata-kata dan bertindak ceroboh setiap kali bertemu dengan manusia bernama Gama. Bukankah itu berarti ada sesuatu yang terjadi didalam dirimu?! Kalau bukan cinta, apalagi?!”
“Ariessa, terus aku harus gimana?” rengeknya cemas.
“Ya, ga harus gimana gimana! Tapi cuma satu hal yang bikin aku bingung. Apa kamu sudah tidak mencintai Arga lagi?!”
Alice terdiam, seolah tak ada kata yang dapat menjawab pertanyaan itu.

Kembali ke masa kini…

Arga, teman cowok Alice sejak Alice masih duduk di bangku SMP. Sebelum dilanda virus Gama, aku masih mendengar Alice bercerita tentang pria yang belum lama ini kembali dekat dengannya dan Alice pun mengaku sangat mencintainya. Namun semakin sering mereka bersama, semakin tidak jelas hubungan mereka. Alice yakin Arga juga mencintainya dari perhatian dan pengorbanan yang diberikannya selama ini, tapi Alice tidak pernah berhasil membuat Arga mengungkapkan perasaannya. Sampai akhirnya Alice mengeluh bosan.
Dan sejak kemunculan Gama, aku merasa perlahan sosok Arga mulai menghilang dari ingatan Alice, terlihat dari frekuensi Alice menyebutkan nama Arga yang kalah rekornya dengan nama pria pendatang baru itu (Gama pendatang baru didunia Alice, maksudku) . Bahkan tanpa ragu Alice meninggalkannya cinta yang tak pasti itu. Dengan kata lain, kali ini Alice benar-benar serius dengan perasaannya.

Kembali ke masa lalu…

“Ka, Gama itu orangnya seperti apa sih? Baik ga? Dia udah punya pacar belum?”
“Riessa!!!” melongo aneh.
Reaksi kakakku sedikit membuatku tersentak kaget. Sedikit.
“Enggak! Kakak ga ijinin kamu jadian sama anak itu. Ga cocok tau! Kakak malah lebih setuju kalo kamu jadian sama Samuel, dia tuh baik, romantis, perhatian dan penyabar, cocok banget deh sama kamu”
Samuel?! Siapa?! Ga kenal!
Ah, sudahlah! Ga penting!
“Kakak, bukan aku tapi Alice”
Ka Ardon terdiam mendengar kata-kataku.
Aku mengerti dan memaklumi reaksinya kali ini, karena kakakku sempat mengagumi seorang Alice, tapi dia sudah punya Rini, apapun yang terjadi Ka Ardon tidak boleh melukai gadis pilihannya itu.
“Ka…” panggilku untuk menghentikan keheningan yang dibuatnya.
“Gama itu pria yang baik tapi dia sangat tertutup pada orang lain. Dia sudah punya pacar atau belum? kakak ga tau, karena seperti yang kakak bilang, dia sangat tertutup. Kayaknya sih belum. Tapi satu hal yang menarik dari Gama, sampai-sampai kakak ga bisa tidur dibuatnya, dia itu terlalu manis. Gama…Oooh…Gama…”
“Kakak… masih normal kan???”

Kembali ke masa kini…

Rasa suka Alice terhadap Gama membawa kebaikan lain, ia pun bertambah akrab dengan sebagian anggota klub basket. Mereka adalah nama-nama yang disebutkan Alice dalam suratnya. Bahkan Ka Ajie salah seorang alumni klub basket yang semula tidak dikenalnya sekarang sudah seperti kakaknya sendiri. Ini terjadi karena keinginan Alice sendiri yang awalnya berharap akan dapat mengorek keterangan tentang Gama dari mereka. Beberapa dari mereka setelah tahu hal itu tidak berdiam diri, mereka melakukan berbagai macam cara untuk memperdekat Alice dan Gama.
Salah satunya yaitu ketika suatu hari dari kejauhan aku menyaksikan Alice duduk berdua dengan Gama. Saat itu aku tersenyum bangga, aku pikir Alice ada sedikit kemajuan. Tapi tiba-tiba dari belakangku muncul Ka Ajie dengan senyum nakalnya yang ditujukan ke arah mereka. Entah apa yang telah dilakukan Ka Ajie, tapi aku sangat berterimakasih atas usahanya sehingga seorang Gama yang sangat disukai Alice saat itu juga duduk dan tersenyum manis didekatnya.
Semakin hari baik sengaja maupun tidak disengaja, keajaiban selalu datang mempertemukan Gama dan Alice. Alhasil, hubungan mereka berdua semakin dekat. Tapi satu hal yang tidak pernah sekalipun berhasil diatasinya adalah bersikap tenang didepan Gama.
Dengan dukunganku dan yang lain, Alice menumbuhkan tekad suatu saat akan menyatakan perasaannya pada Gama. Selain itu Alice selalu mewujudkan perasaan sayang dan perhatiannya kepada Gama tanpa henti. Sekaleng Pocari yang selalu diberikannya sehabis latihan rutin adalah salah satunya. Itulah yang membuat kami bangga. Alice selalu berusaha dan tidak pernah menyerah. Aku semakin semangat membantu Alice.

