<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760</id><updated>2012-02-16T03:11:30.793-08:00</updated><title type='text'>Komunitas Penulis Jakarta</title><subtitle type='html'>Sebuah komunitas yang didirikan untuk menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta mengembangkan apresiasi terhadap sastra</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7343303440352509266</id><published>2011-03-19T03:03:00.001-07:00</published><updated>2011-03-19T03:03:58.712-07:00</updated><title type='text'>BERCINTA DENGAN TUHAN</title><content type='html'>BERCINTA DENGAN TUHAN&lt;br /&gt;Cassandra Wulandhary Ary&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahan mendengar lantunan adzan yang menggema&lt;br /&gt;Membuat nafsu ku berpacu bersama nafas syahwat ku&lt;br /&gt;Aku tergoda untuk mengikuti ajakanNya yang bergelora&lt;br /&gt;Air wudhu pun menyentuh kulitku dengan mesra&lt;br /&gt;Membuat jantungku berdegup sekencang angin berputar&lt;br /&gt;Mushaf suci itu pun menyatu bersama ragaku yang pasrah&lt;br /&gt;Membuat darahku mengalir sampai ke ubun-ubun&lt;br /&gt;Aku melayang....terawang...ah nikmatnya bukan main&lt;br /&gt;Dan ketika ayat-ayat aLqur’an mengecup lembut bibirku&lt;br /&gt;Aku pun mendesah tak tertahankan...aku benar-benar pasrah&lt;br /&gt;Malam pun merelakan aku bercinta dengan Tuhan&lt;br /&gt;Bintang dan bulan seakan cemburu ketika melihat permainan ini&lt;br /&gt;Sehingga sampai di ujung kenikmatan yang luar biasa&lt;br /&gt;Aku menjerit kecil memanggil nama-Nya dari dalam hati&lt;br /&gt;ALLAHU AKBAR...&lt;br /&gt;Aku merintih...&lt;br /&gt;Nafasku tersengal-sengal...&lt;br /&gt;Dadaku kembang kempis...&lt;br /&gt;Keringatku mengalir deras...&lt;br /&gt;Sekali lagi aku sebut nama-Nya dengan penuh cinta&lt;br /&gt;ALLAHU AKBAR...&lt;br /&gt;Ku pejamkan mata...&lt;br /&gt;Tak terasa air matapun tertumpah...&lt;br /&gt;Aku menangis....&lt;br /&gt;Menangis karena indahnya BERCINTA dengan-Mu ya Rabbi....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7343303440352509266?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7343303440352509266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7343303440352509266&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7343303440352509266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7343303440352509266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2011/03/bercinta-dengan-tuhan.html' title='BERCINTA DENGAN TUHAN'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7472435054702478502</id><published>2011-03-18T11:10:00.000-07:00</published><updated>2011-03-18T11:13:53.491-07:00</updated><title type='text'>Prieboemie Seboeah Kebetoelan</title><content type='html'>Jati Mahatmaji&lt;br /&gt;Pernah suatu siang temanku bilang kalau hidup adalah sebuah lelucon yang bisa saja membuat manusianya tertawa, atau bahkan tersenyum dalam kehancuran. Masa senang sering mengayunkan kita begitu menyenyakan, menidurkan mata serta menenggelamkan tubuh ini berenang ke dalam harapan-harapan. Kemudian masa sulit, akan secepatnya membangunkanmu, walau sesungguhnya kau masih terlalu kantuk, karena usaha mengejar harapan belum juga usai. Akh! Harapan...di masa sulit hanyalah sebuah omong kosong! Suara yang menjengkelkan apa yang manusia hingga Tuhan katakan atau perdengarkan melalui kitabnya, semuanya dihadirkan masa sulit dengan bertubi-tubi. Mengahantam tubuh mu mendorong masuk ke dalam liang lahat penuh derita, tanpa daya apalagi doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga keyakinan dalam hatiku ini benar adanya.&lt;br /&gt;Karena hatiku berkata: Semua Terjadi Kebetulan.&lt;br /&gt;Rasanya sulit untuk menuliskan cerita ini, tetapi apa boleh buat, tokh sekarang aku akan menceritakannya kepada kalian. Mungkin seseorang yang pernah menceritakan hal ini padaku akan mengatakan bahwa diriku ini dungu, atau terlalu tolol untuk mewartakannya kepada yang lain, tetapi lihatkan, akhirnya aku akan menceritakannya, dan beginilah ceritanya.&lt;br /&gt;Semoga Tuhan bersama kita semua.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya bermula dari sebuah catatan kesehatan di Rumah Sakita Batavia, bahwa angka kematian di Oud Batavia, pada kisaran waktu 1733-1738, sekitar 50 persen penduduk Batavia tewas akibat malaria-tropica yang timbulkan oleh Plasmodium Falciparum. Sedangakan 50 persen lainnya terjangkit malaria-cachxie sebuah gejala bagi seseorang yang belum kebal dan mudah terinfeksi malaria kembali. Jumlah yang mampus karena malaria tidak tanggung-tanggung, sekitar 87.000-an!, dan jumlah tersebut terus meningkat hingga mencapai angka 1.119.375 pada akhir Agustus 1752. Hingga akhirnya pada permulaan tahun 1809, Daendels memindahkan pusat pemerintahan Batavia yang semula berada di Oud Batavia (sekarang kawasan sekitar Pasar Ikan) ke Weltevreden (sekarang Gambir) yang kemudian disebut Nieuw Batavia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi budak bagi Eropa bukanlah pilihan yang bijak, walau terkadang hanya itu satu-satunya pilihan melanjutkan hidup bagi seonggok daging yang disebut pribumi, di tanah pribumi. Tidak bagi Lamin. Gubernur Daendles yang kejam, telah memberikan secercah harapan di tanah yang baru, tanah yang menjadi tempatnya para pembesar Belanda meniduri istri palsunya, menikah lebih dari dua istri, dan tempat beberapa pembesar pribumi mengumpulkan gundik. Tempat itu, surga di pulau Jawa itu adalah Weltevreden! Kota Taman! sebelah selatan Oud Batavia yang KOTOR!&lt;br /&gt;Weltevreden, Tanah Taman ini akhirnya menjadi awal dari nutfah bagi Lamin berkembang biak, beranak pinak, dan membesarkan keluarganya yang miskin. Waktu itu batas abad 18 sudah hampir habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1898 Belanda memberikan sebuah pengunguman yang lumayan menggiurkan, mereka membutuhkan beberapa centeng dan budak yang mau dipekerjakan diperkebunan di Sumatera dan sekitaran Borneo. Lamin memang tidak tahu caranya membaca latin, namun ia mengerti saat orang memperbincangkan Rawa Senajan sebagai tempat ujian untuk menjadi centeng bagi perkebunan milik Belanda.&lt;br /&gt;”Namanya nasib siapa tahu.......nasib ini harus berubah, atau aku akan mati dimakan nasib....” dan berangkatlah Lamin menjauhi tempat leluhurnya, kampung aslinya, tanah tempat nenek moyangnya berkembang biak.!&lt;br /&gt;Entah apa yang dipikirkan Tuhan saat mahlukNYA meminta pertolonganNYA. Apa yang hendak dikatakanNYA, dan apa yang hendak direncanakanNYA. Begitupun Lamin, saat tahu kalau dirinya terlalu pendek, dan jelek, untuk menjadi centeng.&lt;br /&gt;”Hei...kami orang butuh orang seram...netjes...bukan kowe....kowe terlalu buduk...tapi kalo kowe mau jadi budak...itu bagus? Hei bagaiamana?” ahk...ucapan Meneer itu begitu tajam menusuk hatinya, namun apa hendak mau dikata? Gagal ya gagal....menjadi budak bukanlah keinginannya, dia tidak ingin mati sia-sia seperti beberapa saudaranya yang mati di Anyer atau sepanjang Jalan Raya Pos, dimakan kelaparan serta penyiksaan tanpa pernah istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dengar janji Tuhan tentang penghapusan budak semenjak Agama datang menuntun manusia keluar dari kegelapan dunia? Lalu kenapa mesti ada budak, sampai VOC digantikan Hindia-Belanda? Di tanah Batavia ini? Rencana Tuhan tidak masuk akal, atau mungkin suatu saat nanti akan terjawab? Entah? Memusingkan, Lamin punya pendirian, ia katakan langsung pada Meneer yang mengujinya,&lt;br /&gt;”Tidak Meneer, maaf saya tidak mau jadi budak....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik...kowe bisa pergi, dan cari penghidupan yang benar...”&lt;br /&gt;Hingga akhirnya semua manusia tahu, seringkali harapan hanya tinggal harapan tidak lebih dari omong kosong!, dan selamat tinggal Harapan! Selamat Datang Kenyataan!&lt;br /&gt;Aih Weltevreden terlalu kejam bagi seorang Lamin. Dan selama lebih dari sepuluh tahun dirinya hanya bekerja sebagai buruh batu bata di Pasa Ikan. Sudah dan tidak ada salahnya menerima takdir, walaupun kejam, setidaknya ia tidak menjadi budak, Nieuw Batavia walau ramai dan indah, ia terlalu kejam untuk seorang Lamin, seorang manusia yang lahir dan besar di Batavia.&lt;br /&gt;”Akh...pulang udik....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang menuju Oud Batavia sepanjang jalan raya Weltevreden, Lamin sesekali melihat beberapa Meneer yang santai dan ngantuk layaknya seorang pekerja keras, duduk manis di atas sado, juga di bangku goyang dengan perut buncit yang menutupi tubuh mereka. Lebih busuknya, buncit bukan karena makanan Halal, sebagian dari yang membuat buncit adalah Haram, itu darah manusia! Tidak semuanya memang. Apa yang terjadi dengan dunia? Inikah yang namanya Adil? Aih.....Lamin bisa apa?? Sejak kecil dan mungkin nanti sampai Mati...yang ia tahu hanya ikhlas...ikhlas dan serahkan semuanya kepada ALLAH.&lt;br /&gt;Batavia ini, Nieuw Batavia ini begitu ramai, lihat pohon-pohon besar pelindung jalan raya, dan pemberi udara itu...berdiri mengagkang kokoh dan sulit di robohkan. Lihat juga pembesar-pembesar yang duduk santai di rumah mereka yang luas itu...menghisap tembakau..minum anggur...dan.....dan....hei lihat pria berkumis lebat dengan perut buncit itu.&lt;br /&gt;Bibir juga tangannya dari kejauhan seperti memanggil Lamin untuk masuk ke daam pekarangannya...orangnya putih, badannya besar, juga lihat pakaiannya....semakin dekat Lamin memasuki halaman rumah, semakin terlihat oleh Lamin, kalau yang dipegang Meneer di tangan kirinya itu adalah Arloji Saku. Kumisnya baplang melintang, gagah, sepatunya juga mengkilat, jauh berbeda dengan Lamin yang mirip kutu buduk! Tidak bersepatu juga tidak pernah sekalipun menggosok giginya. Kelas manusia yang berbeda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan manusia yang berbeda itupun bertemu muka, di jenjang tangga yang hanya ada dua anak tangga. Dengan sedikit angkuh, dan suara berat, pria itu berkata&lt;br /&gt;”Hei..kowe duduk sini hah...” dan Lamin pun duduk di bawah seperti anjing kebanyakan. Dari penglihatan sederhana seorang Lamin ia mengira bahwa Meener ini usianya tidak jauh dari sekitar 35-40 tahun-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya meneer..” jawabnya sambil sesekali menggaruk koreng disekitaran mata kakinya.&lt;br /&gt;”Kowe dari mana?.....Kowe kelihatan kotor begitu...gatal tubuhmu?” Lamin menggaguk, menghentikan garukannya. Meneer itu pun duduk mengamti setiap lekuk tubuh pribumi yang memelas, gagal ikut tes jadi centeng. Mengambil sebatang rokok, dan kemudian menghisapnya, mengepulkannya ke udara, dan kemudian menyilangkan kakinya.&lt;br /&gt;”Rawa Senajan Meneer...ikut ujian buat jadi centeng di Toba.....Meneer...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hah? Centeng? Kowe punya tampang tidak pantas jadi centeng....dari mana asal kowe?”&lt;br /&gt;”Pasar Ikan Meneer...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pantas....” balas Meneer sambil menelanjangi tubuh Lamin dengan bola matanya yang biru itu...dan Lamin bukan main malunya. Harga dirinya terbang, dan menghilang!..”Kowe mau kerja dengan ik?”&lt;br /&gt;”Kerja?......Jadi apa Meneer?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kacung....nanti kowe dapat upah cukup, …kowe bisa tinggal di belakang rumah...kowe juga dapat makan, beras....beras dari Bangil...bagiamana? kowe mau? Kowe juga tidak kerja penuh...kowe bisa istirahat kalau semua kerja rumah selesai, kowe bisa jalan-jalan kalau semua yang ik dan istri ik mau sudah beres.......bagaimana?” tanyanya sambil duduk, menyilangkan kaki kanannya, memilin kumis yang tidak mau jatuh itu, dan kemudian merokok tembakau kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya rejeki tidak jauh kemana, dan Lamin tahu itu dari emaknya yang sudah mati. Dengan kepala menunduk seperti menghadap seorang raja, Lamin pun menjawab dalam kepastian.&lt;br /&gt;”Ya...saya mau jadi kacung” kenyataan itu datang tanpa pernah mengetuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Goed...” dan artinya bagus....” oh ya... ini saya punya bini, Ema, kowe boleh panggil dia Mevrouw Ema” dan wanita itu tersenyum, meminum secangkir air putih, dan kemudian memalingkan kepalanya, melihat suaminya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan nama saya sendiri Baron van Huys...kowe bisa panggil saya Tuan Baron.... tidak usah pakai Meneer....” semakin lama didengar semakin jelas suaranya yang besar dan menggelegar. Wajah kompeni yang berdiri mengangkang di depan muka pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik Tuan Baron...” langit Batavia seakan berjalan beriring berbaris berdansa mengiringi kebahagian seorang pribumi yang ingin kerja, ingin cari makan.&lt;br /&gt;Pekerjaan menjadi kacung bukanlah hal yang hina...menjadi budak tanpa upah, memeras tenaga membangun Jalan Raya Pos tanpa upah..itu baru Hina! Dan lamin jauh dari pekerjaan yang menurutnya akan meruntuhkan harga diri manusia.... Tokh bekerja dengan seorang Belanda, setidaknya menjaga dirinya dari pemerasan, dan ketakutan akan hantaman tinju Mersose, juga tuan tanah yang sering memakan daging saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tutup minggu pertama di bulan Agustus 1898, saat-saat menjelang Saat Ratu naik Tahta, dan banyak pembesar Pribumi yang diundang menikmati Eropa.....saat itu juga, Lamin menetap dan menikmati hidup menjadi kacung di Weltevreden...menjadi Kacung bagi keluarga Baron van Buys. Kenaikan Ratu juga kenaikan hidup Lamin, walau secuil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei hidup kau akan ku jelang! Ini aku Lamin, kacung Baron van Huys, mari-mari akan aku jelang hidup ini!” begini hidup pribumi di tanah pribumi, nenek moyang pribumi kebanyakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7472435054702478502?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7472435054702478502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7472435054702478502&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7472435054702478502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7472435054702478502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2011/03/prieboemie-seboeah-kebetoelan.html' title='Prieboemie Seboeah Kebetoelan'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7360562463978302831</id><published>2009-04-23T05:42:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T05:45:38.390-07:00</updated><title type='text'>KETIKA BIDADARI ENGGAN TURUN LAGI KE BUMI</title><content type='html'>Karya: OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk flora bidadari berselendang ungu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sebuah sore duduk pinggir redup mentari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terbata-bata anak bajang mengeliat memuntahkan kata-kata manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari udara terkirim lembaran-lembaran bertuliskan huruf palawa yang enggan ia baca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menangis merindukan bidadri berselendang ungu kembali berpijak di bumi nan limpah loh jenawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maraung-raung sehingga petir menyambar sekeras gunung memuntahkan lahar panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teratap dosa dan luka selalu tarpanjat dari iblis di dalam neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memikul segunung-gunung tanggung jawab akan keindahan bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            asa menangis tanpa air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            jiwa terobek-robek tanpa bekas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            teriris kulit ari bagai tersiram setetes cuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            meski aku di jadikan pilihan terakhir bagi mu dunia aku mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bidadari hanya menatap tanpa raut wajah terlihat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun aku sadar bahwa ia enggan menginjak kembali ke bumi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia gundah hingga kacau meradang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teriring kata, selamat jalan. dirimu selalu ada dan tetap membekas di hati ku meski kau telah enggan datang lagi kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                 Banten,30 Agustus 07&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7360562463978302831?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7360562463978302831/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7360562463978302831&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7360562463978302831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7360562463978302831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/04/ketika-bidadari-ngggan-turun-lagi-ke.html' title='KETIKA BIDADARI ENGGAN TURUN LAGI KE BUMI'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-9027859527556834514</id><published>2009-04-23T05:40:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T05:41:45.399-07:00</updated><title type='text'>ENTAH CINTA MANA YANG KAN AKU PEGANG</title><content type='html'>Karya: OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;letih rasa menarjang fikiran penuh doa bersambut malam nan bising&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kata-kata penuh gusar dalam kepalsuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manusia itu indah penuh bungga-bunga namun penuh duri-duri tajam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mencari tau akan sebuah jalinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terjebak dalam riam-riam guratan tanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            mau apa dan harus bagai mana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            entah sampai kapan terus tergantung dalam harapan-harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            atau meski kau ku gantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            aku takkan rela meski aku yang menjadi diri mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;detik-detik berlalu tetap terjebak untuk memilih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dunia ini hanya punya dua kata tidak tiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya kata ya dan tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya aku yang masih terjebak dalam kata yang tidak ya dan tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku harus meyudahi ini semua atau aku akan terus terjebak dan tarjebak dalam lingkaran Ya dan Tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan apa yang akan aku jawab adalah titah dari TUHAN&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-9027859527556834514?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/9027859527556834514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=9027859527556834514&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/9027859527556834514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/9027859527556834514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/04/entah-cinta-mana-yang-kan-aku-pegang.html' title='ENTAH CINTA MANA YANG KAN AKU PEGANG'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7901668048554374108</id><published>2009-04-23T05:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T05:36:53.933-07:00</updated><title type='text'>SASTRA, I LOVE YOU!</title><content type='html'>Created by, Ressa Novita (Ocha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sastra???” seruku pelan, setelah menemukan nama pengirim di balik bungkusan persegi panjang berbalut kertas kopi. Bungkusan sedikit lecek itu baru saja kutemukan di dalam kotak pos di depan rumahku.&lt;br /&gt;Nama itu bukan nama yang asing bagiku, bahkan itu adalah sebuah nama yang akan selalu mengisi salah satu bilik jantung dan sudut hatiku. &lt;br /&gt;Sastra… &lt;br /&gt;Kurobek kertas kopi pembungkus pada bagian tepinya. Jika ini hari yang sama dengan hari di 5 tahun yang lalu, pasti di balik pembungkus ini ada sesuatu yang sama. Sesuatu yang pernah menjadi awal perubahan jalan hidupku menjadi Wanda yang hari ini berdiri dengan penuh rasa. &lt;br /&gt;“I’m Sorry, My Love!” ucapku spontan membaca judul di cover buku setebal satu setengah sentimeter berwarna biru laut itu. “Enak aja!” caciku kecil.&lt;br /&gt;Kubuka halaman pertama dari buku itu, dengan harapan akan mendapatkan sesuatu yang menarik dari buku berdesain cover amat sederhana itu. Kutemukan selembar kertas berisi sebuah pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For : Wanda&lt;br /&gt;Mungkin sudah terlambat aku mengucapkan kata maaf. Tapi hatiku tak pernah berhenti menyesali. Selama 2 tahun aku menanti maaf darimu. Entah apa lagi yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan kata ajaib itu. Pagi ini, jam ini, menit dan detik ini aku kirimkan sebuah buku sebagai tanda cintaku yang masih sama dengan yang dulu. Wanda, aku tidak pernah berhenti mencintaimu selamanya! Aku harap dengan datangnya buku ini kamu mau menerima hatiku untuk kedua kalinya!   &lt;br /&gt;With Love&lt;br /&gt;Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra, nama itu kembali melekat rekat memenuhi benakku. Membawaku kembali ke masa lalu, ke masa saat aku hanyalah Wanda yang tak mengenal Sastra.&lt;br /&gt;Saat itu aku duduk di SMU kelas 2. Teman-teman sekelasku bilang aku bintang kelas yang paling malas. Maksud mereka malas membaca. Dan aku akui kebenaran sempurna dari julukan yang mereka berikan padaku. Di sekolah selalu dengan mudah aku meraih gelar juara kelas, tapi itu semua kudapatkan bukan karena aku rajin belajar, melainkan daya tangkap otakku yang lumayan cemerlang. Cukup hadir di kelas dan mendengarkan penjelasan guru, aku akan mengingat setiap kalimat yang kudengar tanpa bantuan buku atau apapun.&lt;br /&gt;Ketika semua remaja gemar membaca apapun yang berhubungan dengan dunia remaja, aku akan memainkan kaki-kakiku untuk berlari. Yah, aku suka berlari. Aku adalah salah satu atlit lari berprestasi di tingkat SMU. Selain lari, aku juga gemar olahraga jenis yang lainnya. Sebutkan salah satu, dan aku akan memainkannya dengan cukup mahir. Tapi jangan sodorkan buku padaku, karena judul dan pengarangnya saja tidak akan aku baca dengan serius.&lt;br /&gt;Pikirku, peduli amat dengan buku dan apapun yang berisi tulisan-tulisan mesin cetak. Mataku lebih berguna jika digunakan untuk menatap lurus ke depan saat berlari.&lt;br /&gt;Pemikiran itu segera berubah, tak perlu menunggu lama. Dimulai dari suatu pagi dengan kiriman buku dari seorang pria bernama Sastra. Buku kumpulan syair Kahlil Gibran. Luar biasa bahagianya aku ketika mendapatkan kiriman buku itu. Tentu saja rasa bahagia itu bukan karena aku menyukai buku itu, tapi karena buku itu kiriman dari seorang pria yang pernah aku kagumi di masa SMP dulu. Sastra adalah seniorku di SMP, ia tinggal tidak jauh dari kompleks dekat rumahku. Meskipun demikian tidak pernah berhasil aku mendekatkan diri dengannya. Dibilang kurang agresif, ya cukuplah untuk ukuran seorang cewek SMP yang masih lugu. Mungkin kesempatan untuk bersama belum diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setelah aku lulus SMP sudah tidak lagi aku berpikir untuk mendekatinya. Aku  sudah terlanjur yakin kalau kita memang tidak berjodoh. Aku hanya bisa sesekali menanti kemunculannya setiap berjalan pulang ke rumah. Untuk sekedar menghapus kerinduanku padanya. &lt;br /&gt;Lalu akupun tergelitik untuk membaca buku itu sampai selesai. Ajaib, tiap bait kata indah yang diciptakan Kahlil Gibran begitu mendalam dan dapat menggambarkan apa yang ia pikirkan. Dan ternyata buku itu bukan yang pertama dan yang terakhir yang pernah kubaca. Malah buku itu adalah awal dari puluhan bahkan ratusan buku lainnya yang akan aku baca.