BERCINTA DENGAN TUHAN
Cassandra Wulandhary Ary
Aku tak tahan mendengar lantunan adzan yang menggema
Membuat nafsu ku berpacu bersama nafas syahwat ku
Aku tergoda untuk mengikuti ajakanNya yang bergelora
Air wudhu pun menyentuh kulitku dengan mesra
Membuat jantungku berdegup sekencang angin berputar
Mushaf suci itu pun menyatu bersama ragaku yang pasrah
Membuat darahku mengalir sampai ke ubun-ubun
Aku melayang....terawang...ah nikmatnya bukan main
Dan ketika ayat-ayat aLqur’an mengecup lembut bibirku
Aku pun mendesah tak tertahankan...aku benar-benar pasrah
Malam pun merelakan aku bercinta dengan Tuhan
Bintang dan bulan seakan cemburu ketika melihat permainan ini
Sehingga sampai di ujung kenikmatan yang luar biasa
Aku menjerit kecil memanggil nama-Nya dari dalam hati
ALLAHU AKBAR...
Aku merintih...
Nafasku tersengal-sengal...
Dadaku kembang kempis...
Keringatku mengalir deras...
Sekali lagi aku sebut nama-Nya dengan penuh cinta
ALLAHU AKBAR...
Ku pejamkan mata...
Tak terasa air matapun tertumpah...
Aku menangis....
Menangis karena indahnya BERCINTA dengan-Mu ya Rabbi....
Welcome N Join Us
Selamat datang di situs kami. semoga tulisan-tulisan kami dapat bermanfaat untuk anda
Sabtu, 19 Maret 2011
Jumat, 18 Maret 2011
Prieboemie Seboeah Kebetoelan
Jati Mahatmaji
Pernah suatu siang temanku bilang kalau hidup adalah sebuah lelucon yang bisa saja membuat manusianya tertawa, atau bahkan tersenyum dalam kehancuran. Masa senang sering mengayunkan kita begitu menyenyakan, menidurkan mata serta menenggelamkan tubuh ini berenang ke dalam harapan-harapan. Kemudian masa sulit, akan secepatnya membangunkanmu, walau sesungguhnya kau masih terlalu kantuk, karena usaha mengejar harapan belum juga usai. Akh! Harapan...di masa sulit hanyalah sebuah omong kosong! Suara yang menjengkelkan apa yang manusia hingga Tuhan katakan atau perdengarkan melalui kitabnya, semuanya dihadirkan masa sulit dengan bertubi-tubi. Mengahantam tubuh mu mendorong masuk ke dalam liang lahat penuh derita, tanpa daya apalagi doa.
Semoga keyakinan dalam hatiku ini benar adanya.
Karena hatiku berkata: Semua Terjadi Kebetulan.
Rasanya sulit untuk menuliskan cerita ini, tetapi apa boleh buat, tokh sekarang aku akan menceritakannya kepada kalian. Mungkin seseorang yang pernah menceritakan hal ini padaku akan mengatakan bahwa diriku ini dungu, atau terlalu tolol untuk mewartakannya kepada yang lain, tetapi lihatkan, akhirnya aku akan menceritakannya, dan beginilah ceritanya.
Semoga Tuhan bersama kita semua.....
Semuanya bermula dari sebuah catatan kesehatan di Rumah Sakita Batavia, bahwa angka kematian di Oud Batavia, pada kisaran waktu 1733-1738, sekitar 50 persen penduduk Batavia tewas akibat malaria-tropica yang timbulkan oleh Plasmodium Falciparum. Sedangakan 50 persen lainnya terjangkit malaria-cachxie sebuah gejala bagi seseorang yang belum kebal dan mudah terinfeksi malaria kembali. Jumlah yang mampus karena malaria tidak tanggung-tanggung, sekitar 87.000-an!, dan jumlah tersebut terus meningkat hingga mencapai angka 1.119.375 pada akhir Agustus 1752. Hingga akhirnya pada permulaan tahun 1809, Daendels memindahkan pusat pemerintahan Batavia yang semula berada di Oud Batavia (sekarang kawasan sekitar Pasar Ikan) ke Weltevreden (sekarang Gambir) yang kemudian disebut Nieuw Batavia
Menjadi budak bagi Eropa bukanlah pilihan yang bijak, walau terkadang hanya itu satu-satunya pilihan melanjutkan hidup bagi seonggok daging yang disebut pribumi, di tanah pribumi. Tidak bagi Lamin. Gubernur Daendles yang kejam, telah memberikan secercah harapan di tanah yang baru, tanah yang menjadi tempatnya para pembesar Belanda meniduri istri palsunya, menikah lebih dari dua istri, dan tempat beberapa pembesar pribumi mengumpulkan gundik. Tempat itu, surga di pulau Jawa itu adalah Weltevreden! Kota Taman! sebelah selatan Oud Batavia yang KOTOR!
Weltevreden, Tanah Taman ini akhirnya menjadi awal dari nutfah bagi Lamin berkembang biak, beranak pinak, dan membesarkan keluarganya yang miskin. Waktu itu batas abad 18 sudah hampir habis.
1898 Belanda memberikan sebuah pengunguman yang lumayan menggiurkan, mereka membutuhkan beberapa centeng dan budak yang mau dipekerjakan diperkebunan di Sumatera dan sekitaran Borneo. Lamin memang tidak tahu caranya membaca latin, namun ia mengerti saat orang memperbincangkan Rawa Senajan sebagai tempat ujian untuk menjadi centeng bagi perkebunan milik Belanda.
”Namanya nasib siapa tahu.......nasib ini harus berubah, atau aku akan mati dimakan nasib....” dan berangkatlah Lamin menjauhi tempat leluhurnya, kampung aslinya, tanah tempat nenek moyangnya berkembang biak.!
Entah apa yang dipikirkan Tuhan saat mahlukNYA meminta pertolonganNYA. Apa yang hendak dikatakanNYA, dan apa yang hendak direncanakanNYA. Begitupun Lamin, saat tahu kalau dirinya terlalu pendek, dan jelek, untuk menjadi centeng.
”Hei...kami orang butuh orang seram...netjes...bukan kowe....kowe terlalu buduk...tapi kalo kowe mau jadi budak...itu bagus? Hei bagaiamana?” ahk...ucapan Meneer itu begitu tajam menusuk hatinya, namun apa hendak mau dikata? Gagal ya gagal....menjadi budak bukanlah keinginannya, dia tidak ingin mati sia-sia seperti beberapa saudaranya yang mati di Anyer atau sepanjang Jalan Raya Pos, dimakan kelaparan serta penyiksaan tanpa pernah istirahat.
Pernah dengar janji Tuhan tentang penghapusan budak semenjak Agama datang menuntun manusia keluar dari kegelapan dunia? Lalu kenapa mesti ada budak, sampai VOC digantikan Hindia-Belanda? Di tanah Batavia ini? Rencana Tuhan tidak masuk akal, atau mungkin suatu saat nanti akan terjawab? Entah? Memusingkan, Lamin punya pendirian, ia katakan langsung pada Meneer yang mengujinya,
”Tidak Meneer, maaf saya tidak mau jadi budak....”
”Baik...kowe bisa pergi, dan cari penghidupan yang benar...”
Hingga akhirnya semua manusia tahu, seringkali harapan hanya tinggal harapan tidak lebih dari omong kosong!, dan selamat tinggal Harapan! Selamat Datang Kenyataan!
Aih Weltevreden terlalu kejam bagi seorang Lamin. Dan selama lebih dari sepuluh tahun dirinya hanya bekerja sebagai buruh batu bata di Pasa Ikan. Sudah dan tidak ada salahnya menerima takdir, walaupun kejam, setidaknya ia tidak menjadi budak, Nieuw Batavia walau ramai dan indah, ia terlalu kejam untuk seorang Lamin, seorang manusia yang lahir dan besar di Batavia.
”Akh...pulang udik....”
Dalam perjalanan pulang menuju Oud Batavia sepanjang jalan raya Weltevreden, Lamin sesekali melihat beberapa Meneer yang santai dan ngantuk layaknya seorang pekerja keras, duduk manis di atas sado, juga di bangku goyang dengan perut buncit yang menutupi tubuh mereka. Lebih busuknya, buncit bukan karena makanan Halal, sebagian dari yang membuat buncit adalah Haram, itu darah manusia! Tidak semuanya memang. Apa yang terjadi dengan dunia? Inikah yang namanya Adil? Aih.....Lamin bisa apa?? Sejak kecil dan mungkin nanti sampai Mati...yang ia tahu hanya ikhlas...ikhlas dan serahkan semuanya kepada ALLAH.
Batavia ini, Nieuw Batavia ini begitu ramai, lihat pohon-pohon besar pelindung jalan raya, dan pemberi udara itu...berdiri mengagkang kokoh dan sulit di robohkan. Lihat juga pembesar-pembesar yang duduk santai di rumah mereka yang luas itu...menghisap tembakau..minum anggur...dan.....dan....hei lihat pria berkumis lebat dengan perut buncit itu.
Bibir juga tangannya dari kejauhan seperti memanggil Lamin untuk masuk ke daam pekarangannya...orangnya putih, badannya besar, juga lihat pakaiannya....semakin dekat Lamin memasuki halaman rumah, semakin terlihat oleh Lamin, kalau yang dipegang Meneer di tangan kirinya itu adalah Arloji Saku. Kumisnya baplang melintang, gagah, sepatunya juga mengkilat, jauh berbeda dengan Lamin yang mirip kutu buduk! Tidak bersepatu juga tidak pernah sekalipun menggosok giginya. Kelas manusia yang berbeda!
Dan manusia yang berbeda itupun bertemu muka, di jenjang tangga yang hanya ada dua anak tangga. Dengan sedikit angkuh, dan suara berat, pria itu berkata
”Hei..kowe duduk sini hah...” dan Lamin pun duduk di bawah seperti anjing kebanyakan. Dari penglihatan sederhana seorang Lamin ia mengira bahwa Meener ini usianya tidak jauh dari sekitar 35-40 tahun-an.
”Iya meneer..” jawabnya sambil sesekali menggaruk koreng disekitaran mata kakinya.
”Kowe dari mana?.....Kowe kelihatan kotor begitu...gatal tubuhmu?” Lamin menggaguk, menghentikan garukannya. Meneer itu pun duduk mengamti setiap lekuk tubuh pribumi yang memelas, gagal ikut tes jadi centeng. Mengambil sebatang rokok, dan kemudian menghisapnya, mengepulkannya ke udara, dan kemudian menyilangkan kakinya.
”Rawa Senajan Meneer...ikut ujian buat jadi centeng di Toba.....Meneer...”
”Hah? Centeng? Kowe punya tampang tidak pantas jadi centeng....dari mana asal kowe?”
”Pasar Ikan Meneer...”
”Pantas....” balas Meneer sambil menelanjangi tubuh Lamin dengan bola matanya yang biru itu...dan Lamin bukan main malunya. Harga dirinya terbang, dan menghilang!..”Kowe mau kerja dengan ik?”
”Kerja?......Jadi apa Meneer?”
”Kacung....nanti kowe dapat upah cukup, …kowe bisa tinggal di belakang rumah...kowe juga dapat makan, beras....beras dari Bangil...bagiamana? kowe mau? Kowe juga tidak kerja penuh...kowe bisa istirahat kalau semua kerja rumah selesai, kowe bisa jalan-jalan kalau semua yang ik dan istri ik mau sudah beres.......bagaimana?” tanyanya sambil duduk, menyilangkan kaki kanannya, memilin kumis yang tidak mau jatuh itu, dan kemudian merokok tembakau kembali.
Namanya rejeki tidak jauh kemana, dan Lamin tahu itu dari emaknya yang sudah mati. Dengan kepala menunduk seperti menghadap seorang raja, Lamin pun menjawab dalam kepastian.
”Ya...saya mau jadi kacung” kenyataan itu datang tanpa pernah mengetuk.
”Goed...” dan artinya bagus....” oh ya... ini saya punya bini, Ema, kowe boleh panggil dia Mevrouw Ema” dan wanita itu tersenyum, meminum secangkir air putih, dan kemudian memalingkan kepalanya, melihat suaminya lagi
”Dan nama saya sendiri Baron van Huys...kowe bisa panggil saya Tuan Baron.... tidak usah pakai Meneer....” semakin lama didengar semakin jelas suaranya yang besar dan menggelegar. Wajah kompeni yang berdiri mengangkang di depan muka pribumi.
”Baik Tuan Baron...” langit Batavia seakan berjalan beriring berbaris berdansa mengiringi kebahagian seorang pribumi yang ingin kerja, ingin cari makan.
Pekerjaan menjadi kacung bukanlah hal yang hina...menjadi budak tanpa upah, memeras tenaga membangun Jalan Raya Pos tanpa upah..itu baru Hina! Dan lamin jauh dari pekerjaan yang menurutnya akan meruntuhkan harga diri manusia.... Tokh bekerja dengan seorang Belanda, setidaknya menjaga dirinya dari pemerasan, dan ketakutan akan hantaman tinju Mersose, juga tuan tanah yang sering memakan daging saudaranya sendiri.
Tutup minggu pertama di bulan Agustus 1898, saat-saat menjelang Saat Ratu naik Tahta, dan banyak pembesar Pribumi yang diundang menikmati Eropa.....saat itu juga, Lamin menetap dan menikmati hidup menjadi kacung di Weltevreden...menjadi Kacung bagi keluarga Baron van Buys. Kenaikan Ratu juga kenaikan hidup Lamin, walau secuil.
”Hei hidup kau akan ku jelang! Ini aku Lamin, kacung Baron van Huys, mari-mari akan aku jelang hidup ini!” begini hidup pribumi di tanah pribumi, nenek moyang pribumi kebanyakan.
Pernah suatu siang temanku bilang kalau hidup adalah sebuah lelucon yang bisa saja membuat manusianya tertawa, atau bahkan tersenyum dalam kehancuran. Masa senang sering mengayunkan kita begitu menyenyakan, menidurkan mata serta menenggelamkan tubuh ini berenang ke dalam harapan-harapan. Kemudian masa sulit, akan secepatnya membangunkanmu, walau sesungguhnya kau masih terlalu kantuk, karena usaha mengejar harapan belum juga usai. Akh! Harapan...di masa sulit hanyalah sebuah omong kosong! Suara yang menjengkelkan apa yang manusia hingga Tuhan katakan atau perdengarkan melalui kitabnya, semuanya dihadirkan masa sulit dengan bertubi-tubi. Mengahantam tubuh mu mendorong masuk ke dalam liang lahat penuh derita, tanpa daya apalagi doa.
Semoga keyakinan dalam hatiku ini benar adanya.
Karena hatiku berkata: Semua Terjadi Kebetulan.
Rasanya sulit untuk menuliskan cerita ini, tetapi apa boleh buat, tokh sekarang aku akan menceritakannya kepada kalian. Mungkin seseorang yang pernah menceritakan hal ini padaku akan mengatakan bahwa diriku ini dungu, atau terlalu tolol untuk mewartakannya kepada yang lain, tetapi lihatkan, akhirnya aku akan menceritakannya, dan beginilah ceritanya.
Semoga Tuhan bersama kita semua.....
Semuanya bermula dari sebuah catatan kesehatan di Rumah Sakita Batavia, bahwa angka kematian di Oud Batavia, pada kisaran waktu 1733-1738, sekitar 50 persen penduduk Batavia tewas akibat malaria-tropica yang timbulkan oleh Plasmodium Falciparum. Sedangakan 50 persen lainnya terjangkit malaria-cachxie sebuah gejala bagi seseorang yang belum kebal dan mudah terinfeksi malaria kembali. Jumlah yang mampus karena malaria tidak tanggung-tanggung, sekitar 87.000-an!, dan jumlah tersebut terus meningkat hingga mencapai angka 1.119.375 pada akhir Agustus 1752. Hingga akhirnya pada permulaan tahun 1809, Daendels memindahkan pusat pemerintahan Batavia yang semula berada di Oud Batavia (sekarang kawasan sekitar Pasar Ikan) ke Weltevreden (sekarang Gambir) yang kemudian disebut Nieuw Batavia
Menjadi budak bagi Eropa bukanlah pilihan yang bijak, walau terkadang hanya itu satu-satunya pilihan melanjutkan hidup bagi seonggok daging yang disebut pribumi, di tanah pribumi. Tidak bagi Lamin. Gubernur Daendles yang kejam, telah memberikan secercah harapan di tanah yang baru, tanah yang menjadi tempatnya para pembesar Belanda meniduri istri palsunya, menikah lebih dari dua istri, dan tempat beberapa pembesar pribumi mengumpulkan gundik. Tempat itu, surga di pulau Jawa itu adalah Weltevreden! Kota Taman! sebelah selatan Oud Batavia yang KOTOR!
Weltevreden, Tanah Taman ini akhirnya menjadi awal dari nutfah bagi Lamin berkembang biak, beranak pinak, dan membesarkan keluarganya yang miskin. Waktu itu batas abad 18 sudah hampir habis.
1898 Belanda memberikan sebuah pengunguman yang lumayan menggiurkan, mereka membutuhkan beberapa centeng dan budak yang mau dipekerjakan diperkebunan di Sumatera dan sekitaran Borneo. Lamin memang tidak tahu caranya membaca latin, namun ia mengerti saat orang memperbincangkan Rawa Senajan sebagai tempat ujian untuk menjadi centeng bagi perkebunan milik Belanda.
”Namanya nasib siapa tahu.......nasib ini harus berubah, atau aku akan mati dimakan nasib....” dan berangkatlah Lamin menjauhi tempat leluhurnya, kampung aslinya, tanah tempat nenek moyangnya berkembang biak.!
Entah apa yang dipikirkan Tuhan saat mahlukNYA meminta pertolonganNYA. Apa yang hendak dikatakanNYA, dan apa yang hendak direncanakanNYA. Begitupun Lamin, saat tahu kalau dirinya terlalu pendek, dan jelek, untuk menjadi centeng.
”Hei...kami orang butuh orang seram...netjes...bukan kowe....kowe terlalu buduk...tapi kalo kowe mau jadi budak...itu bagus? Hei bagaiamana?” ahk...ucapan Meneer itu begitu tajam menusuk hatinya, namun apa hendak mau dikata? Gagal ya gagal....menjadi budak bukanlah keinginannya, dia tidak ingin mati sia-sia seperti beberapa saudaranya yang mati di Anyer atau sepanjang Jalan Raya Pos, dimakan kelaparan serta penyiksaan tanpa pernah istirahat.
Pernah dengar janji Tuhan tentang penghapusan budak semenjak Agama datang menuntun manusia keluar dari kegelapan dunia? Lalu kenapa mesti ada budak, sampai VOC digantikan Hindia-Belanda? Di tanah Batavia ini? Rencana Tuhan tidak masuk akal, atau mungkin suatu saat nanti akan terjawab? Entah? Memusingkan, Lamin punya pendirian, ia katakan langsung pada Meneer yang mengujinya,
”Tidak Meneer, maaf saya tidak mau jadi budak....”
”Baik...kowe bisa pergi, dan cari penghidupan yang benar...”
Hingga akhirnya semua manusia tahu, seringkali harapan hanya tinggal harapan tidak lebih dari omong kosong!, dan selamat tinggal Harapan! Selamat Datang Kenyataan!
Aih Weltevreden terlalu kejam bagi seorang Lamin. Dan selama lebih dari sepuluh tahun dirinya hanya bekerja sebagai buruh batu bata di Pasa Ikan. Sudah dan tidak ada salahnya menerima takdir, walaupun kejam, setidaknya ia tidak menjadi budak, Nieuw Batavia walau ramai dan indah, ia terlalu kejam untuk seorang Lamin, seorang manusia yang lahir dan besar di Batavia.
”Akh...pulang udik....”
Dalam perjalanan pulang menuju Oud Batavia sepanjang jalan raya Weltevreden, Lamin sesekali melihat beberapa Meneer yang santai dan ngantuk layaknya seorang pekerja keras, duduk manis di atas sado, juga di bangku goyang dengan perut buncit yang menutupi tubuh mereka. Lebih busuknya, buncit bukan karena makanan Halal, sebagian dari yang membuat buncit adalah Haram, itu darah manusia! Tidak semuanya memang. Apa yang terjadi dengan dunia? Inikah yang namanya Adil? Aih.....Lamin bisa apa?? Sejak kecil dan mungkin nanti sampai Mati...yang ia tahu hanya ikhlas...ikhlas dan serahkan semuanya kepada ALLAH.
Batavia ini, Nieuw Batavia ini begitu ramai, lihat pohon-pohon besar pelindung jalan raya, dan pemberi udara itu...berdiri mengagkang kokoh dan sulit di robohkan. Lihat juga pembesar-pembesar yang duduk santai di rumah mereka yang luas itu...menghisap tembakau..minum anggur...dan.....dan....hei lihat pria berkumis lebat dengan perut buncit itu.
Bibir juga tangannya dari kejauhan seperti memanggil Lamin untuk masuk ke daam pekarangannya...orangnya putih, badannya besar, juga lihat pakaiannya....semakin dekat Lamin memasuki halaman rumah, semakin terlihat oleh Lamin, kalau yang dipegang Meneer di tangan kirinya itu adalah Arloji Saku. Kumisnya baplang melintang, gagah, sepatunya juga mengkilat, jauh berbeda dengan Lamin yang mirip kutu buduk! Tidak bersepatu juga tidak pernah sekalipun menggosok giginya. Kelas manusia yang berbeda!
Dan manusia yang berbeda itupun bertemu muka, di jenjang tangga yang hanya ada dua anak tangga. Dengan sedikit angkuh, dan suara berat, pria itu berkata
”Hei..kowe duduk sini hah...” dan Lamin pun duduk di bawah seperti anjing kebanyakan. Dari penglihatan sederhana seorang Lamin ia mengira bahwa Meener ini usianya tidak jauh dari sekitar 35-40 tahun-an.
”Iya meneer..” jawabnya sambil sesekali menggaruk koreng disekitaran mata kakinya.
”Kowe dari mana?.....Kowe kelihatan kotor begitu...gatal tubuhmu?” Lamin menggaguk, menghentikan garukannya. Meneer itu pun duduk mengamti setiap lekuk tubuh pribumi yang memelas, gagal ikut tes jadi centeng. Mengambil sebatang rokok, dan kemudian menghisapnya, mengepulkannya ke udara, dan kemudian menyilangkan kakinya.
”Rawa Senajan Meneer...ikut ujian buat jadi centeng di Toba.....Meneer...”
”Hah? Centeng? Kowe punya tampang tidak pantas jadi centeng....dari mana asal kowe?”
”Pasar Ikan Meneer...”
”Pantas....” balas Meneer sambil menelanjangi tubuh Lamin dengan bola matanya yang biru itu...dan Lamin bukan main malunya. Harga dirinya terbang, dan menghilang!..”Kowe mau kerja dengan ik?”
”Kerja?......Jadi apa Meneer?”