Kembali ke masa lalu…

“Satu tiket aku hadiahkan untukmu. Filmnya bagus lho!”
“Malas ah, nonton sendirian”
“Ya, enggaklah. Aku, Floren, Febrian dan Ka Ardon juga ikut. Kita ketemuan jam 7 di depan Mc D. Oke!”

Kembali ke masa kini…

Tiket itu hanya alasan agar Alice dapat kencan berdua dengan Gama. Dengan bantuan Ka Ardon, satu tiket lagi sudah berada ditangan Gama. Dan aku yakin Alice tidak akan mengecewakan pengorbanan kami. Dia pasti menyatakan perasaannya malam itu.
Tapi kenyataan berkata lain. Hari itu juga Alice kehilangan semangat dan tekadnya. Alice merasa tidak lagi memiliki harapan untuk meraih cintanya itu.

Kembali ke masa lalu…

“Apa?! Jadi semalam kamu ga ngomong apa-apa ke dia?” marah Ka Ardon.
Alice hanya menggeleng pelan dengan penuh penyesalan.
“Biar aku pergi tanpa pernah dia tahu perasaanku” ucapnya sendu dengan mata berkaca-kaca.
“Apa?!” tanya Ka Ardon kesal.
“Pergi?! Pergi kemana maksudmu?!” tanyaku melanjutkan pertanyaan Ka Ardon.
“Aku harus meninggalkan kota ini, selamanya”
Pernyataan Alice saat itu juga membuatku dan Ka Ardon tak sanggup berkata-kata.

Kembali ke masa kini…

Karena beberapa hal, orangtua Alice memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka di Manado dan meninggalkan kota yang telah menghidupi mereka selama 6 tahun ini. Alice tidak dapat menolak keputusan itu, karena bagaimana mungkin Alice dapat tinggal di kota ini tanpa kedua orangtuanya.

Kembali ke masa lalu…

“Tapi kamu harus menyatakan perasaanmu!”
“Buat apa?! Toh aku akan pergi!”

Kembali ke masa kini…

Rencana keberangkatan Alice membuat semuanya berakhir. Hari-harinya menjelang keberangkatannya pun diwarnai dengan kesedihan. Dan Alice memutuskan untuk mundur sebelum sempat maju ke garis start. Teman-teman pun tidak dapat berbuat apa-apa setelah mendengar rencana kepergiannya itu. Tapi tidak bagiku.

Kembali ke masa lalu…

Aku akan membuktikan bahwa masih ada harapan.
“Dibalik kisah ini tersimpan sebuah harapan dari sebait doa tulusku. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi sekalipun itu hanya sebuah kisah dongeng. Nah, gimana kalau novel itu kamu baca dulu sebelum kamu berangkat!”
Sedikit malas ia membuka lembaran pertama. Tentu saja, karena membaca bukanlah salah satu dari hobinya. Tapi yang satu ini dia pasti suka.
Aku terus memperhatikannya membaca dengan serius, sesekali ia tersenyum, sesekali ia menatapku kesal. Tak sabar ingin mengetahui akhir kisah itu, ia tiba-tiba menutup buku itu dan membukanya kembali dari belakang. Di tariknya nafas dalam-dalam dan dibacanya halaman terakhir dengan penuh harap.