&lt;br /&gt;Dunia sedikit kacau menyaksikan perubahanku. Aku ketagihan membaca apapun terutama yang berhubungan dengan sastra. Dan aku mulai melupakan olahraga yang biasanya menjadi image ku. Tapi aku senang karena aku mengarungi dunia Sastra bersama Sastra yang aku cintai. &lt;br /&gt;“Hei, buku apa itu?!”&lt;br /&gt;Yang bertanya itu temanku, Yana. Semalam ia menginap di rumahku dengan alasan ingin membongkar dan merampas semua buku-buku menarik yang kumiliki. Saat ini kami sama-sama sedang menyelesaikan kuliah di salah satu fakultas sastra di kota ini. Jadi buku-buku itu menjadi begitu berharga bagi kami. Termasuk buku yang baru saja kudapatkan pagi ini.&lt;br /&gt;“Ehm, bahan pembelajaran baru! Baru kutemukan di kotak pos. Lumayan, dari ringkasan ceritanya sepertinya isinya menarik”&lt;br /&gt;“Kiriman siapa?!”&lt;br /&gt;“Sastra”&lt;br /&gt;“Wah!!!” serunya riang saat pertanyaannya terjawab seperti yang ia harapkan.&lt;br /&gt;Yana sahabatku sejak kecil, ia tinggal tepat di sebelah rumahku. Ia tau bagaimana hubunganku dengan Sastra, berapa lama kami bertahan, dan kenapa kami berpisah. Ia salah satu saksi hidup perubahanku. Dia sama seperti remaja-remaja pada umumnya, gemar membaca buku-buku sastra terutama yang berhubungan dengan cerita cinta. Bahkan dia mendalami dunia itu. Betapa senangnya Yana ketika ia melihatku membaca buku kumpulan syair pemberian Sastra itu.&lt;br /&gt;“Apanya yang WAH?!” keluhku sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat wajah puas Yana.&lt;br /&gt;“Wah!!! Ada sinyal untuk bersama lagi, nich&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7901668048554374108?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7901668048554374108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7901668048554374108&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7901668048554374108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7901668048554374108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/04/sastra-i-love-you.html' title='SASTRA, I LOVE YOU!'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-1449748471393401204</id><published>2009-04-16T12:54:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T13:00:04.676-07:00</updated><title type='text'>Siap-siap</title><content type='html'>Buat seluruh simpatisan dan para penggiat sastra... siapa-siap, Komunitas Penulis Jakarta akan melakukan pembaruan.... doakan semoga Komunitas Penulis Jakarta bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi bagi pengembangan minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di Indonesia&lt;br /&gt;Ohya, Komunitas Penulis Jakarta hadir di facebook, mampir ya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-1449748471393401204?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/1449748471393401204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=1449748471393401204&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1449748471393401204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1449748471393401204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/04/siap-siap.html' title='Siap-siap'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-5429252176153745686</id><published>2009-02-13T06:46:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T06:51:59.399-08:00</updated><title type='text'>Setengah hati</title><content type='html'>Karya: Sanies&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku Kiko Sergio, mahasiswa semester 5 di salah satu perguruan tinggi Jakarta. Saat ini aku masih dalam keadaan patah hati, seseorang telah memaksaku mengakui kesalahan ynag tidak kuperbuat. Enam bulan sudah berlalu rasa itu memang masih ada tapi jika dia memberi kesempatan lagi padaku, aku tak akan ambil kesempatan itu. aku telah menikmati masa-masa sendiriku... ini berkat orang-orang disekelilingku. Terimakasih Tuhan aku menjadi orang yang tenang. Beberapa bulan lalu aku hampir gila dibuatnya, depresi, resah karena mencintainya dan rasa ingin kembali sangat menggebu-gebu. Tapi hari ini tidak. Aku sadar akan banyak hal yang sangat lebih penting daripada mengharapkannya terus-menerus. Fuuchh cerita yang pajang seperti film yang belum ada akhir ceritanya... ini hari sabtu, tentu tidak ada kuliah hari ini, waktunya menikmati waktu dirumah sampai besok, yah maklumlah dari hari senin sampai jumat aku kulianh dan bekerja freelance disalah satu media cetak, yah lumayan c untuk uang senang-senang. Jam menunjukkan pukul 08.12WIB, tapi tubuhku masih saja merasa malas bangun dari tempat tidur...pagi-pagi gini HP bunyi...BT......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sms diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiko bangun dong, mmm bau.... mandi gih..&lt;br /&gt;btw, ntar mlm km mw kmn??? &lt;br /&gt;kalo ga ada rencana temenin aku nonton dong....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(lagi- lagi Vanya, cewek yang mengharapkanku, yah mungkin sedang mengharapkanku, bagaimana tidak, toh selama ini dia seperti menganggap aku cowoknya. Minta anter dia kemana-mana walaupun aku sering menolak. Tapi kehadirannya lumayan bikin aku jadi agak lupa dengan cewek yang kini makin berlalu, tapi bukan berarti aku jd mencintai Vanya. aku benar-benar tidak ada perasaan dengan Vanya, maaf Vanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sms diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kok gak dibales c??? km blm bgn ya??? kalo udah bgn telp aku ya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sms dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eh iya baru bgn ni. aku udah ada rencana van,&lt;br /&gt;aku udah janji mw temenin nyokap aku ke market. gpp ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(padahal aku sudah terlanjur janji dengan mantan aku terdahulu,waktu jaman SMA. aku sudah sering menolak ajakannya dengan seribu alasan. Vanya andaikan aku bisa mengatakan yang sejujurnya, bahwa aku saat ini aku tidak mencintai siapa-siapa...&lt;br /&gt;sedah hampir 3 bulan dia dekat dengannku, tapi kedekatan ini disalahartikan olehnya. Aku tidak tau kapan aku bisa jujur, aku tidak ingin menyakitinya, karena disakiti itu rasanya sangat sakit...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kikoooo bangun nak...." suara Mama dari luar kamar. Seorang perempuan termanis yang selalu memberiku dukungan padaku.&lt;br /&gt;"iya ma, aku udah bangun kok..." teriakku.&lt;br /&gt;"Kiko, mama berangkat kerumah budemu ya, mau bantu-bantu bude kamu siapin acara untuk nanti malam. Makanan udah mama siapin. kalau mau pergi kabarin mama ya" mama tiba-tiba masuk kamar untuk pamit ke rumah bude, katanya sih ada acara syukuran anaknya yang baru khatam Alquran.&lt;br /&gt;"iya ma, berangkat sama siapa?? apa aku aja yang antar mama??" tawaranku walau agak basa-basi lantaran masih pengen leyeh-leyeh.&lt;br /&gt;"biar mama sama pak Kirno aja. kalo kamu sempet, nyusul ya"&lt;br /&gt;"oh yaudah deh ma, ati-ati ya..."&lt;br /&gt;Kurebahkan lagi tubuhku, masih bemalas-malasan...tiba-tiba HP bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan masuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"woy, masih ngorok lw ye.... bangun pak" terdengar suara cepreng dari mulut Jovan disebrang sana.&lt;br /&gt;"udah bangun kok, ada apa c lw telp pagi-pagi gini?"&lt;br /&gt;"pagi?liat jam dong! anak-anak tar sore mau ngajakin main basket di rumah Davi, lw ikut kan? tar gw jemput deh.."desaknya&lt;br /&gt;"gak usah dijemput deh, tar gw dateng" padahalkan aku ada janji dengan Racel, mantan aku di SMA dulu.&lt;br /&gt;"yaudah, kabar-kabarin yah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah menunjukan pukul 15.00, sampai sore ini aku menghabiskan waktu didalam kamar, sempat keluar kamar hanya untuk makan. hahaha belum mandi ni dari pagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hai lagi ngap??? jadi ktmu ga??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hai juga, aku lagi mau mandi ni. kita ktmunya nanti mlm kan??km jemput aku atau gmn??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya aku juga bingung mau ngomong apa dengan dia kalau jadi bertemu nanti, toh dia udah mantanku. Memang aku agak penasaran dengan wajahnya yang sekarang, tambah cantik atau ada perubahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ak ada janji main basket dirumah temen sore ini, kita ktmnya selesai ak main basket ya. ya kira-kira jam 7. kt ktmuan aja ya di bebek bali.ok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ok deh jam 7 ya di bebek bali. see ya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak dari tempat tidur yang berantakan bukan hanya seperti kapal pecah, tapi juga seperti tanah longsor karena bantal bukan lagi berada ditempat tidur. Bantal-bantal terbang tepat di bawah meja komputer.hahaha. Sore ini mama belum pulang juga, rasa tidak enak karena tadi disuruh nyusul. hah rasa tidak siap bertemu Racel membuat aku jadi ragu. Tidak terasa waktu menunjukan pukul 15.30. aku mandi ah. Nanti Jovan cempreng marah-marah...huaaa dasar cempreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai dirumah Davi, semua teman-temanku sudah memulai permainan. Rasa pusing dan kunang-kunang karena kenyakan tidur seharian masih saja terasa. Untung waktu nyetir tadi tidak ada apa-apa dijalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woy!!!! sini gabung,,,,, 3 on 3 yok" Davi menyeru dari tengah lapangan&lt;br /&gt;"iya" jawabku&lt;br /&gt;"lw kenapa?? keliatannya lemes banget, lw sakit ya?" tiba-tiba Davi menhampiriku disaan aku ganti kaus.&lt;br /&gt;"gak kok, cuma pusing dikit. kebanyakan tidur tadi"&lt;br /&gt;"gw punya obat kuat ni, lw mau pake ga?hahaha ya kalo lw merasa gak mampu c" aku tahu dia cuma bercanda.huh masih aja gitu Dav.&lt;br /&gt;"gak perlu! gw kuat ko"&lt;br /&gt;"woy malah ngerumpi!!! ayo ah" teriak Jovan dari tengah lapangan&lt;br /&gt;"yaudah buruan" kata Davi sambil berlari kearah lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam menunjukan pukul 18.20 WIB. Aku bersiap-siap ganti kaus yang aku bawa dari rumah. Sampai jam segini aku masih saja belum merasa siap bertemu dengan Racel. Jelas tidak ada niat untuk balikan lagi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaudah gw cabut ya"&lt;br /&gt;"gigi kali cabut, mang lw mau kemana?" Tanya Fandy&lt;br /&gt;"ada janji ni."&lt;br /&gt;"mw kemana c? nantilah, biasanya kalo abis main basket kita nongkrong-nongkrong dulu kan" ujar Davi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang lain juga ikut-ikutan ngeroyok, lantaran aku gak boleh buru-buru pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"duwh udah ah takut macet ni, gw duluan ya"&lt;br /&gt;"yaudah hati-hati ya, kalo ada cewek dijalan angkut aja" seru Jovan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yah memang seperti itulah teman-temanku. Tetapi dibalik semua hal, mereka orang yang baik.&lt;br /&gt;walaupun tidak separah hari sibuk, terkadang hari sabtu juga macet, hal yang paling tidak semua orang sukai. Tapi apa boleh buat, toh sudah menjadi kodrat tinggal di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kurang lebih pukul 19.15 WIB. Tiba-tiba HP bunyi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kmu dmn c? jadi gak kita ktm.aku udah disini udah 8 menit.jgn tlat ya.awas loh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada SMSnya sih mengancam, tapi dia terlalu baik untuk mengancam seperti itu. Apa mungkin dia sudah berubah ya, menjadi agak temperamen.hah liat saja nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku udah mw nyampe ko. sabar ya bu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kaki mulai melangkah ke dalam area Bebek Bali, ada banyak sekali orang-orang dan aku tetap bisa menemukannya dalam keadaan padat. Arah jam 9 dari tempat berdiriku terlihat sosok tgadis yang sudah pasti aku kenal. Racel gadis yang pernah menjadi bagian dari hidupku di masa SMA dulu, kini terlihat semakin cantik dengan dress terusan warna coklat. Dia terlihat anggun dan sangat cantik. Jelas banyak perubahan didirinya, tapi....apa masih terlalu ramah ya dengan banyak cowok. Hal yang membuat aku tidak tahan, semua cowok diberi harapan dan saat itu ku putuskan untuk berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hai.." sapaku&lt;br /&gt;"hai apa kabar?" sahutnya sambil mencium pipi kiri dan pipi kananku. owhhh dia masih begitu hangat.&lt;br /&gt;Agak segan untuk memulai pembicaraan, dia tawarkan aku minuman kesukaanku, lemon tea. Dia masih ingat betul minuman favoritku. sekitar 15 menit kemudian keaadaan agak mencair, kami larut dalam bincangan masalalu di jaman SMA, canda gurau sambil mengenang masa-masa kami bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba HP bunyi di tengah perbincanagn kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;km lagi ngap? jadi temenin mama km ke supermarket?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hah Vanya!! astaga... hampir aja lupa kabarin dia. yah aku cuma menghargai perasaannya aja c.&lt;br /&gt;"siapa? pacar km ya?" tanya Racel&lt;br /&gt;"bukan temen aku kok, kenapa kamu cemburu ya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat wajahnya mulai agak jutek, ada apa tuh? apa dia????duwh ribet deh kalau sampai kejadian, masalah Vanya aja belum kelar, masa mw dateng masalah baru sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi ini aku lagi di supermarket. nanti aku kabarin lagi ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku ingin sekali jujur tentang keadaan ini, tapi aku belum siap. Aku takut kamu kecewa Van.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"udah SMSnya??" ujar Racel, mungkin dia kesal.&lt;br /&gt;"udah kok. aku cuma bales aja, ya ga enak aja kali, masa ada pulsa gak dibales" kataku, bela diri, ahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mau kalah, diapun dapat telp dari seseorang disebrang sana, entah siapa. Terdengar seperti bicara dengan seorang cowok, yah mungkin cowok itu merasa diberi harapan oleh Racel. Tapi Racel memang selalu jujur, dia bilang dengan seseorang itu bahwa dia sedang bersamaku. Terlalu jujur atau memang tidak punya perasaan ya? Setelah dia selesai bicara di telp dengan cowok yang meng-callingnya, aku memulai pembicaraan yang sempat terputus, dan larut lagi di dalam perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjukkan pukul 21.55 WIB, aku baru saja mengantarnya pulang. Sampai dirumah, mama menyambutku pulang.&lt;br /&gt;"mama telp tadi, gak diangkat-angkat sih"&lt;br /&gt;"loh mama telp? maaf ma aku gak tahu, tadi handphone aku silent.jadi gak tahu deh mama telp."&lt;br /&gt;"mang kamu dari mana aja, kan mama bilang, kalo mau keluar rumah kabarin dong.."&lt;br /&gt;"iya ma, maaf aku lupa, habisnya tadi buru-buru sih, aku mi\ain basket dirumah Davi"&lt;br /&gt;"yaudah bersih-bersih sana, habis itu kamu makan y"&lt;br /&gt;oh mama maaf, saking terlalu mikirin ketidaksiapan aku bertemu Racel, eh sampai lupa aku kabari mama, benar-benar tidak enak ni. Kulihat beberapa panggilan tidak terjawab tampak di layar handphoneku, dari mama, Davi, Vanya dan.... ya ampun! Sandra!!! mantanku yang rasanya baru kemarin bisa kulupakan, mau apa dia telp??? apa tidak puas menyakitiku dengan fitnahnya, dia selau menuduhku selingkuh, terlalu posesif. Padahal dia tahu aku sangat mencintainya. Dan tidak mungkin aku selingkuh dalam keadaan cinta yang masih sangat mengebu-gebu. Dia memaksaku mengakui perbuatan yang tidak aku lakukan. Akupun tidak memberi reaksi terhadap panggilan tak terjawab itu, aku malah telp Vanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan keluar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo Van, kamu lagi ngapain? maaf ya tadi mama ngajak aku makan diluar sekalian." lagi-lagi aku berbohong...ya Tuhan ampunilah aku.&lt;br /&gt;"hai, gak apa-apa kok, lagian tadi juga aku keluar rumah denagn adikku, dia ngajak aku ke outlet depan"&lt;br /&gt;"kamu gak bete kan?yaudah aku mau bersih-bersih dulu habis itu makan and then aku tidur ya"&lt;br /&gt;"ya, jangan lupa sikat gigi ya"&lt;br /&gt;"oke"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti, keaadaanku malah makin parah, Sandra mantanku yang paling posesif kini sering meng-SMSku, dan aku balas, gak ada maksud apa-apa, lagi-lagi aku hanya mengahargainya. Tidak berbeda dengan Racel mantanku yang paling ramah dengan semua cowok, SMS dan telp aku, bagai minum obat, sehari 3x. Dan Vanya gadis yang pengertian, yang sedang menganggapku bagian dari hidupnya, telp dan SMS aku dianggapnya kewajiban. Perhatiannya maksimal, tapi sayang aku tidak mencintainya. Mungkin rasa itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, aku tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali pada hari-hari yang sibuk, sangat tidak terasa. Dan tanpa aku sadari juga, aku sedang bermain hati pada 3 perempuan, selain Mama, love u mom...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang jam 08.00 pagi aku baru saja bangun dari tidur... ku ambil handphone, yah hal itulah yang pertama kali aku lakukan sebelum melakukan yang lainnya. Lihat-lihat handphone. Hal itu sudah lama sekali menjadi kebiasaanku. Kulihat ada beberapa sms mengenai pemberitahuan liputan n then... Sandra sms... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yg membuat aku jd feminim, adalh km.yg membuat aku jd yg lebih sabar, adlh km.yg membuat hatiku menjdi pasti, adalh km. km adlh orang yg telah mmberiku banyk perubahan dalam hidup, membuat aku jd lebih baik. jika sampai hari ini kita tak bersama lg, aku hanya ingin berterimakasih yang sebesar-besarnya atas segala perubahan ini. kau yang hidupkanku tanpa tuntutan, kau yang bahagiakanku tanpa sandiwara. sampai kapanpun cinta ini tidak akan terlupakan. km mencintai aku tnpa syarat, tanpa kemunafikan, tanpa sajian kata-kata yang bisa membuatku terbang, namun aku luluh dengan idtikadmu. kau yang membawaku ke ruang atas dengan segala penghargaan.kau adalh makhluk terbijaksana yang telah telah Tuhan ciptakan. kau adlh anugrah trindah yg pernh kumiliki.best ever.ur x-love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dia mengirim SMS itu, apa maksudnya??? apa karena dia telah menyesali semua yang terjadi beberapa bulan lalu? kalau memang kamu menyesal, kamu terlambat San, aku terlanjur sakit, kamu menyia-nyiakan cinta yang aku berikan, tulus hanya untuk kamu saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandra...mungkin dia mencoba mendekat lagi dengan sms dan telp yang dia lakukan kemarin-kemarin. memang perasaan ini tak bisa kubohongi, aku benar-benar masih menyayanginya, namun aku tak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang lagi. Aku masih menikmati masa sendiriku walaupun bayang-bayang 3 dewi ada dibenakku. Aku jadi penasaran, sebenarnya apa maksud Sandra mengirim pesan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan keluar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hallo" sandra menyapa&lt;br /&gt;"hallo, kamu lagi sibuk gak?"&lt;br /&gt;"gak, kenapa?"&lt;br /&gt;"aku udah terima SMS kamu, maksudnya apa ya?"&lt;br /&gt;"oh itu, kamu beneran udah baca?masa gak tahu c"&lt;br /&gt;"tolong jalasin dong..."&lt;br /&gt;"gak ada maksud apa-apa kok, aku cuma mau berterimakasih aja sama kamu, kamu udah baik sama aku, tadinya sih aku mau ajak balikan kamu lagi, tapi kayaknya udah gak mungkin"&lt;br /&gt;"oya?"&lt;br /&gt;"iya, aku denger kamu lagi dekat dengan mantan kamu waktu SMA.iya kan?" walaupun cerita Racel gak ada lagi dihidup aku, aku tetap tidak ingin mengulang yang tlah berlalu San...&lt;br /&gt;"siapa bilang? gosip tuh?"&lt;br /&gt;"trus emang kamu mau balikan lagi sama aku?" ya ampun, kenapa dia sampai tanya soal itu....&lt;br /&gt;"mmmmm....aku gak bisa San, aku lagi pengan sendiri dulu.setelah kejadian beberapa bulan lalu, ternyata banyak yang harus aku benahi dari diri aku.lagipula aku urusan kerjaan aku dan kuliah aku jg lagi ribet San,"&lt;br /&gt;"oh gitu, its ok, gpp.iya aku sadar kok, aku banyak salah sama kamu, dan aku bukan wanita pilihan kamu.mereka lebih baik daripada aku."&lt;br /&gt;"mereka?maksud kamu siapa?"&lt;br /&gt;"ya mana aku tahukamu pikir aja sendiri" mulai lagi deh posesifnya, gak jelas!!!&lt;br /&gt;"loh kok kamu jadi jutek gitu?aneh deh"&lt;br /&gt;"ya udah yah aku mau mandi, nanti ada kelas" yah kalau sudah seperti ini, pasti dia marah, tapi karena apa ya? aku tidak tahu pasti. yaudahlah toh di bukan siapa-siapa aku lagi kok.&lt;br /&gt;"ya udah maf ya aku ganggu" ku tutup telpku tanpa pamit, yah kali-kali aku yang tutup telp duluan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam menunjukan pukul 08.31, hari ini aku ada liputan di daerah Mampang, yah inilah pekerjaanku selain kuliah. jujur aku masih bertanya-tanya kanapa dia marah... ya sudahlah...keluar kamar mama telah menyiapkan nasi goreng dimeja makan, yah setiap masakan yang mama siapkan hanya aku dan mama saja yang memakannya, papa??? papaku telah hidup tenang dan bahagia disisi Tuhan, sudah 3 tahun aku dan mama hidup tanpa papa. dengan ekonomi kami?? kami hidup dari beberapa rumah yang diwarisi papa, rumah-rumah tersebut kami sewakan untuk kehidupan kami sehari-hari. Mama hanya memiliki satu orang anak, hanya aku...hah panjang deh ceritanya. Senyum mamalah yang membuat aku tetap kuat dan menjadi orang yang tegar, aku banyak belajar dari mama. Mama pernah bilang "yang paling penting dalam hidup ini adalah menghargai orang lain, selain diri kita" oooohhh betapa bijaknya mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ma, aku berangkat ya"&lt;br /&gt;"ok, ati-ati ya nak. pulangnya jangan malam-malam yah, selesai kuliah nanti langsung pulang, kalau mau kemana-mana lagi, telp mama"&lt;br /&gt;"ok ma" ku cium pipi mamaku tersayang dan aku berpamitan kerja juga kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya aku dikampus tepat pukul 16.00 yah mungkin kelas sudah dimulai. Tapi dosen bisa memaklumi mahasiswa keterlambatan yang kuliah sore, sebagian besar dari kami (anak sore) bekerja pada pagi hari dan selesai disore hari.&lt;br /&gt;"Kiko!!!" Dari sudut koridor perpustakaan Fandy memanggilku. memang hanya Fandy yang satu kampus denganku, sahabatku yang lainnya belainan kampus. aku dan Fandi mengambil fakultas dan jurusan yang sama. Fandy bekerja di slah satu operator GSM, ya memang tidak nyambung dengan jurusan yang diambilnya, tapi apa boleh buat...&lt;br /&gt;ku hampiri Fandy yang sedang yang sedang asik berchating ria di laptopnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hai Fan....kok belum masuk sih?"&lt;br /&gt;"gak masuk dosennya ki, makanya kita jalan yuk, kemana kek" ajaknya&lt;br /&gt;"yang bener lw???"&lt;br /&gt;"iya, bener, gw lagi gak bawa mobil ni, jadi sekalian nebeng pulang. hehe"&lt;br /&gt;"yaudah kemana ni enaknya?&lt;br /&gt;"ke Plaza Semanggi aja yuk"&lt;br /&gt;"yaudah yuk" Fandypun bersiap membereskan laptopnya.tiba-tiba handphoneku bunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;km lg dmn?udah mkn blm?jgn lupa mkn ya, mntang-mentang sibuk sampe lupa mkn.&lt;br /&gt;Vanya, kadang aku sering tidak enak karena selalu dia yang memulai untuk memberi perhatian padaku.&lt;br /&gt;"siapa? kok lw jadi bengong gitu?"&lt;br /&gt;"gak, mau tahu aja lw" kami beranjak menuju parkiran dan aku sambil memegang handphone, ingin membalas sms-nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku lg dikmpus ni, gak ada kelas.dosennya gak dtg.ni aku baru mau mkn sama Fandy, km udah mkn? lg dmn?