”Kacung....nanti kowe dapat upah cukup, …kowe bisa tinggal di belakang rumah...kowe juga dapat makan, beras....beras dari Bangil...bagiamana? kowe mau? Kowe juga tidak kerja penuh...kowe bisa istirahat kalau semua kerja rumah selesai, kowe bisa jalan-jalan kalau semua yang ik dan istri ik mau sudah beres.......bagaimana?” tanyanya sambil duduk, menyilangkan kaki kanannya, memilin kumis yang tidak mau jatuh itu, dan kemudian merokok tembakau kembali.
Namanya rejeki tidak jauh kemana, dan Lamin tahu itu dari emaknya yang sudah mati. Dengan kepala menunduk seperti menghadap seorang raja, Lamin pun menjawab dalam kepastian.
”Ya...saya mau jadi kacung” kenyataan itu datang tanpa pernah mengetuk.
”Goed...” dan artinya bagus....” oh ya... ini saya punya bini, Ema, kowe boleh panggil dia Mevrouw Ema” dan wanita itu tersenyum, meminum secangkir air putih, dan kemudian memalingkan kepalanya, melihat suaminya lagi
”Dan nama saya sendiri Baron van Huys...kowe bisa panggil saya Tuan Baron.... tidak usah pakai Meneer....” semakin lama didengar semakin jelas suaranya yang besar dan menggelegar. Wajah kompeni yang berdiri mengangkang di depan muka pribumi.
”Baik Tuan Baron...” langit Batavia seakan berjalan beriring berbaris berdansa mengiringi kebahagian seorang pribumi yang ingin kerja, ingin cari makan.
Pekerjaan menjadi kacung bukanlah hal yang hina...menjadi budak tanpa upah, memeras tenaga membangun Jalan Raya Pos tanpa upah..itu baru Hina! Dan lamin jauh dari pekerjaan yang menurutnya akan meruntuhkan harga diri manusia.... Tokh bekerja dengan seorang Belanda, setidaknya menjaga dirinya dari pemerasan, dan ketakutan akan hantaman tinju Mersose, juga tuan tanah yang sering memakan daging saudaranya sendiri.
Tutup minggu pertama di bulan Agustus 1898, saat-saat menjelang Saat Ratu naik Tahta, dan banyak pembesar Pribumi yang diundang menikmati Eropa.....saat itu juga, Lamin menetap dan menikmati hidup menjadi kacung di Weltevreden...menjadi Kacung bagi keluarga Baron van Buys. Kenaikan Ratu juga kenaikan hidup Lamin, walau secuil.
”Hei hidup kau akan ku jelang! Ini aku Lamin, kacung Baron van Huys, mari-mari akan aku jelang hidup ini!” begini hidup pribumi di tanah pribumi, nenek moyang pribumi kebanyakan.
Kamis, 23 April 2009
KETIKA BIDADARI ENGGAN TURUN LAGI KE BUMI
Karya: OP
Untuk flora bidadari berselendang ungu
di sebuah sore duduk pinggir redup mentari
terbata-bata anak bajang mengeliat memuntahkan kata-kata manis
dari udara terkirim lembaran-lembaran bertuliskan huruf palawa yang enggan ia baca
menangis merindukan bidadri berselendang ungu kembali berpijak di bumi nan limpah loh jenawi
maraung-raung sehingga petir menyambar sekeras gunung memuntahkan lahar panas
teratap dosa dan luka selalu tarpanjat dari iblis di dalam neraka
memikul segunung-gunung tanggung jawab akan keindahan bumi
asa menangis tanpa air mata
jiwa terobek-robek tanpa bekas
teriris kulit ari bagai tersiram setetes cuka
meski aku di jadikan pilihan terakhir bagi mu dunia aku mau
bidadari hanya menatap tanpa raut wajah terlihat
namun aku sadar bahwa ia enggan menginjak kembali ke bumi ini
ia gundah hingga kacau meradang
teriring kata, selamat jalan. dirimu selalu ada dan tetap membekas di hati ku meski kau telah enggan datang lagi kembali
Banten,30 Agustus 07
Untuk flora bidadari berselendang ungu
di sebuah sore duduk pinggir redup mentari
terbata-bata anak bajang mengeliat memuntahkan kata-kata manis
dari udara terkirim lembaran-lembaran bertuliskan huruf palawa yang enggan ia baca
menangis merindukan bidadri berselendang ungu kembali berpijak di bumi nan limpah loh jenawi
maraung-raung sehingga petir menyambar sekeras gunung memuntahkan lahar panas
teratap dosa dan luka selalu tarpanjat dari iblis di dalam neraka
memikul segunung-gunung tanggung jawab akan keindahan bumi
asa menangis tanpa air mata
jiwa terobek-robek tanpa bekas
teriris kulit ari bagai tersiram setetes cuka
meski aku di jadikan pilihan terakhir bagi mu dunia aku mau
bidadari hanya menatap tanpa raut wajah terlihat
namun aku sadar bahwa ia enggan menginjak kembali ke bumi ini
ia gundah hingga kacau meradang
teriring kata, selamat jalan. dirimu selalu ada dan tetap membekas di hati ku meski kau telah enggan datang lagi kembali
Banten,30 Agustus 07
ENTAH CINTA MANA YANG KAN AKU PEGANG
Karya: OP
letih rasa menarjang fikiran penuh doa bersambut malam nan bising
kata-kata penuh gusar dalam kepalsuan
manusia itu indah penuh bungga-bunga namun penuh duri-duri tajam
mencari tau akan sebuah jalinan
terjebak dalam riam-riam guratan tanya
mau apa dan harus bagai mana
entah sampai kapan terus tergantung dalam harapan-harapan
atau meski kau ku gantung
aku takkan rela meski aku yang menjadi diri mu
detik-detik berlalu tetap terjebak untuk memilih
dunia ini hanya punya dua kata tidak tiga
hanya kata ya dan tidak
hanya aku yang masih terjebak dalam kata yang tidak ya dan tidak
aku harus meyudahi ini semua atau aku akan terus terjebak dan tarjebak dalam lingkaran Ya dan Tidak
dan apa yang akan aku jawab adalah titah dari TUHAN
letih rasa menarjang fikiran penuh doa bersambut malam nan bising
kata-kata penuh gusar dalam kepalsuan
manusia itu indah penuh bungga-bunga namun penuh duri-duri tajam
mencari tau akan sebuah jalinan
terjebak dalam riam-riam guratan tanya
mau apa dan harus bagai mana
entah sampai kapan terus tergantung dalam harapan-harapan
atau meski kau ku gantung
aku takkan rela meski aku yang menjadi diri mu
detik-detik berlalu tetap terjebak untuk memilih
dunia ini hanya punya dua kata tidak tiga
hanya kata ya dan tidak
hanya aku yang masih terjebak dalam kata yang tidak ya dan tidak
aku harus meyudahi ini semua atau aku akan terus terjebak dan tarjebak dalam lingkaran Ya dan Tidak
dan apa yang akan aku jawab adalah titah dari TUHAN
SASTRA, I LOVE YOU!
Created by, Ressa Novita (Ocha)
“Sastra???” seruku pelan, setelah menemukan nama pengirim di balik bungkusan persegi panjang berbalut kertas kopi. Bungkusan sedikit lecek itu baru saja kutemukan di dalam kotak pos di depan rumahku.
Nama itu bukan nama yang asing bagiku, bahkan itu adalah sebuah nama yang akan selalu mengisi salah satu bilik jantung dan sudut hatiku.
Sastra…
Kurobek kertas kopi pembungkus pada bagian tepinya. Jika ini hari yang sama dengan hari di 5 tahun yang lalu, pasti di balik pembungkus ini ada sesuatu yang sama. Sesuatu yang pernah menjadi awal perubahan jalan hidupku menjadi Wanda yang hari ini berdiri dengan penuh rasa.
“I’m Sorry, My Love!” ucapku spontan membaca judul di cover buku setebal satu setengah sentimeter berwarna biru laut itu. “Enak aja!” caciku kecil.
Kubuka halaman pertama dari buku itu, dengan harapan akan mendapatkan sesuatu yang menarik dari buku berdesain cover amat sederhana itu. Kutemukan selembar kertas berisi sebuah pesan.
For : Wanda
Mungkin sudah terlambat aku mengucapkan kata maaf. Tapi hatiku tak pernah berhenti menyesali. Selama 2 tahun aku menanti maaf darimu. Entah apa lagi yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan kata ajaib itu. Pagi ini, jam ini, menit dan detik ini aku kirimkan sebuah buku sebagai tanda cintaku yang masih sama dengan yang dulu. Wanda, aku tidak pernah berhenti mencintaimu selamanya! Aku harap dengan datangnya buku ini kamu mau menerima hatiku untuk kedua kalinya!
With Love
Sastra
Sastra, nama itu kembali melekat rekat memenuhi benakku. Membawaku kembali ke masa lalu, ke masa saat aku hanyalah Wanda yang tak mengenal Sastra.
Saat itu aku duduk di SMU kelas 2. Teman-teman sekelasku bilang aku bintang kelas yang paling malas. Maksud mereka malas membaca. Dan aku akui kebenaran sempurna dari julukan yang mereka berikan padaku. Di sekolah selalu dengan mudah aku meraih gelar juara kelas, tapi itu semua kudapatkan bukan karena aku rajin belajar, melainkan daya tangkap otakku yang lumayan cemerlang. Cukup hadir di kelas dan mendengarkan penjelasan guru, aku akan mengingat setiap kalimat yang kudengar tanpa bantuan buku atau apapun.
Ketika semua remaja gemar membaca apapun yang berhubungan dengan dunia remaja, aku akan memainkan kaki-kakiku untuk berlari. Yah, aku suka berlari. Aku adalah salah satu atlit lari berprestasi di tingkat SMU. Selain lari, aku juga gemar olahraga jenis yang lainnya. Sebutkan salah satu, dan aku akan memainkannya dengan cukup mahir. Tapi jangan sodorkan buku padaku, karena judul dan pengarangnya saja tidak akan aku baca dengan serius.
Pikirku, peduli amat dengan buku dan apapun yang berisi tulisan-tulisan mesin cetak. Mataku lebih berguna jika digunakan untuk menatap lurus ke depan saat berlari.
Pemikiran itu segera berubah, tak perlu menunggu lama. Dimulai dari suatu pagi dengan kiriman buku dari seorang pria bernama Sastra. Buku kumpulan syair Kahlil Gibran. Luar biasa bahagianya aku ketika mendapatkan kiriman buku itu. Tentu saja rasa bahagia itu bukan karena aku menyukai buku itu, tapi karena buku itu kiriman dari seorang pria yang pernah aku kagumi di masa SMP dulu. Sastra adalah seniorku di SMP, ia tinggal tidak jauh dari kompleks dekat rumahku. Meskipun demikian tidak pernah berhasil aku mendekatkan diri dengannya. Dibilang kurang agresif, ya cukuplah untuk ukuran seorang cewek SMP yang masih lugu. Mungkin kesempatan untuk bersama belum diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setelah aku lulus SMP sudah tidak lagi aku berpikir untuk mendekatinya. Aku sudah terlanjur yakin kalau kita memang tidak berjodoh. Aku hanya bisa sesekali menanti kemunculannya setiap berjalan pulang ke rumah. Untuk sekedar menghapus kerinduanku padanya.
Lalu akupun tergelitik untuk membaca buku itu sampai selesai. Ajaib, tiap bait kata indah yang diciptakan Kahlil Gibran begitu mendalam dan dapat menggambarkan apa yang ia pikirkan. Dan ternyata buku itu bukan yang pertama dan yang terakhir yang pernah kubaca. Malah buku itu adalah awal dari puluhan bahkan ratusan buku lainnya yang akan aku baca.
Dunia sedikit kacau menyaksikan perubahanku. Aku ketagihan membaca apapun terutama yang berhubungan dengan sastra. Dan aku mulai melupakan olahraga yang biasanya menjadi image ku. Tapi aku senang karena aku mengarungi dunia Sastra bersama Sastra yang aku cintai.
“Hei, buku apa itu?!”
Yang bertanya itu temanku, Yana. Semalam ia menginap di rumahku dengan alasan ingin membongkar dan merampas semua buku-buku menarik yang kumiliki. Saat ini kami sama-sama sedang menyelesaikan kuliah di salah satu fakultas sastra di kota ini. Jadi buku-buku itu menjadi begitu berharga bagi kami. Termasuk buku yang baru saja kudapatkan pagi ini.
“Ehm, bahan pembelajaran baru! Baru kutemukan di kotak pos. Lumayan, dari ringkasan ceritanya sepertinya isinya menarik”
“Kiriman siapa?!”
“Sastra”
“Wah!!!” serunya riang saat pertanyaannya terjawab seperti yang ia harapkan.
Yana sahabatku sejak kecil, ia tinggal tepat di sebelah rumahku. Ia tau bagaimana hubunganku dengan Sastra, berapa lama kami bertahan, dan kenapa kami berpisah. Ia salah satu saksi hidup perubahanku. Dia sama seperti remaja-remaja pada umumnya, gemar membaca buku-buku sastra terutama yang berhubungan dengan cerita cinta. Bahkan dia mendalami dunia itu. Betapa senangnya Yana ketika ia melihatku membaca buku kumpulan syair pemberian Sastra itu.
“Apanya yang WAH?!” keluhku sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah puas Yana.
“Wah!!! Ada sinyal untuk bersama lagi, nich
“Sastra???” seruku pelan, setelah menemukan nama pengirim di balik bungkusan persegi panjang berbalut kertas kopi. Bungkusan sedikit lecek itu baru saja kutemukan di dalam kotak pos di depan rumahku.
Nama itu bukan nama yang asing bagiku, bahkan itu adalah sebuah nama yang akan selalu mengisi salah satu bilik jantung dan sudut hatiku.
Sastra…
Kurobek kertas kopi pembungkus pada bagian tepinya. Jika ini hari yang sama dengan hari di 5 tahun yang lalu, pasti di balik pembungkus ini ada sesuatu yang sama. Sesuatu yang pernah menjadi awal perubahan jalan hidupku menjadi Wanda yang hari ini berdiri dengan penuh rasa.
“I’m Sorry, My Love!” ucapku spontan membaca judul di cover buku setebal satu setengah sentimeter berwarna biru laut itu. “Enak aja!” caciku kecil.
Kubuka halaman pertama dari buku itu, dengan harapan akan mendapatkan sesuatu yang menarik dari buku berdesain cover amat sederhana itu. Kutemukan selembar kertas berisi sebuah pesan.
For : Wanda
Mungkin sudah terlambat aku mengucapkan kata maaf. Tapi hatiku tak pernah berhenti menyesali. Selama 2 tahun aku menanti maaf darimu. Entah apa lagi yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan kata ajaib itu. Pagi ini, jam ini, menit dan detik ini aku kirimkan sebuah buku sebagai tanda cintaku yang masih sama dengan yang dulu. Wanda, aku tidak pernah berhenti mencintaimu selamanya! Aku harap dengan datangnya buku ini kamu mau menerima hatiku untuk kedua kalinya!
With Love
Sastra
Sastra, nama itu kembali melekat rekat memenuhi benakku. Membawaku kembali ke masa lalu, ke masa saat aku hanyalah Wanda yang tak mengenal Sastra.
Saat itu aku duduk di SMU kelas 2. Teman-teman sekelasku bilang aku bintang kelas yang paling malas. Maksud mereka malas membaca. Dan aku akui kebenaran sempurna dari julukan yang mereka berikan padaku. Di sekolah selalu dengan mudah aku meraih gelar juara kelas, tapi itu semua kudapatkan bukan karena aku rajin belajar, melainkan daya tangkap otakku yang lumayan cemerlang. Cukup hadir di kelas dan mendengarkan penjelasan guru, aku akan mengingat setiap kalimat yang kudengar tanpa bantuan buku atau apapun.
Ketika semua remaja gemar membaca apapun yang berhubungan dengan dunia remaja, aku akan memainkan kaki-kakiku untuk berlari. Yah, aku suka berlari. Aku adalah salah satu atlit lari berprestasi di tingkat SMU. Selain lari, aku juga gemar olahraga jenis yang lainnya. Sebutkan salah satu, dan aku akan memainkannya dengan cukup mahir. Tapi jangan sodorkan buku padaku, karena judul dan pengarangnya saja tidak akan aku baca dengan serius.
Pikirku, peduli amat dengan buku dan apapun yang berisi tulisan-tulisan mesin cetak. Mataku lebih berguna jika digunakan untuk menatap lurus ke depan saat berlari.
Pemikiran itu segera berubah, tak perlu menunggu lama. Dimulai dari suatu pagi dengan kiriman buku dari seorang pria bernama Sastra. Buku kumpulan syair Kahlil Gibran. Luar biasa bahagianya aku ketika mendapatkan kiriman buku itu. Tentu saja rasa bahagia itu bukan karena aku menyukai buku itu, tapi karena buku itu kiriman dari seorang pria yang pernah aku kagumi di masa SMP dulu. Sastra adalah seniorku di SMP, ia tinggal tidak jauh dari kompleks dekat rumahku. Meskipun demikian tidak pernah berhasil aku mendekatkan diri dengannya. Dibilang kurang agresif, ya cukuplah untuk ukuran seorang cewek SMP yang masih lugu. Mungkin kesempatan untuk bersama belum diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setelah aku lulus SMP sudah tidak lagi aku berpikir untuk mendekatinya. Aku sudah terlanjur yakin kalau kita memang tidak berjodoh. Aku hanya bisa sesekali menanti kemunculannya setiap berjalan pulang ke rumah. Untuk sekedar menghapus kerinduanku padanya.
Lalu akupun tergelitik untuk membaca buku itu sampai selesai. Ajaib, tiap bait kata indah yang diciptakan Kahlil Gibran begitu mendalam dan dapat menggambarkan apa yang ia pikirkan. Dan ternyata buku itu bukan yang pertama dan yang terakhir yang pernah kubaca. Malah buku itu adalah awal dari puluhan bahkan ratusan buku lainnya yang akan aku baca.
Dunia sedikit kacau menyaksikan perubahanku. Aku ketagihan membaca apapun terutama yang berhubungan dengan sastra. Dan aku mulai melupakan olahraga yang biasanya menjadi image ku. Tapi aku senang karena aku mengarungi dunia Sastra bersama Sastra yang aku cintai.
“Hei, buku apa itu?!”
Yang bertanya itu temanku, Yana. Semalam ia menginap di rumahku dengan alasan ingin membongkar dan merampas semua buku-buku menarik yang kumiliki. Saat ini kami sama-sama sedang menyelesaikan kuliah di salah satu fakultas sastra di kota ini. Jadi buku-buku itu menjadi begitu berharga bagi kami. Termasuk buku yang baru saja kudapatkan pagi ini.
“Ehm, bahan pembelajaran baru! Baru kutemukan di kotak pos. Lumayan, dari ringkasan ceritanya sepertinya isinya menarik”
“Kiriman siapa?!”
“Sastra”
“Wah!!!” serunya riang saat pertanyaannya terjawab seperti yang ia harapkan.
Yana sahabatku sejak kecil, ia tinggal tepat di sebelah rumahku. Ia tau bagaimana hubunganku dengan Sastra, berapa lama kami bertahan, dan kenapa kami berpisah. Ia salah satu saksi hidup perubahanku. Dia sama seperti remaja-remaja pada umumnya, gemar membaca buku-buku sastra terutama yang berhubungan dengan cerita cinta. Bahkan dia mendalami dunia itu. Betapa senangnya Yana ketika ia melihatku membaca buku kumpulan syair pemberian Sastra itu.
“Apanya yang WAH?!” keluhku sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah puas Yana.
“Wah!!! Ada sinyal untuk bersama lagi, nich
Kamis, 16 April 2009
Siap-siap
Buat seluruh simpatisan dan para penggiat sastra... siapa-siap, Komunitas Penulis Jakarta akan melakukan pembaruan.... doakan semoga Komunitas Penulis Jakarta bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi pengembangan minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di Indonesia
Ohya, Komunitas Penulis Jakarta hadir di facebook, mampir ya
Ohya, Komunitas Penulis Jakarta hadir di facebook, mampir ya
Jumat, 13 Februari 2009
Setengah hati
Karya: Sanies
Namaku Kiko Sergio, mahasiswa semester 5 di salah satu perguruan tinggi Jakarta. Saat ini aku masih dalam keadaan patah hati, seseorang telah memaksaku mengakui kesalahan ynag tidak kuperbuat. Enam bulan sudah berlalu rasa itu memang masih ada tapi jika dia memberi kesempatan lagi padaku, aku tak akan ambil kesempatan itu. aku telah menikmati masa-masa sendiriku... ini berkat orang-orang disekelilingku. Terimakasih Tuhan aku menjadi orang yang tenang. Beberapa bulan lalu aku hampir gila dibuatnya, depresi, resah karena mencintainya dan rasa ingin kembali sangat menggebu-gebu. Tapi hari ini tidak. Aku sadar akan banyak hal yang sangat lebih penting daripada mengharapkannya terus-menerus. Fuuchh cerita yang pajang seperti film yang belum ada akhir ceritanya... ini hari sabtu, tentu tidak ada kuliah hari ini, waktunya menikmati waktu dirumah sampai besok, yah maklumlah dari hari senin sampai jumat aku kulianh dan bekerja freelance disalah satu media cetak, yah lumayan c untuk uang senang-senang. Jam menunjukkan pukul 08.12WIB, tapi tubuhku masih saja merasa malas bangun dari tempat tidur...pagi-pagi gini HP bunyi...BT......
sms diterima :
Kiko bangun dong, mmm bau.... mandi gih..
btw, ntar mlm km mw kmn???
kalo ga ada rencana temenin aku nonton dong....
(lagi- lagi Vanya, cewek yang mengharapkanku, yah mungkin sedang mengharapkanku, bagaimana tidak, toh selama ini dia seperti menganggap aku cowoknya. Minta anter dia kemana-mana walaupun aku sering menolak. Tapi kehadirannya lumayan bikin aku jadi agak lupa dengan cewek yang kini makin berlalu, tapi bukan berarti aku jd mencintai Vanya. aku benar-benar tidak ada perasaan dengan Vanya, maaf Vanya)
sms diterima :
kok gak dibales c??? km blm bgn ya??? kalo udah bgn telp aku ya
sms dikirim :
eh iya baru bgn ni. aku udah ada rencana van,
aku udah janji mw temenin nyokap aku ke market. gpp ya...
(padahal aku sudah terlanjur janji dengan mantan aku terdahulu,waktu jaman SMA. aku sudah sering menolak ajakannya dengan seribu alasan. Vanya andaikan aku bisa mengatakan yang sejujurnya, bahwa aku saat ini aku tidak mencintai siapa-siapa...
sedah hampir 3 bulan dia dekat dengannku, tapi kedekatan ini disalahartikan olehnya. Aku tidak tau kapan aku bisa jujur, aku tidak ingin menyakitinya, karena disakiti itu rasanya sangat sakit...)
"Kikoooo bangun nak...." suara Mama dari luar kamar. Seorang perempuan termanis yang selalu memberiku dukungan padaku.
"iya ma, aku udah bangun kok..." teriakku.