Di depan gerbang sekolah.
Setelah Alice menyatakan perasaan yang selama ini dipendamnya dalam-dalam kepada pria manis bernama Gama. Alice akhirnya melangkahkan kakinya pelan kearah Taksi Bandara yang menjemputnya tanpa berani mengharapkan jawaban dari Gama. Tiba-tiba langkah Alice bertambah berat. Ia tahu alasannya, hatinya butuh jawaban namun ia tak berani kembali untuk bertanya, ia pun tak sanggup berhenti sesaat untuk menunggu.
“Gama, seandainya kamu berkata ‘iya’ tanpa ku bertanya. Aku akan melangkah kembali dan membatalkan keberangkatanku saat ini juga sekalipun tanpa seizin Mama” tekad Alice dalam batinnya.
Tapi sekali lagi dan mungkin untuk yang terakhir kalinya Alice mengubah tekad dalam batinnya.
“Ah, sudahlah! Mungkin ini jalan yang memang harus aku pilih, yaitu meninggalkanmu”
Alice menatap pintu taksi yang terbuka lebar tepat didepannya. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi. “Selamat tinggal, Jakarta!”
“Alice!!! Kembali!!!”
Perintah tegas yang tiba-tiba keluar dari mulut Gama seketika membuat Alice menghentikan gerak tubuhnya. Namun Alice tidak membalikkan tubuhnya, ia hanya terdiam kaget, tak percaya dengan suara yang baru saja didengarnya. Gama memintanya kembali.
“Alice… Aku akan mengatakan ‘aku mencintaimu’ jika itu dapat membuatmu tidak meninggalkan Jakarta selangkahpun! Kamu harus tetap disini! Alice… Jangan pergi! Aku tidak ingin kehilangan kamu!”
Tanpa disadari, airmata Alice telah mengalir melewati bibirnya.
“ALICE…. AKU JUGA MENCINTAIMU…. AKU SANGAT MENCINTAIMU….”
Tiba-tiba pelukan hangat mendarat ditubuh Alice. Alice menemukan wajah cantik mamanya yang memeluknya dengan mata berlinang.
“Nak, jangan pernah melakukan sesuatu dengan keraguan! Tentukan pilihanmu sekarang! Tinggallah disini, jika menurutmu itu yang terbaik!”
Alice tersenyum bahagia menatap sang mama yang akhirnya mengizinkannya tinggal di Jakarta lebih lama lagi.
“Pergilah, Nak!!! Temui pangeranmu!”
Segera, Alice membalikkan badannya, menatap lekat kearah Gama yang berdiri membelakangi teman-temannya yang lain. Dilihatnya kedua tangan Gama bergerak terbuka lebar, seolah mengundang Alice untuk segera mengisi pelukannya. Dan Alice mengerti isyarat itu. Gama bersedia membalas cintanya.
Berlari, Alice menghampiri pria yang tersenyum manis itu dan meraih uluran tangannya. Memeluknya dengan penuh kehangatan.

Ia menutup buku itu setelah selesai membaca akhirnya. Tanpa ia sadari airmata telah memenuhi wajahnya yang putih bersih. Ia menatapku dengan senyum haru dan menarikku kepelukannya, sesaat namun erat.
“Seandainya saja kisah itu dapat terwujud”
“Karena itu, jangan katakan tidak. Kamu harus menyatakan perasaanmu padanya! Karena tidak ada yang tidak mungkin” aku mendorong Alice masuk ke ruang klub Basket. “Katakan sekarang juga! Aku tahu kamu bukan gadis lemah yang gampang menyerah pada keadaan, Alice”
“Tapi, Ar, aku takut, bagaimana kalau dia…”
“Alice. Now or never!”
Alice dengan wajahnya yang pucat memasuki ruangan. Sesaat kemudian semua penghuni ruangan kecuali Gama meninggalkan ruangan itu, sebagian dari mereka yang tah permasalahannya menemaniku diluar. Aku berdiri cemas didepan pintu ruangan itu, sesekali kupekakan telinga agar terdengar pembicaraan mereka.
“Hei, kenapa kalian berdiri di depan pintu? Ayo kita ma…”
Aku menarik tubuh Ka Ardon menjauhi pintu masuk ruangan itu.
“Ka, Gama dan Alice didalam” bisikku.
“Berarti, novel yang kamu buat berhasil meyakinkan Alice untuk mengungkapkan perasaannya?”
Aku tersenyum mengiyakan.
“Kamu memang adikku yang paling hebat!” pujinya sambil mengelus rambut panjangku.
Pujian Ka Ardon mengakhiri kebisingan tempat itu, sesayup kalimat terdengar dari dalam ruangan. Kalimat yang membuat kami semua tercengang kaget.
“Aku sangat senang mendapatkan perhatianmu selama ini, tapi saat ini bukan kamu gadis yang aku sukai. Aku tidak bisa membalas rasa sukamu”
Jawaban Gama atas pernyataan Alice.
Sesaat kemudian Alice berlari keluar dari ruangan klub sambil menangis.

Kembali ke masa kini…

Sebuah kisah yang telah menumbuhkan kembali semangat Alice, ternyata hanya sebatas goresan pena. Kenyataannya tidaklah seindah itu. Keadaan saat itu malah semakin memburuk dan semuanya karena aku, karena semangat salah yang telah aku berikan. Keputusan semula Alice benar, sebaiknya tak usah dikatakan, dan aku telah menghancurkan segalanya. Bahkan sampai saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Kembali ke masa lalu…
“Sudahlah, Ariessa, jangan menangis!”
“Tapi ini semua gara-gara aku!”
“Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Kamu benar karena telah membuatku kuat. Apapun yang terjadi, aku tidak peduli, yang penting kini aku merasa lega, aku telah mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku berhasil melakukannya karena kamu”
“Tapi kan…”
“Sudahlah, jangan buat aku semakin sedih”

Kembali ke masa kini…

Alice pun meninggalkan Jakarta dengan membawa luka hatinya. Tak seorang pun dari kami diijinkannya untuk mengantar sampai bandara, dia tidak ingin kami melihatnya menangis.
Tapi kami yakin suatu hari nanti Alice mampu melupakan Gama dan menyimpannya hanya sebagai kenangan. Sekaranglah bukti nyata Alice telah mendapatkan seseorang pengganti Gama dihatinya.
Tersenyum sejenak, aku kembali membuka lipatan surat itu dan melanjutkan membaca kalimat selanjutnya. Dan aku dikejutkan dengan kata-kata lanjutannya.