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fan, lw aja ya yang nyetir..." bujukku&lt;br /&gt;"kenapa?"&lt;br /&gt;"gak apa-apa?"&lt;br /&gt;"hah lw sih sms-an mulu, yaudah sini gw yang nyetir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku udah makan tadi. sekarang aku lagi di PIM ni. km kesini dong, aku sama temen-temen aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"eh ki, lw SMS-an sama siapa sih? anteng banget.lw lagi deket sama siapa c sekarang?" tanya Fandy yang dari tadi menyetir tanpa kuajak ngobrol. hahaa maaf ya Fan....&lt;br /&gt;"adaaaa deh... tapi gw cuma deket aja Fan, gak ada niat jadian"&lt;br /&gt;"kok gitu, mang lw kenal dia dimana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yah aku gak bisa. nanti-nanti aja ya.gpp kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"gw kenal dia waktu di Gramedia Senen, waktu itu dia pikir gw temennya. dia salah orang gitu.yah udah 2bulan inilah gw deket sama dia"&lt;br /&gt;"yah gw sih bisa maklum kenapa lw gak ada niat jadian sama dia, secara lw baru 6bulan jomblo, iya kan?" yah walaupun dia terlihat gak tahu apa-apa, tapi sebenarnya dia memang tahu banyak tentang aku&lt;br /&gt;"ya gitu deh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yaudah gpp.tar kalo udh smp rmh kabrin yak.ok? daaahhh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"gimana orangnya ki?cantik?"&lt;br /&gt;"ya sangat cantik c, tapi enak aja diliat, gak ngebosenin tampangnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba handphonenya Fandy bunyi. entah siapa yang telv, tapi sepertinya...&lt;br /&gt;"ada kok orangnya, lw mw ngomong sama dia?" telv untukku??? Fandy menyerahkan handphonnya padaku.&lt;br /&gt;"siapa Fan?"&lt;br /&gt;"Riko"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hai Rik, kemana aja lw gak pernah ngumpul sama akan-anak lagi? ayolah latihan bareng.." tanyaku kepada riko diseberang sana&lt;br /&gt;"lah mang lw gak tau gw di Ausi?"&lt;br /&gt;"eh iya ya gw lupa, habisnya udah lama banget lw gak ada kabar.lw masih disana?"&lt;br /&gt;"gw udah balik ni, ke jakarta. baru sebulanan disini."&lt;br /&gt;"kok bisa?udah sebulan malah gak ngabarin???"&lt;br /&gt;tiba-tiba Fandy berceloteh diluar jalur telv "hebat tuh ki, dia gak ada kabar, karna udah ada pacar di Jakarta"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hah bener Fan? wah jahat lw, bukannya nyetor muka dulu sama anak-anak malah ngumpet punya pacar" yah jagan-jangan pergaulan di negara sana telah merubah sifatnya..ya moga aja tidak.kamipun sampai di Pelagi (Plaza Semanggi). namun telv dari Rico lewat handphonenya Fandy belum juga putus, aku jadi melepas rindu dengan Rico lewat telp hahaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"yah lagian kemarin-kemarin gw sibuk ngurusin kerjaan disini Ki"&lt;br /&gt;"eh Rico nanti gw telv ya, gw udah sampe ni.ok?&lt;br /&gt;"ok, nanti biar gw aja yang telp.bye"&lt;br /&gt;"oh ok...bye"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya aku dirumah, seperti biasa, mama menyambutku. oh... senyumannya begitu manis, terlihat dari wajah sosok ibu yang tegar..tapiiii ada yang aku lupa. apa ya?&lt;br /&gt;"kebiasaan deh kamu, gak kasih kabar.."&lt;br /&gt;"yah ma, maaf aku pikir baru jam 10 malam, jadi aku gak ngabarih deh"&lt;br /&gt;"hah yaudahlah, kamu tuh alesannya suka macem-macem, yaudah mandi sana, mamaudah siapin air hangat untuk kamu" ya ampun mama... mama bukan hanya perempuan termanis tapi juga sangat baik, super perhatian.&lt;br /&gt;"yah mama kok repot-repot c?"&lt;br /&gt;"yaudah sana mandi, bau oncom tuh badan" sahutnya sanbil bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biiiib biiiiib biiib, tiba-tiba handphoneku bergetar.&lt;br /&gt;Panggilan masuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hallo"&lt;br /&gt;"hai, aku Sandra" Sandra??? bukannya dia sedang marah padaku???&lt;br /&gt;"hai San, kamu pakai nomor siapa?kok nomor ini gak ada di listcontact aku?"&lt;br /&gt;"aku pakai nomor mama, kamu lagi ngap?"&lt;br /&gt;"aku baru aja mau mandi ni.kamu ada apa? kok tumben?"&lt;br /&gt;"gak boleh aku telp?"&lt;br /&gt;"gak gitu, boleh-boleh aja kok.emang kamu ada perlu apa sih?"&lt;br /&gt;"yaudah kamu mandi aja dulu ya, nanti aku telp lg."&lt;br /&gt;"gak apa-apa ngomong aja sekarang.lagipula aku baru banget sampai rumah, jadi santai-santai dulu gitu deh"&lt;br /&gt;"emang kamu darimana"&lt;br /&gt;"tadi aku ke kampus tapi gak ada dosen trus aku pergi sama Fandy deh.emang kamu mau ngomong apa sih?"&lt;br /&gt;"hari sabtu adik aku ultah, kamu mau datang gak?" loh ada apa nih, dia pake undang-undang aku segala...&lt;br /&gt;"oya? siapa?"&lt;br /&gt;"ya siapa lagi kalau bukan Rita..kamu lupa yah, adik aku cuma Rita.mama yang suruh aku undang kamu" yah aku pikir atas kehendak dia yang undang, ternyata mamanya, memang mamanya sangat sayang padaku, Sandra pernah bilang, mamanya tidak pernah seperhatian itu terhadap pacar-pacarnya yang lalu sebelum aku.&lt;br /&gt;"ya aku pikir kamu punya adik baru.hehhehe. ok aku usahain, aku datang ya."&lt;br /&gt;"harus datang ya, kalau perlu kamu ajak pacar baru kamu" tuh kan mulai lagi....&lt;br /&gt;"udah deh kamu jangan menyulut api lagi, terserah kamu mau percaya atau gak, aku gak punya cewek saat ini."&lt;br /&gt;"ok...ok... maaf. yaudah kabar-kabarin aja yah. byeee"&lt;br /&gt;"byeee"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandra masih saja berposesif ria, didalam kondisi yang complicated ini, malah makin bikin ribet deh. Tapi lagi-lagi aku bilang, aku masih sayang dia. Bibirku bisa saja berdalih tapi hati gak bisa bohong...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa waktu tlah menujukan pukul 23.01 wib.Air panas yang mama siapkan mungkin sudah dingin lagi. haft...mama tidak menegurku, mungkin dia tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari memancarkan sinarnya tepat dibalik jendela kamarku, membias pada gordeng putih pekat. yah terang saja ini sudah jam 7 pagi. Aku kembali lagi pada hari sibuk, hari yang menyita waktu untuk berlibur, yah sampai saat ini aku belum berlibur ke luar kota apalagi ke luar negeri. huft...seperti biasa badanku masih butuh waktu untuk beranjak (ngumpulin nyawa.....hahha). Dan seperti biasa pula sambil bermalas-malas ria aku melihat-lihat ke dua handphoneku. Ada beberapa sms dan panggilan tak terjawab.&lt;br /&gt;salah satunya pemberitahuan liputan. hari ini namaku tidak tercantum dalam list wartawan liputan. Berarti hari ini aku libur, mungkin akan diganti hari lain sesuai pembagian tugas liputan dan sms lainnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kiko, kamu udh bo2 ya, kok gak ngabarin aku?aku telp gak diangkat. Vanya masih saja perhatian, kalo kayak gini trus aku bisa jadi suka ni sama dia. cuma Tuhan deh yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;have a nice dream kiko. Sandra juga sms.... huft sudah lama dia gak kirim met bo2, goodnight atau yang seperti ini.dan hp ku pun bunyi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggilan masuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"oy, udah bangun lw!!!" Jovan, biasa deh dia selalu telp pagi-pagi.&lt;br /&gt;"iya, udah bangun. kenapa lagi lw telp pagi-pagi?"&lt;br /&gt;"yaelah masih kaku aja lw, anak muda jaman sekarang tuh bangunnya harus pagi kali.lw giman sih udah tahun 2009 masih gak berubah aja."&lt;br /&gt;"iya... iya.... bawel lw. ada apa sih?"&lt;br /&gt;"kemarin Rico telp ya?"&lt;br /&gt;"iya, mang kenapa? oiya, tadi malam dia telp, tapi gw udah tidur.jadi gak keangkat deh"&lt;br /&gt;"iya, dia telp lw lg tapi gak lw angkat, trus dia telp gw, gw disuruh kumpulin anak-anak, termasuk lw.katanya dia mw ajak kita maen basket disenayan jam 4 sore ini. lw bisa kan?eh yah lw kul ya? bolos aja deh sehari duang kok" bujuknya...&lt;br /&gt;"duwh Van gw bis kul aja deh, nimbrungnya, soalnya matkul hari ini gw ada kuis."&lt;br /&gt;"yaudah, tar gw bilang dia de, brarti lw gak ikut pas maen basketnya?lw cuma nyusul pas nongkrongnya aja ya?yaudah awas lw kalo gak nyusul..."&lt;br /&gt;"iya gt aja ya"&lt;br /&gt;"nah kalo Fandy bareng lw gak kulnya?"&lt;br /&gt;"ya bareng lah, tapi coba aja lw telp dia."&lt;br /&gt;"ok deh, yaudah mandi lw bau trasi tau gak"&lt;br /&gt;"alah mulut lw kali tuh yang deket ma idung, jadi mulut lw yang bau"&lt;br /&gt;"ah banyak omong lw da ah, gw mw telp Fandy"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pagi Van....lagi ngap? udah bangun?maf ya semalam aku ketiduran.n lupa kabarin kamu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hy.... tumben ni udah bangun...aku lagi mau mandi ni, kamu pasti msh ditmpat tdr ya?btw hari ini kamu mw kemana aja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yah gt deh masih dtmpt tdr. plg kul aku ada janji ma temen-temen aku. mw ngumpul2 gt, ada temen yang baru dtg dari AUSI.n aku ga ada liputan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baru dtg dari Ausi? oh gt yah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gt knp?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gak apa2, btw kbetulan bgt ni kamu gak ada liputan, mw temenin aku ke mall gak?plgnya km langsung ke kampus aja.gmn?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kiko kamu udah bangun nak?" tiba2 mama masuk ke kamarku..&lt;br /&gt;"eh iya ma..."&lt;br /&gt;"kok masih tiduran c?" tanyanya sambil mencari pakaian kotor dikamarku&lt;br /&gt;"iya bentar lagi aku bangun ko ma, kebetulan gak ada liputan hari ini ma."&lt;br /&gt;"gak ada liputan? yah bukan berarti kamu males-malesan dung sayang"&lt;br /&gt;"hehehe iya ma..... eh kok mama c yang ambil baju kotor?emang mba ririn gak kesini ma?"&lt;br /&gt;"ada kok dia lagi beli sayuran di depan" mama keluar kamar sambil membawa pakaian kotorku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ups maf br bls....yaudah jam berapa kamu aku jemput?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS diterima :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita makan siang disana aja, jd jam 12an gt,gmn?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS dikirim :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ok deh, nanti aku jmpt km ya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin baru kali ini aku mau diajak jalan sama dia. gak apa-apa lah...mungkin dengan seperti ini aku jadi tahu, apakah aku harus blajar mencintai Vanya atau tidak. karena gak ada salahnya aku mengenal dia lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat jam 12. 15 menit aku jemput Vanya ke rumahnya....siang ini matahari enggan muncul...lantaran ada awan mendung yang menguasai lagit dan gerimis. Aku menunggu dia tepat di depan gerbangnya, yah dia memang tidak memperbolehkan aku masuk kerumahnya, yang boleh masuk kerumahnya hanya yang berstatus pacar. itu sih yang pernah dia bilang padaku.&lt;br /&gt;Tidak Lama dia pun keluar, mungkin karena aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kini dia terlihat anggun dengan rambutnya yang panjang terurai.&lt;br /&gt;"hai gak lama kan nunggu aku?"&lt;br /&gt;"gak kok, make up kamu luntur dung tadi keujanan?"&lt;br /&gt;"alah cuma grimis aja kali..."&lt;br /&gt;"great....yaudah kita jalan yah. eh kita mau kmn ni?jadi ke mall"&lt;br /&gt;"kyanya gak deh, kita ke Sarinah aja ya, makan di daerah sana."&lt;br /&gt;"ok non"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selama di perjalanan ke Sarinah, aku banyak ngobrol dengannya, ternyata pertemuan ini lebih asik daripada cm lewat telp ataw sms...kami bercanda gurau juga cerita akan banyak hal. Ya memang nyaman...kami pun sampai di Lotus Sarinah, dia telihat memilih-milih pakaian yang tengah menyambut kami. Sepertinya dia tertarik pada salah satu baju, tapi dia tidak membawanya ke kassa."kenapa ga diambil?" tanyaku&lt;br /&gt;"ga ah lain kali aja" seketika kulihat harganya yang memang agak mahal, tapi gak masalah kalau aku membelikan baju itu untuknya..&lt;br /&gt;"kamu ambil aja yang kamu suka, aku yang bayar, anggap aja ini hadiah karena slama ini kamu perhatian sama aku."&lt;br /&gt;"gak ah, gak usah kiko,, gak ada yang aku suka kok...ya udah yuk kita makan, aku udah laper ni..." bujuknya sambil menarik tanganku. Tapi kenapa dia menolak, padahal tadi dia terlihat sangat tertarik pada baju itu. Kami makan di salah satu merk pizza yang berada tidak jauh dari tempat pakaian tadi. Kami banyak cerita sana-sini, pengalaman lucunya n then....dia bilang...."sebenernya aku suka kamu kiko dari pertama kita ketemu" OMG.... kenapa smapai dia duluan yang menyatakan cintanya...kenapa bukan aku??? "kok km diem Kiko.... kamu gak suka aku ya... aku kurang perhatian ya sama kamu???"&lt;br /&gt;"gak, gak gt Van... apa sebelumnya kamu pernah menyatakan cinta duluan?"&lt;br /&gt;"aku gak pernah kok, baru kali ini.aku merasa nyaman sama kamu, gak tau knp aku bisa bilang ini ke km. aku liat kamu bisa dipercaya, gak sprti cowok-cowok yang pernah aku kenal" knp dia bisa denagn mudah peraya aku....&lt;br /&gt;"tapi harusnya aku duluan yang bilang soal itu, bukan kamu" maksudku kurang baik aja bila cewek duluan yang bilang suka..&lt;br /&gt;"berarti kamu suka sama aku jg ya???" wah aku bingung harus blg apa, aku terjebak omonganku sendiri...yah memang aku suka dia, dia baik, care, gak posesif dan aku nyaman dengannya, tapi... perasaan ini hanya setengah, tidak lebih.apa baik jika aku berhubungan dengan setengah hati??&lt;br /&gt;"kok kamu diem? kalau kamu ga punya perasaan yang sama dengan apa yang aku rasain sekarang, aku gak apa-apa kok" huft... Vanya mendesakku....sepertinya akuuuu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu apakah Kiko menerima Vanya atu tidak???? tunggu cerita selanjutnya ya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-5429252176153745686?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/5429252176153745686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=5429252176153745686&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5429252176153745686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5429252176153745686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/02/setengah-hati.html' title='Setengah hati'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-8912010810383041948</id><published>2009-02-06T07:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T07:18:27.497-08:00</updated><title type='text'>Doa Terakhir</title><content type='html'>terima kasih Tuhan...&lt;br /&gt;aq msh punya mata&lt;br /&gt;msh bisa melihat indahnya dunia&lt;br /&gt;aq msh punya telinga&lt;br /&gt;msh bisa mendengar merdunya suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;qtahu tak selamanya qtertawa&lt;br /&gt;qmenanti waktu tuk menderita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jikalau memang tak ada bahagia didepan sana&lt;br /&gt;kedua indera ini akan membantuq&lt;br /&gt;utk bertahan hidup&lt;br /&gt;meski tak ada lagi tujuan&lt;br /&gt;selain menanti mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;krn itu Tuhan...&lt;br /&gt;apapun kehendakMu utkq kelak&lt;br /&gt;jgn Kau ambil mata &amp; telinga ini&lt;br /&gt;aq membutuhkannya&lt;br /&gt;utk tersenyum esok pagi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-8912010810383041948?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/8912010810383041948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=8912010810383041948&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8912010810383041948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8912010810383041948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/02/doa-terakhir.html' title='Doa Terakhir'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-6334737187412045313</id><published>2009-02-06T07:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T07:17:30.192-08:00</updated><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>Karya : Ressa Novita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu...&lt;br /&gt;bagai pedati tak berpelana&lt;br /&gt;melintas jalan berbatu tak terkendali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku penumpang di kursi tunggalnya&lt;br /&gt;atap rapuh usang melengkung membentur dahiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu...&lt;br /&gt;sulit ku bernafas hening barang sejenak&lt;br /&gt;detik berlalu selalu berganti baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiap jalan yg terlalui tlah ku lupakan&lt;br /&gt;namun didepan sana masih menanti&lt;br /&gt;tak terhingga yg harus ku lewati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu...&lt;br /&gt;semoga ada satu detik belas kasihan&lt;br /&gt;untukku bernafas hening&lt;br /&gt;melepas penatnya hidup&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-6334737187412045313?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/6334737187412045313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=6334737187412045313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6334737187412045313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6334737187412045313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2009/02/waktu.html' title='Waktu'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7975977207803486877</id><published>2008-12-31T21:50:00.001-08:00</published><updated>2008-12-31T21:50:13.397-08:00</updated><title type='text'>SELAMAT DATANG 2009 !!!</title><content type='html'>tahun itu tlah berakhir&lt;br /&gt;bulan ktika q temukan bintang paling terang&lt;br /&gt;minggu ktika q jalani hidup damai diatas awan&lt;br /&gt;hari ktika q terlempar kembali ke tempat q smula brdiri&lt;br /&gt;kegagalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu itu tlah habis&lt;br /&gt;saat rembulan mati cahaya&lt;br /&gt;3.. 2.. 1..&lt;br /&gt;&amp; q pun kmbl seperti dulu&lt;br /&gt;mengukir mimpi-mimpi baru&lt;br /&gt;seperti sblm thn itu q lewati&lt;br /&gt;sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;happy 2009 !&lt;br /&gt;selamat dtng thn yg baru&lt;br /&gt;karena detik bersama waktumu&lt;br /&gt;q kan kembali&lt;br /&gt;berlari&lt;br /&gt;mengejar impian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ressa N)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7975977207803486877?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7975977207803486877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7975977207803486877&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7975977207803486877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7975977207803486877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/selamat-datang-2009.html' title='SELAMAT DATANG 2009 !!!'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-4477278179272442804</id><published>2008-12-12T09:58:00.001-08:00</published><updated>2008-12-12T09:58:48.364-08:00</updated><title type='text'>Mengembangkan Minat Sastra</title><content type='html'>Media Indonesia, Minggu, 05 Oktober 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGIATAN bertajuk Improve Writing Quality baru saja digelar Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Satya Negara Indonesia (USNI) beberapa waktu lalu. Kegiatan itu terbagi dalam tiga bagian, yakni seminar, pelatihan menulis fiksi, dan bedah buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan itu sengaja diadakan sebagai sebuah wujud peran serta FISIP USNI dalam membantu upaya pemerintah menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta mengembangkan apresiasi terhadap sastra di kalangan pelajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novelis Rachmat Nugraha yang hadir sebagai pembicara dalam pelatihan menulis fiksi mengungkapkan, kegiatan itu sangat penting karena selama ini para pelajar bukannya tidak memiliki minat baca dan menulis, tapi mereka hanya tidak tahu saja ke mana mereka harus belajar dan mengembangkan minat mereka. "Sebenarnya banyak, kok, pelajar yang suku menulis cerpen, puisi, atau bahkan novel," tutur Ketua Komunitas Penulis Jakarta itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan seperti itu diharapkan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan. Karena, untuk dapat menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di kalangan pelajar tidak dapat hanya dilakukan dengan sekali kegiatan saja. Melainkan harus terus-menerus dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Rachmat Nugraha, rangkaian kegiatan yang diadakan FISIP USNI bekerja sama dengan Aliansi Penulis Independen (API) itu menghadirkan pembicara yang sudah cukup berpengalaman di bidangnya, antara lain penyair ternama Bambang Widiatmoko, Rektor USNI Dr Andreas Yumarma, Ketua Umum API Supandi Halim, Sekjen API Ariyanto MB, dan lain-lain. (M-3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-4477278179272442804?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/4477278179272442804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=4477278179272442804&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4477278179272442804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4477278179272442804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/mengembangkan-minat-sastra.html' title='Mengembangkan Minat Sastra'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-813023350314492316</id><published>2008-12-12T09:57:00.001-08:00</published><updated>2008-12-12T09:57:59.617-08:00</updated><title type='text'>Mendirikan Sekolah Menulis</title><content type='html'>Media Indonesia, Minggu, 05 Oktober 2008 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAK muda yang satu ini bisa dibilang merupakan contoh sukses di bidang penulisan di Kampus Universitas Satya Negara Indonesia (USNI). Fokus dalam hobi penulisan menjadikan Rachmat Nugraha salah seorang penulis terkemuka di Tanah Air. &lt;br /&gt;Hobi itu sudah dia mulai sejak masih di bangku SMP, tetapi hanya untuk dinikmati sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sulit mengucapkan 'R' ini sempat mengenyam pendidikan di Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik (IISIP). Sekarang tengah melanjutkan kuliahnya di Jurusan Komunikasi USNI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang biasa dipanggil Pak Rachmat ini, ternyata telah menyelesaikan novel pertamanya April 2005, Karena Cinta ku Lakukan Segalanya, diterbitkan Penerbit Saujana. Setelah itu, pada tahun yang sama, novel keduanya berjudul Untuk Mu Ayu, juga diterbitkan Penerbit yang sama pada bulan Juli. Saat ini ia telah menyelesaikan dua bukunya Cinta Jangan Pergi yang diterbitkan Penerbit Saujana dan I’m Sorry yang di terbitkan KPJ Publishing bekerja sama dengan USNI.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rachmat sangat mencintai hobinya sehingga apa pun akan ia lakukan untuk menambah ilmunya tentang menulis. Dia pernah bergabung dengan tim penyusun buku Mega the President, Selaras Media, yaitu sebuah komunitas yang didirikan mahasiswa, wartawan, dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk memajukan dunia baca dan tulis di Indonesia. Saat ini dia sedang menjalankan kegiatan barunya, talk show mengenai dunia penulis, cara menulis dan sebagainya ke berbagai sekolah yang bekerja sama dengan Aliansi Penulis Indonesia (API). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria ini memiliki cita-cita. Kepada tim rostrum ia bercerita bahwa dirinya ingin sekali punya sekolah penulisan, di mana ia bisa mengajak sebanyak mungkin anak-anak untuk belajar menulis di tempatnya secara gratis. Bahkan, dirinya telah membangun sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Penulis Jakarta (KPJ) guna menampung pelajar yang berminat mengembangkan bakat dan kemampuannya dalam bidang tulis-menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, pengembangan komunitasnya mengalami kendala disebabkan ketiadaan dana dan fasilitas. Namun, pemuda bertubuh kecil ini tidak putus asa. Dia tidak henti-hentinya berusaha agar komunitas yang dibentuknya sejak 6 April 2007 itu tetap eksis dan bisa menghasilkan karya terbaik yang dapat diterima masyarakat. "Apa pun bisa tercapai selama kita mau berusaha dan tidak berhenti berdoa kepada Yang Maha Kuasa," katanya. (M-3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-813023350314492316?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/813023350314492316/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=813023350314492316&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/813023350314492316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/813023350314492316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/mendirikan-sekolah-menulis.html' title='Mendirikan Sekolah Menulis'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-8994029398547672852</id><published>2008-12-12T09:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T09:38:00.754-08:00</updated><title type='text'>Kegetiran Hidup di Balik Kemegahan</title><content type='html'>UMI KULSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, hanya disaksikan sinar bulan dan suara jengkerik, Ruki meninggalkan neneknya yang masih meringkuk di dipan reyot. Gubuk tua yang dihuninya sejak kanak-kanak dipandangnya dari kejauhan dengan harapan kelak dapat dilihatnya lagi. Dengan segala keberanian dan tekad, Ruki meninggalkan desanya menuju ibu kota agar dapat mendaftar untuk ikut bekerja di tanah Deli, suatu tempat yang menjanjikan mimpi masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, Ruki hanya menemukan kekecewaan ketika sampai di perkebunan Deli. Perlakuan kasar mandor dan kehidupan di bawah batas kemanusiaan itulah yang diperolehnya sehari-hari. Makanan yang jauh dari cukup, tempat tinggal yang mengenaskan, bahkan baju pun tidak dimilikinya karena dia tidak mampu membeli pakaian. Jika Ruki terlambat bangun dan bekerja di kebun, caci maki didapatnya disertai tendangan keras sang mandor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan yang terus dilihat dan dialaminya membuat Ruki ingin kembali ke kampung halaman ketika kontrak pertamanya usai. Namun, Ruki tidak menyadari suatu permainan lain dari pemilik kebun. Pada malam ketika dia menjadi orang bebas, Ruki dan teman-teman lain diundang oleh mandor kebun untuk pesta, saat itu tiba-tiba mandor bersikap seperti seorang bapak yang sangat peduli kepada anak-anaknya. Mandor menasihati Ruki agar dia tidak mempermalukan dirinya dengan kembali ke kampung halaman hanya dengan pakaian lusuh dan tidak memiliki uang, hingga akhirnya Ruki menandatangani kontraknya yang kedua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruki tergiur dengan uang muka untuk kontraknya yang kedua, dengan harapan dapat membeli sehelai baju dan kain untuk ikat kepala. Sayangnya, mimpi menabung saat teken kontrak selalu hilang dari benaknya ketika dia menerima upah atas kerja kerasnya. Bayaran yang tak seberapa itu pun habis untuk bermain judi di hari bayaran, dan tentunya dipotong untuk membayar utangnya kepada ”perempuan bebas”. Karena pada ”perempuan bebas”-lah Ruki dapat melampiaskan hasrat dan kerinduannya akan kasih wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruki tidak menyadari situasi yang dihadapinya, perjudian dan prostitusi terselubung yang dibiarkan oleh penguasa setempat adalah bagian dari jerat penguasa perkebunan. Hal itu dilakukan agar kuli menghabiskan uangnya untuk judi dan seks sehingga mereka tidak pernah memiliki tabungan untuk kembali ke kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan! Adalah sesuatu yang mustahil bagi seorang kuli. Hidup Ruki seolah berjalan seperti mesin yang dikendalikan oleh suara sirene dan makian. Dia harus segera bangun dan bekerja di kebun ketika sirene pertama di pagi buta terdengar. Kemudian istirahat setelah sirene untuk istirahat dan sirene untuk tidur. Ruki pun menjalaninya tanpa berpikir dan tanpa merasakan apa pun. Keinginan pulang ke kampung halaman pun makin samar. Ruki yang terlatih untuk tidak punya keinginan apa-apa hanya menikmati hiburan dengan berjudi. Itu pula yang membuatnya meneken kontrak untuk yang kesembilan belas kalinya, dengan tubuh bungkuk dan rambut putihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib. Itulah yang ada dalam benak Ruki. Hampir tiga puluh tahun telah dilewati Ruki dalam perkebunan di Deli, negeri yang dikabarkan memiliki pohon berbuah emas sehingga orang-orang dari tanah Jawa tergiur ingin melihat dan mengambil keuntungan dari pohon tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran novel Koeli atau Kuli karya Madelon Hermine Szekely-Lulofs yang pada awal diluncurkan di Belanda mengguncang masyarakat di sana. Negeri itu terkejut oleh kenyataan betapa perlakuan pemilik kebun yang sangat tidak manusiawi kepada buruh perkebunannya. Kisah perkebunan di akhir abad ke-18 juga ditulis dalam novel Rubber (1931) yang diterjemahkan menjadi Berpacu Nasib di Kebun Karet oleh Lulofs. Di Indonesia pun baru-baru ini terbit novel dengan napas dan substansi yang sama oleh Emil W Aulia berjudul Berjuta-juta dari Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan buruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam industri perkebunan, keberadaan buruh, yaitu kuli penggarap lahan, mutlak dibutuhkan. Untuk itu, didatangkanlah kuli-kuli dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan pekerja di perkebunan. Sebelumnya, migrasi orang-orang Hindustan dan China telah lebih dulu menempati posisi pekerja di tanah Deli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuta-juta dari Deli adalah sebuah novel yang isinya diambil dari sebuah dokumen berjudul Millionen uit Deli karya Van de Brand, seorang pengacara buruh perkebunan di tahun 1902. Dokumen itu membongkar kekerasan dan kekejian yang menimpa buruh perkebunan sehingga menimbulkan kontroversi politik tingkat tinggi di Belanda. Emil Aulia kemudian menuangkannya dalam bentuk fiksi sehingga dokumen sejarah itu pun dapat dinikmati dengan mudah. Melalui riset yang tekun dan teliti, Emil menghadirkan nuansa peristiwa yang terjadi satu abad silam. Namun, Lulofs dengan pengalaman pribadinya mampu menampilkan realitas kegetiran dan ironi kehidupan di perkebunan, baik yang dialami para kuli pribumi maupun kulit putih Eropa melalui Koeli dan Rubber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan abad ke-19, kemiskinan menjadi wajah yang umum di Nusantara. Maka, mereka yang menginginkan perubahan hidup lalu mencari celah untuk keluar dari kemiskinan itu. Hal inilah yang membius orang-orang miskin pergi ke Deli untuk mencari ”pohon berbuah emas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buruh perkebunan memberikan keuntungan sangat besar bagi Tuan Kebun atau Singkeh, keberadaan buruh jauh dari dihargai. Bahkan, para buruh ditindas dan diperas oleh tangan dan mesin kolonialis. Dalam Kuli dan Berjuta-juta dari Deli tergambar sangat jelas bagaimana buruh diperdaya sejak awal dan disiksa selama berada di perkebunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuli kontrak bukan lagi manusia yang memiliki derajat dan harkat hidupnya. Mereka telah terasing menjadi manusia yang lain. Seperti ungkapan Ruki ketika berada di perkebunan Deli, ”Mereka telah kehilangan kemauan, kemerdekaan, dan hak mereka. Mereka adalah suatu bangsa baru, tanpa tanah air, tanpa keluarga, tanpa tradisi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib kuli perempuan lebih mengenaskan lagi. Mereka diperlakukan seperti barang yang dapat diambil paksa atau dialihkan kepada orang lain tanpa meminta persetujuannya sekalipun. Karena itu, ketika kuli perempuan sampai di perkebunan, dia langsung diberikan kepada kuli laki-laki yang paling lama tinggal di perkebunan untuk diperistri (tanpa prosesi perkawinan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para kuli menjadi tenaga yang diperlakukan tidak lebih berharga daripada hewan, para majikan justru dapat berbuat sesukanya dan memiliki kehidupan berlimpah. Seperti diceritakan dalam novel Rubber yang diterjemahkan menjadi Bertahan di Kebun Karet, adalah kehidupan para Tuan Kebun yang datang dari Belanda, Amerika, dan Inggris di Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok berpendidikan ini hidup dengan kebiasaan Eropa yang suka berpesta dan memamerkan kekayaan mereka. Mereka justru berasal dari masyarakat Eropa kelas bawah yang berambisi mengumpulkan kekayaan melalui perkebunan. Orang-orang Eropa ini hanyalah para petualang yang tidak pernah mencintai Deli dan bercita-cita kembali ke kampung halaman setelah memiliki kekayaan yang cukup, yaitu rumah dan mobil mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mereka berasal dari bangsa yang sama, tujuan ekonomi di Deli membuat mereka bersaing satu sama lain, bahkan menjatuhkan temannya sendiri. Lulofs telah berusaha untuk jujur menghadirkan kehidupan para tuan kebun. (Umi Kulsum/ Litbang Kompas)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-8994029398547672852?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/8994029398547672852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=8994029398547672852&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8994029398547672852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8994029398547672852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/kegetiran-hidup-di-balik-kemegahan.html' title='Kegetiran Hidup di Balik Kemegahan'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-1689024607583841894</id><published>2008-12-12T09:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T09:35:16.698-08:00</updated><title type='text'>Advokat Van Den Brand</title><content type='html'>Jauh sebelum Indonesia merdeka, advokat sudah ada. Kala negeri masih dijajah Hindia Belanda, Advokat sudah berkisah. Walau republik belum merdeka, advokat telah membela. Tapi bukan untuk kalangan bangsawan Belanda atau kelompok raja nusantara. Dia membela rakyat jelata. Mengadvokasi orang pribumi yang ditindas penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Advokat itu orang Belanda. Bagian dari bangsa penjajah. Namanya Van Den Brand. Lulusan Universitas Amsterdam. Setelah menyandang gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum), dia menyeberang lautan. Meninggalkan Geervliet, kampung halamannya di Belanda. Den Brand&lt;br /&gt;Akhir Oktober 1897, di suatu petang yang panas, Den Brand menuju Medan, Sumatera Utara. Menyahuti ajakan J Hallerman. Pria Jerman yang mengajaknya menerbitkan koran Sumatera Post. Ini surat kabar ketiga di kota itu setelah Deli Courant dan De Ooskust (Emil Aulia, Berjuta-juta dari Deli, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun jadi wartawan, Den Brand berubah haluan. Dia kembali jadi advokat. Dia menyewa sebuah ruangan kecil di Hautenbaghtwet, membuka firma hukum. Nalurinya yang membawanya kesana. Karena di tanah Deli, kala itu, banyak dijumpainya pelanggaran dan kejahatan tanpa pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat orang pribumi dikasari kala bekerja di perkebunan Deli Maastchappij. Dia menyaksikan orang Belanda menyiksa orang pribumi tanpa belas kasih. Dia tahu orang Belanda melanggar hukum kala memperbudak pribumi. Dia mengerti kesalahan Hindia ketika memperkerjakan penduduk jelata tanpa digaji. Den Brand tahu rezim Hindia menerapkan sistem perbudakan di tanah Deli lewat poenale sanctie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai advokat, darahnya mendidih. Dia membongkar kekejian yang dibuat bangsanya sendiri. Den Brand menyusun brosur. Isinya menceritakan seluruh kekejian dan pelanggaran yang dibuat kaumnya. Brosur dan berita itu dilemparkannya ke Belanda. Karyanya itu dikenal dengan Millioenen uit Deli (Berjuta-juta dari Deli). Begitu beredar, karya Den Brand menyulut pembicaraan politik berkepanjangan di negerinya. Di gedung Tweede Kamer (Majelis Rendah) yang megah, karya Den BrandDen Brand, membuat pemerintah Belanda beraksi. Mereka sadar pemerintahan kolonial melakukan banyak pelanggaran tehadap koeli contract. Pejabat kolonial pun dijatuhi sanksi. Seluruh pejabatnya diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara Den Brand lagi, Opsir Justitie (hakim yang menegakkan keadilan di Keresidenan Sumatera Timur), jadi kerepotan. Karena banyak buruh yang minta perlindungan. Di Batavia juga sama. Raad van Justitie (pengadilan) jadi ramai. Pribumi jadi berani menuntut ganti rugi. Den Brand juga yang membelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Den Brand beraksi bak advokat sejati. Padahal saat itu tak banyak advokat yang mendukungnya. Karena buah karyanya, Den Brand banyak diserang dengan tuduhan pencemaran nama. Tapi Den Brand tak gentar. Kebenaran tetap diungkapnya walau belum ada organisasi advokat yang melindunginya. Den Brand telah memberi warisan buat kalangan advokat untuk bertindak semestinya. Dia telah menunjukkan officium nobile di tanah air sejak kita belum merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, kini Den Brand pantas kecewa. Karena begitu Indonesia merdeka, advokat penerusnya tak mampu berbuat seperti dirinya. Advokat kini lebih banyak berkelahi. Mereka sibuk mengurusi dirinya sendiri. Sibuk beraksi demi sebuah organisasi. Saling sikut demi yang namanya gengsi. Saling serang padahal hanya membentuk organisasinya sendiri. Saling berlomba untuk merebut jabatan ketua di organisasi advokat. Bukan berebut membela kesengsaraan dan penderitaan yang dialami rakyat. Bukan melakoni advokasi kala penindasan dan pelanggaran hukum tak terkendali. Itulah ironi advokat kita kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memilih mengabdi di Indonesia. Tahun 1885, dia sampai di Semarang. Dia bekerja di kantor advokat disana. Sempat pula menetap beberapa saat di Batavia (Jakarta). Juga sebagai advokat. dibincangkan. Skandal kekerasan tuan kebun yang diungkap&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-1689024607583841894?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/1689024607583841894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=1689024607583841894&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1689024607583841894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1689024607583841894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/advokat-van-den-brand.html' title='Advokat Van Den Brand'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-4486462270161615504</id><published>2008-12-12T09:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T09:29:16.140-08:00</updated><title type='text'>MULTATULI PEREMPUAN DARI TANAH DELI</title><content type='html'>OLEH EMIL W. AULIA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIDAK banyak karya sastra, novel atau cerpen, yang layak dijadikan referensi penulisan buku-buku teks akademis. Namun karyakarya fiksi karangan Madelon Hermina Szekely-Lulofs, sepertinya, adalah pengecualian. “Tidak perlu diragukan, semua insiden yang diuraikan Lulofs dalam novelnya adalah nyata,” kata Anthony Reid, peneliti sejarah dari Australian National University. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa buku sejarah tentang kehidupan di perkebunan Deli, Sumatera Timur, masa kolonial mencantumkan nama dan buku-buku fiksi Lulofs di dalam daftar referensinya. Di antaranya Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria karangan Karl J. Pelzer (1985) atau Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera buah pena Anthony Reid (1987). Lihat juga Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera karangan Ann Laura Stoler (1870-1979). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bagian novel Lulofs juga dicuplik dalam artikel ilmiah di jurnal sejarah, makalah seminar, skripsi dan disertasi mahasiswa yang belum diterbitkan. Bahkan, nama dan karya penulis perempuan berkebangsaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda itu juga dinukil dalam artikel feature di majalah hingga buku panduan wisata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua novel Lulofs yang paling banyak dikutip, yaitu Rubber (terbit tahun 1931) dan Koelie (1932). Keduanya berkisah tentang kuli kontrak dan tuan kebun di perkebunan Deli, Sumatera Timur. Bagi sejumlah sejarahwan, kedua novel ini layak dijadikan sumber penulisan sejarah karena cerita, setting, peran dan karakter yang dimainkan tokohtokohnya, memungkinkan mereka mengungkap gambaran masa silam yang terjadi di Deli, persisnya pada era 1920-an, saat industri perkebunan di daerah pesisir timur Sumatera itu mencapai puncak kejayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubber lebih banyak mengungkap suka duka kehidupan warga Eropa di perkebunan Deli. Koelie adalah pendalaman yang lain. Novel ini menelusuri kehidupan dunia mental para pekerja kasar Jawa, kelompok yang membanting tulang sepanjang hari, menjadi mesin utama industri di perkebunan. Bagi mereka, hidup di perkebunan adalah perbudakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koelie dimulai dari sosok Ruki, seorang pemuda asal Jawa yang digambarkan Madelon sebagai wakil dari ribuan orang yang direkrut dari pelbagai pelosok Jawa untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di Deli. Suatu hari, seorang werek (agen pencari kerja) datang ke desanya yang miskin. Werek membawa kabar tentang tanah Deli yang ajaib. Di Deli, katanya, emas murah, banyak hiburan wayang, perempuan, dan bebas berjudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruki termakan rayuan itu lalu meneken kontrak. Sejak itu resmilah ia menyandang sebutan kuli kontrak, sosok manusia yang, menurut Lulofs, telah tergadai jiwa dan raganya. Bekerja di perkebunan karet, Ruki dan kuli-kuli Jawa lainnya menjalani hari-hari penuh caci maki, kerja keras, dan hukuman pukultendang. Semua kekasaran ini, buah dari penerapan kebijakan poenale sanctie, aturan hukum yang dibuat pemerintah Belanda untuk para kuli yang bekerja di perkebunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di perkebunan bagi Ruki adalah derita tanpa akhir. Seperti kebanyakan kuli, ia tidak bisa pulang ke Jawa atau meninggalkan perkebunan meski kontrak telah selesai. Penyebabnya, mereka tak punya uang cukup sebab upah kecil yang mereka terima setiap bulannya habis tersedot ke meja judi, rumah candu, dan barak pelacuran yang sengaja dibiarkan tumbuh subur di perkebunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda sontak heboh saat kedua novel itu terbit untuk pertama kalinya. Para pendukung kapitalisme dan kolonialisme menyerang Lulofs. Ia dianggap berpolitik karena Madelon Hermina menulis karya sastra yang memuat kritik serta menelanjangi dampak kebijakan poenale sanctie itu. Bahkan, ada pula yang menganggapnya sebagai pengkhianat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagi penentang penjajahan, ia justru dianggap sebagai pahlawan yang berjuang melalui sastra. Sampai- sampai ada yang menjulukinya Multatuli perempuan. “Apapun keterbatasan novelnya, kita tidak punya bahanbahan yang lebih baik untuk mendapatkan gambaran tentang dunia yang luar biasa kasar di perkebunan Sumatera,” imbuh Reid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulofs sendiri tak bermaksud apa. Saya tidak menulis novel politik melainkan karya sastra murni. Saya hanya mencoba sebaik-baiknya menyajikan kekasaran, kepahitan, dan kemerosotan kehidupan tropis, yang di dalamnya tersembunyi suatu tragedi yang amat besar dari penderitaan dan kesengsaraan manusia,” kata Lulofs. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madelon Hermina Szekely-Lulofs lahir saat gerhana bulan di sebuah kamar di Hotel Oranje, Surabaya, 24 Juni 1899. Sulung dari empat bersaudara pasangan Claas Lulofs dan Sarah Dijkmeester ini menghabiskan masa kanak-kanaknya di berbagai daerah di Hindia-Belanda (Indonesia), mengikuti ayahnya yang sering berpindah tugas sebagai amtenar pangreh raja (binnenlandsch bestuur). Tahun 1913, ia pindah ke Negeri Belanda. Dua tahun kemudian, Perang Dunia I berkecamuk, membuat keluarganya terkena dampak lalu ia memilih kembali ke Hindia-Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1918, ia menetap di Asahan, sekitar 125 kilometer dari kota Medan, mengikuti Hendrik Doffegnies, suaminya, seorang tuan kebun yang bekerja di perkebunan karet di daerah itu. Perkawinannya tidak langgeng. Hendrik menginginkan Lulofs menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik, sementara Szekely-Lulofs Lulofs membutuhkan suami yang lebih dari seorang penjaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun berpisah pada 1927. Lulofs lari dari rumah dan memilih hidup bersama Laszlo Szekely, sahabat lamanya, yang juga tuan kebun di Deli. Pria Hungaria itu mendorong Lulofs mengasah bakatnya sebagai penulis. Seperti dirinya, Laszlo juga gemar menulis dan sempat melahirkan novel berlatar kehidupan perkebunan, Tropic Fever. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman 12 tahun menetap dan melihat langsung keadaan di perkebunan, membuat karyanya solid. “Novel-novelnya memperkuat bukti-bukti dari sumber-sumber yang kurang bermotivasi estetis,” puji Ann Laura Stoler, antropolog dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, membandingkan karya Lulofs dengan buku-buku teks di luar sastra yang juga menulis tentang kepahitan hidup di perkebunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Estetika yang tampil pada karyakarya Lulofs memang memukau. Pada awal peredarannya langsung mendapat sambutan hangat. Novel- novelnya disalin ke dalam pelbagai bahasa, diiringi dengan aneka diskusi dan pementasan. Pada tahun 1936, Rubber sempat difilemkan. Untuk Indonesia, karya Lulofs boleh dibilang terlambat diterjemahkan. Publik sastra di tanah air baru bisa menikmati karyanya pada tahun 1985 dengan judul Kuli dan Berpacu Nasib di Kebun Karet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulofs yang dikenal suka mengutip Sutan Sjahrir itu juga menulis karya sastra lainnya; Emigranten (Emigran), De Andere Wereld (Dunia Lain), Vizioen (Impian), De Hongertocht (Perjalanan Melelahkan) De Kleine Strijd (Pertempuran Kecil), Doekoen (Dukun) dan terakhir, Tjoet Nja Din (Cut Nyak Din), novel semi- bografis pejuang perempuan Aceh termasyur dalam sejarah perang melawan kolonial Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 22 Mei 1958, Madelon berbelanja di sebuah toko di Amsterdam. Tiba-tiba dadanya terasa nyeri. Ia buru-buru pulang ke rumah. Keluarganya memanggil dokter yang dengan cepat datang, lalu memeriksa. Namun ia sudah tak bernyawa. Hari itu, 48 tahun yang silam, dokter mengatakan, Madelon meninggal karena serangan jantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EMIL W. AULIA, wartawan Global TV. Menulis novel Berjuta- juta dari Deli: Satoe Hikajat Koeli Contract (2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-4486462270161615504?