"Kiko, mama berangkat kerumah budemu ya, mau bantu-bantu bude kamu siapin acara untuk nanti malam. Makanan udah mama siapin. kalau mau pergi kabarin mama ya" mama tiba-tiba masuk kamar untuk pamit ke rumah bude, katanya sih ada acara syukuran anaknya yang baru khatam Alquran.
"iya ma, berangkat sama siapa?? apa aku aja yang antar mama??" tawaranku walau agak basa-basi lantaran masih pengen leyeh-leyeh.
"biar mama sama pak Kirno aja. kalo kamu sempet, nyusul ya"
"oh yaudah deh ma, ati-ati ya..."
Kurebahkan lagi tubuhku, masih bemalas-malasan...tiba-tiba HP bunyi.
Panggilan masuk :
"woy, masih ngorok lw ye.... bangun pak" terdengar suara cepreng dari mulut Jovan disebrang sana.
"udah bangun kok, ada apa c lw telp pagi-pagi gini?"
"pagi?liat jam dong! anak-anak tar sore mau ngajakin main basket di rumah Davi, lw ikut kan? tar gw jemput deh.."desaknya
"gak usah dijemput deh, tar gw dateng" padahalkan aku ada janji dengan Racel, mantan aku di SMA dulu.
"yaudah, kabar-kabarin yah.."
******
Waktu telah menunjukan pukul 15.00, sampai sore ini aku menghabiskan waktu didalam kamar, sempat keluar kamar hanya untuk makan. hahaha belum mandi ni dari pagi....
SMS dikirim :
hai lagi ngap??? jadi ktmu ga??
SMS diterima :
hai juga, aku lagi mau mandi ni. kita ktmunya nanti mlm kan??km jemput aku atau gmn??
Sebenernya aku juga bingung mau ngomong apa dengan dia kalau jadi bertemu nanti, toh dia udah mantanku. Memang aku agak penasaran dengan wajahnya yang sekarang, tambah cantik atau ada perubahan...
SMS dikirim :
ak ada janji main basket dirumah temen sore ini, kita ktmnya selesai ak main basket ya. ya kira-kira jam 7. kt ktmuan aja ya di bebek bali.ok?
SMS diterima :
ok deh jam 7 ya di bebek bali. see ya
Aku beranjak dari tempat tidur yang berantakan bukan hanya seperti kapal pecah, tapi juga seperti tanah longsor karena bantal bukan lagi berada ditempat tidur. Bantal-bantal terbang tepat di bawah meja komputer.hahaha. Sore ini mama belum pulang juga, rasa tidak enak karena tadi disuruh nyusul. hah rasa tidak siap bertemu Racel membuat aku jadi ragu. Tidak terasa waktu menunjukan pukul 15.30. aku mandi ah. Nanti Jovan cempreng marah-marah...huaaa dasar cempreng.
****
Ketika sampai dirumah Davi, semua teman-temanku sudah memulai permainan. Rasa pusing dan kunang-kunang karena kenyakan tidur seharian masih saja terasa. Untung waktu nyetir tadi tidak ada apa-apa dijalan.
"Woy!!!! sini gabung,,,,, 3 on 3 yok" Davi menyeru dari tengah lapangan
"iya" jawabku
"lw kenapa?? keliatannya lemes banget, lw sakit ya?" tiba-tiba Davi menhampiriku disaan aku ganti kaus.
"gak kok, cuma pusing dikit. kebanyakan tidur tadi"
"gw punya obat kuat ni, lw mau pake ga?hahaha ya kalo lw merasa gak mampu c" aku tahu dia cuma bercanda.huh masih aja gitu Dav.
"gak perlu! gw kuat ko"
"woy malah ngerumpi!!! ayo ah" teriak Jovan dari tengah lapangan
"yaudah buruan" kata Davi sambil berlari kearah lapangan.
****
jam menunjukan pukul 18.20 WIB. Aku bersiap-siap ganti kaus yang aku bawa dari rumah. Sampai jam segini aku masih saja belum merasa siap bertemu dengan Racel. Jelas tidak ada niat untuk balikan lagi dengannya.
"Yaudah gw cabut ya"
"gigi kali cabut, mang lw mau kemana?" Tanya Fandy
"ada janji ni."
"mw kemana c? nantilah, biasanya kalo abis main basket kita nongkrong-nongkrong dulu kan" ujar Davi
yang lain juga ikut-ikutan ngeroyok, lantaran aku gak boleh buru-buru pamit.
"duwh udah ah takut macet ni, gw duluan ya"
"yaudah hati-hati ya, kalo ada cewek dijalan angkut aja" seru Jovan
yah memang seperti itulah teman-temanku. Tetapi dibalik semua hal, mereka orang yang baik.
walaupun tidak separah hari sibuk, terkadang hari sabtu juga macet, hal yang paling tidak semua orang sukai. Tapi apa boleh buat, toh sudah menjadi kodrat tinggal di Jakarta.
kurang lebih pukul 19.15 WIB. Tiba-tiba HP bunyi...
SMS diterima :
kmu dmn c? jadi gak kita ktm.aku udah disini udah 8 menit.jgn tlat ya.awas loh.
Nada SMSnya sih mengancam, tapi dia terlalu baik untuk mengancam seperti itu. Apa mungkin dia sudah berubah ya, menjadi agak temperamen.hah liat saja nanti.
SMS dikirim :
aku udah mw nyampe ko. sabar ya bu...
Ketika kaki mulai melangkah ke dalam area Bebek Bali, ada banyak sekali orang-orang dan aku tetap bisa menemukannya dalam keadaan padat. Arah jam 9 dari tempat berdiriku terlihat sosok tgadis yang sudah pasti aku kenal. Racel gadis yang pernah menjadi bagian dari hidupku di masa SMA dulu, kini terlihat semakin cantik dengan dress terusan warna coklat. Dia terlihat anggun dan sangat cantik. Jelas banyak perubahan didirinya, tapi....apa masih terlalu ramah ya dengan banyak cowok. Hal yang membuat aku tidak tahan, semua cowok diberi harapan dan saat itu ku putuskan untuk berpisah.
"hai.." sapaku
"hai apa kabar?" sahutnya sambil mencium pipi kiri dan pipi kananku. owhhh dia masih begitu hangat.
Agak segan untuk memulai pembicaraan, dia tawarkan aku minuman kesukaanku, lemon tea. Dia masih ingat betul minuman favoritku. sekitar 15 menit kemudian keaadaan agak mencair, kami larut dalam bincangan masalalu di jaman SMA, canda gurau sambil mengenang masa-masa kami bersama.
tiba-tiba HP bunyi di tengah perbincanagn kami
SMS diterima :
km lagi ngap? jadi temenin mama km ke supermarket?
hah Vanya!! astaga... hampir aja lupa kabarin dia. yah aku cuma menghargai perasaannya aja c.
"siapa? pacar km ya?" tanya Racel
"bukan temen aku kok, kenapa kamu cemburu ya"
Terlihat wajahnya mulai agak jutek, ada apa tuh? apa dia????duwh ribet deh kalau sampai kejadian, masalah Vanya aja belum kelar, masa mw dateng masalah baru sih.
SMS dikirim :
jadi ini aku lagi di supermarket. nanti aku kabarin lagi ya.
Lagi-lagi aku ingin sekali jujur tentang keadaan ini, tapi aku belum siap. Aku takut kamu kecewa Van.
"udah SMSnya??" ujar Racel, mungkin dia kesal.
"udah kok. aku cuma bales aja, ya ga enak aja kali, masa ada pulsa gak dibales" kataku, bela diri, ahaha
Tidak mau kalah, diapun dapat telp dari seseorang disebrang sana, entah siapa. Terdengar seperti bicara dengan seorang cowok, yah mungkin cowok itu merasa diberi harapan oleh Racel. Tapi Racel memang selalu jujur, dia bilang dengan seseorang itu bahwa dia sedang bersamaku. Terlalu jujur atau memang tidak punya perasaan ya? Setelah dia selesai bicara di telp dengan cowok yang meng-callingnya, aku memulai pembicaraan yang sempat terputus, dan larut lagi di dalam perbincangan.
*****
Jam menunjukkan pukul 21.55 WIB, aku baru saja mengantarnya pulang. Sampai dirumah, mama menyambutku pulang.
"mama telp tadi, gak diangkat-angkat sih"
"loh mama telp? maaf ma aku gak tahu, tadi handphone aku silent.jadi gak tahu deh mama telp."
"mang kamu dari mana aja, kan mama bilang, kalo mau keluar rumah kabarin dong.."
"iya ma, maaf aku lupa, habisnya tadi buru-buru sih, aku mi\ain basket dirumah Davi"
"yaudah bersih-bersih sana, habis itu kamu makan y"
oh mama maaf, saking terlalu mikirin ketidaksiapan aku bertemu Racel, eh sampai lupa aku kabari mama, benar-benar tidak enak ni. Kulihat beberapa panggilan tidak terjawab tampak di layar handphoneku, dari mama, Davi, Vanya dan.... ya ampun! Sandra!!! mantanku yang rasanya baru kemarin bisa kulupakan, mau apa dia telp??? apa tidak puas menyakitiku dengan fitnahnya, dia selau menuduhku selingkuh, terlalu posesif. Padahal dia tahu aku sangat mencintainya. Dan tidak mungkin aku selingkuh dalam keadaan cinta yang masih sangat mengebu-gebu. Dia memaksaku mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan. Akupun tidak memberi reaksi terhadap panggilan tak terjawab itu, aku malah telp Vanya.
Panggilan keluar :
"Halo Van, kamu lagi ngapain? maaf ya tadi mama ngajak aku makan diluar sekalian." lagi-lagi aku berbohong...ya Tuhan ampunilah aku.
"hai, gak apa-apa kok, lagian tadi juga aku keluar rumah denagn adikku, dia ngajak aku ke outlet depan"
"kamu gak bete kan?yaudah aku mau bersih-bersih dulu habis itu makan and then aku tidur ya"
"ya, jangan lupa sikat gigi ya"
"oke"
****
Hari berganti, keaadaanku malah makin parah, Sandra mantanku yang paling posesif kini sering meng-SMSku, dan aku balas, gak ada maksud apa-apa, lagi-lagi aku hanya mengahargainya. Tidak berbeda dengan Racel mantanku yang paling ramah dengan semua cowok, SMS dan telp aku, bagai minum obat, sehari 3x. Dan Vanya gadis yang pengertian, yang sedang menganggapku bagian dari hidupnya, telp dan SMS aku dianggapnya kewajiban. Perhatiannya maksimal, tapi sayang aku tidak mencintainya. Mungkin rasa itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, aku tak tahu.
*****
Aku kembali pada hari-hari yang sibuk, sangat tidak terasa. Dan tanpa aku sadari juga, aku sedang bermain hati pada 3 perempuan, selain Mama, love u mom...
Sekarang jam 08.00 pagi aku baru saja bangun dari tidur... ku ambil handphone, yah hal itulah yang pertama kali aku lakukan sebelum melakukan yang lainnya. Lihat-lihat handphone. Hal itu sudah lama sekali menjadi kebiasaanku. Kulihat ada beberapa sms mengenai pemberitahuan liputan n then... Sandra sms...
SMS diterima :
Yg membuat aku jd feminim, adalh km.yg membuat aku jd yg lebih sabar, adlh km.yg membuat hatiku menjdi pasti, adalh km. km adlh orang yg telah mmberiku banyk perubahan dalam hidup, membuat aku jd lebih baik. jika sampai hari ini kita tak bersama lg, aku hanya ingin berterimakasih yang sebesar-besarnya atas segala perubahan ini. kau yang hidupkanku tanpa tuntutan, kau yang bahagiakanku tanpa sandiwara. sampai kapanpun cinta ini tidak akan terlupakan. km mencintai aku tnpa syarat, tanpa kemunafikan, tanpa sajian kata-kata yang bisa membuatku terbang, namun aku luluh dengan idtikadmu. kau yang membawaku ke ruang atas dengan segala penghargaan.kau adalh makhluk terbijaksana yang telah telah Tuhan ciptakan. kau adlh anugrah trindah yg pernh kumiliki.best ever.ur x-love.
Ada apa dia mengirim SMS itu, apa maksudnya??? apa karena dia telah menyesali semua yang terjadi beberapa bulan lalu? kalau memang kamu menyesal, kamu terlambat San, aku terlanjur sakit, kamu menyia-nyiakan cinta yang aku berikan, tulus hanya untuk kamu saat itu.
Sandra...mungkin dia mencoba mendekat lagi dengan sms dan telp yang dia lakukan kemarin-kemarin. memang perasaan ini tak bisa kubohongi, aku benar-benar masih menyayanginya, namun aku tak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Aku masih menikmati masa sendiriku walaupun bayang-bayang 3 dewi ada dibenakku. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa maksud Sandra mengirim pesan seperti itu.
Panggilan keluar :
"hallo" sandra menyapa
"hallo, kamu lagi sibuk gak?"
"gak, kenapa?"
"aku udah terima SMS kamu, maksudnya apa ya?"
"oh itu, kamu beneran udah baca?masa gak tahu c"
"tolong jalasin dong..."
"gak ada maksud apa-apa kok, aku cuma mau berterimakasih aja sama kamu, kamu udah baik sama aku, tadinya sih aku mau ajak balikan kamu lagi, tapi kayaknya udah gak mungkin"
"oya?"
"iya, aku denger kamu lagi dekat dengan mantan kamu waktu SMA.iya kan?" walaupun cerita Racel gak ada lagi dihidup aku, aku tetap tidak ingin mengulang yang tlah berlalu San...
"siapa bilang? gosip tuh?"
"trus emang kamu mau balikan lagi sama aku?" ya ampun, kenapa dia sampai tanya soal itu....
"mmmmm....aku gak bisa San, aku lagi pengan sendiri dulu.setelah kejadian beberapa bulan lalu, ternyata banyak yang harus aku benahi dari diri aku.lagipula aku urusan kerjaan aku dan kuliah aku jg lagi ribet San,"
"oh gitu, its ok, gpp.iya aku sadar kok, aku banyak salah sama kamu, dan aku bukan wanita pilihan kamu.mereka lebih baik daripada aku."
"mereka?maksud kamu siapa?"
"ya mana aku tahukamu pikir aja sendiri" mulai lagi deh posesifnya, gak jelas!!!
"loh kok kamu jadi jutek gitu?aneh deh"
"ya udah yah aku mau mandi, nanti ada kelas" yah kalau sudah seperti ini, pasti dia marah, tapi karena apa ya? aku tidak tahu pasti. yaudahlah toh di bukan siapa-siapa aku lagi kok.
"ya udah maf ya aku ganggu" ku tutup telpku tanpa pamit, yah kali-kali aku yang tutup telp duluan.
Jam menunjukan pukul 08.31, hari ini aku ada liputan di daerah Mampang, yah inilah pekerjaanku selain kuliah. jujur aku masih bertanya-tanya kanapa dia marah... ya sudahlah...keluar kamar mama telah menyiapkan nasi goreng dimeja makan, yah setiap masakan yang mama siapkan hanya aku dan mama saja yang memakannya, papa??? papaku telah hidup tenang dan bahagia disisi Tuhan, sudah 3 tahun aku dan mama hidup tanpa papa. dengan ekonomi kami?? kami hidup dari beberapa rumah yang diwarisi papa, rumah-rumah tersebut kami sewakan untuk kehidupan kami sehari-hari. Mama hanya memiliki satu orang anak, hanya aku...hah panjang deh ceritanya. Senyum mamalah yang membuat aku tetap kuat dan menjadi orang yang tegar, aku banyak belajar dari mama. Mama pernah bilang "yang paling penting dalam hidup ini adalah menghargai orang lain, selain diri kita" oooohhh betapa bijaknya mama.
"ma, aku berangkat ya"
"ok, ati-ati ya nak. pulangnya jangan malam-malam yah, selesai kuliah nanti langsung pulang, kalau mau kemana-mana lagi, telp mama"
"ok ma" ku cium pipi mamaku tersayang dan aku berpamitan kerja juga kuliah.
****
Sesampainya aku dikampus tepat pukul 16.00 yah mungkin kelas sudah dimulai. Tapi dosen bisa memaklumi mahasiswa keterlambatan yang kuliah sore, sebagian besar dari kami (anak sore) bekerja pada pagi hari dan selesai disore hari.
"Kiko!!!" Dari sudut koridor perpustakaan Fandy memanggilku. memang hanya Fandy yang satu kampus denganku, sahabatku yang lainnya belainan kampus. aku dan Fandi mengambil fakultas dan jurusan yang sama. Fandy bekerja di slah satu operator GSM, ya memang tidak nyambung dengan jurusan yang diambilnya, tapi apa boleh buat...
ku hampiri Fandy yang sedang yang sedang asik berchating ria di laptopnya.
"hai Fan....kok belum masuk sih?"
"gak masuk dosennya ki, makanya kita jalan yuk, kemana kek" ajaknya
"yang bener lw???"
"iya, bener, gw lagi gak bawa mobil ni, jadi sekalian nebeng pulang. hehe"
"yaudah kemana ni enaknya?
"ke Plaza Semanggi aja yuk"
"yaudah yuk" Fandypun bersiap membereskan laptopnya.tiba-tiba handphoneku bunyi.
SMS diterima :
km lg dmn?udah mkn blm?jgn lupa mkn ya, mntang-mentang sibuk sampe lupa mkn.
Vanya, kadang aku sering tidak enak karena selalu dia yang memulai untuk memberi perhatian padaku.
"siapa? kok lw jadi bengong gitu?"
"gak, mau tahu aja lw" kami beranjak menuju parkiran dan aku sambil memegang handphone, ingin membalas sms-nya...
SMS dikirim :
aku lg dikmpus ni, gak ada kelas.dosennya gak dtg.ni aku baru mau mkn sama Fandy, km udah mkn? lg dmn?
"Fan, lw aja ya yang nyetir..." bujukku
"kenapa?"
"gak apa-apa?"
"hah lw sih sms-an mulu, yaudah sini gw yang nyetir."
SMS diterima :
aku udah makan tadi. sekarang aku lagi di PIM ni. km kesini dong, aku sama temen-temen aku
"eh ki, lw SMS-an sama siapa sih? anteng banget.lw lagi deket sama siapa c sekarang?" tanya Fandy yang dari tadi menyetir tanpa kuajak ngobrol. hahaa maaf ya Fan....
"adaaaa deh... tapi gw cuma deket aja Fan, gak ada niat jadian"
"kok gitu, mang lw kenal dia dimana?"
SMS dikirim :
yah aku gak bisa. nanti-nanti aja ya.gpp kan?
"gw kenal dia waktu di Gramedia Senen, waktu itu dia pikir gw temennya. dia salah orang gitu.yah udah 2bulan inilah gw deket sama dia"
"yah gw sih bisa maklum kenapa lw gak ada niat jadian sama dia, secara lw baru 6bulan jomblo, iya kan?" yah walaupun dia terlihat gak tahu apa-apa, tapi sebenarnya dia memang tahu banyak tentang aku
"ya gitu deh..."
SMS diterima :
yaudah gpp.tar kalo udh smp rmh kabrin yak.ok? daaahhh
"gimana orangnya ki?cantik?"
"ya sangat cantik c, tapi enak aja diliat, gak ngebosenin tampangnya."
tiba-tiba handphonenya Fandy bunyi. entah siapa yang telv, tapi sepertinya...
"ada kok orangnya, lw mw ngomong sama dia?" telv untukku??? Fandy menyerahkan handphonnya padaku.
"siapa Fan?"
"Riko"
"hai Rik, kemana aja lw gak pernah ngumpul sama akan-anak lagi? ayolah latihan bareng.." tanyaku kepada riko diseberang sana
"lah mang lw gak tau gw di Ausi?"
"eh iya ya gw lupa, habisnya udah lama banget lw gak ada kabar.lw masih disana?"
"gw udah balik ni, ke jakarta. baru sebulanan disini."
"kok bisa?udah sebulan malah gak ngabarin???"
tiba-tiba Fandy berceloteh diluar jalur telv "hebat tuh ki, dia gak ada kabar, karna udah ada pacar di Jakarta"
"hah bener Fan? wah jahat lw, bukannya nyetor muka dulu sama anak-anak malah ngumpet punya pacar" yah jagan-jangan pergaulan di negara sana telah merubah sifatnya..ya moga aja tidak.kamipun sampai di Pelagi (Plaza Semanggi). namun telv dari Rico lewat handphonenya Fandy belum juga putus, aku jadi melepas rindu dengan Rico lewat telp hahaha
"yah lagian kemarin-kemarin gw sibuk ngurusin kerjaan disini Ki"
"eh Rico nanti gw telv ya, gw udah sampe ni.ok?
"ok, nanti biar gw aja yang telp.bye"
"oh ok...bye"
****
Sesampainya aku dirumah, seperti biasa, mama menyambutku. oh... senyumannya begitu manis, terlihat dari wajah sosok ibu yang tegar..tapiiii ada yang aku lupa. apa ya?
"kebiasaan deh kamu, gak kasih kabar.."
"yah ma, maaf aku pikir baru jam 10 malam, jadi aku gak ngabarih deh"
"hah yaudahlah, kamu tuh alesannya suka macem-macem, yaudah mandi sana, mamaudah siapin air hangat untuk kamu" ya ampun mama... mama bukan hanya perempuan termanis tapi juga sangat baik, super perhatian.
"yah mama kok repot-repot c?"
"yaudah sana mandi, bau oncom tuh badan" sahutnya sanbil bercanda.
biiiib biiiiib biiib, tiba-tiba handphoneku bergetar.
Panggilan masuk :
"hallo"
"hai, aku Sandra" Sandra??? bukannya dia sedang marah padaku???
"hai San, kamu pakai nomor siapa?kok nomor ini gak ada di listcontact aku?"
"aku pakai nomor mama, kamu lagi ngap?"
"aku baru aja mau mandi ni.kamu ada apa? kok tumben?"
"gak boleh aku telp?"
"gak gitu, boleh-boleh aja kok.emang kamu ada perlu apa sih?"
"yaudah kamu mandi aja dulu ya, nanti aku telp lg."
"gak apa-apa ngomong aja sekarang.lagipula aku baru banget sampai rumah, jadi santai-santai dulu gitu deh"
"emang kamu darimana"
"tadi aku ke kampus tapi gak ada dosen trus aku pergi sama Fandy deh.emang kamu mau ngomong apa sih?"
"hari sabtu adik aku ultah, kamu mau datang gak?" loh ada apa nih, dia pake undang-undang aku segala...
"oya? siapa?"
"ya siapa lagi kalau bukan Rita..kamu lupa yah, adik aku cuma Rita.mama yang suruh aku undang kamu" yah aku pikir atas kehendak dia yang undang, ternyata mamanya, memang mamanya sangat sayang padaku, Sandra pernah bilang, mamanya tidak pernah seperhatian itu terhadap pacar-pacarnya yang lalu sebelum aku.
"ya aku pikir kamu punya adik baru.hehhehe. ok aku usahain, aku datang ya."
"harus datang ya, kalau perlu kamu ajak pacar baru kamu" tuh kan mulai lagi....
"udah deh kamu jangan menyulut api lagi, terserah kamu mau percaya atau gak, aku gak punya cewek saat ini."