Tentu saja kamu tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Karena dia ada disini bersamaku.

“Apa?! Tidak mungkin!!!”
Akhir-akhir ini aku memang tidak lagi mendengar kabar Gama. Yang terakhir kudengar dari Ka Ardon, sekarang ia sudah menyelesaikan kuliah S1 nya dan bekerja berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain. Tapi, apa ini jawaban atas ketulusan cinta Alice untuknya selama ini?

Setibanya aku di Biak, aku bekerja di toko roti milik mamaku. Dalam waktu singkat toko roti itu mempunyai banyak pelanggan dan kelezatannya terkenal diseluruh pelosok kota ini. Toko roti ini pula yang 4 tahun kemudian mempertemukan aku dengan Gama. Gama dipindah tugaskan ke Biak, suatu hari dia melihatku didepan toko dan tanpa ragu menemuiku. Alhasil, perasaan ini dimulai kembali. Tapi kali ini bukan hanya perasaan sepihak, karena kami sudah bertunangan.
Semua ini juga karena kamu, Ariessa. Harapan yang kamu goreskan dalam kisah itu, memberikanku kekuatan untuk tidak berputus asa. Karena tidak ada yang tidak mungkin.
Nah, bagaimana dengan kamu? Kapan aku akan membaca surat cintamu? Aku sangat menantikannya.

Surat cintaku?! Aku sendiri tidak tahu kapan akan kukirimkan. Karena aku belum merasakan cinta seindah yang kau rasakan saat ini, Alice.
“Hiks hiks hiks… Gama dan Alice sudah bertunangan. Lalu bagaimana denganku. Huaaaaa…Alice…”
Lho?! Ternyata kakakku ikut membaca dibelakangku dan dia berteriak histeris setelah mengetahui kabar bahagia itu.
Setelah pisah dari Rini dua tahun yang lalu sepertinya Ka Ardon berharap suatu saat akan mendapatkan cinta Alice, tapi sayang sudah terlambat.
“Riessa… tinggal kamu seorang yang bisa mendampingi kakakmu yang malang ini! Jangan tinggalkan kakak ya, sayang!” pintanya sambil memelukku erat-erat.
“Pos!!!”
Kami terhentak kaget mendengar suara pak pos yang kali ini melengking aneh.
Aku segera menghampiri si tukang pos yang datang untuk kedua kalinya itu.
“Lho, pak?! Kok datang lagi?! Ada yang tertinggal?”
“Ada satu surat lagi untuk Nona Ariessa! Ditambah dengan setangkai mawar merah ini” jawab pria itu sambil menyerahkan surat beramplop merah muda serta setangkai mawar merah.
“Dari siapa, pak? Kok ga ada perangkonya?”
“Dari aku!”
Seorang pria berpakaian rapi dengan jaket birunya tiba-tiba muncul dihadapanku.
“Masih ada kesempatan untukku mencintaimu, Rica?”
“Erick?!”
“Didalam surat itu aku mengabadikan cintaku dan menunggu balasan darimu…”
Aku menatap Erick sedikit bimbang. Berawal dari kebetulan kami melanjutkan di universitas yang sama hubungan kami semakin dekat. Sampai saat ini aku sangat mencintainya tapi dia tidak pernah memberiku kepastian tentang ungkapan perasaanku selama ini.
Beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk melupakannya. Karena aku pikir selama 5 tahun ini aku hanya terlalu melebih-lebihkan sikap manisnya padaku. Tapi sekarang dia tiba-tiba datang padaku. Mengucap kata yang selama ini aku nantikan. Apa aku punya keberanian untuk menolaknya?
“Ariessa Rislany! Bukan daging Rica-Rica! Tapi aku senang hanya kamu yang memanggilku seperti itu” senyumku penuh arti. “Masuk! Kita ngobrol didalam”
Alice, mungkin pria ini yang suatu saat nanti akan kutuliskan namanya didalam surat cintaku untukmu.
Mengiringi langkah Erick memasuki ruang tamu, aku tersenyum nakal penuh arti kepada pria sister complex (pecinta adik sendiri) itu.
“Oh, tidak!!! Erick, sekali lagi aku peringatkan!!! Jangan rebut adikku!!!”
“Siapa elu nyuruh-nyuruh gua?!” balas Erick tersenyum riang.

♥ TaMaT ♥