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/4486462270161615504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=4486462270161615504&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4486462270161615504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4486462270161615504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/multatuli-perempuan-dari-tanah-deli.html' title='MULTATULI PEREMPUAN DARI TANAH DELI'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-1365837046148429153</id><published>2008-12-09T04:36:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T04:36:11.796-08:00</updated><title type='text'>SAJAK MALAM HARI</title><content type='html'>Rembulan memanggilmu ke peraduan&lt;br /&gt;Tanda bahwa ia rindu memeluk mimpi-mimpi indahmu&lt;br /&gt;Jangan risaukan mentari esok pagi&lt;br /&gt;Karena hanya malam&lt;br /&gt;Waktu yang tepat untukmu lepas penat hati&lt;br /&gt;Tidurlah kawan&lt;br /&gt;Bersama peri&lt;br /&gt;Mimpikan surgawi&lt;br /&gt;(OCHA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-1365837046148429153?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/1365837046148429153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=1365837046148429153&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1365837046148429153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1365837046148429153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/sajak-malam-hari_09.html' title='SAJAK MALAM HARI'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-4115040150808620464</id><published>2008-12-09T04:35:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T04:35:52.924-08:00</updated><title type='text'>SAJAK MALAM HARI</title><content type='html'>Rembulan memanggilmu ke peraduan&lt;br /&gt;Tanda bahwa ia rindu memeluk mimpi-mimpi indahmu&lt;br /&gt;Jangan risaukan mentari esok pagi&lt;br /&gt;Karena hanya malam&lt;br /&gt;Waktu yang tepat untukmu lepas penat hati&lt;br /&gt;Tidurlah kawan&lt;br /&gt;Bersama peri&lt;br /&gt;Mimpikan surgawi&lt;br /&gt;(OCHA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-4115040150808620464?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/4115040150808620464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=4115040150808620464&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4115040150808620464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4115040150808620464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/sajak-malam-hari.html' title='SAJAK MALAM HARI'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-5868938958077327496</id><published>2008-12-09T03:59:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T03:59:51.291-08:00</updated><title type='text'>LOVE IS...</title><content type='html'>Love is when i wake up in d morning&lt;br /&gt;&amp; remember his smile&lt;br /&gt;Love is when i walk under d sun bright&lt;br /&gt;&amp; hope to see his figure&lt;br /&gt;Love is when i stare at dusk&lt;br /&gt;&amp; feeling his personality&lt;br /&gt;Love is&lt;br /&gt;Like d time that bring me to life&lt;br /&gt;Like d shine that light my soul&lt;br /&gt;Like d pray that pacify my heart&lt;br /&gt;Cause that,&lt;br /&gt;Love is when d night come in to d world&lt;br /&gt;&amp; i call his delution spirit to come in to my dream&lt;br /&gt;Everytime, until this never lasting love decided to go&lt;br /&gt;(OCHA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-5868938958077327496?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/5868938958077327496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=5868938958077327496&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5868938958077327496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5868938958077327496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/love-is.html' title='LOVE IS...'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-468046389811040998</id><published>2008-12-05T07:02:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T07:04:21.799-08:00</updated><title type='text'>Lagi, Dua  Pencari Suaka Asal Papua Akan Kembali ke Tanah Kelahirannya</title><content type='html'>Diduga Ada Intervensi Intelejen dan Uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kepulangan Hana Gobay dan Jubel Kareni, dua Warga negara Indonesia (WNI) asal Papua ke tanah kelahirannya pada September lalu, kini dua orang lagi dikabarkan akan mengikuti jejak kedua rekannya itu. Mereka adalah Yunus Wanggai dan anaknya Anike. Diduga, Kembalinya mereka ke bumi cendrawasih disebabkan adanya intervensi intelijen dan uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat intelejen Susaningtyas NH Kertopati mengatakan, jika memang ada keterlibatan intelejen dalam proses kepulangan dua orang pencari suaka asal Papua itu, dinilainya sebagai suatu hal yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apapun alasannya, keterlibatan mereka (intelejen, red) adalah untuk menjaga kedaulatan negara,” ungkapnya, Jumat (28/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, kepulangan pencari suaka tentu dikhawatirkan bermuatan politik yang akan mengakibatkan disorientasi dan disorganisasi bernegara. “Apalagi eskalasi politik sekarang ini banyak diwarnai dengan kepentingan-kepentingan antar partai dan pribadi petinggi negara,” kata wanita yang biasa dipanggil Nuning ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, kata Nuning, kepulangan dua warga Papua itu tidak perlu dipersoalkan selama keduanya memiliki itikad baik dalam kerangka membangun integrasi bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan Anggota Komisi III DPR asal PAN Sahrin Hamid.  Menurutnya, kembalinya pencari suaka asal Papua tidak usah dicurigai macam-macam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting mereka kembali atas niat baik mereka untuk kembali membangun integrasi, kecuali jika mereka punya itikad buruk baru ditindak” katanya, Jumat (28/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan dugaan adanya intervensi intelejen dan uang dalam proses kepulangan kedua pencari suaka asal Papua itu, Sahrin menilainya sebagai suatu hal yang masih spekulatif. Jadi, sebaiknya isu itu dihiraukan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan gampang percaya dengan isu-isu yang gak jelas. Kita positif thinking saja,” pungkasnya. n CR-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;///////////////////&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teuku Faizasyah&lt;br /&gt;Juru Bicara Deplu&lt;br /&gt;Juru bicara Departemen Luar Negeri (Deplu) Teuku Faizasyah. Menurutnya, dugaan yang mengatakan bahwa ada campur tangan intelijen Indonesia dalam kepulangan tersebut adalah tidak berdasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Keinginan mereka untuk pulang bersifat sukarela. Tanpa ada paksaan. Anda bisa memegang kata-kata saya, tidak ada campur tangan intelijen Indonesia,” ungkapnya dalam press briefing di Gedung Deplu, Jakarta, Jumat (28/11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faizasyah juga membantah dugaan tentang pemberian uang pada kedua warga Papua itu. "Saya tidak bisa berkomentar soal itu. Kami sebagai pemerintah hanya berusaha melindungi warga negara. Tapi niat kepulangan mereka merupakan indikasi adanya rasa frustrasi di pihak Herman Wanggai," katanya. n CR-3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-468046389811040998?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/468046389811040998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=468046389811040998&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/468046389811040998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/468046389811040998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/lagi-dua-pencari-suaka-asal-papua-akan.html' title='Lagi, Dua  Pencari Suaka Asal Papua Akan Kembali ke Tanah Kelahirannya'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-5200856303428277361</id><published>2008-12-05T06:52:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T07:00:06.176-08:00</updated><title type='text'>Mendulang Sukses Lewat Menulis</title><content type='html'>Oleh: Rachmat Nugraha*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa penulis bisa jadi profesi yang menjanjikan?” Pertanyaan seperti ini seringkali muncul dalam setiap seminar atau pelatihan penulisan. Umumnya, mereka yang bertanya adalah orang yang ingin terjun ke dunia penulisan, namun masih ragu dengan potensi yang akan ia peroleh secara finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan seperti ini ternyata tidak mudah. Sebab faktanya, banyak orang yang kaya dari menulis dan tidak sedikit pula yang hidup pas-pasan. Tapi paling tidak, saat ini peluang karir di bidang penulisan mulai menggeliat dan bisa dibilang menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja Andrea Hirata yang sukses dengan novel Laskar Pelangi, di mana dia bisa mendapatkan royalti hingga menembus angka satu milyar untuk novel yang baru saja diangkat ke layar lebar itu. Atau, sebut saja Habiburahman El Shirazy yang berhasil mendulang rupiah lewat novel Ayat-ayat cinta yang fenomenal hingga mencapai Rp 1,2 miliar. Keduanya memulainya dengan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru di Indonesia, di mancanegara bahkan sudah ratusan atau mungkin ribuan orang yang sukses dalam bidang penulisan. Satu di antaranya adalah J. K Rowling, sang pencipta tokoh Harry Potter yang kini memiliki kekayaan senilai 560 juta pound.  &lt;br /&gt;Nama-nama di atas telah membuktikan bahwa profesi menjadi penulis sebenarnya cukup menjanjikan. Terlebih dengan perkembangan dunia perbukuan akhir-akhir ini yang menggembirakan, di mana banyak buku-buku asli karya penulis dalam negeri laris manis bak kacang goreng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut M. B Ariyanto, sang penulis dan direktur Mr. Pen Indonesia, untuk menekuni profesi penulis tidak diperlukan latar belakang pendidikan tertentu. Semua orang bisa menjadi penulis. Profesi ini juga tidak memerlukan kantor  karena untuk melakukannya bisa dilakukan di rumah atau kamar kost-kostan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis juga tidak perlu repot-repot mengeluarkan modal. Pekerjaannya hanya menulis dan sisanya serahkan saja ke penerbit, karena penerbitlah yang akan membiayai penerbitannya. Kalau pun kita memiliki obsesi untuk menerbitkan karya kita sendiri, hal itu bisa disiasati dengan mencari sponsor yang bersedia membantu menerbitkan karya kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengalaman penulis, ada beberapa jenis pekerjaan menulis yang dapat menghasilkan uang, antara lain:&lt;br /&gt;1. Menulis novel;&lt;br /&gt;2. menulis cerpen, cerber, atau kumpulan puisi;&lt;br /&gt;3. menulis biografi tokoh;&lt;br /&gt;4. menulis skenario;&lt;br /&gt;5. menulis opini atau artikel di media cetak;&lt;br /&gt;6. dan menulis buku-buku pengetahuan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. B Ariyanto, sang penulis dan direktur Mr. Pen Indonesia bahkan lebih banyak lagi menyebutkan jenis-jenis pekerjaan menulis yang menghasilkan uang, antara lain:&lt;br /&gt;1. Editing naskah buku (kerjasama penulis dengan penerbit);&lt;br /&gt;2. Penulisan cerpen/cerber/antologi puisi;&lt;br /&gt;3. Penulisan naskah pidato;&lt;br /&gt;4. Penulisan company profile;&lt;br /&gt;5. Penulisan proposal;&lt;br /&gt;6. Penulisan buku biografi tokoh;&lt;br /&gt;7. Penulisan buku-buku popular;&lt;br /&gt;8. Penulisan press release;&lt;br /&gt;9. Penulisan product release;&lt;br /&gt;10. Penulisan informasi produk (product knowledge)&lt;br /&gt;11. Penulisan artikel untuk media cetak (surat pembaca, opini, dll);&lt;br /&gt;12. Penyusunan buku direktori/data base (mis; business directory);&lt;br /&gt;13. Penyusunan buku pengetahuan umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian jenis pekerjaan menulis yang disebutkan di atas, kita bisa memilih jenis pekerjaan menulis apa yang kita inginkan. Tak hanya itu. Banyak usaha turunan berbasis menulis yang bisa diretas, antara lain: penerbitan, sekolah menulis, pembicara, pengajar, motivator, dan lain-lain. Yang harus diingat, yang menentukan keberhasilan adalah adanya kemauan dan ketekunan, bukan bakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara penghasilan, M. B Ariyanto berpendapat, penghasilan yang akan didapat dari setiap jenis pekerjaan menulis tersebut, antara lain:&lt;br /&gt;1. Royalti sebesar 10-15 persen dari penjualan buku yang diterbitkan oleh &lt;br /&gt;        penerbit;&lt;br /&gt;2. Dari royalti buku yang diterbitkan sendiri;&lt;br /&gt;3. Dari keuntungan penjualan buku yang diterbitkan sendiri;&lt;br /&gt;4. Dari honor menulis di media cetak;&lt;br /&gt;5. Dari honor menulis skenario;&lt;br /&gt;6. Dari jasa penulisan biografi;&lt;br /&gt;7. Atau bisa juga dari usaha lain seperti honor menjadi pembicara dalam &lt;br /&gt;        pelatihan dan seminar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, jika menekuni profesi penulis, maka akan banyak sumber penghasilan yang bisa diperoleh dan itu membuktikan bahwa profesi penulis merupakan profesi yang cukup potensial untuk dilirik sebagai sebuah karir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Novelis, Wartawan Harian Rakyat Merdeka, Direktur Eksekutif Komunitas Penulis Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-5200856303428277361?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/5200856303428277361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=5200856303428277361&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5200856303428277361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5200856303428277361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/12/mendulang-sukses-lewat-menulis.html' title='Mendulang Sukses Lewat Menulis'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7534974138068568695</id><published>2008-10-17T02:54:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T02:57:35.895-07:00</updated><title type='text'>PERMOHONAN BANTUAN DANA</title><content type='html'>"Wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca&lt;br /&gt;Bila kami tak mengembangkan kosa kata&lt;br /&gt;Selama ini kami-kami kan diajar menghafal dan menghafal saja&lt;br /&gt;Mana ada dididik mengembangkan logika&lt;br /&gt;Mana ada diajar beragumentasi dengan pendapat berbeda&lt;br /&gt;Dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra&lt;br /&gt;Pak Guru sudah tahu lama sekali&lt;br /&gt;Mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi&lt;br /&gt;Tapi mata kami kan nyala bila menonton televisi"&lt;br /&gt;(Taupik Ismail, 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sepenggal kata-kata Taupik Ismail menanggapi rendahnya minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di kalangan generasi muda Indonesia.&lt;br /&gt;Dengan melihat besarnya porsi sekolah dalam menginput pengetahuan terhadap anak, maka kegelisahan akan lemahnya pengajaran sastra di sekolah yang berdampak pada rendahnya minat baca dan tulis bisa diterima.&lt;br /&gt;Hal terbukti dengan semakin terpinggirkannya seni sastra dari perhatian generasi muda Indonesia. Walaupun saat ini telah begitu banyak kehadiran generasi muda dengan karya-karyanya yang cukup laris di pasaran dan kehadiran website-website yang mengkhususkan diri pada sastra, namun seni sastra masih jauh kurang diperhatikan. &lt;br /&gt;Bahkan, tidak saja oleh generasi muda, tapi juga lebih menyeluruh dari itu. Karena, kalaupun ada buku novel, kumpulan cerpen atau puisi yang laris dan pemanggungan sajak yang ditonton oleh ribuan orang yang histeris, yang menjadi pusat perhatian sesungguhnya bukanlah sastranya, melainkan figur tokoh yang membawakannya.&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, sekelompok generasi muda mencoba merespon fenomena tersebut dengan membentuk Komunitas Penulis Jakarta sebagai wadah guna menumbuhkembangkan minat baca dan tulis, serta apresiasi terhadap sastra di kalangan generasi muda. &lt;br /&gt;Dengan dibentuknya Komunitas Penulis Jakarta, diharapkan generasi muda dapat mengembangkan kreatifitasnya dan menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan, serta mampu mengembangkan apresiasi terhadap sastra.&lt;br /&gt;Namun, dalam perkembangannya Komunitas Penulis Jakarta mengalami kendala dalam menjalankan program-programnya dikarenakan ketiadaan fasilitas dan biaya. Untuk itu, kami sangat mengharapkan bantuan dana dari pihak-pihak terkait guna menunjang program-program Komunitas Penulis Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang berminat memberikan bantuan, dapat menghubungi di nomor 0899 9925 301 (Rachmat Nugraha)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7534974138068568695?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7534974138068568695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7534974138068568695&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7534974138068568695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7534974138068568695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/permohonan-bantuan-dana.html' title='PERMOHONAN BANTUAN DANA'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-573238767935965246</id><published>2008-10-17T02:52:00.002-07:00</published><updated>2008-10-17T02:53:56.675-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH SASTRA BETAWI</title><content type='html'>Oleh Yahya Andi Saputra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap suku bangsa di mana pun berada, tentu mempunyai kesusastraannya sendiri. Kadang kala, kesusastraan itu menggambarkan keadaan alam dan lingkungan kehidupan seseorang. Tetapi, tidak jarang pula mengungkapkan nilai-nilai kebudayaan dan pandangan hidup masyarakatnya. Demikian pula dengan kesusastraan Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga suku-suku bangsa di Nusantara, masyarakat Betawi pun, sudah sejak lama mengenal kesusastraannya. Disadari atau tidak, masyarakat Betawi akan menempatkan kesusastraannya di dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang didendangkan dan dikisahkan, ada pula yang dibacakan. Yang didendangkan dan dikisahkan, biasanya diambil dari kekaya-an khazanah sastra lisan. Sedangkan yang dibacakan, diambil dari sastra tulis. Nyanyian do-lanan yang sering dilantunkan anak-anak di surau atau tempat permainan, sebenarnya terma-suk juga khazanah kesusastraan Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kesusastraan itu hidup, karena ada masyarakat yang mendukungnya. Misalnya, ada pengarang yang menulis karya sastra. Ada pula tukang cerita yang menden-dangkan atau menceritakan hikayat-hikayat. Merekalah pencipta atau penghasil karya sastra. Mereka pula yang menyebarluaskannya. Selanjutnya, karya yang telah dihasilkan sastrawan itu, dibaca orang. Jadi, ada pula yang membacanya. Tanpa pembaca, karya itu tidak akan ada artinya apa-apa. Maka, kesusastraan itu akan hidup kalau ada pengarang dan pembaca, kalau ada tukang cerita dan yang mendengarkan cerita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita membicarakan kesusastraan Betawi, kita akan membicarakan juga penga-rang dan pembaca kesusastraan itu; tukang cerita dan pendengarnya. Kemudian, tentu juga karya-karyanya atau isi ceritanya. Dengan begitu, kita akan mengetahui apa yang dimaksud dengan kesusastraan Betawi. Siapa pengarangnya, dan siapa pula pembacanya; siapa tukang ceritanya, dan siapa pula pendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Sastra Betawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Betawi menggunakan bahasa Betawi. Inilah ciri paling khas yang membedakan kesusastraan Betawi dengan kesusastraan suku bangsa lain. Kesusastraan Betawi dikarang oleh orang Betawi. Bisa juga mereka yang menguasai bahasa Betawi membuat karangan dalam bahasa Betawi. Lalu, siapakah yang membaca atau menikmati kesusastraan Betawi? Tentu saja yang terutama adalah orang-orang Betawi sendiri. Jadi bahasa Betawi digunakan, agar karangan itu dapat dipahami masyarakat pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat menyimpulkan bahwa kesusastraan Betawi ditulis dalam bahasa Betawi. Pengarangnya mungkin orang Betawi, mungkin juga Betawi keturunan. Tidak apa-apa. Memang, banyak juga penduduk Betawi keturunan yang menjadi pengarang. Jadi, asal-usul pengarang tidak dipersoalkan. Yang jelas, karangan itu itu ditulis atau disampaikan dalam bahasa Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesusastraan Betawi ditulis oleh orang Betawi. Disampaikan dalam bahasa Betawi. Dibaca atau didengar oleh orang Betawi. Maka isi ceritanya tentu berkaitan dengan kehidupan mereka. Di dalamnya, tentu menyangkut adat-istiadat, agama, tingkah laku, dan keadaan alam Betawi. Inilah yang dimaksud bahwa kesusastraan mencerminkan keadaan masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Sastra Betawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kesusastraan di dunia ini yang tidak mempunyai sejarah. Pasti, selalu ada asal-usulnya, awal kelahirannya, dan perkembangannya. Kesusastraan Betawi juga tidak terlepas dari sejarahnya. Kira-kira kapan masyarakat Betawi memperkenalkan kesusastraannya. Apa karyanya dan siapa saja pengarangnya. Bagaimana pula perjalanannya hingga sekarang. Guna memudahkan pembabakannya, baiklah kita bagi kesusastraan Betawi kedalam dua periode, yaitu kesusastraan Betawi sebelum merdeka dan kesusastraan Betawi sesudah merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak begitu jelas, kapan persisnya orang Betawi memperkenalkan kesusastraannya. Kesulitan menentukan angka tahun itu, lantaran pada awalnya kesusastraan yang hidup di tengah masyarakat adalah kesusastraan lisan. Seperti lazimnya kesusastraan lisan, ia disampaikan secara lisan. Berkembang dari mulut ke mulut. Masyarakat Betawi, misalnya, sudah sejak lama mengenal hikayat, legenda, pantun atau syair. Kapan persisnya? Tidak ada yang dapat menjawabnya. Penyebabnya adalah karena waktu itu tulisan belum dikenal atau orang sudah terbiasa menyampaikan berbagai hal secara lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantun atau syair-syair lagu yang dinyanyikan tokoh-tokoh dalam teater rakyat Betawi sangat kuat nilai sastranya. Bagi saya pantun dan syair ini merupakan salah satu khasanah kekayaan sastra Betawi. Kita lihat saja syair (Arang-arangan Jantuk dan Ngelodak) di bawah ini yang dilantunkan tokoh Jantuk dalam Topeng Betawi. Kita tahu bahwa tokoh Jantuk selalu diperankan oleh panjak paling senior yang telah menguasai betul seluruh patut Topeng Betawi. Panjak pemula rasanya tidak mampu memerankan Jantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampe kapan saya bilang ada bunga-bunga disenur&lt;br /&gt;Saya bilang ada bunga-bunga disenur&lt;br /&gt;Ada tetapang saya bilang ada saya embunin&lt;br /&gt;Sampe kapan saya bilang si nona-nona tidur&lt;br /&gt;Sampe kapan ada si nona tidur&lt;br /&gt;Supaya gampang, supaya gampang saya bangunin&lt;br /&gt;Kembang melati bapa ada jatoh di tanah&lt;br /&gt;Kembang melati jatoh di tanah&lt;br /&gt;Jantung hati di nama-mana&lt;br /&gt;Kayu jati saya bilang dibikin dupa&lt;br /&gt;Kayu jati dibikin dupa&lt;br /&gt;Sampe mati tida-tida dilupa&lt;br /&gt;Di lain bagian, Jantung kembali bersenandung. Kali ini senandungnya lebih melankolis, lantaran Jantuk merasa kesepian karena bercerai dengan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebina-bina temen&lt;br /&gt;Temen-temen pada kebina&lt;br /&gt;Orang nanya kaga disautin&lt;br /&gt;Baju tiga celana tiga&lt;br /&gt;Yang satu jatuh di tanah&lt;br /&gt;Bini kaga ema kaga anak dimana-mana&lt;br /&gt;Ada dimana-mana&lt;br /&gt;Dedeuh …&lt;br /&gt;Nanem sere di pegunungan&lt;br /&gt;Ambil dulang jatuh ke tanah&lt;br /&gt;Waktu sore kebingungan&lt;br /&gt;Saya pulang pulang ke mana&lt;br /&gt;Waktu sore kebingungan&lt;br /&gt;Saya pulang pulang ke mana&lt;br /&gt;Dedeuh …&lt;br /&gt;Jantuk saya pulang pulang kemana&lt;br /&gt;Gambang Kromong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair lagu gambang kromong tak kalah dahsyatnya. Ada tiga jenis lagu gambang kromong: pobin, dalem, dan sayur. Lagu pobin dibawakan secara instrumentalia, namun judulnya