"ok...ok... maaf. yaudah kabar-kabarin aja yah. byeee"
"byeee"
Sandra masih saja berposesif ria, didalam kondisi yang complicated ini, malah makin bikin ribet deh. Tapi lagi-lagi aku bilang, aku masih sayang dia. Bibirku bisa saja berdalih tapi hati gak bisa bohong...
Tidak terasa waktu tlah menujukan pukul 23.01 wib.Air panas yang mama siapkan mungkin sudah dingin lagi. haft...mama tidak menegurku, mungkin dia tidur.
*****
Matahari memancarkan sinarnya tepat dibalik jendela kamarku, membias pada gordeng putih pekat. yah terang saja ini sudah jam 7 pagi. Aku kembali lagi pada hari sibuk, hari yang menyita waktu untuk berlibur, yah sampai saat ini aku belum berlibur ke luar kota apalagi ke luar negeri. huft...seperti biasa badanku masih butuh waktu untuk beranjak (ngumpulin nyawa.....hahha). Dan seperti biasa pula sambil bermalas-malas ria aku melihat-lihat ke dua handphoneku. Ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab.
salah satunya pemberitahuan liputan. hari ini namaku tidak tercantum dalam list wartawan liputan. Berarti hari ini aku libur, mungkin akan diganti hari lain sesuai pembagian tugas liputan dan sms lainnya....
SMS diterima :
kiko, kamu udh bo2 ya, kok gak ngabarin aku?aku telp gak diangkat. Vanya masih saja perhatian, kalo kayak gini trus aku bisa jadi suka ni sama dia. cuma Tuhan deh yang tahu.
SMS diterima :
have a nice dream kiko. Sandra juga sms.... huft sudah lama dia gak kirim met bo2, goodnight atau yang seperti ini.dan hp ku pun bunyi....
Panggilan masuk :
"oy, udah bangun lw!!!" Jovan, biasa deh dia selalu telp pagi-pagi.
"iya, udah bangun. kenapa lagi lw telp pagi-pagi?"
"yaelah masih kaku aja lw, anak muda jaman sekarang tuh bangunnya harus pagi kali.lw giman sih udah tahun 2009 masih gak berubah aja."
"iya... iya.... bawel lw. ada apa sih?"
"kemarin Rico telp ya?"
"iya, mang kenapa? oiya, tadi malam dia telp, tapi gw udah tidur.jadi gak keangkat deh"
"iya, dia telp lw lg tapi gak lw angkat, trus dia telp gw, gw disuruh kumpulin anak-anak, termasuk lw.katanya dia mw ajak kita maen basket disenayan jam 4 sore ini. lw bisa kan?eh yah lw kul ya? bolos aja deh sehari duang kok" bujuknya...
"duwh Van gw bis kul aja deh, nimbrungnya, soalnya matkul hari ini gw ada kuis."
"yaudah, tar gw bilang dia de, brarti lw gak ikut pas maen basketnya?lw cuma nyusul pas nongkrongnya aja ya?yaudah awas lw kalo gak nyusul..."
"iya gt aja ya"
"nah kalo Fandy bareng lw gak kulnya?"
"ya bareng lah, tapi coba aja lw telp dia."
"ok deh, yaudah mandi lw bau trasi tau gak"
"alah mulut lw kali tuh yang deket ma idung, jadi mulut lw yang bau"
"ah banyak omong lw da ah, gw mw telp Fandy"
SMS dikirim :
pagi Van....lagi ngap? udah bangun?maf ya semalam aku ketiduran.n lupa kabarin kamu...
SMS diterima :
hy.... tumben ni udah bangun...aku lagi mau mandi ni, kamu pasti msh ditmpat tdr ya?btw hari ini kamu mw kemana aja?
SMS dikirim :
yah gt deh masih dtmpt tdr. plg kul aku ada janji ma temen-temen aku. mw ngumpul2 gt, ada temen yang baru dtg dari AUSI.n aku ga ada liputan hari ini.
SMS diterima :
baru dtg dari Ausi? oh gt yah...
SMS dikirim :
gt knp?
SMS diterima :
gak apa2, btw kbetulan bgt ni kamu gak ada liputan, mw temenin aku ke mall gak?plgnya km langsung ke kampus aja.gmn?
"kiko kamu udah bangun nak?" tiba2 mama masuk ke kamarku..
"eh iya ma..."
"kok masih tiduran c?" tanyanya sambil mencari pakaian kotor dikamarku
"iya bentar lagi aku bangun ko ma, kebetulan gak ada liputan hari ini ma."
"gak ada liputan? yah bukan berarti kamu males-malesan dung sayang"
"hehehe iya ma..... eh kok mama c yang ambil baju kotor?emang mba ririn gak kesini ma?"
"ada kok dia lagi beli sayuran di depan" mama keluar kamar sambil membawa pakaian kotorku.
SMS dikirim :
ups maf br bls....yaudah jam berapa kamu aku jemput?
SMS diterima :
kita makan siang disana aja, jd jam 12an gt,gmn?
SMS dikirim :
ok deh, nanti aku jmpt km ya
mungkin baru kali ini aku mau diajak jalan sama dia. gak apa-apa lah...mungkin dengan seperti ini aku jadi tahu, apakah aku harus blajar mencintai Vanya atau tidak. karena gak ada salahnya aku mengenal dia lebih dalam.
****
Tepat jam 12. 15 menit aku jemput Vanya ke rumahnya....siang ini matahari enggan muncul...lantaran ada awan mendung yang menguasai lagit dan gerimis. Aku menunggu dia tepat di depan gerbangnya, yah dia memang tidak memperbolehkan aku masuk kerumahnya, yang boleh masuk kerumahnya hanya yang berstatus pacar. itu sih yang pernah dia bilang padaku.
Tidak Lama dia pun keluar, mungkin karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kini dia terlihat anggun dengan rambutnya yang panjang terurai.
"hai gak lama kan nunggu aku?"
"gak kok, make up kamu luntur dung tadi keujanan?"
"alah cuma grimis aja kali..."
"great....yaudah kita jalan yah. eh kita mau kmn ni?jadi ke mall"
"kyanya gak deh, kita ke Sarinah aja ya, makan di daerah sana."
"ok non"
selama di perjalanan ke Sarinah, aku banyak ngobrol dengannya, ternyata pertemuan ini lebih asik daripada cm lewat telp ataw sms...kami bercanda gurau juga cerita akan banyak hal. Ya memang nyaman...kami pun sampai di Lotus Sarinah, dia telihat memilih-milih pakaian yang tengah menyambut kami. Sepertinya dia tertarik pada salah satu baju, tapi dia tidak membawanya ke kassa."kenapa ga diambil?" tanyaku
"ga ah lain kali aja" seketika kulihat harganya yang memang agak mahal, tapi gak masalah kalau aku membelikan baju itu untuknya..
"kamu ambil aja yang kamu suka, aku yang bayar, anggap aja ini hadiah karena slama ini kamu perhatian sama aku."
"gak ah, gak usah kiko,, gak ada yang aku suka kok...ya udah yuk kita makan, aku udah laper ni..." bujuknya sambil menarik tanganku. Tapi kenapa dia menolak, padahal tadi dia terlihat sangat tertarik pada baju itu. Kami makan di salah satu merk pizza yang berada tidak jauh dari tempat pakaian tadi. Kami banyak cerita sana-sini, pengalaman lucunya n then....dia bilang...."sebenernya aku suka kamu kiko dari pertama kita ketemu" OMG.... kenapa smapai dia duluan yang menyatakan cintanya...kenapa bukan aku??? "kok km diem Kiko.... kamu gak suka aku ya... aku kurang perhatian ya sama kamu???"
"gak, gak gt Van... apa sebelumnya kamu pernah menyatakan cinta duluan?"
"aku gak pernah kok, baru kali ini.aku merasa nyaman sama kamu, gak tau knp aku bisa bilang ini ke km. aku liat kamu bisa dipercaya, gak sprti cowok-cowok yang pernah aku kenal" knp dia bisa denagn mudah peraya aku....
"tapi harusnya aku duluan yang bilang soal itu, bukan kamu" maksudku kurang baik aja bila cewek duluan yang bilang suka..
"berarti kamu suka sama aku jg ya???" wah aku bingung harus blg apa, aku terjebak omonganku sendiri...yah memang aku suka dia, dia baik, care, gak posesif dan aku nyaman dengannya, tapi... perasaan ini hanya setengah, tidak lebih.apa baik jika aku berhubungan dengan setengah hati??
"kok kamu diem? kalau kamu ga punya perasaan yang sama dengan apa yang aku rasain sekarang, aku gak apa-apa kok" huft... Vanya mendesakku....sepertinya akuuuu....
Mau tahu apakah Kiko menerima Vanya atu tidak???? tunggu cerita selanjutnya ya
Namaku Kiko Sergio, mahasiswa semester 5 di salah satu perguruan tinggi Jakarta. Saat ini aku masih dalam keadaan patah hati, seseorang telah memaksaku mengakui kesalahan ynag tidak kuperbuat. Enam bulan sudah berlalu rasa itu memang masih ada tapi jika dia memberi kesempatan lagi padaku, aku tak akan ambil kesempatan itu. aku telah menikmati masa-masa sendiriku... ini berkat orang-orang disekelilingku. Terimakasih Tuhan aku menjadi orang yang tenang. Beberapa bulan lalu aku hampir gila dibuatnya, depresi, resah karena mencintainya dan rasa ingin kembali sangat menggebu-gebu. Tapi hari ini tidak. Aku sadar akan banyak hal yang sangat lebih penting daripada mengharapkannya terus-menerus. Fuuchh cerita yang pajang seperti film yang belum ada akhir ceritanya... ini hari sabtu, tentu tidak ada kuliah hari ini, waktunya menikmati waktu dirumah sampai besok, yah maklumlah dari hari senin sampai jumat aku kulianh dan bekerja freelance disalah satu media cetak, yah lumayan c untuk uang senang-senang. Jam menunjukkan pukul 08.12WIB, tapi tubuhku masih saja merasa malas bangun dari tempat tidur...pagi-pagi gini HP bunyi...BT......
sms diterima :
Kiko bangun dong, mmm bau.... mandi gih..
btw, ntar mlm km mw kmn???
kalo ga ada rencana temenin aku nonton dong....
(lagi- lagi Vanya, cewek yang mengharapkanku, yah mungkin sedang mengharapkanku, bagaimana tidak, toh selama ini dia seperti menganggap aku cowoknya. Minta anter dia kemana-mana walaupun aku sering menolak. Tapi kehadirannya lumayan bikin aku jadi agak lupa dengan cewek yang kini makin berlalu, tapi bukan berarti aku jd mencintai Vanya. aku benar-benar tidak ada perasaan dengan Vanya, maaf Vanya)
sms diterima :
kok gak dibales c??? km blm bgn ya??? kalo udah bgn telp aku ya
sms dikirim :
eh iya baru bgn ni. aku udah ada rencana van,
aku udah janji mw temenin nyokap aku ke market. gpp ya...
(padahal aku sudah terlanjur janji dengan mantan aku terdahulu,waktu jaman SMA. aku sudah sering menolak ajakannya dengan seribu alasan. Vanya andaikan aku bisa mengatakan yang sejujurnya, bahwa aku saat ini aku tidak mencintai siapa-siapa...
sedah hampir 3 bulan dia dekat dengannku, tapi kedekatan ini disalahartikan olehnya. Aku tidak tau kapan aku bisa jujur, aku tidak ingin menyakitinya, karena disakiti itu rasanya sangat sakit...)
"Kikoooo bangun nak...." suara Mama dari luar kamar. Seorang perempuan termanis yang selalu memberiku dukungan padaku.
"iya ma, aku udah bangun kok..." teriakku.
"Kiko, mama berangkat kerumah budemu ya, mau bantu-bantu bude kamu siapin acara untuk nanti malam. Makanan udah mama siapin. kalau mau pergi kabarin mama ya" mama tiba-tiba masuk kamar untuk pamit ke rumah bude, katanya sih ada acara syukuran anaknya yang baru khatam Alquran.
"iya ma, berangkat sama siapa?? apa aku aja yang antar mama??" tawaranku walau agak basa-basi lantaran masih pengen leyeh-leyeh.
"biar mama sama pak Kirno aja. kalo kamu sempet, nyusul ya"
"oh yaudah deh ma, ati-ati ya..."
Kurebahkan lagi tubuhku, masih bemalas-malasan...tiba-tiba HP bunyi.
Panggilan masuk :
"woy, masih ngorok lw ye.... bangun pak" terdengar suara cepreng dari mulut Jovan disebrang sana.
"udah bangun kok, ada apa c lw telp pagi-pagi gini?"
"pagi?liat jam dong! anak-anak tar sore mau ngajakin main basket di rumah Davi, lw ikut kan? tar gw jemput deh.."desaknya
"gak usah dijemput deh, tar gw dateng" padahalkan aku ada janji dengan Racel, mantan aku di SMA dulu.
"yaudah, kabar-kabarin yah.."
******
Waktu telah menunjukan pukul 15.00, sampai sore ini aku menghabiskan waktu didalam kamar, sempat keluar kamar hanya untuk makan. hahaha belum mandi ni dari pagi....
SMS dikirim :
hai lagi ngap??? jadi ktmu ga??
SMS diterima :
hai juga, aku lagi mau mandi ni. kita ktmunya nanti mlm kan??km jemput aku atau gmn??
Sebenernya aku juga bingung mau ngomong apa dengan dia kalau jadi bertemu nanti, toh dia udah mantanku. Memang aku agak penasaran dengan wajahnya yang sekarang, tambah cantik atau ada perubahan...
SMS dikirim :
ak ada janji main basket dirumah temen sore ini, kita ktmnya selesai ak main basket ya. ya kira-kira jam 7. kt ktmuan aja ya di bebek bali.ok?
SMS diterima :
ok deh jam 7 ya di bebek bali. see ya
Aku beranjak dari tempat tidur yang berantakan bukan hanya seperti kapal pecah, tapi juga seperti tanah longsor karena bantal bukan lagi berada ditempat tidur. Bantal-bantal terbang tepat di bawah meja komputer.hahaha. Sore ini mama belum pulang juga, rasa tidak enak karena tadi disuruh nyusul. hah rasa tidak siap bertemu Racel membuat aku jadi ragu. Tidak terasa waktu menunjukan pukul 15.30. aku mandi ah. Nanti Jovan cempreng marah-marah...huaaa dasar cempreng.
****
Ketika sampai dirumah Davi, semua teman-temanku sudah memulai permainan. Rasa pusing dan kunang-kunang karena kenyakan tidur seharian masih saja terasa. Untung waktu nyetir tadi tidak ada apa-apa dijalan.
"Woy!!!! sini gabung,,,,, 3 on 3 yok" Davi menyeru dari tengah lapangan
"iya" jawabku
"lw kenapa?? keliatannya lemes banget, lw sakit ya?" tiba-tiba Davi menhampiriku disaan aku ganti kaus.
"gak kok, cuma pusing dikit. kebanyakan tidur tadi"
"gw punya obat kuat ni, lw mau pake ga?hahaha ya kalo lw merasa gak mampu c" aku tahu dia cuma bercanda.huh masih aja gitu Dav.
"gak perlu! gw kuat ko"
"woy malah ngerumpi!!! ayo ah" teriak Jovan dari tengah lapangan
"yaudah buruan" kata Davi sambil berlari kearah lapangan.
****
jam menunjukan pukul 18.20 WIB. Aku bersiap-siap ganti kaus yang aku bawa dari rumah. Sampai jam segini aku masih saja belum merasa siap bertemu dengan Racel. Jelas tidak ada niat untuk balikan lagi dengannya.
"Yaudah gw cabut ya"
"gigi kali cabut, mang lw mau kemana?" Tanya Fandy
"ada janji ni."
"mw kemana c? nantilah, biasanya kalo abis main basket kita nongkrong-nongkrong dulu kan" ujar Davi
yang lain juga ikut-ikutan ngeroyok, lantaran aku gak boleh buru-buru pamit.
"duwh udah ah takut macet ni, gw duluan ya"
"yaudah hati-hati ya, kalo ada cewek dijalan angkut aja" seru Jovan
yah memang seperti itulah teman-temanku. Tetapi dibalik semua hal, mereka orang yang baik.
walaupun tidak separah hari sibuk, terkadang hari sabtu juga macet, hal yang paling tidak semua orang sukai. Tapi apa boleh buat, toh sudah menjadi kodrat tinggal di Jakarta.
kurang lebih pukul 19.15 WIB. Tiba-tiba HP bunyi...
SMS diterima :
kmu dmn c? jadi gak kita ktm.aku udah disini udah 8 menit.jgn tlat ya.awas loh.
Nada SMSnya sih mengancam, tapi dia terlalu baik untuk mengancam seperti itu. Apa mungkin dia sudah berubah ya, menjadi agak temperamen.hah liat saja nanti.
SMS dikirim :
aku udah mw nyampe ko. sabar ya bu...
Ketika kaki mulai melangkah ke dalam area Bebek Bali, ada banyak sekali orang-orang dan aku tetap bisa menemukannya dalam keadaan padat. Arah jam 9 dari tempat berdiriku terlihat sosok tgadis yang sudah pasti aku kenal. Racel gadis yang pernah menjadi bagian dari hidupku di masa SMA dulu, kini terlihat semakin cantik dengan dress terusan warna coklat. Dia terlihat anggun dan sangat cantik. Jelas banyak perubahan didirinya, tapi....apa masih terlalu ramah ya dengan banyak cowok. Hal yang membuat aku tidak tahan, semua cowok diberi harapan dan saat itu ku putuskan untuk berpisah.
"hai.." sapaku
"hai apa kabar?" sahutnya sambil mencium pipi kiri dan pipi kananku. owhhh dia masih begitu hangat.
Agak segan untuk memulai pembicaraan, dia tawarkan aku minuman kesukaanku, lemon tea. Dia masih ingat betul minuman favoritku. sekitar 15 menit kemudian keaadaan agak mencair, kami larut dalam bincangan masalalu di jaman SMA, canda gurau sambil mengenang masa-masa kami bersama.
tiba-tiba HP bunyi di tengah perbincanagn kami
SMS diterima :
km lagi ngap? jadi temenin mama km ke supermarket?
hah Vanya!! astaga... hampir aja lupa kabarin dia. yah aku cuma menghargai perasaannya aja c.
"siapa? pacar km ya?" tanya Racel
"bukan temen aku kok, kenapa kamu cemburu ya"
Terlihat wajahnya mulai agak jutek, ada apa tuh? apa dia????duwh ribet deh kalau sampai kejadian, masalah Vanya aja belum kelar, masa mw dateng masalah baru sih.
SMS dikirim :
jadi ini aku lagi di supermarket. nanti aku kabarin lagi ya.
Lagi-lagi aku ingin sekali jujur tentang keadaan ini, tapi aku belum siap. Aku takut kamu kecewa Van.
"udah SMSnya??" ujar Racel, mungkin dia kesal.
"udah kok. aku cuma bales aja, ya ga enak aja kali, masa ada pulsa gak dibales" kataku, bela diri, ahaha
Tidak mau kalah, diapun dapat telp dari seseorang disebrang sana, entah siapa. Terdengar seperti bicara dengan seorang cowok, yah mungkin cowok itu merasa diberi harapan oleh Racel. Tapi Racel memang selalu jujur, dia bilang dengan seseorang itu bahwa dia sedang bersamaku. Terlalu jujur atau memang tidak punya perasaan ya? Setelah dia selesai bicara di telp dengan cowok yang meng-callingnya, aku memulai pembicaraan yang sempat terputus, dan larut lagi di dalam perbincangan.
*****
Jam menunjukkan pukul 21.55 WIB, aku baru saja mengantarnya pulang. Sampai dirumah, mama menyambutku pulang.
"mama telp tadi, gak diangkat-angkat sih"
"loh mama telp? maaf ma aku gak tahu, tadi handphone aku silent.jadi gak tahu deh mama telp."
"mang kamu dari mana aja, kan mama bilang, kalo mau keluar rumah kabarin dong.."
"iya ma, maaf aku lupa, habisnya tadi buru-buru sih, aku mi\ain basket dirumah Davi"
"yaudah bersih-bersih sana, habis itu kamu makan y"
oh mama maaf, saking terlalu mikirin ketidaksiapan aku bertemu Racel, eh sampai lupa aku kabari mama, benar-benar tidak enak ni. Kulihat beberapa panggilan tidak terjawab tampak di layar handphoneku, dari mama, Davi, Vanya dan.... ya ampun! Sandra!!! mantanku yang rasanya baru kemarin bisa kulupakan, mau apa dia telp??? apa tidak puas menyakitiku dengan fitnahnya, dia selau menuduhku selingkuh, terlalu posesif. Padahal dia tahu aku sangat mencintainya. Dan tidak mungkin aku selingkuh dalam keadaan cinta yang masih sangat mengebu-gebu. Dia memaksaku mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan. Akupun tidak memberi reaksi terhadap panggilan tak terjawab itu, aku malah telp Vanya.
Panggilan keluar :
"Halo Van, kamu lagi ngapain? maaf ya tadi mama ngajak aku makan diluar sekalian." lagi-lagi aku berbohong...ya Tuhan ampunilah aku.
"hai, gak apa-apa kok, lagian tadi juga aku keluar rumah denagn adikku, dia ngajak aku ke outlet depan"
"kamu gak bete kan?yaudah aku mau bersih-bersih dulu habis itu makan and then aku tidur ya"
"ya, jangan lupa sikat gigi ya"
"oke"
****
Hari berganti, keaadaanku malah makin parah, Sandra mantanku yang paling posesif kini sering meng-SMSku, dan aku balas, gak ada maksud apa-apa, lagi-lagi aku hanya mengahargainya. Tidak berbeda dengan Racel mantanku yang paling ramah dengan semua cowok, SMS dan telp aku, bagai minum obat, sehari 3x. Dan Vanya gadis yang pengertian, yang sedang menganggapku bagian dari hidupnya, telp dan SMS aku dianggapnya kewajiban. Perhatiannya maksimal, tapi sayang aku tidak mencintainya. Mungkin rasa itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, aku tak tahu.
*****
Aku kembali pada hari-hari yang sibuk, sangat tidak terasa. Dan tanpa aku sadari juga, aku sedang bermain hati pada 3 perempuan, selain Mama, love u mom...
Sekarang jam 08.00 pagi aku baru saja bangun dari tidur... ku ambil handphone, yah hal itulah yang pertama kali aku lakukan sebelum melakukan yang lainnya. Lihat-lihat handphone. Hal itu sudah lama sekali menjadi kebiasaanku. Kulihat ada beberapa sms mengenai pemberitahuan liputan n then... Sandra sms...