dalam bahasa Tionghoa dialek Hokkian. Pobin yang kini masih bisa dimainkan orang di antaranya: pobin Khong Ji Liok, Peh Pan Thau, Cu Te Pan, Cai Cu Siu, Cai Cu Teng, dan Seng Kiok. Jenis lagu ini memang berasal dari negeri Cina dan merupakan lagu tertua dalam repertoire lagu gambang kromong. Tapi ada juga lagu pobin Tukang Sado yang judulnya dalam bahasa Melayu. Lagu ini jelas lebih muda usianya dari pobin-pobin lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis lagu gambang kromong tertua yang dinyanyikan oleh wayang cokek disebut lagu dalem. Lagu dalem berirama tenang, lembut, dan jernih, karena itu tidak bisa dipakai untuk ngibing (menari) bersama wayang cokek, biasanya dinyanyikan oleh wayang cokek untuk menghibur para tamu yang sedang menikmati santapan. Lagu dalem memperlihatkan kombinasi yang serasi antara unsur Tionghoa dan Melayu. Seperti umumnya lagu tradisional, lagu dalem dibawakan dalam bentuk pantun-pantun dalam bahasa Melayu Betawi. Lagu ini sudah ada sejak abad ke-19. Judulnya sebagian besar dalam bahasa Melayu, misalnya Gula Ganting, Semar Gunem, Peca Piring, Mas Nona, Cente Manis Berdiri, Mawar Tumpa, Tanjung Burung, dan Gunung Payung. Namun ada pula judul lagu dalem berbahasa Tionghoa dialek Hokkian selatan, meski pantunnya dalam bahasa Melayu, misalnya Poa Si Li Tan (Li Tan Setengah Mati), atau dalam dialek Hakka (Kheh), misalnya Sip-pat Mo (Delapan Belas Usapan). Menurut keterangan Masnah yang masih mampu menyanyikannya, lirik lagu ini seluruhnya dalam dialek Hakka, yang harus dihafal mati, sebab Masnah sama sekali tidak mengerti bahasa Tionghoa, sebagaimana kebanyakan orang Tionghoa peranakan lainnya. Berikut sebagian lirik lagu Mawar Tumpa yang dibawakan Masnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu nangis dua ketawa&lt;br /&gt;Kue mangkok mateng di piring&lt;br /&gt;Mulut manis di depan saya&lt;br /&gt;Atinya bengkok upama pancing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembang melati jato di tana&lt;br /&gt;Jantung ati pergi di mana&lt;br /&gt;Sayang, pergi di mana&lt;br /&gt;Mawar tumpa awur-awuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, tana tinggi saya paculin&lt;br /&gt;Si nona pergi saya susulin&lt;br /&gt;E, mawar tumpa awur-awuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi syair, dengan contoh di atas, dapatlah dikatakan lagu-lagu dalem itu mengandung seni puisi yang tinggi ditilik dari kesastraan Betawi, misalnya frasa mawar tumpa awur-awuran. Mawar Tumpa sebagai judul lagu mengandung metafora yang cukup dalam interpretasinya. Mawar tumpah biasanya dari tanggok. Ini berkaitan dengan upacara ziarah kubur dimana biasanya orang membawa bunga mawar dalam tanggok. Tumpahnya mawar membuat upacara ziarah kubur terganggu. Ironis, jika kemudian di dalam batang tubuh syair kita tidak jumpai sama sekali kisah yang berkaitan dengan ziarah kubur secara lahiriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu ungkapan Mulut manis di depan saya/Atinya bengkok upama pancing, melukiskan kekecewaan terhadap seseorang. Di dalam pantun berikut kita memperoleh penjelasan bahwa kekecewaan itu disebabkan oleh Jantung ati pergi di mana/Sayang pergi dimana/Mawar tumpa awur-awuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya syair lagu sayur adalah pantun-pantun yang baku, misalnya:&lt;br /&gt;Ani-ani bukannya waja&lt;br /&gt;Buat memotong padi di gunung&lt;br /&gt;Saya nyanyi memang sengaja&lt;br /&gt;Buat menghibur ati yang bingung&lt;br /&gt;Hampir kebanyakan pantun lagu sayur itu sampirannya mengandung idiom-idiom pertanian. Ini menerangkan bahwa gambang kromong sangat dekat dengan rakyat kecil. Bahkan di dalam lagu dalem sekali pun, setiap tekuk (bagian)-nya mengandung pantun yang juga dinyanyikan dalam lagu sayur. Sebagaimana diketahui lagu dalem itu biasanya terdiri dari dua tekuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis lagu yang ketiga lagu sayur. Lagu sayur berirama riang dan cocok untuk dipakai ngibing. Yang termasuk lagu sayur adalah Kramat Karem, Onde-onde, Glatik Nguknguk, Jali-jali, Stambul, Cente Manis, Kicir-kicir, Surilang, Lenggang Kangkung, Siri Kuning, dan lain-lain. Lagu ini kira-kira mulai berkembang pada perempat terakhir abad ke-19, saat orang Tionghoa peranakan di Batavia mulai mengambil selendang (soder) untuk ngibing dengan wayang cokek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian Anak-Anak&lt;br /&gt;Tidak kalah pentingnya syair dan pantun yang terdapat dalam lagu anak-anak. Lagu anak-anak Betawi sangat banyak. Lagunya mudah dinyanyikan. Pantunnya jenaka. Tentunya kita tahu dan dapat menyanyikan lagu Sang Bango. Lagu ini dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Pantunnya mengajarkan anak-anak untuk belajar bertanggungjawab atas semua perbuatan yang dilakukannya. Lagu Sim sim kelima-lima kasim, Tam tambuku, Dèng ‘ndèngan lagu untuk permainan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang BangÔ&lt;br /&gt;Sang bangÔ è sang è sang bangÔ&lt;br /&gt;Kenapè entè delak delok ajè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè delak delok ajè&lt;br /&gt;Sang ikan kagak nimbul-nimbul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ikan è sang è sang ikan&lt;br /&gt;Kenapè entè kagak nimbul-nimbul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè kagak nimbul&lt;br /&gt;Sang rumput keliwat têbêl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang rumput è sang è sang rumput&lt;br /&gt;Kenapè keliwat têbêl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè jadi têbêl&lt;br /&gt;‘Kang rumput kagak potong anè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kang rumput è ‘kang è ‘kang rumput&lt;br /&gt;Kenapè kagak motong rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè kagak motong rumput&lt;br /&gt;Sang perut sakit ajè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang perut è sang è sang perut&lt;br /&gt;Kenapè sakit ajè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè sakit aje&lt;br /&gt;Makan nasi mentè matêng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang nasi è sang è sang nasi&lt;br /&gt;Kenapè mentè matêng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè mentè matêng&lt;br /&gt;Sang api cuman kêlak-kêlik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang api è sang è sang api&lt;br /&gt;Kenapè entè e cuman kêlak-kêlik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè cuman kêlak-kêlik&lt;br /&gt;Sang kayu keliwat basè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kayu è sang è sang kayu&lt;br /&gt;Kenapè entè keliwat basè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè keliwat basè&lt;br /&gt;Sang ujan turun ajè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ujan è sang è sang ujan&lt;br /&gt;Kenapè entè turun ajè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè turun ajè&lt;br /&gt;Sang kodok manggilin anè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang kodok è sang è sang kodok&lt;br /&gt;Kenapè manggilin sang ujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè manggilin sang ujan&lt;br /&gt;Sang ulêr mau makan anè&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ulêr è sang è sang ulêr&lt;br /&gt;Kenapè mau makan sang kodok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mêngkènyè anè mau makan kodok&lt;br /&gt;Sang ¾kodok¾makanan¾ ane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima-lima kasim&lt;br /&gt;Sim sim kelima-lima kasim sim&lt;br /&gt;Simpak bakul rombèng bèng&lt;br /&gt;Bengkel kelapa-lapa ijÖ jÖ&lt;br /&gt;Jotan daon rambutan tan&lt;br /&gt;Tanduk palè si Mukcing&lt;br /&gt;Cingcang daging babÎ bÎ&lt;br /&gt;Biuk rodanyè empat pat&lt;br /&gt;Pacul ujungnyè tajêm jêm&lt;br /&gt;Jempol adè duwâ&lt;br /&gt;(Wak Ipit malu saya waw-waw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tam tambuku&lt;br /&gt;Tam tambuku&lt;br /&gt;Selèrèt daon delimè&lt;br /&gt;Patè lembing&lt;br /&gt;Patè paku&lt;br /&gt;Tarik belimbing&lt;br /&gt;Tangkêp satu&lt;br /&gt;Pit ala ipit&lt;br /&gt;Kuda lari kêjêpit&lt;br /&gt;Sipit&lt;br /&gt;(InglÖ liÖ-liÖ , InglÖ liÖ-liÖ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dèng ‘ndèngan&lt;br /&gt;Dèng ‘ndèngan&lt;br /&gt;Siri tampi&lt;br /&gt;Beduri-duri&lt;br /&gt;Pok berèok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi aèr&lt;br /&gt;Aèr ujan&lt;br /&gt;Ujan dêrês&lt;br /&gt;Pok berèok&lt;br /&gt;(Luk uluk ujan gêdë , anak kambing mau mandÏ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jampe Betawi, yang dibaca oleh dukun ketika mengobati orang sakit, sebenarnya paling sarat dengan nilai sastra. Pembacaan jampe oleh para dukun bukan hanya memancarkan aura magis yang menyembuhkan orang sakit, tapi intonasi dan cara baca itu pun memiliki kekhasannya sendiri sehingga pada situasi itu tercipta panggung sastra. Boleh dikatakan jampe adalah salah sastu jenis sastra yang kemunculannya paling awal karena faktor kegunaannya bagi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut salah satu contoh jampe Betawi untuk mengusir setan atau kuntilanak.&lt;br /&gt;Sang ratu kuntilanak&lt;br /&gt;Anak-anak mati beranak&lt;br /&gt;Sundel malem mati di kolong&lt;br /&gt;Si borok tongtong&lt;br /&gt;Ke kitu ke kidang&lt;br /&gt;Ke tegal awut-awutan&lt;br /&gt;Ke duku pata paluna&lt;br /&gt;Nenek luwung gede&lt;br /&gt;Kaki cai gede&lt;br /&gt;Mahula deket-deket&lt;br /&gt;Mahulang ke manusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Lisan Ke Tulisan&lt;br /&gt;Meskipun demikian, berdasarkan kebiasaan orang Betawi mendengarkan pembacaan hikayat yang disampaikan tukang cerita atau sahibul hikayat, kita dapat memperkirakan sejak kapan masyarakat Betawi mengenal dan mengembangkan kesusastraannya. Hikayat yang terkenal dan sering disampaikan tukang cerita adalah Hikayat Sultan Taburat. Hikayat ini berbentuk cerita berbingkai. Disampaikan dalam bahasa Betawi, dan terdiri dari beberapa episode cerita. Karena terdiri dari beberapa episode cerita, maka banyak tokoh bermunculan. Banyak pula peristiwa datang silih berganti. Semuanya kemudian seolah-olah terpusat pada diri tokoh utamanya, Indra Buganda Syafandar Syah. Jadi, Hikayat Sultan Taburat sebenarnya berkisah tentang pengembaraan tokoh Indra Buganda Syafandar Syah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperkirakan, Hikayat Sultan Taburat sudah sangat dikenal masyarakat Betawi sekitar tahun 1880-an. Namun, ada juga yang mengatakannya, sebelum tahun 1880-an. Menurut penuturan orang-orang tua, tukang cerita yang sangat terkenal dan paling disukai dalam membawakan atau menyampaikan Hikayat Sultan Taburat adalah Haji Ja’far. Kepiawaian Haji Ja’far ini, selain cara penuturannya, juga lantaran kepandaiannya menyanyi. Memang, seorang tukang cerita dituntut hapal berbagai cerita. Ia juga harus mahir membawakannya secara enak. Tidak kalah pentingnya, tukang cerita juga harus pandai bernyanyi. Nah, Haji Ja’far ini terkenal karena ia hapal berbagai cerita, mahir membawakannya, dan pandai pula bernyanyi. Maka, penduduk pun mengenal Haji Ja’far sebagai tukang cerita yang andal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Hikayat Sultan Taburat yang sering dibawakan tukang cerita, ada pula cerita lain yang cukup terkenal, yaitu Hikayat Amir Hamzah. Berdasarkan naskah yang menjadi koleksi Perpustakaan Nasional, Hikayat Amir Hamzah ditulis tahun 1821, tetapi tidak diketahui siapa penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1870, keluarga Pecenongan mulai menulis Hikayat Sultan Taburat yang berasal dari kesusastraan lisan. Hal yang sama juga dilakukan pada cerita-cerita lain yang juga berasal dari kesusastraan lisan, seperti Hikayat Para Sahabat Nabi. Di antara penyalin atau penulis naskah itu, Haji Bakir termasuk salah seorang pujangga Betawi yang terkenal. Ia memperkenalkan Hikayat Sultan Taburat dalam bentuk naskah buku. Tulisannya menggu-nakan huruf Jawi, yaitu huruf Arab, berbahasa Betawi. Haji Bakir inilah yang memelopori kesusastraan Betawi dalam bentuk tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari karya-karya Haji Bakir, kita dapat mengetahui bahwa masa produktifnya terjadi antara tahun 1880 sampai tahun 1910. Berdasarkan koleksi naskah yang terdapat di Perpustakaan Nasional, dapat diketahui adanya naskah Hikayat Sultan Taburat I sampai IV. Hikayat Sultan Taburat I, misalnya, terdiri dari lima jilid. Jilid pertama dan kedua ditulis 28 November 1885; jilid ketiga, 13 Desember 1885; jilid keempat dan kelima ditulis 15 Januari 1886. Hikayat Sultan Taburat II terdiri dari dua jili. Jilid pertama diselesaikan tanggal 30 Januari 1894 dan jilid kedua mulai ditulis 20 Oktober 1893. Hikayat Sultan Taburat IV ditulis tanggal 20 Mei 1899. Sayang sekali, Hikayat Sultan Taburat III naskahnya dalam keadaan yang sudah rusak, sehingga tidak dapat diketahui kapan naskah itu mulai ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, beberapa pengusaha Cina dan Indo-Eropa yang tinggal di Betawi mulai memanfaatkan usaha percetakan. Naskah-naskah yang tadinya ditulis tangan, sekarang dicetak. Ada yang menggunakan huruf Jawi, ada pula yang menggunakan huruf Latin. Dikenalnya alat percetakan ini, memudahkan orang mencetak buku. Bahkan kemudian berkembang dengan mencetak majalah dan surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soerat Chabar Batawie terbit pertama kali tahun 1858. Dicetak oleh percetakan Lange. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Betawi (Melayu) dengan huruf Latin dan Jawi. Inilah suratkabar pertama Betawi. Di dalamnya, ada juga cerita-cerita atau karya sastra, se-perti pantun, syair atau sketsa, dimuat di sana. Surat-surat kabar lain yang juga menggunakan bahasa Melayu Betawi yang terbit di Betawi, antara lain, suratkabar Bianglala yang terbit tahun 1867 dan bertahan sampai tahun 1872. Dicetak di Betawi oleh percetakan Ogilvie &amp; Co. Selanjutnya, suratkabar ini berganti nama menjadi Bintang Djohar (1873) dan dapat bertahan sampai tahun 1886. Dua tahun kemudian (1888), percetakan Yap Goan Ho, Betawi, menerbitkan suratkabar Sinar Terang yang berbahasa Melayu-Betawi. Suratkabar ini menghentikan penerbitannya tahun 1891. Pada tahun 1900, muncul pula suratkabar Bintang Betawi yang dicetak oleh percetakan Van Dorp &amp; Co. Suratkabar ini bertahan sampai tahun 1906. Seperti suratkabar sebelumnya, di dalam suratkabar Bintang Betawi ada pula karya-karya sastra yang dikarang pujangga Betawi dimuat di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1932, terbit pula suratkabar Berita Betawi yang kali ini dicetak oleh Perusahaan Betawi. Sayangnya, suratkabar ini hanya bertahan selama setahun. Tahun 1933, suratkabar ini menghentikan penerbitannya. Pada tahun 1938, sebuah majalah yang dikelola oleh Perhimpunan Kaum Betawi terbit pula dengan menggunakan huruf Latin dan Jawi. Bahasa yangdigunakannya adalah bahasa Melayu-Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-suratkabar dan majalah tadi, tentu saja turut membantu lahirnya para penulis atau sastrawan Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah banyak karya-karya sastra Betawi yang diterbitkan dalam bentuk tertulis, tidak berarti tradisi kesusastraan lisan, mati dengan sendirinya. Di surau-surau atau masjid, para murid pengajian, masih sering mendendangkan sastra lisan, seperti pantun dan syair. Tukang cerita atau sahibul hikayat yang membawakan kisah-kisah Hikayat Sultan Taburat atau hikayat lain, masih sering diundang dalam acara-acara tertentu. Salah seorang tukang cerita yang cukup terkenal adalah K.H. Ali Hamidy, seorang ulama Betawi asal Matraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Merdeka sastra Betawi masih tetap berkibar dengan tokoh-tokohnya yang diakui dalam sejarah sastra Indonesia. Sebut saja misalnya SM. Ardan, Firman Muntaco, Mahbub Djunaidi, M. Balfas, S. Saiful Rahim, Susi Aminah Azis, Zaidin Wahab, Tutty Alawiyah AS, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk zaman mutahir dapat kita sebut Zeffry Alkatiri, Ridwan Saidi, Nur Zaen Hae, Ihsan Abdul Salam, Aba Mardjani, Rizal, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Kalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih perlu penelitian lebih intensif dan mendalam tentang keberadaan sastra dan sastrawan Betawi. Kita belum mendapat gambaran yang jelas siapa sebenarnya Yamikul, sastrawan yang hidup pada masa Pangeran Jayakarta. Dibutuhkan tangan terampil dan semangat tinggi untuk benar-benar dapat mengupas sastra Betawi secara utuh menyeluruh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-573238767935965246?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/573238767935965246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=573238767935965246&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/573238767935965246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/573238767935965246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/sejarah-sastra-betawi.html' title='SEJARAH SASTRA BETAWI'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-8282911790531618503</id><published>2008-10-17T02:52:00.001-07:00</published><updated>2008-10-17T02:52:48.641-07:00</updated><title type='text'>TAHUN BARU TIYA</title><content type='html'>OLEH : RESSA NOVITA (OCHA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurentangkan ke dua belah tanganku kearah yang berlawanan, seperti malaikat yang siap pulang ke surga. Kurapatkan kaki tak beralasku ke bebatuan kasar di tengah rel-rel besi yang mulai berkarat. &lt;br /&gt;“SELAMAT TINGGAL MASA LALU !!!” &lt;br /&gt;Lantang, kuteriakkan kalimat keramat itu berulang kali. Yah, karena hanya saat ini aku akan mengucapkannya. Lagi dan lagi. Sampai aku benar-benar yakin, telah kutinggalkan masa lalu ku.&lt;br /&gt;“Tuuuuutttttttttt…”&lt;br /&gt;Kereta listrik itu akan segera tiba, aku bisa mendengar suaranya dari kejauhan. Suara dari gerbong yang akan mengakhiri masa lalu ku.  &lt;br /&gt;Kututup sepasang kelopak mataku yang putih pucat tertiup hembusan angin. Aku nikmati udara terakhirku. Udara dari masa lalu. Tiba-tiba bayangan itu muncul lagi. Lagi! Sejumlah kenangan yang mungkin tak akan aku lupakan. Seolah jiwa dan raga ku kembali ke waktu itu. 29 Desember 2007, 3 hari yang lalu di masa lalu ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih bertahan?!” &lt;br /&gt;Segaris senyum di hadapanku membuatku segera membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk lesu sambil lekat menatap matanya yang bersinar kecoklatan.&lt;br /&gt;“Sampai kapan?! Tahun akan segera berganti lagi. Kalau kamu terus bertahan di jurang sesempit ini, biar aku siapkan peti mati dan sebuah lubang rumah masa depan untukmu!”&lt;br /&gt;“Yah, boleh! Kalau uangmu cukup aku pesan dua. Aku mau kamu ada di sebelahku!”&lt;br /&gt;“TIDAKKK!!!”&lt;br /&gt;Galang berteriak histeris. Nafasnya terhenti seketika. Dia mati suri di depanku.&lt;br /&gt;Panggil aku Tiya. Si gadis belia yang bertahan hidup di dalam keluarga yang super bobrok, super kacau, super hancur, dan semua kata yang berarti sesuatu yang tidak menyenangkan boleh dipadukan dengan kata ‘super’ di atas.&lt;br /&gt;Sejujurnya aku tak tahan, hanya saja aku mencoba bertahan. Aku ini putri tunggal seorang pengusaha kecil yang bisnisnya lumayan berkembang. Dulu aku pernah punya seorang kakak lelaki, tapi dia sudah berpulang berkat kegagalan orangtua ku mendidik anak-anaknya. Bagaimana tidak?! Suhu udara di dalam rumah tak pernah sejuk, sekalipun pendingin udara dipasang di setiap ruangan. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir mereka berbincang mesra. Hari-hari bersama mereka lalui dengan pertengkaran. Kadang hanya makian yang menyayat hatiku, kadang satu perabot dapur terlempar ke lantai, kadang sebuah pintu kamar rusak setelah dibanting kuat-kuat. Tak hanya itu, kadang pria yang tak kukenal masuk ke kamar Ibuku, kadang sebaliknya, Ayah membawa wanita simpanannya pulang ke rumah.&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka?! Kalau mereka bertengkar di setiap detik mereka bersama, kenapa mereka menikah dan terus bersikeras mempertahankan pernikahan mereka? Lalu, tak ingatkah mereka padaku, pada kakakku?! Kami masih terlalu muda untuk kehilangan kehangatan keluarga. Yah, masih bagus aku tidak berpikir untuk mengikuti jejak kakakku. Meninggal di antara tumpukan jarum suntik dan obat-obatan terlarang.&lt;br /&gt;“Seperti tahun yang baru, seharusnya kamu memulai hidup baru. Tinggalkan yang tidak berguna dan cari yang bahagia. Buatlah sebuah perubahan. Ukir sebuah senyum, biarkan airmatamu mengering!”&lt;br /&gt;“Tak ada gunanya berpuitis seperti itu! Bilang saja kamu mau aku cepat-cepat menyusul Kak Tyas! Cepat pesan lubang masa depannya! Jangan lupa buat kamu tepat di samping aku! Aku sudah tidak sabar nih!”&lt;br /&gt;“Masih ingat tawaranku waktu itu kan?! Pertimbangkan sekali lagi! Aku beri tambahan waktu sampai malam tahun baru besok untuk keputusannya” jawabnya mengakhiri pembicaraan karena bel masuk pelajaran berikutnya sudah menggema di seluruh sudut sekolah.&lt;br /&gt;Awalnya aku kekeh untuk bertahan dan tetap berada di tengah-tengah keluarga ini apapun yang terjadi, karena bagaimanapun juga mereka keluargaku, Ayah dan Ibu yang membesarkanku. Sampai akhirnya tawaran itu datang dari Galang, teman dekatku. Dia menawarkan hidup baru yang lebih baik. Dan tawaran itu kini membuatku bimbang. Ada perasaan ingin melangkahi hidup yang baru tapi ada perasaan berat jika harus meninggalkan hidup yang kacau ini dengan di dasari ego. Ini tidak akan adil untuk Ayah dan Ibu ku. Tapi jika tidak kulakukan, sama saja ini tidak adil untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“RATIYA!!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!”&lt;br /&gt;Teriakan itu membuatku kembali pada diriku dan mengalihkan pandangan ke asal suara. Kulihat Galang melambaikan tangannya dari kejauhan. Tubuhnya bergerak semakin cepat mendekatiku.&lt;br /&gt;“TIDAK!!! TETAP BERDIRI DISITU, GALANG!!! JANGAN IKUT CAMPUR!!! INI HIDUPKU!!! INI HIDUPKU!!!”&lt;br /&gt;Kulihat Galang memperlambat langkahnya. Siapa perduli?! Dia tak akan bisa mencegah keinginanku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enam puluh… Lima puluh sembilan… Lima puluh delapan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara apa itu?! Itu kan… Aku tadi malam… Aku yang sedang menghitung mundur detik-detik terakhir pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lima puluh tujuh… Lima puluh enam… Lima puluh lima…”&lt;br /&gt;Kuarahkan pandanganku lekat ke luar jendela kamarku. Malam-malam pergantian tahun pada tahun-tahun sebelumnya, dari sini terlihat banyak kembang api di langit tepat pukul 12 malam. Malam ini aku ingin lebih menikmati pemandangan indah itu. Katanya di pusat kota akan ada pesta kembang api besar-besaran untuk pergantian tahun kali ini.&lt;br /&gt;“Lima puluh empat… Lima puluh tiga…”&lt;br /&gt;“PRANGGGG!!!”&lt;br /&gt;“Kyaaaaaaaaaa…”&lt;br /&gt;Suara dahsyat itu membuatku sontak menutup telinga sambil berjongkok di dinding jendela. Itu bukan suara kembang api yang terlalu awal di nyalakan, kan?! Bukan?!&lt;br /&gt;“BRAAAAAAKKKK!!!”&lt;br /&gt;“JAGA MULUTMU!!! PEREMPUAN JALANG!!!”&lt;br /&gt;Oh, itu suara Ayah! Entah benda-benda apa yang mereka buat senjata di lantai bawah sana?! Huh, masa tahun baru mereka bertengkar juga!!! Apa mereka tidak berpikir bahwa itu akan sangat menggangguku?!&lt;br /&gt;Kulirik jam dinding yang menempel dekat dengan foto keluarga yang sengaja kupajang dengan bingkai besar.&lt;br /&gt;Ah, aku kehilangan 20 detik yang berharga.&lt;br /&gt;“Tiga puluh satu… Tiga puluh… Dua puluh sembilan…”&lt;br /&gt;Tuhan, berikan aku kesabaran dua puluh sembilan detik lagi! Aku mohon, Tuhan!