SMS diterima :
Yg membuat aku jd feminim, adalh km.yg membuat aku jd yg lebih sabar, adlh km.yg membuat hatiku menjdi pasti, adalh km. km adlh orang yg telah mmberiku banyk perubahan dalam hidup, membuat aku jd lebih baik. jika sampai hari ini kita tak bersama lg, aku hanya ingin berterimakasih yang sebesar-besarnya atas segala perubahan ini. kau yang hidupkanku tanpa tuntutan, kau yang bahagiakanku tanpa sandiwara. sampai kapanpun cinta ini tidak akan terlupakan. km mencintai aku tnpa syarat, tanpa kemunafikan, tanpa sajian kata-kata yang bisa membuatku terbang, namun aku luluh dengan idtikadmu. kau yang membawaku ke ruang atas dengan segala penghargaan.kau adalh makhluk terbijaksana yang telah telah Tuhan ciptakan. kau adlh anugrah trindah yg pernh kumiliki.best ever.ur x-love.
Ada apa dia mengirim SMS itu, apa maksudnya??? apa karena dia telah menyesali semua yang terjadi beberapa bulan lalu? kalau memang kamu menyesal, kamu terlambat San, aku terlanjur sakit, kamu menyia-nyiakan cinta yang aku berikan, tulus hanya untuk kamu saat itu.
Sandra...mungkin dia mencoba mendekat lagi dengan sms dan telp yang dia lakukan kemarin-kemarin. memang perasaan ini tak bisa kubohongi, aku benar-benar masih menyayanginya, namun aku tak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Aku masih menikmati masa sendiriku walaupun bayang-bayang 3 dewi ada dibenakku. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa maksud Sandra mengirim pesan seperti itu.
Panggilan keluar :
"hallo" sandra menyapa
"hallo, kamu lagi sibuk gak?"
"gak, kenapa?"
"aku udah terima SMS kamu, maksudnya apa ya?"
"oh itu, kamu beneran udah baca?masa gak tahu c"
"tolong jalasin dong..."
"gak ada maksud apa-apa kok, aku cuma mau berterimakasih aja sama kamu, kamu udah baik sama aku, tadinya sih aku mau ajak balikan kamu lagi, tapi kayaknya udah gak mungkin"
"oya?"
"iya, aku denger kamu lagi dekat dengan mantan kamu waktu SMA.iya kan?" walaupun cerita Racel gak ada lagi dihidup aku, aku tetap tidak ingin mengulang yang tlah berlalu San...
"siapa bilang? gosip tuh?"
"trus emang kamu mau balikan lagi sama aku?" ya ampun, kenapa dia sampai tanya soal itu....
"mmmmm....aku gak bisa San, aku lagi pengan sendiri dulu.setelah kejadian beberapa bulan lalu, ternyata banyak yang harus aku benahi dari diri aku.lagipula aku urusan kerjaan aku dan kuliah aku jg lagi ribet San,"
"oh gitu, its ok, gpp.iya aku sadar kok, aku banyak salah sama kamu, dan aku bukan wanita pilihan kamu.mereka lebih baik daripada aku."
"mereka?maksud kamu siapa?"
"ya mana aku tahukamu pikir aja sendiri" mulai lagi deh posesifnya, gak jelas!!!
"loh kok kamu jadi jutek gitu?aneh deh"
"ya udah yah aku mau mandi, nanti ada kelas" yah kalau sudah seperti ini, pasti dia marah, tapi karena apa ya? aku tidak tahu pasti. yaudahlah toh di bukan siapa-siapa aku lagi kok.
"ya udah maf ya aku ganggu" ku tutup telpku tanpa pamit, yah kali-kali aku yang tutup telp duluan.
Jam menunjukan pukul 08.31, hari ini aku ada liputan di daerah Mampang, yah inilah pekerjaanku selain kuliah. jujur aku masih bertanya-tanya kanapa dia marah... ya sudahlah...keluar kamar mama telah menyiapkan nasi goreng dimeja makan, yah setiap masakan yang mama siapkan hanya aku dan mama saja yang memakannya, papa??? papaku telah hidup tenang dan bahagia disisi Tuhan, sudah 3 tahun aku dan mama hidup tanpa papa. dengan ekonomi kami?? kami hidup dari beberapa rumah yang diwarisi papa, rumah-rumah tersebut kami sewakan untuk kehidupan kami sehari-hari. Mama hanya memiliki satu orang anak, hanya aku...hah panjang deh ceritanya. Senyum mamalah yang membuat aku tetap kuat dan menjadi orang yang tegar, aku banyak belajar dari mama. Mama pernah bilang "yang paling penting dalam hidup ini adalah menghargai orang lain, selain diri kita" oooohhh betapa bijaknya mama.
"ma, aku berangkat ya"
"ok, ati-ati ya nak. pulangnya jangan malam-malam yah, selesai kuliah nanti langsung pulang, kalau mau kemana-mana lagi, telp mama"
"ok ma" ku cium pipi mamaku tersayang dan aku berpamitan kerja juga kuliah.
****
Sesampainya aku dikampus tepat pukul 16.00 yah mungkin kelas sudah dimulai. Tapi dosen bisa memaklumi mahasiswa keterlambatan yang kuliah sore, sebagian besar dari kami (anak sore) bekerja pada pagi hari dan selesai disore hari.
"Kiko!!!" Dari sudut koridor perpustakaan Fandy memanggilku. memang hanya Fandy yang satu kampus denganku, sahabatku yang lainnya belainan kampus. aku dan Fandi mengambil fakultas dan jurusan yang sama. Fandy bekerja di slah satu operator GSM, ya memang tidak nyambung dengan jurusan yang diambilnya, tapi apa boleh buat...
ku hampiri Fandy yang sedang yang sedang asik berchating ria di laptopnya.
"hai Fan....kok belum masuk sih?"
"gak masuk dosennya ki, makanya kita jalan yuk, kemana kek" ajaknya
"yang bener lw???"
"iya, bener, gw lagi gak bawa mobil ni, jadi sekalian nebeng pulang. hehe"
"yaudah kemana ni enaknya?
"ke Plaza Semanggi aja yuk"
"yaudah yuk" Fandypun bersiap membereskan laptopnya.tiba-tiba handphoneku bunyi.
SMS diterima :
km lg dmn?udah mkn blm?jgn lupa mkn ya, mntang-mentang sibuk sampe lupa mkn.
Vanya, kadang aku sering tidak enak karena selalu dia yang memulai untuk memberi perhatian padaku.
"siapa? kok lw jadi bengong gitu?"
"gak, mau tahu aja lw" kami beranjak menuju parkiran dan aku sambil memegang handphone, ingin membalas sms-nya...
SMS dikirim :
aku lg dikmpus ni, gak ada kelas.dosennya gak dtg.ni aku baru mau mkn sama Fandy, km udah mkn? lg dmn?
"Fan, lw aja ya yang nyetir..." bujukku
"kenapa?"
"gak apa-apa?"
"hah lw sih sms-an mulu, yaudah sini gw yang nyetir."
SMS diterima :
aku udah makan tadi. sekarang aku lagi di PIM ni. km kesini dong, aku sama temen-temen aku
"eh ki, lw SMS-an sama siapa sih? anteng banget.lw lagi deket sama siapa c sekarang?" tanya Fandy yang dari tadi menyetir tanpa kuajak ngobrol. hahaa maaf ya Fan....
"adaaaa deh... tapi gw cuma deket aja Fan, gak ada niat jadian"
"kok gitu, mang lw kenal dia dimana?"
SMS dikirim :
yah aku gak bisa. nanti-nanti aja ya.gpp kan?
"gw kenal dia waktu di Gramedia Senen, waktu itu dia pikir gw temennya. dia salah orang gitu.yah udah 2bulan inilah gw deket sama dia"
"yah gw sih bisa maklum kenapa lw gak ada niat jadian sama dia, secara lw baru 6bulan jomblo, iya kan?" yah walaupun dia terlihat gak tahu apa-apa, tapi sebenarnya dia memang tahu banyak tentang aku
"ya gitu deh..."
SMS diterima :
yaudah gpp.tar kalo udh smp rmh kabrin yak.ok? daaahhh
"gimana orangnya ki?cantik?"
"ya sangat cantik c, tapi enak aja diliat, gak ngebosenin tampangnya."
tiba-tiba handphonenya Fandy bunyi. entah siapa yang telv, tapi sepertinya...
"ada kok orangnya, lw mw ngomong sama dia?" telv untukku??? Fandy menyerahkan handphonnya padaku.
"siapa Fan?"
"Riko"
"hai Rik, kemana aja lw gak pernah ngumpul sama akan-anak lagi? ayolah latihan bareng.." tanyaku kepada riko diseberang sana
"lah mang lw gak tau gw di Ausi?"
"eh iya ya gw lupa, habisnya udah lama banget lw gak ada kabar.lw masih disana?"
"gw udah balik ni, ke jakarta. baru sebulanan disini."
"kok bisa?udah sebulan malah gak ngabarin???"
tiba-tiba Fandy berceloteh diluar jalur telv "hebat tuh ki, dia gak ada kabar, karna udah ada pacar di Jakarta"
"hah bener Fan? wah jahat lw, bukannya nyetor muka dulu sama anak-anak malah ngumpet punya pacar" yah jagan-jangan pergaulan di negara sana telah merubah sifatnya..ya moga aja tidak.kamipun sampai di Pelagi (Plaza Semanggi). namun telv dari Rico lewat handphonenya Fandy belum juga putus, aku jadi melepas rindu dengan Rico lewat telp hahaha
"yah lagian kemarin-kemarin gw sibuk ngurusin kerjaan disini Ki"
"eh Rico nanti gw telv ya, gw udah sampe ni.ok?
"ok, nanti biar gw aja yang telp.bye"
"oh ok...bye"
****
Sesampainya aku dirumah, seperti biasa, mama menyambutku. oh... senyumannya begitu manis, terlihat dari wajah sosok ibu yang tegar..tapiiii ada yang aku lupa. apa ya?
"kebiasaan deh kamu, gak kasih kabar.."
"yah ma, maaf aku pikir baru jam 10 malam, jadi aku gak ngabarih deh"
"hah yaudahlah, kamu tuh alesannya suka macem-macem, yaudah mandi sana, mamaudah siapin air hangat untuk kamu" ya ampun mama... mama bukan hanya perempuan termanis tapi juga sangat baik, super perhatian.
"yah mama kok repot-repot c?"
"yaudah sana mandi, bau oncom tuh badan" sahutnya sanbil bercanda.
biiiib biiiiib biiib, tiba-tiba handphoneku bergetar.
Panggilan masuk :
"hallo"
"hai, aku Sandra" Sandra??? bukannya dia sedang marah padaku???
"hai San, kamu pakai nomor siapa?kok nomor ini gak ada di listcontact aku?"
"aku pakai nomor mama, kamu lagi ngap?"
"aku baru aja mau mandi ni.kamu ada apa? kok tumben?"
"gak boleh aku telp?"
"gak gitu, boleh-boleh aja kok.emang kamu ada perlu apa sih?"
"yaudah kamu mandi aja dulu ya, nanti aku telp lg."
"gak apa-apa ngomong aja sekarang.lagipula aku baru banget sampai rumah, jadi santai-santai dulu gitu deh"
"emang kamu darimana"
"tadi aku ke kampus tapi gak ada dosen trus aku pergi sama Fandy deh.emang kamu mau ngomong apa sih?"
"hari sabtu adik aku ultah, kamu mau datang gak?" loh ada apa nih, dia pake undang-undang aku segala...
"oya? siapa?"
"ya siapa lagi kalau bukan Rita..kamu lupa yah, adik aku cuma Rita.mama yang suruh aku undang kamu" yah aku pikir atas kehendak dia yang undang, ternyata mamanya, memang mamanya sangat sayang padaku, Sandra pernah bilang, mamanya tidak pernah seperhatian itu terhadap pacar-pacarnya yang lalu sebelum aku.
"ya aku pikir kamu punya adik baru.hehhehe. ok aku usahain, aku datang ya."
"harus datang ya, kalau perlu kamu ajak pacar baru kamu" tuh kan mulai lagi....
"udah deh kamu jangan menyulut api lagi, terserah kamu mau percaya atau gak, aku gak punya cewek saat ini."
"ok...ok... maaf. yaudah kabar-kabarin aja yah. byeee"
"byeee"
Sandra masih saja berposesif ria, didalam kondisi yang complicated ini, malah makin bikin ribet deh. Tapi lagi-lagi aku bilang, aku masih sayang dia. Bibirku bisa saja berdalih tapi hati gak bisa bohong...
Tidak terasa waktu tlah menujukan pukul 23.01 wib.Air panas yang mama siapkan mungkin sudah dingin lagi. haft...mama tidak menegurku, mungkin dia tidur.
*****
Matahari memancarkan sinarnya tepat dibalik jendela kamarku, membias pada gordeng putih pekat. yah terang saja ini sudah jam 7 pagi. Aku kembali lagi pada hari sibuk, hari yang menyita waktu untuk berlibur, yah sampai saat ini aku belum berlibur ke luar kota apalagi ke luar negeri. huft...seperti biasa badanku masih butuh waktu untuk beranjak (ngumpulin nyawa.....hahha). Dan seperti biasa pula sambil bermalas-malas ria aku melihat-lihat ke dua handphoneku. Ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab.
salah satunya pemberitahuan liputan. hari ini namaku tidak tercantum dalam list wartawan liputan. Berarti hari ini aku libur, mungkin akan diganti hari lain sesuai pembagian tugas liputan dan sms lainnya....
SMS diterima :
kiko, kamu udh bo2 ya, kok gak ngabarin aku?aku telp gak diangkat. Vanya masih saja perhatian, kalo kayak gini trus aku bisa jadi suka ni sama dia. cuma Tuhan deh yang tahu.
SMS diterima :
have a nice dream kiko. Sandra juga sms.... huft sudah lama dia gak kirim met bo2, goodnight atau yang seperti ini.dan hp ku pun bunyi....
Panggilan masuk :
"oy, udah bangun lw!!!" Jovan, biasa deh dia selalu telp pagi-pagi.
"iya, udah bangun. kenapa lagi lw telp pagi-pagi?"
"yaelah masih kaku aja lw, anak muda jaman sekarang tuh bangunnya harus pagi kali.lw giman sih udah tahun 2009 masih gak berubah aja."
"iya... iya.... bawel lw. ada apa sih?"
"kemarin Rico telp ya?"
"iya, mang kenapa? oiya, tadi malam dia telp, tapi gw udah tidur.jadi gak keangkat deh"
"iya, dia telp lw lg tapi gak lw angkat, trus dia telp gw, gw disuruh kumpulin anak-anak, termasuk lw.katanya dia mw ajak kita maen basket disenayan jam 4 sore ini. lw bisa kan?eh yah lw kul ya? bolos aja deh sehari duang kok" bujuknya...
"duwh Van gw bis kul aja deh, nimbrungnya, soalnya matkul hari ini gw ada kuis."
"yaudah, tar gw bilang dia de, brarti lw gak ikut pas maen basketnya?lw cuma nyusul pas nongkrongnya aja ya?yaudah awas lw kalo gak nyusul..."
"iya gt aja ya"
"nah kalo Fandy bareng lw gak kulnya?"
"ya bareng lah, tapi coba aja lw telp dia."
"ok deh, yaudah mandi lw bau trasi tau gak"
"alah mulut lw kali tuh yang deket ma idung, jadi mulut lw yang bau"
"ah banyak omong lw da ah, gw mw telp Fandy"
SMS dikirim :
pagi Van....lagi ngap? udah bangun?maf ya semalam aku ketiduran.n lupa kabarin kamu...
SMS diterima :
hy.... tumben ni udah bangun...aku lagi mau mandi ni, kamu pasti msh ditmpat tdr ya?btw hari ini kamu mw kemana aja?
SMS dikirim :
yah gt deh masih dtmpt tdr. plg kul aku ada janji ma temen-temen aku. mw ngumpul2 gt, ada temen yang baru dtg dari AUSI.n aku ga ada liputan hari ini.
SMS diterima :
baru dtg dari Ausi? oh gt yah...
SMS dikirim :
gt knp?
SMS diterima :
gak apa2, btw kbetulan bgt ni kamu gak ada liputan, mw temenin aku ke mall gak?plgnya km langsung ke kampus aja.gmn?
"kiko kamu udah bangun nak?" tiba2 mama masuk ke kamarku..
"eh iya ma..."
"kok masih tiduran c?" tanyanya sambil mencari pakaian kotor dikamarku
"iya bentar lagi aku bangun ko ma, kebetulan gak ada liputan hari ini ma."
"gak ada liputan? yah bukan berarti kamu males-malesan dung sayang"
"hehehe iya ma..... eh kok mama c yang ambil baju kotor?emang mba ririn gak kesini ma?"
"ada kok dia lagi beli sayuran di depan" mama keluar kamar sambil membawa pakaian kotorku.
SMS dikirim :
ups maf br bls....yaudah jam berapa kamu aku jemput?
SMS diterima :
kita makan siang disana aja, jd jam 12an gt,gmn?
SMS dikirim :
ok deh, nanti aku jmpt km ya
mungkin baru kali ini aku mau diajak jalan sama dia. gak apa-apa lah...mungkin dengan seperti ini aku jadi tahu, apakah aku harus blajar mencintai Vanya atau tidak. karena gak ada salahnya aku mengenal dia lebih dalam.
****
Tepat jam 12. 15 menit aku jemput Vanya ke rumahnya....siang ini matahari enggan muncul...lantaran ada awan mendung yang menguasai lagit dan gerimis. Aku menunggu dia tepat di depan gerbangnya, yah dia memang tidak memperbolehkan aku masuk kerumahnya, yang boleh masuk kerumahnya hanya yang berstatus pacar. itu sih yang pernah dia bilang padaku.
Tidak Lama dia pun keluar, mungkin karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kini dia terlihat anggun dengan rambutnya yang panjang terurai.
"hai gak lama kan nunggu aku?"
"gak kok, make up kamu luntur dung tadi keujanan?"
"alah cuma grimis aja kali..."
"great....yaudah kita jalan yah. eh kita mau kmn ni?jadi ke mall"
"kyanya gak deh, kita ke Sarinah aja ya, makan di daerah sana."
"ok non"
selama di perjalanan ke Sarinah, aku banyak ngobrol dengannya, ternyata pertemuan ini lebih asik daripada cm lewat telp ataw sms...kami bercanda gurau juga cerita akan banyak hal. Ya memang nyaman...kami pun sampai di Lotus Sarinah, dia telihat memilih-milih pakaian yang tengah menyambut kami. Sepertinya dia tertarik pada salah satu baju, tapi dia tidak membawanya ke kassa."kenapa ga diambil?" tanyaku
"ga ah lain kali aja" seketika kulihat harganya yang memang agak mahal, tapi gak masalah kalau aku membelikan baju itu untuknya..
"kamu ambil aja yang kamu suka, aku yang bayar, anggap aja ini hadiah karena slama ini kamu perhatian sama aku."
"gak ah, gak usah kiko,, gak ada yang aku suka kok...ya udah yuk kita makan, aku udah laper ni..." bujuknya sambil menarik tanganku. Tapi kenapa dia menolak, padahal tadi dia terlihat sangat tertarik pada baju itu. Kami makan di salah satu merk pizza yang berada tidak jauh dari tempat pakaian tadi. Kami banyak cerita sana-sini, pengalaman lucunya n then....dia bilang...."sebenernya aku suka kamu kiko dari pertama kita ketemu" OMG.... kenapa smapai dia duluan yang menyatakan cintanya...kenapa bukan aku??? "kok km diem Kiko.... kamu gak suka aku ya... aku kurang perhatian ya sama kamu???"
"gak, gak gt Van... apa sebelumnya kamu pernah menyatakan cinta duluan?"
"aku gak pernah kok, baru kali ini.aku merasa nyaman sama kamu, gak tau knp aku bisa bilang ini ke km. aku liat kamu bisa dipercaya, gak sprti cowok-cowok yang pernah aku kenal" knp dia bisa denagn mudah peraya aku....
"tapi harusnya aku duluan yang bilang soal itu, bukan kamu" maksudku kurang baik aja bila cewek duluan yang bilang suka..
"berarti kamu suka sama aku jg ya???" wah aku bingung harus blg apa, aku terjebak omonganku sendiri...yah memang aku suka dia, dia baik, care, gak posesif dan aku nyaman dengannya, tapi... perasaan ini hanya setengah, tidak lebih.apa baik jika aku berhubungan dengan setengah hati??
"kok kamu diem? kalau kamu ga punya perasaan yang sama dengan apa yang aku rasain sekarang, aku gak apa-apa kok" huft... Vanya mendesakku....sepertinya akuuuu....
Mau tahu apakah Kiko menerima Vanya atu tidak???? tunggu cerita selanjutnya ya
Jumat, 06 Februari 2009
Doa Terakhir
terima kasih Tuhan...
aq msh punya mata
msh bisa melihat indahnya dunia
aq msh punya telinga
msh bisa mendengar merdunya suara
qtahu tak selamanya qtertawa
qmenanti waktu tuk menderita
jikalau memang tak ada bahagia didepan sana
kedua indera ini akan membantuq
utk bertahan hidup
meski tak ada lagi tujuan
selain menanti mati
krn itu Tuhan...
apapun kehendakMu utkq kelak
jgn Kau ambil mata & telinga ini
aq membutuhkannya
utk tersenyum esok pagi
aq msh punya mata
msh bisa melihat indahnya dunia
aq msh punya telinga
msh bisa mendengar merdunya suara
qtahu tak selamanya qtertawa
qmenanti waktu tuk menderita
jikalau memang tak ada bahagia didepan sana
kedua indera ini akan membantuq
utk bertahan hidup
meski tak ada lagi tujuan
selain menanti mati
krn itu Tuhan...
apapun kehendakMu utkq kelak
jgn Kau ambil mata & telinga ini
aq membutuhkannya
utk tersenyum esok pagi
Waktu
Karya : Ressa Novita
waktu...
bagai pedati tak berpelana
melintas jalan berbatu tak terkendali
aku penumpang di kursi tunggalnya
atap rapuh usang melengkung membentur dahiku
waktu...
sulit ku bernafas hening barang sejenak
detik berlalu selalu berganti baru
tiap jalan yg terlalui tlah ku lupakan
namun didepan sana masih menanti
tak terhingga yg harus ku lewati
waktu...
semoga ada satu detik belas kasihan
untukku bernafas hening
melepas penatnya hidup
waktu...
bagai pedati tak berpelana
melintas jalan berbatu tak terkendali
aku penumpang di kursi tunggalnya
atap rapuh usang melengkung membentur dahiku
waktu...
sulit ku bernafas hening barang sejenak
detik berlalu selalu berganti baru
tiap jalan yg terlalui tlah ku lupakan
namun didepan sana masih menanti
tak terhingga yg harus ku lewati
waktu...
semoga ada satu detik belas kasihan
untukku bernafas hening
melepas penatnya hidup
Rabu, 31 Desember 2008
SELAMAT DATANG 2009 !!!
tahun itu tlah berakhir
bulan ktika q temukan bintang paling terang
minggu ktika q jalani hidup damai diatas awan
hari ktika q terlempar kembali ke tempat q smula brdiri
kegagalan
waktu itu tlah habis
saat rembulan mati cahaya
3.. 2.. 1..
& q pun kmbl seperti dulu
mengukir mimpi-mimpi baru
seperti sblm thn itu q lewati
sendiri
happy 2009 !
selamat dtng thn yg baru
karena detik bersama waktumu
q kan kembali
berlari
mengejar impian
(Ressa N)
bulan ktika q temukan bintang paling terang
minggu ktika q jalani hidup damai diatas awan
hari ktika q terlempar kembali ke tempat q smula brdiri
kegagalan
waktu itu tlah habis
saat rembulan mati cahaya
3.. 2.. 1..
& q pun kmbl seperti dulu
mengukir mimpi-mimpi baru
seperti sblm thn itu q lewati
sendiri
happy 2009 !
selamat dtng thn yg baru
karena detik bersama waktumu
q kan kembali
berlari
mengejar impian
(Ressa N)
Jumat, 12 Desember 2008
Mengembangkan Minat Sastra
Media Indonesia, Minggu, 05 Oktober 2008
KEGIATAN bertajuk Improve Writing Quality baru saja digelar Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) beberapa waktu lalu. Kegiatan itu terbagi dalam tiga bagian, yakni seminar, pelatihan menulis fiksi, dan bedah buku.
Kegiatan itu sengaja diadakan sebagai sebuah wujud peran serta FISIP USNI dalam membantu upaya pemerintah menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta mengembangkan apresiasi terhadap sastra di kalangan pelajar.
Novelis Rachmat Nugraha yang hadir sebagai pembicara dalam pelatihan menulis fiksi mengungkapkan, kegiatan itu sangat penting karena selama ini para pelajar bukannya tidak memiliki minat baca dan menulis, tapi mereka hanya tidak tahu saja ke mana mereka harus belajar dan mengembangkan minat mereka. "Sebenarnya banyak, kok, pelajar yang suku menulis cerpen, puisi, atau bahkan novel," tutur Ketua Komunitas Penulis Jakarta itu.
Kegiatan seperti itu diharapkan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Karena, untuk dapat menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di kalangan pelajar tidak dapat hanya dilakukan dengan sekali kegiatan saja. Melainkan harus terus-menerus dilakukan.
Selain Rachmat Nugraha, rangkaian kegiatan yang diadakan FISIP USNI bekerja sama dengan Aliansi Penulis Independen (API) itu menghadirkan pembicara yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya, antara lain penyair ternama Bambang Widiatmoko, Rektor USNI Dr Andreas Yumarma, Ketua Umum API Supandi Halim, Sekjen API Ariyanto MB, dan lain-lain. (M-3)
KEGIATAN bertajuk Improve Writing Quality baru saja digelar Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) beberapa waktu lalu. Kegiatan itu terbagi dalam tiga bagian, yakni seminar, pelatihan menulis fiksi, dan bedah buku.
Kegiatan itu sengaja diadakan sebagai sebuah wujud peran serta FISIP USNI dalam membantu upaya pemerintah menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta mengembangkan apresiasi terhadap sastra di kalangan pelajar.
Novelis Rachmat Nugraha yang hadir sebagai pembicara dalam pelatihan menulis fiksi mengungkapkan, kegiatan itu sangat penting karena selama ini para pelajar bukannya tidak memiliki minat baca dan menulis, tapi mereka hanya tidak tahu saja ke mana mereka harus belajar dan mengembangkan minat mereka. "Sebenarnya banyak, kok, pelajar yang suku menulis cerpen, puisi, atau bahkan novel," tutur Ketua Komunitas Penulis Jakarta itu.
Kegiatan seperti itu diharapkan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Karena, untuk dapat menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di kalangan pelajar tidak dapat hanya dilakukan dengan sekali kegiatan saja. Melainkan harus terus-menerus dilakukan.
Selain Rachmat Nugraha, rangkaian kegiatan yang diadakan FISIP USNI bekerja sama dengan Aliansi Penulis Independen (API) itu menghadirkan pembicara yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya, antara lain penyair ternama Bambang Widiatmoko, Rektor USNI Dr Andreas Yumarma, Ketua Umum API Supandi Halim, Sekjen API Ariyanto MB, dan lain-lain. (M-3)
Mendirikan Sekolah Menulis
Media Indonesia, Minggu, 05 Oktober 2008
ANAK muda yang satu ini bisa dibilang merupakan contoh sukses di bidang penulisan di Kampus Universitas Satya Negara Indonesia (USNI). Fokus dalam hobi penulisan menjadikan Rachmat Nugraha salah seorang penulis terkemuka di Tanah Air.
Hobi itu sudah dia mulai sejak masih di bangku SMP, tetapi hanya untuk dinikmati sendiri.
Orang yang sulit mengucapkan 'R' ini sempat mengenyam pendidikan di Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik (IISIP). Sekarang tengah melanjutkan kuliahnya di Jurusan Komunikasi USNI.
Mahasiswa yang biasa dipanggil Pak Rachmat ini, ternyata telah menyelesaikan novel pertamanya April 2005, Karena Cinta ku Lakukan Segalanya, diterbitkan Penerbit Saujana. Setelah itu, pada tahun yang sama, novel keduanya berjudul Untuk Mu Ayu, juga diterbitkan Penerbit yang sama pada bulan Juli. Saat ini ia telah menyelesaikan dua bukunya Cinta Jangan Pergi yang diterbitkan Penerbit Saujana dan I’m Sorry yang di terbitkan KPJ Publishing bekerja sama dengan USNI.
Rachmat sangat mencintai hobinya sehingga apa pun akan ia lakukan untuk menambah ilmunya tentang menulis. Dia pernah bergabung dengan tim penyusun buku Mega the President, Selaras Media, yaitu sebuah komunitas yang didirikan mahasiswa, wartawan, dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk memajukan dunia baca dan tulis di Indonesia. Saat ini dia sedang menjalankan kegiatan barunya, talk show mengenai dunia penulis, cara menulis dan sebagainya ke berbagai sekolah yang bekerja sama dengan Aliansi Penulis Indonesia (API).
Pria ini memiliki cita-cita. Kepada tim rostrum ia bercerita bahwa dirinya ingin sekali punya sekolah penulisan, di mana ia bisa mengajak sebanyak mungkin anak-anak untuk belajar menulis di tempatnya secara gratis. Bahkan, dirinya telah membangun sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Penulis Jakarta (KPJ) guna menampung pelajar yang berminat mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam bidang tulis-menulis.
Hanya saja, pengembangan komunitasnya mengalami kendala disebabkan ketiadaan dana dan fasilitas. Namun, pemuda bertubuh kecil ini tidak putus asa. Dia tidak henti-hentinya berusaha agar komunitas yang dibentuknya sejak 6 April 2007 itu tetap eksis dan bisa menghasilkan karya terbaik yang dapat diterima masyarakat. "Apa pun bisa tercapai selama kita mau berusaha dan tidak berhenti berdoa kepada Yang Maha Kuasa," katanya. (M-3)
ANAK muda yang satu ini bisa dibilang merupakan contoh sukses di bidang penulisan di Kampus Universitas Satya Negara Indonesia (USNI). Fokus dalam hobi penulisan menjadikan Rachmat Nugraha salah seorang penulis terkemuka di Tanah Air.
Hobi itu sudah dia mulai sejak masih di bangku SMP, tetapi hanya untuk dinikmati sendiri.
Orang yang sulit mengucapkan 'R' ini sempat mengenyam pendidikan di Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik (IISIP). Sekarang tengah melanjutkan kuliahnya di Jurusan Komunikasi USNI.
Mahasiswa yang biasa dipanggil Pak Rachmat ini, ternyata telah menyelesaikan novel pertamanya April 2005, Karena Cinta ku Lakukan Segalanya, diterbitkan Penerbit Saujana. Setelah itu, pada tahun yang sama, novel keduanya berjudul Untuk Mu Ayu, juga diterbitkan Penerbit yang sama pada bulan Juli. Saat ini ia telah menyelesaikan dua bukunya Cinta Jangan Pergi yang diterbitkan Penerbit Saujana dan I’m Sorry yang di terbitkan KPJ Publishing bekerja sama dengan USNI.
Rachmat sangat mencintai hobinya sehingga apa pun akan ia lakukan untuk menambah ilmunya tentang menulis. Dia pernah bergabung dengan tim penyusun buku Mega the President, Selaras Media, yaitu sebuah komunitas yang didirikan mahasiswa, wartawan, dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk memajukan dunia baca dan tulis di Indonesia. Saat ini dia sedang menjalankan kegiatan barunya, talk show mengenai dunia penulis, cara menulis dan sebagainya ke berbagai sekolah yang bekerja sama dengan Aliansi Penulis Indonesia (API).
Pria ini memiliki cita-cita. Kepada tim rostrum ia bercerita bahwa dirinya ingin sekali punya sekolah penulisan, di mana ia bisa mengajak sebanyak mungkin anak-anak untuk belajar menulis di tempatnya secara gratis. Bahkan, dirinya telah membangun sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Penulis Jakarta (KPJ) guna menampung pelajar yang berminat mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam bidang tulis-menulis.
Hanya saja, pengembangan komunitasnya mengalami kendala disebabkan ketiadaan dana dan fasilitas. Namun, pemuda bertubuh kecil ini tidak putus asa. Dia tidak henti-hentinya berusaha agar komunitas yang dibentuknya sejak 6 April 2007 itu tetap eksis dan bisa menghasilkan karya terbaik yang dapat diterima masyarakat. "Apa pun bisa tercapai selama kita mau berusaha dan tidak berhenti berdoa kepada Yang Maha Kuasa," katanya. (M-3)
Kegetiran Hidup di Balik Kemegahan
UMI KULSUM
Malam itu, hanya disaksikan sinar bulan dan suara jengkerik, Ruki meninggalkan neneknya yang masih meringkuk di dipan reyot. Gubuk tua yang dihuninya sejak kanak-kanak dipandangnya dari kejauhan dengan harapan kelak dapat dilihatnya lagi. Dengan segala keberanian dan tekad, Ruki meninggalkan desanya menuju ibu kota agar dapat mendaftar untuk ikut bekerja di tanah Deli, suatu tempat yang menjanjikan mimpi masa depan yang lebih baik.
Sayangnya, Ruki hanya menemukan kekecewaan ketika sampai di perkebunan Deli. Perlakuan kasar mandor dan kehidupan di bawah batas kemanusiaan itulah yang diperolehnya sehari-hari. Makanan yang jauh dari cukup, tempat tinggal yang mengenaskan, bahkan baju pun tidak dimilikinya karena dia tidak mampu membeli pakaian. Jika Ruki terlambat bangun dan bekerja di kebun, caci maki didapatnya disertai tendangan keras sang mandor.
Kekerasan yang terus dilihat dan dialaminya membuat Ruki ingin kembali ke kampung halaman ketika kontrak pertamanya usai. Namun, Ruki tidak menyadari suatu permainan lain dari pemilik kebun. Pada malam ketika dia menjadi orang bebas, Ruki dan teman-teman lain diundang oleh mandor kebun untuk pesta, saat itu tiba-tiba mandor bersikap seperti seorang bapak yang sangat peduli kepada anak-anaknya. Mandor menasihati Ruki agar dia tidak mempermalukan dirinya dengan kembali ke kampung halaman hanya dengan pakaian lusuh dan tidak memiliki uang, hingga akhirnya Ruki menandatangani kontraknya yang kedua!
Ruki tergiur dengan uang muka untuk kontraknya yang kedua, dengan harapan dapat membeli sehelai baju dan kain untuk ikat kepala. Sayangnya, mimpi menabung saat teken kontrak selalu hilang dari benaknya ketika dia menerima upah atas kerja kerasnya. Bayaran yang tak seberapa itu pun habis untuk bermain judi di hari bayaran, dan tentunya dipotong untuk membayar utangnya kepada ”perempuan bebas”. Karena pada ”perempuan bebas”-lah Ruki dapat melampiaskan hasrat dan kerinduannya akan kasih wanita.
Ruki tidak menyadari situasi yang dihadapinya, perjudian dan prostitusi terselubung yang dibiarkan oleh penguasa setempat adalah bagian dari jerat penguasa perkebunan. Hal itu dilakukan agar kuli menghabiskan uangnya untuk judi dan seks sehingga mereka tidak pernah memiliki tabungan untuk kembali ke kampung halaman.
Keinginan! Adalah sesuatu yang mustahil bagi seorang kuli. Hidup Ruki seolah berjalan seperti mesin yang dikendalikan oleh suara sirene dan makian. Dia harus segera bangun dan bekerja di kebun ketika sirene pertama di pagi buta terdengar. Kemudian istirahat setelah sirene untuk istirahat dan sirene untuk tidur. Ruki pun menjalaninya tanpa berpikir dan tanpa merasakan apa pun. Keinginan pulang ke kampung halaman pun makin samar. Ruki yang terlatih untuk tidak punya keinginan apa-apa hanya menikmati hiburan dengan berjudi. Itu pula yang membuatnya meneken kontrak untuk yang kesembilan belas kalinya, dengan tubuh bungkuk dan rambut putihnya.
Nasib. Itulah yang ada dalam benak Ruki. Hampir tiga puluh tahun telah dilewati Ruki dalam perkebunan di Deli, negeri yang dikabarkan memiliki pohon berbuah emas sehingga orang-orang dari tanah Jawa tergiur ingin melihat dan mengambil keuntungan dari pohon tersebut.
Demikianlah gambaran novel Koeli atau Kuli karya Madelon Hermine Szekely-Lulofs yang pada awal diluncurkan di Belanda mengguncang masyarakat di sana. Negeri itu terkejut oleh kenyataan betapa perlakuan pemilik kebun yang sangat tidak manusiawi kepada buruh perkebunannya. Kisah perkebunan di akhir abad ke-18 juga ditulis dalam novel Rubber (1931) yang diterjemahkan menjadi Berpacu Nasib di Kebun Karet oleh Lulofs. Di Indonesia pun baru-baru ini terbit novel dengan napas dan substansi yang sama oleh Emil W Aulia berjudul Berjuta-juta dari Deli.
Keberadaan buruh
Dalam industri perkebunan, keberadaan buruh, yaitu kuli penggarap lahan, mutlak dibutuhkan. Untuk itu, didatangkanlah kuli-kuli dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan pekerja di perkebunan. Sebelumnya, migrasi orang-orang Hindustan dan China telah lebih dulu menempati posisi pekerja di tanah Deli.
Berjuta-juta dari Deli adalah sebuah novel yang isinya diambil dari sebuah dokumen berjudul Millionen uit Deli karya Van de Brand, seorang pengacara buruh perkebunan di tahun 1902. Dokumen itu membongkar kekerasan dan kekejian yang menimpa buruh perkebunan sehingga menimbulkan kontroversi politik tingkat tinggi di Belanda. Emil Aulia kemudian menuangkannya dalam bentuk fiksi sehingga dokumen sejarah itu pun dapat dinikmati dengan mudah. Melalui riset yang tekun dan teliti, Emil menghadirkan nuansa peristiwa yang terjadi satu abad silam. Namun, Lulofs dengan pengalaman pribadinya mampu menampilkan realitas kegetiran dan ironi kehidupan di perkebunan, baik yang dialami para kuli pribumi maupun kulit putih Eropa melalui Koeli dan Rubber.
Pada pertengahan abad ke-19, kemiskinan menjadi wajah yang umum di Nusantara. Maka, mereka yang menginginkan perubahan hidup lalu mencari celah untuk keluar dari kemiskinan itu. Hal inilah yang membius orang-orang miskin pergi ke Deli untuk mencari ”pohon berbuah emas”.
Meski buruh perkebunan memberikan keuntungan sangat besar bagi Tuan Kebun atau Singkeh, keberadaan buruh jauh dari dihargai. Bahkan, para buruh ditindas dan diperas oleh tangan dan mesin kolonialis. Dalam Kuli dan Berjuta-juta dari Deli tergambar sangat jelas bagaimana buruh diperdaya sejak awal dan disiksa selama berada di perkebunan.
Kuli kontrak bukan lagi manusia yang memiliki derajat dan harkat hidupnya. Mereka telah terasing menjadi manusia yang lain. Seperti ungkapan Ruki ketika berada di perkebunan Deli, ”Mereka telah kehilangan kemauan, kemerdekaan, dan hak mereka. Mereka adalah suatu bangsa baru, tanpa tanah air, tanpa keluarga, tanpa tradisi.”
Nasib kuli perempuan lebih mengenaskan lagi. Mereka diperlakukan seperti barang yang dapat diambil paksa atau dialihkan kepada orang lain tanpa meminta persetujuannya sekalipun. Karena itu, ketika kuli perempuan sampai di perkebunan, dia langsung diberikan kepada kuli laki-laki yang paling lama tinggal di perkebunan untuk diperistri (tanpa prosesi perkawinan).
Jika para kuli menjadi tenaga yang diperlakukan tidak lebih berharga daripada hewan, para majikan justru dapat berbuat sesukanya dan memiliki kehidupan berlimpah. Seperti diceritakan dalam novel Rubber yang diterjemahkan menjadi Bertahan di Kebun Karet, adalah kehidupan para Tuan Kebun yang datang dari Belanda, Amerika, dan Inggris di Sumatera Utara.
Kelompok berpendidikan ini hidup dengan kebiasaan Eropa yang suka berpesta dan memamerkan kekayaan mereka. Mereka justru berasal dari masyarakat Eropa kelas bawah yang berambisi mengumpulkan kekayaan melalui perkebunan. Orang-orang Eropa ini hanyalah para petualang yang tidak pernah mencintai Deli dan bercita-cita kembali ke kampung halaman setelah memiliki kekayaan yang cukup, yaitu rumah dan mobil mewah.
Meski mereka berasal dari bangsa yang sama, tujuan ekonomi di Deli membuat mereka bersaing satu sama lain, bahkan menjatuhkan temannya sendiri. Lulofs telah berusaha untuk jujur menghadirkan kehidupan para tuan kebun. (Umi Kulsum/ Litbang Kompas)
Malam itu, hanya disaksikan sinar bulan dan suara jengkerik, Ruki meninggalkan neneknya yang masih meringkuk di dipan reyot. Gubuk tua yang dihuninya sejak kanak-kanak dipandangnya dari kejauhan dengan harapan kelak dapat dilihatnya lagi. Dengan segala keberanian dan tekad, Ruki meninggalkan desanya menuju ibu kota agar dapat mendaftar untuk ikut bekerja di tanah Deli, suatu tempat yang menjanjikan mimpi masa depan yang lebih baik.
Sayangnya, Ruki hanya menemukan kekecewaan ketika sampai di perkebunan Deli. Perlakuan kasar mandor dan kehidupan di bawah batas kemanusiaan itulah yang diperolehnya sehari-hari. Makanan yang jauh dari cukup, tempat tinggal yang mengenaskan, bahkan baju pun tidak dimilikinya karena dia tidak mampu membeli pakaian. Jika Ruki terlambat bangun dan bekerja di kebun, caci maki didapatnya disertai tendangan keras sang mandor.
Kekerasan yang terus dilihat dan dialaminya membuat Ruki ingin kembali ke kampung halaman ketika kontrak pertamanya usai. Namun, Ruki tidak menyadari suatu permainan lain dari pemilik kebun. Pada malam ketika dia menjadi orang bebas, Ruki dan teman-teman lain diundang oleh mandor kebun untuk pesta, saat itu tiba-tiba mandor bersikap seperti seorang bapak yang sangat peduli kepada anak-anaknya. Mandor menasihati Ruki agar dia tidak mempermalukan dirinya dengan kembali ke kampung halaman hanya dengan pakaian lusuh dan tidak memiliki uang, hingga akhirnya Ruki menandatangani kontraknya yang kedua!
Ruki tergiur dengan uang muka untuk kontraknya yang kedua, dengan harapan dapat membeli sehelai baju dan kain untuk ikat kepala. Sayangnya, mimpi menabung saat teken kontrak selalu hilang dari benaknya ketika dia menerima upah atas kerja kerasnya. Bayaran yang tak seberapa itu pun habis untuk bermain judi di hari bayaran, dan tentunya dipotong untuk membayar utangnya kepada ”perempuan bebas”. Karena pada ”perempuan bebas”-lah Ruki dapat melampiaskan hasrat dan kerinduannya akan kasih wanita.
Ruki tidak menyadari situasi yang dihadapinya, perjudian dan prostitusi terselubung yang dibiarkan oleh penguasa setempat adalah bagian dari jerat penguasa perkebunan. Hal itu dilakukan agar kuli menghabiskan uangnya untuk judi dan seks sehingga mereka tidak pernah memiliki tabungan untuk kembali ke kampung halaman.
Keinginan! Adalah sesuatu yang mustahil bagi seorang kuli. Hidup Ruki seolah berjalan seperti mesin yang dikendalikan oleh suara sirene dan makian. Dia harus segera bangun dan bekerja di kebun ketika sirene pertama di pagi buta terdengar. Kemudian istirahat setelah sirene untuk istirahat dan sirene untuk tidur. Ruki pun menjalaninya tanpa berpikir dan tanpa merasakan apa pun. Keinginan pulang ke kampung halaman pun makin samar. Ruki yang terlatih untuk tidak punya keinginan apa-apa hanya menikmati hiburan dengan berjudi. Itu pula yang membuatnya meneken kontrak untuk yang kesembilan belas kalinya, dengan tubuh bungkuk dan rambut putihnya.
Nasib. Itulah yang ada dalam benak Ruki. Hampir tiga puluh tahun telah dilewati Ruki dalam perkebunan di Deli, negeri yang dikabarkan memiliki pohon berbuah emas sehingga orang-orang dari tanah Jawa tergiur ingin melihat dan mengambil keuntungan dari pohon tersebut.
Demikianlah gambaran novel Koeli atau Kuli karya Madelon Hermine Szekely-Lulofs yang pada awal diluncurkan di Belanda mengguncang masyarakat di sana. Negeri itu terkejut oleh kenyataan betapa perlakuan pemilik kebun yang sangat tidak manusiawi kepada buruh perkebunannya. Kisah perkebunan di akhir abad ke-18 juga ditulis dalam novel Rubber (1931) yang diterjemahkan menjadi Berpacu Nasib di Kebun Karet oleh Lulofs. Di Indonesia pun baru-baru ini terbit novel dengan napas dan substansi yang sama oleh Emil W Aulia berjudul Berjuta-juta dari Deli.
Keberadaan buruh
Dalam industri perkebunan, keberadaan buruh, yaitu kuli penggarap lahan, mutlak dibutuhkan. Untuk itu, didatangkanlah kuli-kuli dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan pekerja di perkebunan. Sebelumnya, migrasi orang-orang Hindustan dan China telah lebih dulu menempati posisi pekerja di tanah Deli.
Berjuta-juta dari Deli adalah sebuah novel yang isinya diambil dari sebuah dokumen berjudul Millionen uit Deli karya Van de Brand, seorang pengacara buruh perkebunan di tahun 1902. Dokumen itu membongkar kekerasan dan kekejian yang menimpa buruh perkebunan sehingga menimbulkan kontroversi politik tingkat tinggi di Belanda. Emil Aulia kemudian menuangkannya dalam bentuk fiksi sehingga dokumen sejarah itu pun dapat dinikmati dengan mudah. Melalui riset yang tekun dan teliti, Emil menghadirkan nuansa peristiwa yang terjadi satu abad silam. Namun, Lulofs dengan pengalaman pribadinya mampu menampilkan realitas kegetiran dan ironi kehidupan di perkebunan, baik yang dialami para kuli pribumi maupun kulit putih Eropa melalui Koeli dan Rubber.