&lt;br /&gt;“Dua puluh delapan… Dua puluh tujuh… Dua puluh enam…”&lt;br /&gt;“AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!!!” suara Ibu.&lt;br /&gt;“KALAU BEGITU TUNGGU APA LAGI, KITA CERAI!!!” timpal Ayah.&lt;br /&gt;“PIKIRKAN KATA-KATAMU!!! OMONG KOSONG SAJA ISINYA!!! AKU SUDAH MEMINTANYA SEJAK DULU!!! TAPI KAMU TAK JUGA MENCERAIKANKU!!!”&lt;br /&gt;“AKU MEMIKIRKAN PERASAAN PUTRI KITA!!! TIDAK SEPERTI KAMU!!!”&lt;br /&gt;“DASAR BAJINGAN!!!”&lt;br /&gt;“BRAAAAAAKKKKKK!!!”&lt;br /&gt;“CUKUP!!! KALIAN SUDAH GILA!!!” teriakku tak tertahankan lagi.&lt;br /&gt;Aku segera bangkit dan bergegas keluar dari kamar. Tiba-tiba pandanganku kabur. Otakku terasa penuh. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Kubasuh mataku dengan telapak tangan yang kering karena dingin. Ah, ternyata airmataku sendiri yang membuat pandanganku kabur. &lt;br /&gt;“PYAARRR!!! PYAARRR!!! DHUAARRR!!!”&lt;br /&gt;Suara letupan kembang api yang khas menggema di telingaku. Dan aku baru saja kehilangan detik-detik itu. Detik-detik yang sudah berjam-jam kutunggu, sampai-sampai aku tak berani merebahkan tubuhku di kasur dengan selimut yang hangat.&lt;br /&gt;Kualihkan pandanganku ke arah jendela. Benar, langit berkilau api beraneka warna. Tapi pemandangan itu tidak lagi terasa menarik bagiku.&lt;br /&gt;Kata orang, tahun baru itu berarti harapan akan adanya perubahan menuju hidup baru yang lebih baik. Meninggalkan kenangan-kenangan tak berarti dan membungkusnya dalam selembar mimpi di malam terakhir. Membuka hari dengan segenggam pasir impian dan menaburkannya di setiap sudut doa. Menghitung waktu yang tak pernah berjalan mundur, di depan sana semoga masih ada kebahagiaan untukku. &lt;br /&gt;Happy New Year, Ratiya Damayanti ! &lt;br /&gt;Mungkin ini saatnya kamu mengakhiri penderitaan orangtua mu. Hanya ini yang bisa kamu lakukan untuk membalas jasa mereka membesarkanmu sampai bisa berpikir sedewasa ini.&lt;br /&gt;Cepat, kugerakkan kaki-kakiku menuruni tangga, menuju “penjara” mereka. Kulihat pintu kamar mereka tak tertutup, mereka asik perang di dalamnya. Tangan Ayah menggenggam sebuah vas bunga yang cukup besar, mungkin hendak ia layangkan ke kepala Ibu. Di sudut ruangan Ibu meringkuk ketakutan, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya bersimbah airmata.&lt;br /&gt;“Cukup!!! Permainan kalian selesai sampai disini!!!” ucapku lantang.&lt;br /&gt;“Tiya, sedang apa kamu disini, Sayang? Sudah malam, kenapa belum tidur?” tanya Ayah lembut seperti biasanya. Wajahnya bermain saat berbicara denganku, tapi tangannya tak bergeser sedikitpun. Terlihat sekali niatnya untuk mengadu vas bunga itu dengan kepala Ibu.&lt;br /&gt;“Jangan pura-pura manis lagi!!!” kurebut vas bunga dari tangan Ayah. “Kalian berdua iblis!!! Bukan orangtua biasa!!!” teriakku lagi.&lt;br /&gt;“PRAAAANGGGGG!!!”&lt;br /&gt;Kulemparkan vas bunga itu kuat-kuat ke luar kamar, melewati pintu yang masih terbuka lebar.&lt;br /&gt;“Sayang, maafkan Ibu! Gara-gara kami, kamu terbangun!” &lt;br /&gt;Ibu berlari hendak meraih pelukanku, tapi aku segera menghindar. &lt;br /&gt;“Kapan kalian sadar?!” lanjutku kali ini dengan suara pelan. “Kalian kira aku bahagia?! Kalian kira perasaanku terjaga karena keegoisan masing-masing dari kalian?! Seperti apa yang selama ini kalian harapkan?! Tidak! Aku sudah bilang sejak dulu sebaiknya kalian bercerai! Jangan pikirkan aku! Pikirkan hidup kalian dulu! Toh, akhirnya keputusan kalian membuatku merasa… tak ada artinya aku di keluarga ini. Dan lebih dari itu… kalian menghancurkan jiwaku, perasaanku… Aku tertekan… Jauh lebih tertekan dari apa yang dulu pernah dirasakan almarhum Kak Tyas. Kalian tahu, apa yang selama ini aku simpulkan atas hidupku yang kalian buat sedemikian rupa? Seharusnya sudah sejak dulu aku menyusul Kak Tyas. Mempertahankan hidupku sama dengan mempertahankan penderitaan kalian berdua. Sikap kalian yang egois membuatku merasa menjadi anak yang durhaka!”&lt;br /&gt;“Tidak, Tiya! Tidak! Bukan maksud Ayah untuk…”&lt;br /&gt;“Diam!!! Aku tak minta kalian menjelaskan apapun! Indera ku cukup sempurna untuk membaca semua permasalahan secara mendetail, bahkan lebih dari semua yang kalian sadari. Aku bukan anak kecil yang selamanya bisa kalian cekoki dengan kalimat yang manis dan bujukan-bujukan yang menyenangkan. Semuanya harus berakhir sekarang!”&lt;br /&gt;“Tiya…”&lt;br /&gt;“Kalau aku pergi, aku yakin tidak akan ada lagi yang menghalangi perasaan kalian untuk berpisah! Iya, kan?! Karena itu aku akan pergi!”&lt;br /&gt;“Tiya, jangan pergi! Kamu mau kemana?! Kamu harus tetap bersama kami!”&lt;br /&gt;“Ibu tidak perlu khawatir! Aku ingin bersama Kak Tyas lagi, itu saja!”&lt;br /&gt;“TIDAK!!! TIDAK TIYA!!! TIDAK!!!” &lt;br /&gt;Ibu berteriak histeris mendengar jawabanku. Reaksinya membuatku tak mampu menahan bendungan airmata. Aku bahkan tak mampu lagi menahan emosiku.&lt;br /&gt;“Aku ingin melihat kalian bahagia!!! Aku juga ingin hidupku bahagia!!! Dan itu semua tidak akan pernah kudapati kalau aku terus berada diantara kalian!!! Mengertilah!!!”&lt;br /&gt;“Jangan lakukan hal bodoh itu! Kami janji akan lakukan apapun yang kamu minta! Kami tidak ingin kehilangan kamu, Tiya!”&lt;br /&gt;“Aku juga tidak ingin kehilangan kalian! Tapi aku lebih tidak ingin mempercayai kalian lagi! Selamat tinggal Ibu, Ayah!!! Semoga kalian bahagia dengan hidup baru kalian tanpaku!”&lt;br /&gt;Dengan yakin kumelangkah keluar dari kamar mereka. Sebelum akhirnya Ayah menarik tubuhku kuat-kuat untuk menghalangi niatku.&lt;br /&gt;“Kamu tidak boleh melakukannya!!! Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi!!!”&lt;br /&gt;“Ayah tidak bisa mengatur hidupku!!! Lepaskan aku!!!”&lt;br /&gt;Dengan sedikit kasar aku mendorong tubuh tinggi Ayah menjauhiku. Hampir ia hilang keseimbangan dan terjatuh.&lt;br /&gt;“Maaf!!! Jangan cari aku!!! Karena aku tidak akan ada lagi dimanapun?! Sekalipun  berbentuk mayat!!!”&lt;br /&gt;Dengan cepat aku lari ke luar rumah. Kulihat mereka mengejarku. Tapi aku sendiri tahu mereka tak akan mampu mengejarku. Karena untuk pertama kalinya aku begitu bersemangat lari dari kenyataan hidupku, aku akan lari sekencang mungkin. Meninggalkan masa lalu. Mencari hidup yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubuka mataku. Kulayangkan pandangan mataku pada langit yang biru. Pagi yang indah.&lt;br /&gt;Kudengar suara gerbong kereta listrik itu semakin mendekat, kira-kira 50 meter di dekat ku. Suaranya terdengar indah.&lt;br /&gt;Semakin mendekat… Semakin mendekat…&lt;br /&gt;Berbaur dalam satu suara, Galang berteriak memanggil namaku. Ternyata suara Galang terdengar merdu, atau hanya perasaanku saja.&lt;br /&gt;Angin di sekitarku semakin kuat berhembus. Tanda bahwa jarak antara aku dengan kereta itu sudah sangat dekat. Berarti, sudah saatnya.&lt;br /&gt;“SELAMAT TINGGAL MASA LALU!!!”&lt;br /&gt;Detik berikutnya kurasakan tubuhku terlempar dari tempatku berdiri semula. Aku terguling di atas tanah berumput basah. Bersama Galang yang memeluk tubuhku erat-erat.&lt;br /&gt;“Galang, lepaskan aku?!”&lt;br /&gt;“Tidak akan! Sebelum pikiranmu kembali waras?!”&lt;br /&gt;“Aku tidak gila, Galang! Lepaskan aku!”&lt;br /&gt;“Kamu hendak membiarkan tubuhmu tergilas barisan gerbong itu dan kamu berpikir kalau itu tindakan waras. Apa itu bukan gila namanya?!”&lt;br /&gt;“Hahaha!!! Kamu pikir aku manusia yang sepicik itu, manusia yang rela tubuhnya digilas kereta listrik?! Aku belum mau mati!”&lt;br /&gt;“Tapi, kalau aku tidak mendorong tubuhmu…”&lt;br /&gt;“Aku akan melompat dengan sendirinya! Ah, kamu mengganggu ritualku! Aku kan sudah bilang, perhatikan saja dari jauh!” protesku.&lt;br /&gt;“Kamu benar-benar gila, Tiya!” cibirnya pelan.&lt;br /&gt;“Galang, aku terima tawaranmu! Aku bersedia menjadi anggota baru keluargamu! Mulai sekarang juga aku akan jadi adik yang manis untukmu!” ucapku sembari mengumbar senyum.&lt;br /&gt;“Kalau aku meminta lebih bagaimana?!”&lt;br /&gt;“Itu urusan nanti…”&lt;br /&gt;“Oke! Selamat datang di hidupmu yang baru, Ratiya Damayanti!”&lt;br /&gt;“Maaf, Ratiya Damayanti baru saja mengakhiri hidupnya di atas lintasan kereta! Perkenalkan, namaku Gemintang!”&lt;br /&gt;Ratiya sudah mati, dipagi hari setelah ia meninggalkan keluarganya. Dia sudah menyusul kakaknya di surga. Semua orang harus tahu itu. Dan mereka harus percaya itu. Ratiya sudah mati tergilas kereta api dan jasadnya menghilang begitu saja.&lt;br /&gt;Selamat tinggal, Ratiya! Selamat tinggal masa lalu mu!&lt;br /&gt;TAPI…&lt;br /&gt; GEMINTANG, SELAMAT DATANG DI HIDUP YANG BARU!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*   *   *     TAMAT     *   *   *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-8282911790531618503?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/8282911790531618503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=8282911790531618503&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8282911790531618503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8282911790531618503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/tahun-baru-tiya.html' title='TAHUN BARU TIYA'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7647139736429322757</id><published>2008-10-17T02:50:00.002-07:00</published><updated>2008-10-17T02:51:50.996-07:00</updated><title type='text'>JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL (JILFest) 2008 (FESTIVAL SASTRA JAKARTA)</title><content type='html'>LOMBA MENULIS CERPEN BERLATAR JAKARTA&lt;br /&gt;Kerja Sama:&lt;br /&gt;Komunitas Sastra Indonesia (KSI)&lt;br /&gt;Komunitas Cerpen Indonesia (KCI)&lt;br /&gt;Dinas Kebudayaan dan Permuseuman&lt;br /&gt;Provinsi DKI Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Pemikiran&lt;br /&gt;Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, kota internasional, dan berbagai predikat lainnya –yang melekat pada reputasi dan nama baik Jakarta yang merepresentasikan citra Indonesia— memiliki arti penting tidak hanya bagi warga Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Artinya, posisi Jakarta sangat strategis bagi usaha mengangkat keharuman Indonesia serta menjalin kerja sama budaya untuk memperkenalkan Indonesia ke pentas dunia.&lt;br /&gt;Dalam khazanah kesusastraan Indonesia, Jakarta dengan berbagai kekayaan kebudayaannya, keberagaman masyarakatnya, percepatan pembangunannya, dan latar geografik dan latar alamnya yang memancarkan perpaduan modernisme dan eksotisme, telah sejak lama menjadi lahan garapan para sastrawan Indonesia, bahkan juga sastrawan dari mancanegara. Kini, selepas memasuki alaf baru dan zaman ingar-bingar reformasi, sejauh manakah Jakarta masih memancarkan pesonanya, auranya yang menyebarkan daya tarik, dan semangat yang merepresentasikan keindonesiaan.&lt;br /&gt;Dalam kaitan itulah, lomba penulisan cerita pendek berlatar atau bertema tentang Jakarta, akan menawarkan catatan estetik yang khas, sekaligus juga universal dalam sebuah kemasan karya sastra. Maka, karya itu hadir sebagai totalitas kreativitas pengarang. Tanpa itu, latar atau tema Jakarta hanya akan menjadi sesuatu yang artifisial, tempelan, dan tidak menyodorkan ruh Jakarta sebagai representasi keindonesiaan.&lt;br /&gt;Tema&lt;br /&gt;Cinta, kemanusiaan, dan persahabatan.&lt;br /&gt;Deskripsi Latar&lt;br /&gt;Mampu menggambarkan Jakarta sebagai pintu masuk memahami kekayaan budaya dan masyarakat Indonesia dalam menerima dan berhadapan dengan urbanisasi, kosmopolitanisasi dan globalisasi peradaban dunia.&lt;br /&gt;Tujuan Kegiatan&lt;br /&gt;1. Mengenalkan lebih dekat Jakarta sebagai kota budaya dan wisata dengan berbagai kekayaan hasil peninggalan sejarah dan cipta budayanya kepada masyarakat dunia.&lt;br /&gt;2. Mempromosikan Jakarta sebagai daerah tujuan wisata dan tempat yang menarik untuk latar penulisan karya-karya sastra dan produksi karya seni lainnya.&lt;br /&gt;Ketentuan Umum&lt;br /&gt;1. Lomba ini terbuka bagi warga dunia (warga Indonesia dan warga asing)&lt;br /&gt;2. Biodata dan alamat lengkap (termasuk nomor telepon, ponsel, dan e-mail) disertakan di luar naskah lomba.&lt;br /&gt;3. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah lomba.&lt;br /&gt;4. Naskah lomba belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.&lt;br /&gt;5. Naskah lomba ditulis dalam bahasa Indonesia dan merupakan karya asli.&lt;br /&gt;6. Naskah lomba dikirim kepada Panitia sebanyak 5 (lima) kopi, disertai CD atau flash disk berisi file naskah, selambat-lambatnya tanggal 10 November 2008 (stempel pos).&lt;br /&gt;7. Di sebelah kiri amplop hendaknya ditulis “Lomba Menulis Cerpen JILFets 2008″.&lt;br /&gt;8. Naskah lomba dialamatkan kepada:&lt;br /&gt;Sekretariat Panitia Lomba Menulis Cerpen&lt;br /&gt;Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2008&lt;br /&gt;Gedung Nyi Ageng Serang Lantai 6&lt;br /&gt;Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Indonesia.&lt;br /&gt;Ketentuan Khusus&lt;br /&gt;1. Penjabaran tema dalam cerita dan penggambaran latarnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.&lt;br /&gt;2. Panjang karangan antara 8.000-15.000 karakter (with space), atau 4-8 halaman ketik 1,5 spasi, kertas ukuran A4 dengan huruf standar (Times New Roman, 12).&lt;br /&gt;3. Peserta lomba adalah perseorangan, bukan kelompok.&lt;br /&gt;4. Merupakan karya asli, bukan terjemahan ataupun saduran. Penjiplakan atas karya orang lain dalam bentuk apa pun, tidak dibenarkan, dan panitia berhak membatalkan keikutsertaannya dalam lomba ini.&lt;br /&gt;5. Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak diadakan surat-menyurat.&lt;br /&gt;Ketentuan Lain&lt;br /&gt;1. Pengumuman Lomba dan penyerahan hadiah akan diselenggarakan pada acara khusus dalam rangkaian JILFest 2008.&lt;br /&gt;2. Juara 1—3 akan diundang untuk mengikuti JILFest 2008 di Jakarta.&lt;br /&gt;3. Hak Cipta ada pada pengarang.&lt;br /&gt;4. Sebanyak 20 cerpen pilihan berikut karya para pemenang akan diterbitkan dalam bentuk buku, dan diupayakan akan diluncurkan serta didiskusikan dalam JILFest 2008 di Jakarta.&lt;br /&gt;5. Panitia berhak mengedit kesalahan pengetikan dalam cerpen.&lt;br /&gt;Hadiah dan Honorarium&lt;br /&gt;Juara 1 Rp 5.000.000,00&lt;br /&gt;Juara 2 Rp 4.000.000,00&lt;br /&gt;Juara 3 Rp 3.000.000,00&lt;br /&gt;Juara Harapan 1 Rp 2.500.000,00&lt;br /&gt;Juara Harapan 2 Rp 2.000.000,00&lt;br /&gt;Juara Harapan 3 Rp 1.500.000,00&lt;br /&gt;Penghargaan untuk 20 cerpen pilihan berupa honor yang layak bagi penulisnya.&lt;br /&gt;Keterangan Lain:&lt;br /&gt;Juara 1—3 akan diundang ke Jakarta atas biaya Panitia (tiket, akomodasi, dan konsumsi). Keterangan lengkap tentang lomba ini dapat dilihat pada laman (web site) www.jilfest.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;PANITIA PELAKSANA&lt;br /&gt;JILFest 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7647139736429322757?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7647139736429322757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7647139736429322757&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7647139736429322757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7647139736429322757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/jakarta-international-literary-festival.html' title='JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL (JILFest) 2008 (FESTIVAL SASTRA JAKARTA)'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-983790465710335670</id><published>2008-10-17T02:50:00.001-07:00</published><updated>2008-10-17T02:50:50.594-07:00</updated><title type='text'>BERHARAP KAU TETAP DI SINI</title><content type='html'>Karya : OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam saat kau pergi dari sisi ku&lt;br /&gt;Masih adakah tentang aku yang kau rasakan coba kau rasakan &lt;br /&gt;Mudahkah kau hapuskan rasa ku dari dalam diri mu &lt;br /&gt;Hingga waktu beranjak pergi tak mampu ku hapus bayang mu&lt;br /&gt; Ku kan selalu berdiri menanti mu&lt;br /&gt; Dikala aku sedih dan senang bahkan kesepian tanpa mu&lt;br /&gt; Apa pun yang kau lakukan baik atau buruk tetap indah untuk aku&lt;br /&gt; Menunggu mu dan mendekap mu dalam damai jiwa &lt;br /&gt;Karna mu adalah bayang ku yang selalu menemani ku tanpa lelah dan she adalah savana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bandung 29 juli 1999&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-983790465710335670?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/983790465710335670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=983790465710335670&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/983790465710335670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/983790465710335670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/berharap-kau-tetap-di-sini.html' title='BERHARAP KAU TETAP DI SINI'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7634365529193252250</id><published>2008-10-17T02:49:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T02:50:12.115-07:00</updated><title type='text'>HILANG DARI SAVANA</title><content type='html'>Karya : OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu purnama tanpa bayang sosokmu&lt;br /&gt;Tanpa suara mu tanpa jiwa mu&lt;br /&gt;Hingga ku cari dirimu dalam imajinasi&lt;br /&gt;kau masih terbungkus indah di sanubari&lt;br /&gt;Terjerat dalam kegundahan dan singgah di hati mendalam&lt;br /&gt; Tak terbiasa tanpa mu bersahabat dengan kesunyian&lt;br /&gt; Sunyi di lingkaran penuh keramaian&lt;br /&gt; Coba tuk menjadi seekor bunglon namun bukan aku&lt;br /&gt; Karna aku embun di pagi hari yang sirna selepas mentari menghangat&lt;br /&gt; Entah siapa lagi yang bakal ku temani di pagi buta selain mu&lt;br /&gt;Savana masih kurindukan dirimu&lt;br /&gt;Sampai kau mampu hancurkan diriku&lt;br /&gt;Yang terlanjur sudah kuberikan kepada mu&lt;br /&gt;Berharap dan cuma harapan mengisi pagi buta &lt;br /&gt;Tersadar kau hilang dari diri ku&lt;br /&gt;Tanpa arti aku tanpa mu&lt;br /&gt; TUHAN apakah kau senang melihat aku tanpa arti&lt;br /&gt; Tanpa savana bahkan Kau hilangkan ia dari imajinasi ku&lt;br /&gt; Kenapa kau tak membunuh aku saja dari pada aku tanpa arti menjadi embun lagi&lt;br /&gt; Savana mengapa kau pergi saat aku tak ada di sisi mu&lt;br /&gt; Savana jawab bangkit jangan terdiam membisu tak bergerak&lt;br /&gt;Kembalilah kau savana aku rindu dirimu &lt;br /&gt;      Bandung 28 juli 1999&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7634365529193252250?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7634365529193252250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7634365529193252250&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7634365529193252250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7634365529193252250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/hilang-dari-savana.html' title='HILANG DARI SAVANA'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7538994521782324926</id><published>2008-10-17T02:48:00.002-07:00</published><updated>2008-10-17T02:49:30.510-07:00</updated><title type='text'>DARI KU UNTUK SAVANA KU TERCINTA</title><content type='html'>Karya : OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma kembang setaman iringi sepanjang jalan&lt;br /&gt;Hingga ku tak bisa mengantar mu menghadap Ilahi&lt;br /&gt;Kenagan bersamu tak terbayangkan indah&lt;br /&gt;Tak mampu berharap kau tetap disini&lt;br /&gt;Meski aku yang tinggalkan mu&lt;br /&gt; Mau ku kau tetap di dalam jiwa &lt;br /&gt; Terbuai indah dalam sanubari&lt;br /&gt; Diapit degup jantung mengalir dalam darah&lt;br /&gt; Air mata melepas mu dalam pembaringan abadi&lt;br /&gt; Dirimu abadi di jiwa ku sampai ku beranjak ke pembaringan terakhir&lt;br /&gt;Cinta dan semangatmu selalu menjadi insfirasi di detak-detak langkah dan hati&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;       Bandung 25 juli 1999&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7538994521782324926?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7538994521782324926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7538994521782324926&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7538994521782324926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7538994521782324926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/dari-ku-untuk-savana-ku-tercinta.html' title='DARI KU UNTUK SAVANA KU TERCINTA'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-6284708776515099143</id><published>2008-10-17T02:48:00.001-07:00</published><updated>2008-10-17T02:48:47.566-07:00</updated><title type='text'>SAVANA UNTUK AKU</title><content type='html'>Karya : OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin barat antarkan keping-keping penuh bulan&lt;br /&gt;Gelombang isyaratkan gundah hati&lt;br /&gt;Di iris senyum merambat kemurnian jiwa&lt;br /&gt;Tersirat kabar malaikat menjemput mimpi&lt;br /&gt;Pinggir hayalan iri tak dijemput&lt;br /&gt; Isyarat waktu menggapai harap savana untuk aku&lt;br /&gt; Berharap angan-angan melambung bersama merpati&lt;br /&gt; Untuk savana maukah logam mulia bulat lingkar ku tambatkan&lt;br /&gt; Seyum cinta embun menjawab gundah sehidup pohon ara&lt;br /&gt; Titik fokus cahaya membias di binar-binar mata savana&lt;br /&gt;Trima kasih savana untuk mu arti kehidupan semakin penuh warna arti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Jakarta 18 Desember 1998&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-6284708776515099143?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/6284708776515099143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=6284708776515099143&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6284708776515099143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6284708776515099143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/savana-untuk-aku.html' title='SAVANA UNTUK AKU'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-6931078519886422986</id><published>2008-10-17T02:47:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T02:48:05.550-07:00</updated><title type='text'>KEPULAN MEMBINGKAI MALAM</title><content type='html'>Karya : OP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di baris-baris asap tertengger elang tanpa bulu&lt;br /&gt;Muda-mudi asik membakar ranting pohon&lt;br /&gt;Ditemani unggas telanjang diatas perapian&lt;br /&gt;Semerbak harum mengugah perut-perut lapar&lt;br /&gt;Hingga tersisa tulang-tulang unggas&lt;br /&gt; Terlelab usai nina bobo bintang &lt;br /&gt; Barisan api merambat kepinggir-pinggir&lt;br /&gt; Binasakan rerumputan meranggas &lt;br /&gt; Membangunkan serangga tuk berlarian berhamburan&lt;br /&gt; Muda-mudi tergeletak tanpa daya&lt;br /&gt;Tercabut ajal di panggang api&lt;br /&gt;TUHAN ingatkan mereka tuk sadar&lt;br /&gt;Namun mereka tertawa terbahak-bahak&lt;br /&gt;Semerbak hangus mengisi rongga hidung&lt;br /&gt;Di seret-seret ayir darah terbakar&lt;br /&gt;     Kalimantan 8 maret 06&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-6931078519886422986?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/6931078519886422986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=6931078519886422986&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6931078519886422986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6931078519886422986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/kepulan-membingkai-malam.html' title='KEPULAN MEMBINGKAI MALAM'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7948630747063869302</id><published>2008-10-17T02:44:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T02:46:55.769-07:00</updated><title type='text'>Masih Adakah Bintang di Langit</title><content type='html'>Oleh : Ressa Novita (Ocha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, lagi-lagi langit tak berbintang !" keluhku pelan saat tertimpa cahaya langit yang malam ini dan malam-malam sebelumnya hanya milik rembulan.