Pada pertengahan abad ke-19, kemiskinan menjadi wajah yang umum di Nusantara. Maka, mereka yang menginginkan perubahan hidup lalu mencari celah untuk keluar dari kemiskinan itu. Hal inilah yang membius orang-orang miskin pergi ke Deli untuk mencari ”pohon berbuah emas”.
Meski buruh perkebunan memberikan keuntungan sangat besar bagi Tuan Kebun atau Singkeh, keberadaan buruh jauh dari dihargai. Bahkan, para buruh ditindas dan diperas oleh tangan dan mesin kolonialis. Dalam Kuli dan Berjuta-juta dari Deli tergambar sangat jelas bagaimana buruh diperdaya sejak awal dan disiksa selama berada di perkebunan.
Kuli kontrak bukan lagi manusia yang memiliki derajat dan harkat hidupnya. Mereka telah terasing menjadi manusia yang lain. Seperti ungkapan Ruki ketika berada di perkebunan Deli, ”Mereka telah kehilangan kemauan, kemerdekaan, dan hak mereka. Mereka adalah suatu bangsa baru, tanpa tanah air, tanpa keluarga, tanpa tradisi.”
Nasib kuli perempuan lebih mengenaskan lagi. Mereka diperlakukan seperti barang yang dapat diambil paksa atau dialihkan kepada orang lain tanpa meminta persetujuannya sekalipun. Karena itu, ketika kuli perempuan sampai di perkebunan, dia langsung diberikan kepada kuli laki-laki yang paling lama tinggal di perkebunan untuk diperistri (tanpa prosesi perkawinan).
Jika para kuli menjadi tenaga yang diperlakukan tidak lebih berharga daripada hewan, para majikan justru dapat berbuat sesukanya dan memiliki kehidupan berlimpah. Seperti diceritakan dalam novel Rubber yang diterjemahkan menjadi Bertahan di Kebun Karet, adalah kehidupan para Tuan Kebun yang datang dari Belanda, Amerika, dan Inggris di Sumatera Utara.
Kelompok berpendidikan ini hidup dengan kebiasaan Eropa yang suka berpesta dan memamerkan kekayaan mereka. Mereka justru berasal dari masyarakat Eropa kelas bawah yang berambisi mengumpulkan kekayaan melalui perkebunan. Orang-orang Eropa ini hanyalah para petualang yang tidak pernah mencintai Deli dan bercita-cita kembali ke kampung halaman setelah memiliki kekayaan yang cukup, yaitu rumah dan mobil mewah.
Meski mereka berasal dari bangsa yang sama, tujuan ekonomi di Deli membuat mereka bersaing satu sama lain, bahkan menjatuhkan temannya sendiri. Lulofs telah berusaha untuk jujur menghadirkan kehidupan para tuan kebun. (Umi Kulsum/ Litbang Kompas)
Advokat Van Den Brand
Jauh sebelum Indonesia merdeka, advokat sudah ada. Kala negeri masih dijajah Hindia Belanda, Advokat sudah berkisah. Walau republik belum merdeka, advokat telah membela. Tapi bukan untuk kalangan bangsawan Belanda atau kelompok raja nusantara. Dia membela rakyat jelata. Mengadvokasi orang pribumi yang ditindas penjajah.
Advokat itu orang Belanda. Bagian dari bangsa penjajah. Namanya Van Den Brand. Lulusan Universitas Amsterdam. Setelah menyandang gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum), dia menyeberang lautan. Meninggalkan Geervliet, kampung halamannya di Belanda. Den Brand
Akhir Oktober 1897, di suatu petang yang panas, Den Brand menuju Medan, Sumatera Utara. Menyahuti ajakan J Hallerman. Pria Jerman yang mengajaknya menerbitkan koran Sumatera Post. Ini surat kabar ketiga di kota itu setelah Deli Courant dan De Ooskust (Emil Aulia, Berjuta-juta dari Deli, 2007)
Dua tahun jadi wartawan, Den Brand berubah haluan. Dia kembali jadi advokat. Dia menyewa sebuah ruangan kecil di Hautenbaghtwet, membuka firma hukum. Nalurinya yang membawanya kesana. Karena di tanah Deli, kala itu, banyak dijumpainya pelanggaran dan kejahatan tanpa pembelaan.
Dia melihat orang pribumi dikasari kala bekerja di perkebunan Deli Maastchappij. Dia menyaksikan orang Belanda menyiksa orang pribumi tanpa belas kasih. Dia tahu orang Belanda melanggar hukum kala memperbudak pribumi. Dia mengerti kesalahan Hindia ketika memperkerjakan penduduk jelata tanpa digaji. Den Brand tahu rezim Hindia menerapkan sistem perbudakan di tanah Deli lewat poenale sanctie.
Sebagai advokat, darahnya mendidih. Dia membongkar kekejian yang dibuat bangsanya sendiri. Den Brand menyusun brosur. Isinya menceritakan seluruh kekejian dan pelanggaran yang dibuat kaumnya. Brosur dan berita itu dilemparkannya ke Belanda. Karyanya itu dikenal dengan Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli). Begitu beredar, karya Den Brand menyulut pembicaraan politik berkepanjangan di negerinya. Di gedung Tweede Kamer (Majelis Rendah) yang megah, karya Den BrandDen Brand, membuat pemerintah Belanda beraksi. Mereka sadar pemerintahan kolonial melakukan banyak pelanggaran tehadap koeli contract. Pejabat kolonial pun dijatuhi sanksi. Seluruh pejabatnya diganti.
Gara-gara Den Brand lagi, Opsir Justitie (hakim yang menegakkan keadilan di Keresidenan Sumatera Timur), jadi kerepotan. Karena banyak buruh yang minta perlindungan. Di Batavia juga sama. Raad van Justitie (pengadilan) jadi ramai. Pribumi jadi berani menuntut ganti rugi. Den Brand juga yang membelanya.
Den Brand beraksi bak advokat sejati. Padahal saat itu tak banyak advokat yang mendukungnya. Karena buah karyanya, Den Brand banyak diserang dengan tuduhan pencemaran nama. Tapi Den Brand tak gentar. Kebenaran tetap diungkapnya walau belum ada organisasi advokat yang melindunginya. Den Brand telah memberi warisan buat kalangan advokat untuk bertindak semestinya. Dia telah menunjukkan officium nobile di tanah air sejak kita belum merdeka.
Tapi sayang, kini Den Brand pantas kecewa. Karena begitu Indonesia merdeka, advokat penerusnya tak mampu berbuat seperti dirinya. Advokat kini lebih banyak berkelahi. Mereka sibuk mengurusi dirinya sendiri. Sibuk beraksi demi sebuah organisasi. Saling sikut demi yang namanya gengsi. Saling serang padahal hanya membentuk organisasinya sendiri. Saling berlomba untuk merebut jabatan ketua di organisasi advokat. Bukan berebut membela kesengsaraan dan penderitaan yang dialami rakyat. Bukan melakoni advokasi kala penindasan dan pelanggaran hukum tak terkendali. Itulah ironi advokat kita kini.
memilih mengabdi di Indonesia. Tahun 1885, dia sampai di Semarang. Dia bekerja di kantor advokat disana. Sempat pula menetap beberapa saat di Batavia (Jakarta). Juga sebagai advokat. dibincangkan. Skandal kekerasan tuan kebun yang diungkap
Advokat itu orang Belanda. Bagian dari bangsa penjajah. Namanya Van Den Brand. Lulusan Universitas Amsterdam. Setelah menyandang gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum), dia menyeberang lautan. Meninggalkan Geervliet, kampung halamannya di Belanda. Den Brand
Akhir Oktober 1897, di suatu petang yang panas, Den Brand menuju Medan, Sumatera Utara. Menyahuti ajakan J Hallerman. Pria Jerman yang mengajaknya menerbitkan koran Sumatera Post. Ini surat kabar ketiga di kota itu setelah Deli Courant dan De Ooskust (Emil Aulia, Berjuta-juta dari Deli, 2007)
Dua tahun jadi wartawan, Den Brand berubah haluan. Dia kembali jadi advokat. Dia menyewa sebuah ruangan kecil di Hautenbaghtwet, membuka firma hukum. Nalurinya yang membawanya kesana. Karena di tanah Deli, kala itu, banyak dijumpainya pelanggaran dan kejahatan tanpa pembelaan.
Dia melihat orang pribumi dikasari kala bekerja di perkebunan Deli Maastchappij. Dia menyaksikan orang Belanda menyiksa orang pribumi tanpa belas kasih. Dia tahu orang Belanda melanggar hukum kala memperbudak pribumi. Dia mengerti kesalahan Hindia ketika memperkerjakan penduduk jelata tanpa digaji. Den Brand tahu rezim Hindia menerapkan sistem perbudakan di tanah Deli lewat poenale sanctie.
Sebagai advokat, darahnya mendidih. Dia membongkar kekejian yang dibuat bangsanya sendiri. Den Brand menyusun brosur. Isinya menceritakan seluruh kekejian dan pelanggaran yang dibuat kaumnya. Brosur dan berita itu dilemparkannya ke Belanda. Karyanya itu dikenal dengan Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli). Begitu beredar, karya Den Brand menyulut pembicaraan politik berkepanjangan di negerinya. Di gedung Tweede Kamer (Majelis Rendah) yang megah, karya Den BrandDen Brand, membuat pemerintah Belanda beraksi. Mereka sadar pemerintahan kolonial melakukan banyak pelanggaran tehadap koeli contract. Pejabat kolonial pun dijatuhi sanksi. Seluruh pejabatnya diganti.
Gara-gara Den Brand lagi, Opsir Justitie (hakim yang menegakkan keadilan di Keresidenan Sumatera Timur), jadi kerepotan. Karena banyak buruh yang minta perlindungan. Di Batavia juga sama. Raad van Justitie (pengadilan) jadi ramai. Pribumi jadi berani menuntut ganti rugi. Den Brand juga yang membelanya.
Den Brand beraksi bak advokat sejati. Padahal saat itu tak banyak advokat yang mendukungnya. Karena buah karyanya, Den Brand banyak diserang dengan tuduhan pencemaran nama. Tapi Den Brand tak gentar. Kebenaran tetap diungkapnya walau belum ada organisasi advokat yang melindunginya. Den Brand telah memberi warisan buat kalangan advokat untuk bertindak semestinya. Dia telah menunjukkan officium nobile di tanah air sejak kita belum merdeka.
Tapi sayang, kini Den Brand pantas kecewa. Karena begitu Indonesia merdeka, advokat penerusnya tak mampu berbuat seperti dirinya. Advokat kini lebih banyak berkelahi. Mereka sibuk mengurusi dirinya sendiri. Sibuk beraksi demi sebuah organisasi. Saling sikut demi yang namanya gengsi. Saling serang padahal hanya membentuk organisasinya sendiri. Saling berlomba untuk merebut jabatan ketua di organisasi advokat. Bukan berebut membela kesengsaraan dan penderitaan yang dialami rakyat. Bukan melakoni advokasi kala penindasan dan pelanggaran hukum tak terkendali. Itulah ironi advokat kita kini.
memilih mengabdi di Indonesia. Tahun 1885, dia sampai di Semarang. Dia bekerja di kantor advokat disana. Sempat pula menetap beberapa saat di Batavia (Jakarta). Juga sebagai advokat. dibincangkan. Skandal kekerasan tuan kebun yang diungkap
MULTATULI PEREMPUAN DARI TANAH DELI
OLEH EMIL W. AULIA
TIDAK banyak karya sastra, novel atau cerpen, yang layak dijadikan referensi penulisan buku-buku teks akademis. Namun karyakarya fiksi karangan Madelon Hermina Szekely-Lulofs, sepertinya, adalah pengecualian. “Tidak perlu diragukan, semua insiden yang diuraikan Lulofs dalam novelnya adalah nyata,” kata Anthony Reid, peneliti sejarah dari Australian National University.
Beberapa buku sejarah tentang kehidupan di perkebunan Deli, Sumatera Timur, masa kolonial mencantumkan nama dan buku-buku fiksi Lulofs di dalam daftar referensinya. Di antaranya Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria karangan Karl J. Pelzer (1985) atau Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera buah pena Anthony Reid (1987). Lihat juga Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera karangan Ann Laura Stoler (1870-1979).
Beberapa bagian novel Lulofs juga dicuplik dalam artikel ilmiah di jurnal sejarah, makalah seminar, skripsi dan disertasi mahasiswa yang belum diterbitkan. Bahkan, nama dan karya penulis perempuan berkebangsaan
Belanda itu juga dinukil dalam artikel feature di majalah hingga buku panduan wisata.
Setidaknya ada dua novel Lulofs yang paling banyak dikutip, yaitu Rubber (terbit tahun 1931) dan Koelie (1932). Keduanya berkisah tentang kuli kontrak dan tuan kebun di perkebunan Deli, Sumatera Timur. Bagi sejumlah sejarahwan, kedua novel ini layak dijadikan sumber penulisan sejarah karena cerita, setting, peran dan karakter yang dimainkan tokohtokohnya, memungkinkan mereka mengungkap gambaran masa silam yang terjadi di Deli, persisnya pada era 1920-an, saat industri perkebunan di daerah pesisir timur Sumatera itu mencapai puncak kejayaannya.
Rubber lebih banyak mengungkap suka duka kehidupan warga Eropa di perkebunan Deli. Koelie adalah pendalaman yang lain. Novel ini menelusuri kehidupan dunia mental para pekerja kasar Jawa, kelompok yang membanting tulang sepanjang hari, menjadi mesin utama industri di perkebunan. Bagi mereka, hidup di perkebunan adalah perbudakan.
Koelie dimulai dari sosok Ruki, seorang pemuda asal Jawa yang digambarkan Madelon sebagai wakil dari ribuan orang yang direkrut dari pelbagai pelosok Jawa untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di Deli. Suatu hari, seorang werek (agen pencari kerja) datang ke desanya yang miskin. Werek membawa kabar tentang tanah Deli yang ajaib. Di Deli, katanya, emas murah, banyak hiburan wayang, perempuan, dan bebas berjudi.
Ruki termakan rayuan itu lalu meneken kontrak. Sejak itu resmilah ia menyandang sebutan kuli kontrak, sosok manusia yang, menurut Lulofs, telah tergadai jiwa dan raganya. Bekerja di perkebunan karet, Ruki dan kuli-kuli Jawa lainnya menjalani hari-hari penuh caci maki, kerja keras, dan hukuman pukultendang. Semua kekasaran ini, buah dari penerapan kebijakan poenale sanctie, aturan hukum yang dibuat pemerintah Belanda untuk para kuli yang bekerja di perkebunan.
Hidup di perkebunan bagi Ruki adalah derita tanpa akhir. Seperti kebanyakan kuli, ia tidak bisa pulang ke Jawa atau meninggalkan perkebunan meski kontrak telah selesai. Penyebabnya, mereka tak punya uang cukup sebab upah kecil yang mereka terima setiap bulannya habis tersedot ke meja judi, rumah candu, dan barak pelacuran yang sengaja dibiarkan tumbuh subur di perkebunan.
Belanda sontak heboh saat kedua novel itu terbit untuk pertama kalinya. Para pendukung kapitalisme dan kolonialisme menyerang Lulofs. Ia dianggap berpolitik karena Madelon Hermina menulis karya sastra yang memuat kritik serta menelanjangi dampak kebijakan poenale sanctie itu. Bahkan, ada pula yang menganggapnya sebagai pengkhianat.
Namun bagi penentang penjajahan, ia justru dianggap sebagai pahlawan yang berjuang melalui sastra. Sampai- sampai ada yang menjulukinya Multatuli perempuan. “Apapun keterbatasan novelnya, kita tidak punya bahanbahan yang lebih baik untuk mendapatkan gambaran tentang dunia yang luar biasa kasar di perkebunan Sumatera,” imbuh Reid.
Lulofs sendiri tak bermaksud apa. Saya tidak menulis novel politik melainkan karya sastra murni. Saya hanya mencoba sebaik-baiknya menyajikan kekasaran, kepahitan, dan kemerosotan kehidupan tropis, yang di dalamnya tersembunyi suatu tragedi yang amat besar dari penderitaan dan kesengsaraan manusia,” kata Lulofs.
Madelon Hermina Szekely-Lulofs lahir saat gerhana bulan di sebuah kamar di Hotel Oranje, Surabaya, 24 Juni 1899. Sulung dari empat bersaudara pasangan Claas Lulofs dan Sarah Dijkmeester ini menghabiskan masa kanak-kanaknya di berbagai daerah di Hindia-Belanda (Indonesia), mengikuti ayahnya yang sering berpindah tugas sebagai amtenar pangreh raja (binnenlandsch bestuur). Tahun 1913, ia pindah ke Negeri Belanda. Dua tahun kemudian, Perang Dunia I berkecamuk, membuat keluarganya terkena dampak lalu ia memilih kembali ke Hindia-Belanda.
Tahun 1918, ia menetap di Asahan, sekitar 125 kilometer dari kota Medan, mengikuti Hendrik Doffegnies, suaminya, seorang tuan kebun yang bekerja di perkebunan karet di daerah itu. Perkawinannya tidak langgeng. Hendrik menginginkan Lulofs menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, sementara Szekely-Lulofs Lulofs membutuhkan suami yang lebih dari seorang penjaga.
Mereka pun berpisah pada 1927. Lulofs lari dari rumah dan memilih hidup bersama Laszlo Szekely, sahabat lamanya, yang juga tuan kebun di Deli. Pria Hungaria itu mendorong Lulofs mengasah bakatnya sebagai penulis. Seperti dirinya, Laszlo juga gemar menulis dan sempat melahirkan novel berlatar kehidupan perkebunan, Tropic Fever.
Pengalaman 12 tahun menetap dan melihat langsung keadaan di perkebunan, membuat karyanya solid. “Novel-novelnya memperkuat bukti-bukti dari sumber-sumber yang kurang bermotivasi estetis,” puji Ann Laura Stoler, antropolog dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, membandingkan karya Lulofs dengan buku-buku teks di luar sastra yang juga menulis tentang kepahitan hidup di perkebunan.
Estetika yang tampil pada karyakarya Lulofs memang memukau. Pada awal peredarannya langsung mendapat sambutan hangat. Novel- novelnya disalin ke dalam pelbagai bahasa, diiringi dengan aneka diskusi dan pementasan. Pada tahun 1936, Rubber sempat difilemkan. Untuk Indonesia, karya Lulofs boleh dibilang terlambat diterjemahkan. Publik sastra di tanah air baru bisa menikmati karyanya pada tahun 1985 dengan judul Kuli dan Berpacu Nasib di Kebun Karet.
Lulofs yang dikenal suka mengutip Sutan Sjahrir itu juga menulis karya sastra lainnya; Emigranten (Emigran), De Andere Wereld (Dunia Lain), Vizioen (Impian), De Hongertocht (Perjalanan Melelahkan) De Kleine Strijd (Pertempuran Kecil), Doekoen (Dukun) dan terakhir, Tjoet Nja Din (Cut Nyak Din), novel semi- bografis pejuang perempuan Aceh termasyur dalam sejarah perang melawan kolonial Belanda.
Pada 22 Mei 1958, Madelon berbelanja di sebuah toko di Amsterdam. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri. Ia buru-buru pulang ke rumah. Keluarganya memanggil dokter yang dengan cepat datang, lalu memeriksa. Namun ia sudah tak bernyawa. Hari itu, 48 tahun yang silam, dokter mengatakan, Madelon meninggal karena serangan jantung.
EMIL W. AULIA, wartawan Global TV. Menulis novel Berjuta- juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract (2006)
TIDAK banyak karya sastra, novel atau cerpen, yang layak dijadikan referensi penulisan buku-buku teks akademis. Namun karyakarya fiksi karangan Madelon Hermina Szekely-Lulofs, sepertinya, adalah pengecualian. “Tidak perlu diragukan, semua insiden yang diuraikan Lulofs dalam novelnya adalah nyata,” kata Anthony Reid, peneliti sejarah dari Australian National University.
Beberapa buku sejarah tentang kehidupan di perkebunan Deli, Sumatera Timur, masa kolonial mencantumkan nama dan buku-buku fiksi Lulofs di dalam daftar referensinya. Di antaranya Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria karangan Karl J. Pelzer (1985) atau Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera buah pena Anthony Reid (1987). Lihat juga Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera karangan Ann Laura Stoler (1870-1979).
Beberapa bagian novel Lulofs juga dicuplik dalam artikel ilmiah di jurnal sejarah, makalah seminar, skripsi dan disertasi mahasiswa yang belum diterbitkan. Bahkan, nama dan karya penulis perempuan berkebangsaan
Belanda itu juga dinukil dalam artikel feature di majalah hingga buku panduan wisata.
Setidaknya ada dua novel Lulofs yang paling banyak dikutip, yaitu Rubber (terbit tahun 1931) dan Koelie (1932). Keduanya berkisah tentang kuli kontrak dan tuan kebun di perkebunan Deli, Sumatera Timur. Bagi sejumlah sejarahwan, kedua novel ini layak dijadikan sumber penulisan sejarah karena cerita, setting, peran dan karakter yang dimainkan tokohtokohnya, memungkinkan mereka mengungkap gambaran masa silam yang terjadi di Deli, persisnya pada era 1920-an, saat industri perkebunan di daerah pesisir timur Sumatera itu mencapai puncak kejayaannya.
Rubber lebih banyak mengungkap suka duka kehidupan warga Eropa di perkebunan Deli. Koelie adalah pendalaman yang lain. Novel ini menelusuri kehidupan dunia mental para pekerja kasar Jawa, kelompok yang membanting tulang sepanjang hari, menjadi mesin utama industri di perkebunan. Bagi mereka, hidup di perkebunan adalah perbudakan.
Koelie dimulai dari sosok Ruki, seorang pemuda asal Jawa yang digambarkan Madelon sebagai wakil dari ribuan orang yang direkrut dari pelbagai pelosok Jawa untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di Deli. Suatu hari, seorang werek (agen pencari kerja) datang ke desanya yang miskin. Werek membawa kabar tentang tanah Deli yang ajaib. Di Deli, katanya, emas murah, banyak hiburan wayang, perempuan, dan bebas berjudi.
Ruki termakan rayuan itu lalu meneken kontrak. Sejak itu resmilah ia menyandang sebutan kuli kontrak, sosok manusia yang, menurut Lulofs, telah tergadai jiwa dan raganya. Bekerja di perkebunan karet, Ruki dan kuli-kuli Jawa lainnya menjalani hari-hari penuh caci maki, kerja keras, dan hukuman pukultendang. Semua kekasaran ini, buah dari penerapan kebijakan poenale sanctie, aturan hukum yang dibuat pemerintah Belanda untuk para kuli yang bekerja di perkebunan.
Hidup di perkebunan bagi Ruki adalah derita tanpa akhir. Seperti kebanyakan kuli, ia tidak bisa pulang ke Jawa atau meninggalkan perkebunan meski kontrak telah selesai. Penyebabnya, mereka tak punya uang cukup sebab upah kecil yang mereka terima setiap bulannya habis tersedot ke meja judi, rumah candu, dan barak pelacuran yang sengaja dibiarkan tumbuh subur di perkebunan.
Belanda sontak heboh saat kedua novel itu terbit untuk pertama kalinya. Para pendukung kapitalisme dan kolonialisme menyerang Lulofs. Ia dianggap berpolitik karena Madelon Hermina menulis karya sastra yang memuat kritik serta menelanjangi dampak kebijakan poenale sanctie itu. Bahkan, ada pula yang menganggapnya sebagai pengkhianat.
Namun bagi penentang penjajahan, ia justru dianggap sebagai pahlawan yang berjuang melalui sastra. Sampai- sampai ada yang menjulukinya Multatuli perempuan. “Apapun keterbatasan novelnya, kita tidak punya bahanbahan yang lebih baik untuk mendapatkan gambaran tentang dunia yang luar biasa kasar di perkebunan Sumatera,” imbuh Reid.
Lulofs sendiri tak bermaksud apa. Saya tidak menulis novel politik melainkan karya sastra murni. Saya hanya mencoba sebaik-baiknya menyajikan kekasaran, kepahitan, dan kemerosotan kehidupan tropis, yang di dalamnya tersembunyi suatu tragedi yang amat besar dari penderitaan dan kesengsaraan manusia,” kata Lulofs.
Madelon Hermina Szekely-Lulofs lahir saat gerhana bulan di sebuah kamar di Hotel Oranje, Surabaya, 24 Juni 1899. Sulung dari empat bersaudara pasangan Claas Lulofs dan Sarah Dijkmeester ini menghabiskan masa kanak-kanaknya di berbagai daerah di Hindia-Belanda (Indonesia), mengikuti ayahnya yang sering berpindah tugas sebagai amtenar pangreh raja (binnenlandsch bestuur). Tahun 1913, ia pindah ke Negeri Belanda. Dua tahun kemudian, Perang Dunia I berkecamuk, membuat keluarganya terkena dampak lalu ia memilih kembali ke Hindia-Belanda.
Tahun 1918, ia menetap di Asahan, sekitar 125 kilometer dari kota Medan, mengikuti Hendrik Doffegnies, suaminya, seorang tuan kebun yang bekerja di perkebunan karet di daerah itu. Perkawinannya tidak langgeng. Hendrik menginginkan Lulofs menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, sementara Szekely-Lulofs Lulofs membutuhkan suami yang lebih dari seorang penjaga.
Mereka pun berpisah pada 1927. Lulofs lari dari rumah dan memilih hidup bersama Laszlo Szekely, sahabat lamanya, yang juga tuan kebun di Deli. Pria Hungaria itu mendorong Lulofs mengasah bakatnya sebagai penulis. Seperti dirinya, Laszlo juga gemar menulis dan sempat melahirkan novel berlatar kehidupan perkebunan, Tropic Fever.
Pengalaman 12 tahun menetap dan melihat langsung keadaan di perkebunan, membuat karyanya solid. “Novel-novelnya memperkuat bukti-bukti dari sumber-sumber yang kurang bermotivasi estetis,” puji Ann Laura Stoler, antropolog dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, membandingkan karya Lulofs dengan buku-buku teks di luar sastra yang juga menulis tentang kepahitan hidup di perkebunan.
Estetika yang tampil pada karyakarya Lulofs memang memukau. Pada awal peredarannya langsung mendapat sambutan hangat. Novel- novelnya disalin ke dalam pelbagai bahasa, diiringi dengan aneka diskusi dan pementasan. Pada tahun 1936, Rubber sempat difilemkan. Untuk Indonesia, karya Lulofs boleh dibilang terlambat diterjemahkan. Publik sastra di tanah air baru bisa menikmati karyanya pada tahun 1985 dengan judul Kuli dan Berpacu Nasib di Kebun Karet.
Lulofs yang dikenal suka mengutip Sutan Sjahrir itu juga menulis karya sastra lainnya; Emigranten (Emigran), De Andere Wereld (Dunia Lain), Vizioen (Impian), De Hongertocht (Perjalanan Melelahkan) De Kleine Strijd (Pertempuran Kecil), Doekoen (Dukun) dan terakhir, Tjoet Nja Din (Cut Nyak Din), novel semi- bografis pejuang perempuan Aceh termasyur dalam sejarah perang melawan kolonial Belanda.
Pada 22 Mei 1958, Madelon berbelanja di sebuah toko di Amsterdam. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri. Ia buru-buru pulang ke rumah. Keluarganya memanggil dokter yang dengan cepat datang, lalu memeriksa. Namun ia sudah tak bernyawa. Hari itu, 48 tahun yang silam, dokter mengatakan, Madelon meninggal karena serangan jantung.
EMIL W. AULIA, wartawan Global TV. Menulis novel Berjuta- juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract (2006)
Selasa, 09 Desember 2008
SAJAK MALAM HARI
Rembulan memanggilmu ke peraduan
Tanda bahwa ia rindu memeluk mimpi-mimpi indahmu
Jangan risaukan mentari esok pagi
Karena hanya malam
Waktu yang tepat untukmu lepas penat hati
Tidurlah kawan
Bersama peri
Mimpikan surgawi
(OCHA)
Tanda bahwa ia rindu memeluk mimpi-mimpi indahmu
Jangan risaukan mentari esok pagi
Karena hanya malam
Waktu yang tepat untukmu lepas penat hati
Tidurlah kawan
Bersama peri
Mimpikan surgawi
(OCHA)
SAJAK MALAM HARI
Rembulan memanggilmu ke peraduan
Tanda bahwa ia rindu memeluk mimpi-mimpi indahmu
Jangan risaukan mentari esok pagi
Karena hanya malam
Waktu yang tepat untukmu lepas penat hati
Tidurlah kawan
Bersama peri
Mimpikan surgawi
(OCHA)
Tanda bahwa ia rindu memeluk mimpi-mimpi indahmu
Jangan risaukan mentari esok pagi
Karena hanya malam
Waktu yang tepat untukmu lepas penat hati
Tidurlah kawan
Bersama peri
Mimpikan surgawi
(OCHA)
LOVE IS...
Love is when i wake up in d morning
& remember his smile
Love is when i walk under d sun bright
& hope to see his figure
Love is when i stare at dusk
& feeling his personality
Love is
Like d time that bring me to life
Like d shine that light my soul
Like d pray that pacify my heart
Cause that,
Love is when d night come in to d world
& i call his delution spirit to come in to my dream
Everytime, until this never lasting love decided to go
(OCHA)
& remember his smile
Love is when i walk under d sun bright
& hope to see his figure
Love is when i stare at dusk
& feeling his personality
Love is
Like d time that bring me to life
Like d shine that light my soul
Like d pray that pacify my heart
Cause that,
Love is when d night come in to d world
& i call his delution spirit to come in to my dream
Everytime, until this never lasting love decided to go
(OCHA)
Jumat, 05 Desember 2008
Lagi, Dua Pencari Suaka Asal Papua Akan Kembali ke Tanah Kelahirannya
Diduga Ada Intervensi Intelejen dan Uang
Setelah kepulangan Hana Gobay dan Jubel Kareni, dua Warga negara Indonesia (WNI) asal Papua ke tanah kelahirannya pada September lalu, kini dua orang lagi dikabarkan akan mengikuti jejak kedua rekannya itu. Mereka adalah Yunus Wanggai dan anaknya Anike. Diduga, Kembalinya mereka ke bumi cendrawasih disebabkan adanya intervensi intelijen dan uang.
Pengamat intelejen Susaningtyas NH Kertopati mengatakan, jika memang ada keterlibatan intelejen dalam proses kepulangan dua orang pencari suaka asal Papua itu, dinilainya sebagai suatu hal yang wajar.
“Apapun alasannya, keterlibatan mereka (intelejen, red) adalah untuk menjaga kedaulatan negara,” ungkapnya, Jumat (28/11).
Menurutnya, kepulangan pencari suaka tentu dikhawatirkan bermuatan politik yang akan mengakibatkan disorientasi dan disorganisasi bernegara. “Apalagi eskalasi politik sekarang ini banyak diwarnai dengan kepentingan-kepentingan antar partai dan pribadi petinggi negara,” kata wanita yang biasa dipanggil Nuning ini.
Kendati demikian, kata Nuning, kepulangan dua warga Papua itu tidak perlu dipersoalkan selama keduanya memiliki itikad baik dalam kerangka membangun integrasi bangsa.
Hal senada diungkapkan Anggota Komisi III DPR asal PAN Sahrin Hamid. Menurutnya, kembalinya pencari suaka asal Papua tidak usah dicurigai macam-macam.
“Yang penting mereka kembali atas niat baik mereka untuk kembali membangun integrasi, kecuali jika mereka punya itikad buruk baru ditindak” katanya, Jumat (28/11).
Terkait dengan dugaan adanya intervensi intelejen dan uang dalam proses kepulangan kedua pencari suaka asal Papua itu, Sahrin menilainya sebagai suatu hal yang masih spekulatif. Jadi, sebaiknya isu itu dihiraukan saja.
“Jangan gampang percaya dengan isu-isu yang gak jelas. Kita positif thinking saja,” pungkasnya. n CR-3
///////////////////
Teuku Faizasyah
Juru Bicara Deplu
Juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Teuku Faizasyah. Menurutnya, dugaan yang mengatakan bahwa ada campur tangan intelijen Indonesia dalam kepulangan tersebut adalah tidak berdasar.
“Keinginan mereka untuk pulang bersifat sukarela. Tanpa ada paksaan. Anda bisa memegang kata-kata saya, tidak ada campur tangan intelijen Indonesia,” ungkapnya dalam press briefing di Gedung Deplu, Jakarta, Jumat (28/11).
Faizasyah juga membantah dugaan tentang pemberian uang pada kedua warga Papua itu. "Saya tidak bisa berkomentar soal itu. Kami sebagai pemerintah hanya berusaha melindungi warga negara. Tapi niat kepulangan mereka merupakan indikasi adanya rasa frustrasi di pihak Herman Wanggai," katanya. n CR-3
Setelah kepulangan Hana Gobay dan Jubel Kareni, dua Warga negara Indonesia (WNI) asal Papua ke tanah kelahirannya pada September lalu, kini dua orang lagi dikabarkan akan mengikuti jejak kedua rekannya itu. Mereka adalah Yunus Wanggai dan anaknya Anike. Diduga, Kembalinya mereka ke bumi cendrawasih disebabkan adanya intervensi intelijen dan uang.
Pengamat intelejen Susaningtyas NH Kertopati mengatakan, jika memang ada keterlibatan intelejen dalam proses kepulangan dua orang pencari suaka asal Papua itu, dinilainya sebagai suatu hal yang wajar.
“Apapun alasannya, keterlibatan mereka (intelejen, red) adalah untuk menjaga kedaulatan negara,” ungkapnya, Jumat (28/11).
Menurutnya, kepulangan pencari suaka tentu dikhawatirkan bermuatan politik yang akan mengakibatkan disorientasi dan disorganisasi bernegara. “Apalagi eskalasi politik sekarang ini banyak diwarnai dengan kepentingan-kepentingan antar partai dan pribadi petinggi negara,” kata wanita yang biasa dipanggil Nuning ini.
Kendati demikian, kata Nuning, kepulangan dua warga Papua itu tidak perlu dipersoalkan selama keduanya memiliki itikad baik dalam kerangka membangun integrasi bangsa.
Hal senada diungkapkan Anggota Komisi III DPR asal PAN Sahrin Hamid. Menurutnya, kembalinya pencari suaka asal Papua tidak usah dicurigai macam-macam.
“Yang penting mereka kembali atas niat baik mereka untuk kembali membangun integrasi, kecuali jika mereka punya itikad buruk baru ditindak” katanya, Jumat (28/11).
Terkait dengan dugaan adanya intervensi intelejen dan uang dalam proses kepulangan kedua pencari suaka asal Papua itu, Sahrin menilainya sebagai suatu hal yang masih spekulatif. Jadi, sebaiknya isu itu dihiraukan saja.
“Jangan gampang percaya dengan isu-isu yang gak jelas. Kita positif thinking saja,” pungkasnya. n CR-3
///////////////////
Teuku Faizasyah
Juru Bicara Deplu
Juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Teuku Faizasyah. Menurutnya, dugaan yang mengatakan bahwa ada campur tangan intelijen Indonesia dalam kepulangan tersebut adalah tidak berdasar.
“Keinginan mereka untuk pulang bersifat sukarela. Tanpa ada paksaan. Anda bisa memegang kata-kata saya, tidak ada campur tangan intelijen Indonesia,” ungkapnya dalam press briefing di Gedung Deplu, Jakarta, Jumat (28/11).
Faizasyah juga membantah dugaan tentang pemberian uang pada kedua warga Papua itu. "Saya tidak bisa berkomentar soal itu. Kami sebagai pemerintah hanya berusaha melindungi warga negara. Tapi niat kepulangan mereka merupakan indikasi adanya rasa frustrasi di pihak Herman Wanggai," katanya. n CR-3
Mendulang Sukses Lewat Menulis
Oleh: Rachmat Nugraha*
“Apa penulis bisa jadi profesi yang menjanjikan?” Pertanyaan seperti ini seringkali muncul dalam setiap seminar atau pelatihan penulisan. Umumnya, mereka yang bertanya adalah orang yang ingin terjun ke dunia penulisan, namun masih ragu dengan potensi yang akan ia peroleh secara finansial.
Untuk menjawab pertanyaan seperti ini ternyata tidak mudah. Sebab faktanya, banyak orang yang kaya dari menulis dan tidak sedikit pula yang hidup pas-pasan. Tapi paling tidak, saat ini peluang karir di bidang penulisan mulai menggeliat dan bisa dibilang menjanjikan.
Lihat saja Andrea Hirata yang sukses dengan novel Laskar Pelangi, di mana dia bisa mendapatkan royalti hingga menembus angka satu milyar untuk novel yang baru saja diangkat ke layar lebar itu. Atau, sebut saja Habiburahman El Shirazy yang berhasil mendulang rupiah lewat novel Ayat-ayat cinta yang fenomenal hingga mencapai Rp 1,2 miliar. Keduanya memulainya dengan menulis.
Itu baru di Indonesia, di mancanegara bahkan sudah ratusan atau mungkin ribuan orang yang sukses dalam bidang penulisan. Satu di antaranya adalah J. K Rowling, sang pencipta tokoh Harry Potter yang kini memiliki kekayaan senilai 560 juta pound.
Nama-nama di atas telah membuktikan bahwa profesi menjadi penulis sebenarnya cukup menjanjikan. Terlebih dengan perkembangan dunia perbukuan akhir-akhir ini yang menggembirakan, di mana banyak buku-buku asli karya penulis dalam negeri laris manis bak kacang goreng.
Menurut M. B Ariyanto, sang penulis dan direktur Mr. Pen Indonesia, untuk menekuni profesi penulis tidak diperlukan latar belakang pendidikan tertentu. Semua orang bisa menjadi penulis. Profesi ini juga tidak memerlukan kantor karena untuk melakukannya bisa dilakukan di rumah atau kamar kost-kostan.
Seorang penulis juga tidak perlu repot-repot mengeluarkan modal. Pekerjaannya hanya menulis dan sisanya serahkan saja ke penerbit, karena penerbitlah yang akan membiayai penerbitannya. Kalau pun kita memiliki obsesi untuk menerbitkan karya kita sendiri, hal itu bisa disiasati dengan mencari sponsor yang bersedia membantu menerbitkan karya kita.
Berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa jenis pekerjaan menulis yang dapat menghasilkan uang, antara lain:
1. Menulis novel;
2. menulis cerpen, cerber, atau kumpulan puisi;
3. menulis biografi tokoh;
4. menulis skenario;
5. menulis opini atau artikel di media cetak;
6. dan menulis buku-buku pengetahuan umum.
M. B Ariyanto, sang penulis dan direktur Mr. Pen Indonesia bahkan lebih banyak lagi menyebutkan jenis-jenis pekerjaan menulis yang menghasilkan uang, antara lain:
1. Editing naskah buku (kerjasama penulis dengan penerbit);
2. Penulisan cerpen/cerber/antologi puisi;
3. Penulisan naskah pidato;
4. Penulisan company profile;
5. Penulisan proposal;
6. Penulisan buku biografi tokoh;
7. Penulisan buku-buku popular;
8. Penulisan press release;
9. Penulisan product release;
10. Penulisan informasi produk (product knowledge)
11. Penulisan artikel untuk media cetak (surat pembaca, opini, dll);
12. Penyusunan buku direktori/data base (mis; business directory);
13. Penyusunan buku pengetahuan umum.
Dari sekian jenis pekerjaan menulis yang disebutkan di atas, kita bisa memilih jenis pekerjaan menulis apa yang kita inginkan. Tak hanya itu. Banyak usaha turunan berbasis menulis yang bisa diretas, antara lain: penerbitan, sekolah menulis, pembicara, pengajar, motivator, dan lain-lain. Yang harus diingat, yang menentukan keberhasilan adalah adanya kemauan dan ketekunan, bukan bakat.
Bicara penghasilan, M. B Ariyanto berpendapat, penghasilan yang akan didapat dari setiap jenis pekerjaan menulis tersebut, antara lain:
1. Royalti sebesar 10-15 persen dari penjualan buku yang diterbitkan oleh
penerbit;
2. Dari royalti buku yang diterbitkan sendiri;
3. Dari keuntungan penjualan buku yang diterbitkan sendiri;
4. Dari honor menulis di media cetak;
5. Dari honor menulis skenario;
6. Dari jasa penulisan biografi;
7. Atau bisa juga dari usaha lain seperti honor menjadi pembicara dalam
pelatihan dan seminar.
Yang jelas, jika menekuni profesi penulis, maka akan banyak sumber penghasilan yang bisa diperoleh dan itu membuktikan bahwa profesi penulis merupakan profesi yang cukup potensial untuk dilirik sebagai sebuah karir.
* Novelis, Wartawan Harian Rakyat Merdeka, Direktur Eksekutif Komunitas Penulis Jakarta
“Apa penulis bisa jadi profesi yang menjanjikan?” Pertanyaan seperti ini seringkali muncul dalam setiap seminar atau pelatihan penulisan. Umumnya, mereka yang bertanya adalah orang yang ingin terjun ke dunia penulisan, namun masih ragu dengan potensi yang akan ia peroleh secara finansial.
Untuk menjawab pertanyaan seperti ini ternyata tidak mudah. Sebab faktanya, banyak orang yang kaya dari menulis dan tidak sedikit pula yang hidup pas-pasan. Tapi paling tidak, saat ini peluang karir di bidang penulisan mulai menggeliat dan bisa dibilang menjanjikan.
Lihat saja Andrea Hirata yang sukses dengan novel Laskar Pelangi, di mana dia bisa mendapatkan royalti hingga menembus angka satu milyar untuk novel yang baru saja diangkat ke layar lebar itu. Atau, sebut saja Habiburahman El Shirazy yang berhasil mendulang rupiah lewat novel Ayat-ayat cinta yang fenomenal hingga mencapai Rp 1,2 miliar. Keduanya memulainya dengan menulis.
Itu baru di Indonesia, di mancanegara bahkan sudah ratusan atau mungkin ribuan orang yang sukses dalam bidang penulisan. Satu di antaranya adalah J. K Rowling, sang pencipta tokoh Harry Potter yang kini memiliki kekayaan senilai 560 juta pound.
Nama-nama di atas telah membuktikan bahwa profesi menjadi penulis sebenarnya cukup menjanjikan. Terlebih dengan perkembangan dunia perbukuan akhir-akhir ini yang menggembirakan, di mana banyak buku-buku asli karya penulis dalam negeri laris manis bak kacang goreng.
Menurut M. B Ariyanto, sang penulis dan direktur Mr. Pen Indonesia, untuk menekuni profesi penulis tidak diperlukan latar belakang pendidikan tertentu. Semua orang bisa menjadi penulis. Profesi ini juga tidak memerlukan kantor karena untuk melakukannya bisa dilakukan di rumah atau kamar kost-kostan.
Seorang penulis juga tidak perlu repot-repot mengeluarkan modal. Pekerjaannya hanya menulis dan sisanya serahkan saja ke penerbit, karena penerbitlah yang akan membiayai penerbitannya. Kalau pun kita memiliki obsesi untuk menerbitkan karya kita sendiri, hal itu bisa disiasati dengan mencari sponsor yang bersedia membantu menerbitkan karya kita.
Berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa jenis pekerjaan menulis yang dapat menghasilkan uang, antara lain:
1. Menulis novel;
2. menulis cerpen, cerber, atau kumpulan puisi;
3. menulis biografi tokoh;
4. menulis skenario;
5. menulis opini atau artikel di media cetak;
6. dan menulis buku-buku pengetahuan umum.
M. B Ariyanto, sang penulis dan direktur Mr. Pen Indonesia bahkan lebih banyak lagi menyebutkan jenis-jenis pekerjaan menulis yang menghasilkan uang, antara lain:
1. Editing naskah buku (kerjasama penulis dengan penerbit);
2. Penulisan cerpen/cerber/antologi puisi;
3. Penulisan naskah pidato;
4. Penulisan company profile;
5. Penulisan proposal;
6. Penulisan buku biografi tokoh;
7. Penulisan buku-buku popular;
8. Penulisan press release;
9. Penulisan product release;
10. Penulisan informasi produk (product knowledge)
11. Penulisan artikel untuk media cetak (surat pembaca, opini, dll);
12. Penyusunan buku direktori/data base (mis; business directory);
13. Penyusunan buku pengetahuan umum.
Dari sekian jenis pekerjaan menulis yang disebutkan di atas, kita bisa memilih jenis pekerjaan menulis apa yang kita inginkan. Tak hanya itu. Banyak usaha turunan berbasis menulis yang bisa diretas, antara lain: penerbitan, sekolah menulis, pembicara, pengajar, motivator, dan lain-lain. Yang harus diingat, yang menentukan keberhasilan adalah adanya kemauan dan ketekunan, bukan bakat.
Bicara penghasilan, M. B Ariyanto berpendapat, penghasilan yang akan didapat dari setiap jenis pekerjaan menulis tersebut, antara lain:
1. Royalti sebesar 10-15 persen dari penjualan buku yang diterbitkan oleh
penerbit;
2. Dari royalti buku yang diterbitkan sendiri;
3. Dari keuntungan penjualan buku yang diterbitkan sendiri;
4. Dari honor menulis di media cetak;
5. Dari honor menulis skenario;
6. Dari jasa penulisan biografi;
7. Atau bisa juga dari usaha lain seperti honor menjadi pembicara dalam
pelatihan dan seminar.
Yang jelas, jika menekuni profesi penulis, maka akan banyak sumber penghasilan yang bisa diperoleh dan itu membuktikan bahwa profesi penulis merupakan profesi yang cukup potensial untuk dilirik sebagai sebuah karir.
* Novelis, Wartawan Harian Rakyat Merdeka, Direktur Eksekutif Komunitas Penulis Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