&lt;br /&gt;Kulanjutkan langkahku menaiki tangga untuk sampai di tempat favoritku, atap rumah. Sesampainya di tempat ini biasanya, aku langsung menyilangkan kakiku dan duduk di lantai atap yang tak bergenting. Biasanya. Tapi kali ini, sekejap mood-ku hilang setelah mendapati langit yang tak seindah biasanya.&lt;br /&gt;Apa aku turun saja ya? Tapi, nanti Rysta heran kalau tahu aku cepat turun dan dia akan mengira kalau bintang Mama sudah jatuh dari langit.&lt;br /&gt;Sebenarnya bintang-bintang itu kemana sih?!&lt;br /&gt;"Kak, Mama terlihat jelas dari atas sana kan?" teriak Rysta, adikku satu-satunya.&lt;br /&gt;Mama kami seorang single parent. Merawat kami seorang diri, sementara Papa tak lagi ingat pulang semenjak kepincut janda muda di kantornya. Kami sudah melupakannya, apalagi waktu sudah berlalu hampir 10 tahun sejak kepergiannya. Mungkin dia sudah punya keluarga baru, istri-istri baru dan anak-anak baru. Aku harap dia tidak akan kembali lagi! Yah, jangan sampai dia kembali! Karena aku akan membakarnya hidup-hidup untuk membalas perlakuannya pada kami.&lt;br /&gt;Sejak kepergian Papa, kondisi kesehatan Mama menurun drastis. Mama mulai sakit-sakitan sedangkan kami tidak tahu harus berbuat apa. Saat itu kami masih sangat kecil, aku berumur 10 tahun dan Rysta baru berumur 7 tahun. Apa yang bisa kami lakukan selain menangisi Mama yang semakin hari kondisinya semakin memburuk.&lt;br /&gt;"Rasty! Rysta! Lihatlah bintang di langit jika nanti kalian merindukan Mama. Setelah ini mama ingin pergi ke surga dan menjadi bintang di langit, agar Mama bisa selalu menemani malam-malam kalian yang sepi. Temukanlah bintang yang sinarnya paling terang, percayalah itu Mama"&lt;br /&gt;Kami ingat betul dan tak akan pernah lupa. Mama berpesan seperti itu sebelum ia nafas terakhirnya berhembus dan menutup matanya dari kejamnya hidup. Sebelum ia meninggalkan kami sebatang kara.&lt;br /&gt;"Kak, bintang Mama ada kan?!" teriak Rysta sekali lagi, membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;"Ya, tentu saja Rys! Mama nggak akan meninggalkan kita. Dia di atas sana bersinar indah sekali, lebih indah dari biasanya. Selain bintang Mama, ada ratusan bintang lainnya, awan-awan putih yang melayang terbawa angin, rembulan yang bersinar terang dan burung-burung malam yang beterbangan kesana kemari. Langit malam hari ini indah sekali!" jawabku dengan sangat tidak jujur.&lt;br /&gt;Setiap ada waktu senggang di malam hari aku selalu kesini, atau kemanapun yang dapat kumelihat langit dengan jelas. Tapi ini sudah hari ke enam aku tidak menemukan rembulan yang ditemani bintang-bintang.&lt;br /&gt;Dimana mereka?! Berpindah ke tempat lain mungkin?! Kehabisan cahaya?! Atau mungkin mereka sudah tidak ada di langit?! Mati dan jatuh ke bumi?! Kasihan langit malam. Rembulan terlihat merenung kesepian dan burung-burung malam seolah enggan bergumul riang.&lt;br /&gt;"Kak, andai Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat sekali saja, satu menitpun tidak apa-apa!. Aku ingin melihat langit malam dan mengenali satu bintang sebagai bintang Mama. Kak, tolong sampaikan salam sayangku ke Mama ya! Dan bilang juga, jangan lupa datang lagi besok malam!"&lt;br /&gt;Semoga suatu hari nanti harapan Rysta tidak hanya sebatas mimpi. Semoga Tuhan mengabulkan doa-doanya agar sekali saja ia dapat melihat dunia. Tapi, ada baiknya juga adikku yang manis itu tidak dapat melihat, aku kira kekurangan itu selamanya hanya akan menimbulkan masalah. Dengan begini Rysta yang cengeng tidak akan tahu kalau langit malam begitu polos tanpa bintang dan dia tidak akan merajukkan kerinduannya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*     *     *&lt;br /&gt;"Apa?! Kamu bilang bintang itu sudah tidak ada lagi di langit?! Hahaha… Memangnya mereka mau transmigrasi ke mana?! Ke dasar laut?! Hahaha" Bima balik bertanya dan membumbui semua pertanyaan dengan ejekan.&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana kamu menjelaskan dimana bintang-bintang sekarang?! Sudah berhari-hari aku tidak melihatnya!" balasku tak mau kalah.&lt;br /&gt;"Aku masih tidak mengerti. Dua orang gadis cantik setiap malam memandangi bintang hanya karena ibunya berkata kalau setelah meninggal ia akan menjadi bintang. Dan kedua gadis yang sudah dewasa itu masih saja percaya. Ibumu mengatakan itu semua agar kalian yang waktu itu masih kanak-kanak tidak akan terlalu sedih setelah kehilangan dia. Itu saja. Tidak ada alasan lain! Lalu kenapa kalian masih mempercayainya sampai kalian sebesar ini?! Rasty, apa pertumbuhan otakmu tak secepat tubuhmu?!" ucapnya sambil mengetuk-ngetuk pelan kepalaku dengan kepalan tangannya. "Bagaimana kamu menjelaskannya?!" lanjutnya serius.&lt;br /&gt;"Entahlah, aku sendiri bingung kenapa aku terus mempercayainya. Aku tahu semua itu hanyalah cara Mama untuk mengurangi kesedihan kami. Tapi, hatiku bilang aku percaya dan aku tidak ingin kehilangan Mama yang kini menjadi bintang di langit"&lt;br /&gt;"Tidak perlu sampai seperti ini kan?!"&lt;br /&gt;"Paling tidak aku tidak ingin menghancurkan kepercayaan Rysta!" ucapku dengan nada sedikit kesal. "Biar dia terus percaya dan bermimpi di dalam kegelapan hidupnya! Biar dia terus merasakan keberadaan Mama didekatnya lewat bintang, meskipun itu semua benar-benar sebuah dongeng! Dan Mama tidak pernah menjadi bintang atau apapun di atas langit yang menemani malam-malam kami"&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri, aku malah menitikan air mata. Kalau bintang itu tidak ada sama saja Tuhan melukai Tari yang sejak lahir sudah dibekali luka.&lt;br /&gt;"Masih ada bintang di langit, Ras! Kamu memang terlalu bodoh, sampai-sampai beranggapan kalau bintang sudah tidak ada lagi. Tapi jangan sedih, bintang akan terus ada di langit! Tidak akan pernah pergi meninggalkan orang-orang yang mencintai mereka"&lt;br /&gt;Ucapan Bima menenangkan hatiku. Jari tangannya yang lembut menghapus airmata di pipiku. Ternyata aku tidak salah mencintainya. Dia pandai masalah perbintangan.&lt;br /&gt;"Benarkah?" tanyaku menahan isak.&lt;br /&gt;"Bintang itu segumpal benda seperti batu yang besar dan melayang-layang di ruang angkasa, mereka terkena cahaya matahari dan memantulkan cahaya itu kembali ke bumi. Dan masalah bintang-bintang itu terlihat atau tidak, dipengaruhi oleh kondisi langit di bumi. Jaman dahulu kala waktu bumi masih merupakan hamparan hutan dan perairan yang dihuni sekelompok kecil manusia dan hewan-hewan purba, langit malam itu seperti lautan bintang. Isinya cuma bintang semua dan satu bulan tentunya. Karena dulu tidak ada yang namanya pencemaran udara. Tidak ada limbah pabrik, tidak ada asap kendaraan bermotor, tidak ada asap rokok, juga tidak ada pembangunan gedung-gedung mewah yang menyebabkan penebangan pohon disana-sini. Pencemaran udara itu yang membuat bintang-bintang tak lagi terlihat, sekalipun ada paling hanya beberapa jumlahnya. Langit di bumi jaman sekarang, tidak lagi punya banyak oksigen, malah dipenuhi dengan carsinogen. Hari ini mungkin baru bintang yang tidak terlihat, beberapa tahun ke depan mungkin bulanpun hanya terlihat samar-samar, atau bahkan tak terlihat sama sekali. Yang paling parah polusi-polusi itu akan melahap seluruh atmosfir pelindung bumi, dan bumi kita yang indah ini akan hangus tertelan panas matahari"&lt;br /&gt;"Hiiiii.."&lt;br /&gt;"Kok, malah Hiiii…?! Kamu itu bego atau pura-pura bego sih?! Masa masalah global warming yang akhir-akhir ini heboh diperbincangkan masyarakat sedunia, kamu nggak tahu sich! Kita ini sudah masuk tahap awal untuk tertelan panas matahari tahu!"&lt;br /&gt;"Nggak tahu!"&lt;br /&gt;"Bukannya nggak tahu, tapi nggak mau tahu!"&lt;br /&gt;"Jadi bintang sudah tidak ada lagi di langit! Bagaimana aku menjelaskannya kepada Rysta?!"&lt;br /&gt;"Aduh, Rasty! Susah banget sih ngasih tahu kamu! Masih ada bintang di langit! Masih ada! Masih ada! Masih ada!" teriak Bima gemas.&lt;br /&gt;"Lalu bagaimana aku bisa percaya kalau bintang masih ada?! Sedangkan aku saja sudah tidak melihatnya lagi di langit manapun!"&lt;br /&gt;"Kita lihat malam di daerah yang belum berpolusi?!"&lt;br /&gt;"Dimana?!"&lt;br /&gt;"Nggak tahu! Makanya kita harus cari sama-sama"&lt;br /&gt;Hari itu kami menunggu malam sampai mulai meninggi. Bima merogoh saku celananya dan mengambil kunci mobil kesayangannya.&lt;br /&gt;"Ayo, kita cari bintang Mama mu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*     *    *&lt;br /&gt;"Dimana?! Bintang, kamu dimana?! Bima, kamu lihat kan?! Bintang nggak ada dimana-mana?! Hanya ada bulan, awan! Hanya ada bulan dan awan!"&lt;br /&gt;Aku terjatuh lemas ke atas tanah bukit hijau yang berumput basah. Airmataku ikut membasahi rerumputan itu. Sudah hampir pukul 1 malam. Dan aku belum bisa meyakinkan diriku sendiri kalau bintang masih ada di langit. Begitu banyak tempat yang masih jauh dari keramaian yang sudah kami datangi, tapi aku belum melihat satu bintang pun.&lt;br /&gt;"Bintang masih ada, Rasty! Bintang masih ada! Percayalah! Kamu jangan bertingkah seperti anak kecil begini dong!"&lt;br /&gt;"Aku memang anak kecil! Seharusnya kamu menyadari itu dari awal! Aku anak kecil yang percaya dongeng, yang masih percaya kalau Mamaku ada diantara bintang-bintang itu. Selamanya aku akan menjadi anak kecil agar aku terus percaya. Mama…Mama"&lt;br /&gt;"Rasty"&lt;br /&gt;"Mamaku begitu hebat, dia bilang dia bintang, dan dengan cara sederhana itu dia meyakinkan kami untuk tetap bertahan hidup. Dia meyakinkan kami, anak yatim piatu yang sendiri di sebuah rumah besar untuk percaya kalau kami tidak sendiri dalam kesendirian sehebat apapun. Dia meyakinkan kami, dia akan selalu ada bersama kami. Setiap saat kami melihat langit malam, semangat yang mati itu kembali tumbuh. Hanya dengan meyakini bintang itu adalah Mama, aku bertahan sampai sebesar ini"&lt;br /&gt;"Rasty.."&lt;br /&gt;"Seharusnya kamu berterimakasih padanya! Coba kalau dia tidak bicara seperti itu, kamu tidak mungkin mengenal gadis sebaik aku dan calon adik ipar semanis adikku. Tidak mungkin!" ucapku setengah berbisik sambil mencoba tertawa riang. "Aku pasti sudah gila! Atau mungkin aku sudah mati menyusulnya! Mungkin aku akan memilih hidup liar di kota yang ramai! Membuang Rysta yang setiap saat menyusahkanku! Dan mencari kesenangan sendiri untuk melupakan semua keputusasaan!" teriakku menumpahkan semua perasaan yang tersimpan.&lt;br /&gt;Setelah itu aku menangis, merengek pedih sekeras yang aku bisa. Bima hanya diam, tubuhnya memeluk tubuhku dari belakang. Hangat yang berusaha menenangkanku.&lt;br /&gt;"Aku tidak ingin bintang pergi dari malam-malamku! Tidak ingin semangat tunggal itu hilang, Bima… Aku nggak mau"&lt;br /&gt;"Aku tahu.. Aku mengerti kesedihanmu. Kalau tidak ada lagi bintang di langit, aku bersedia menggantikannya, sayang! Selamanya!" kata-kata Bima yang lembut semakin menenangkanku. Kuseka airmata yang membasahi pipiku. Isakanku mereda.&lt;br /&gt;Bima mencondongkan wajahnya di samping wajahku, hingga aku bisa melihat senyum yang menutupi kekhawatiran di bibirnya.&lt;br /&gt;"Kamu tahu nggak? Sebenarnya, aku sudah pernah bertemu dengan Mamamu beberapa hari sebelum Mamamu dirawat di rumah sakit. Mamamu memintaku menjadi bintang di bumi, kalau bintang di langit sudah tidak ada. Mamamu minta aku untuk menyinari kalian dengan cahayaku sendiri, bukan dengan cahaya matahari seperti yang dimiliki bintang-bintang di langit. Nah, dengan begitu kamu tidak perlu lagi menunggu malam dan mencari bintang. Cukup melihatku saja kamu bisa melepaskan kerinduanmu pada Mamamu. Dan yang lebih hebatnya, kamu bisa memelukku sepuas-puasnya. Anggap saja aku ini Mamamu!"&lt;br /&gt;Mendengar gurauannya, airmataku kembali mengisi pelupuk mataku. Airmata haru.&lt;br /&gt;Apa selama ini aku menutup mata? Pria ini lebih dari kekasihku. Aku tak bisa menahan tawa yang meluncur mengiringi airmataku. Aku serasa kembali memiliki seorang Papa.&lt;br /&gt;"Papa" panggilku manja, sambil memberikannya pelukan seorang anak.&lt;br /&gt;Kususupkan wajahku di bahunya yang hangat.&lt;br /&gt;"Aku bukan Papamu!" jawabnya lembut, dan membiarkanku memeluknya erat-erat.&lt;br /&gt;"Papa" panggilku lagi, sengaja meledeknya.&lt;br /&gt;"Rasty"&lt;br /&gt;"Ehm…"&lt;br /&gt;"Apa yang kamu sedang lihat di belakang punggungku?!"&lt;br /&gt;"Rerumputan yang basah oleh embun dan tertimpa sedikit cahaya benda-benda langit"&lt;br /&gt;"Kamu tidak ingin melihat langsung cahaya benda-benda langit itu?! Indah sekali"&lt;br /&gt;Tanpa melepaskan pelukan, kutegadahkan kepalaku dengan sedikit menyimpan tanda tanya. Dan…&lt;br /&gt;"Bintang!!!"&lt;br /&gt;Langit malam berbintang. Tidak banyak. Hanya beberapa. Dan satu diantaranya bersinar begitu terang, seolah menggodaku untuk menggapainya.&lt;br /&gt;Kujauhkan tubuh Bima dengan sedikit kasar, sampai-sampai ia jatuh terlentang keatas tanah berumput yang basah.&lt;br /&gt;Aku berlari sekencang mungkin menaiki puncak bukit yang tertinggi. Menari bersama bintang.&lt;br /&gt;Mama, semangat darimu tidak mati bersamamu! Masih ada bintang di langit! Bintang Mama yang tak akan pernah pudar ataupun jatuh! Jangan pergi, bintang! Jangan pergi lagi! Akan aku jaga kalian yang tak sebanyak dulu! Akan kuceritakan masalah yang menimpa kalian kepada Rysta, agar ia menanam pohon lebih banyak di kebun kami. Akan kuceritakan dongeng yang sama kepada semua anak yang akan aku temui, termasuk anak-anakku. Agar mereka menyayangi dan melindungi kalian, dengan cara mereka masing-masing. Dan akan aku minta Bima untuk…&lt;br /&gt;"Bima, mulai hari ini tidak ada asap rokok! Tidak ada asap knalpot! Kamu tidak boleh merokok! Dan tidak boleh menggunakan kendaraan bermotor!"&lt;br /&gt;"Yah, terus kita kencan naik apa dong?!" rengek Bima.&lt;br /&gt;"Naik sepeda ontel!"&lt;br /&gt;"TIDAKKK" teriak Bima untuk mengakhiri kisah ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*    *    *    TamaT    *    *    *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7948630747063869302?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7948630747063869302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7948630747063869302&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7948630747063869302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7948630747063869302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/masih-adakah-bintang-di-langit.html' title='Masih Adakah Bintang di Langit'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-3131892976372342014</id><published>2008-10-10T02:47:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T02:51:27.686-07:00</updated><title type='text'>Buat Kamu Yang Ingin BergabunK</title><content type='html'>buat kamu yang ingin bergabung dan turut berjuang dalam pengembangan minat dan baca, serta apresiasi terhadap sastra di tanah air, bisa menghubungi Kiki Rizki Fitriani di 021-92119213. Komunitas Penulis Jakarta siap menampung kamu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-3131892976372342014?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/3131892976372342014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=3131892976372342014&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3131892976372342014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3131892976372342014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/10/buat-kamu-yang-ingin-bergabunk.html' title='Buat Kamu Yang Ingin BergabunK'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7861164590817714962</id><published>2008-06-01T19:37:00.000-07:00</published><updated>2008-10-10T03:26:15.510-07:00</updated><title type='text'>profil KPJ</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;SIAPA KAMI?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Kami adalah sekumpulan anak muda yang memiliki perhatian khusus terhadap dunia baca dan tulis, serta pengembangan apresiasi terhadap sastra bagi kalangan generasi muda di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Kami melihat betapa rendahnya minat baca dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tulis, serta apresiasi terhadap sastra di kalangan generasi muda. Atas dasar itulah kami sepakat membentuk &lt;b&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/b&gt; sebagai wadah pengembangan minat baca dan tulis, serta pengembangan apresiasi terhadap sastra bagi generasi muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt; didirikan di Jakarta pada tanggal 6 April 2007 dan dikhususkan bagi generasi muda yang ingin mengembangkan minat dan bakatnya di bidang penulisan dan sastra. Semoga &lt;b&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/b&gt; dapat memberikan kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Komunitas Penulis Jakarta &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;dirintis oleh 4 orang anak muda sebagai wujud dedikasi mereka terhadap dunia baca dan tulis, serta pengembangan apresiasi terhadap sastra di kalangan generasi muda. Mereka adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Rachmat Nugraha&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;, novelis, mahasiswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Ressa Novita&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;, cerpenis, mahasiswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Agustina Sriyani&lt;/b&gt;, guru, mahasiswa, penggiat sastra.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Taupic Hidayat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;, fotografer lepas, mahasiswa, penggiat sastra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;APA YANG KAMI KERJAKAN?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt; melakukan berbagai kegiatan di bidang penulisan dan pengembangan sastra :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Penerbitan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt; membuat buletin sastra bernama &lt;b&gt;Jendela &lt;/b&gt;yang menampilkan informasi dan tips berkaitan dengan penulisan dan sastra, serta karya-karya sastra berupa cerpen, cerbung, dan puisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Selain itu, &lt;b&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/b&gt; juga menerbitkan buku karya sastra seperti novel, kumpulan cerpen, dan karya lainnya melalui divisi penerbitan yang bernama &lt;b&gt;KPJ Publishing&lt;/b&gt; bekerja sama dengan pihak terkait.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Adapun buku-buku yang sudah diterbitkan oleh &lt;b&gt;KPJ Publishing&lt;/b&gt; adalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Novel I’m Sorry!, karya Rachmat Nugraha, diterbitkan bekerjasama dengan Universitas Satya Negara Indonesia, bulan November 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Kumpulan Cerpen The Mucus, karya Ressa Novita, diterbitkan bekerjasama dengan Universitas Satya Negara Indonesia, bulan November 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Diskusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt; secara rutin mengadakan diskusi yang berkaitan dengan dunia penulisan dan sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Workshop/Pelatihan/Lomba&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt; secara rutin mengadakan workshop/pelatihan/lomba berkaitan dengan penulisan dan sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Adapun workshop/pelatihan yang telah dijalankan oleh &lt;b&gt;Komunitas Penulis Jakarta&lt;/b&gt; adalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Pelatihan Menulis Kreatif untuk pelajar SMA/sederajat se-Jakarta pada tanggal 8 September 2007, bekerjasama dengan Universitas Satya Negara Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Lomba Baca Puisi dan Musikalisasi Puisi tingkat pelajar SMA/sederajat pada tanggal 3 November 3007, bekerjasama dengan Universitas Satya Negara Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;Improve Reading Quality (Roadshow, teater, bakti sosial) pada tanggal 25 Februari sampai dengan 17 Maret 2008, bekerjasama dengan Paguyuban Anak Jakarta Membaca (PAJM).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;-    Improve Writing Quality (Pelatihan Menulis Fiksi, Seminar "Sukses Dengan Menulis",&lt;br /&gt;Bedah buku) pada tanggal 1-25 Juni 2008, bekerjasama dengan Senat Mahasiswa FISIP USNI.&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="DA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7861164590817714962?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7861164590817714962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7861164590817714962&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7861164590817714962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7861164590817714962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/06/profil-kpj.html' title='profil KPJ'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-2180269581845603982</id><published>2008-06-01T19:36:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T19:37:12.446-07:00</updated><title type='text'>Meraih Kenikmatan Lewat Cigar</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;Meraih Kenikmatan Lewat Cigar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;Written by Rachmat Nugraha&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Aroma yang sangat khas begitu terasa saat memasuki ruangan di salah satu sudut Hotel Shangri-la, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Benar-benar menyengat hidung. Dan yang pasti, ini bukanlah aroma dari rokok biasa. Bau khas ini berasal dari cerutu atau biasa disebut cigar, yang memiliki ukuran dan warna yang sangat berbeda dari rokok pada umumnya. Maklum saja, ruangan itu merupakan tempat berkumpulnya para penggemar cigar di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;span style=""&gt;Sebagian orang menyalurkan hobi untuk melepas kepenatan dengan menghisap cigar di tempat itu. Hobi ini seakan selalu jadi pilihan utama untuk mengisi waktu luang bagi mereka. ”Nyigar itu nikmat,” ucap mereka. Rasa nikmat itu semakin terasa ketika melakukannya sambil santai bersama orang-orang yang memiliki hobi sejenis dalam satu komunitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Cigar memang memiliki nilai tersendiri. Menghisap cigar terlihat sangat berkelas dibanding menghisap rokok biasa. Harganya pun cukup mahal, membuat tidak sembarang orang dapat menghisap cigar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;“Harga per batang paling murah 40 ribu untuk jenis macanudo café uscott hingga 550 ribu untuk jenis Cuaba Diademas,” tutur Imran, manajer Club Macanudo Cigar Divan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Menurut manajer klub yang menerapkan sistem &lt;i&gt;member&lt;/i&gt; ini, &lt;span style="color: black;"&gt;cerutu ada 3 jenis yakni ringan, medium dan keras&lt;/span&gt;. Untuk para pemula biasanya mereka memilih yang ringan atau medium, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;setelah terbiasa barulah mereka memilih yang keras. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Cerutu itu sendiri terdiri dari &lt;i&gt;filler&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;binder&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;wrapper&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;, di mana setiap bagiannya sangat berpengaruh terhadap kualitas cerutu itu sendiri. Cerutu yang berkualitas sudah barang tentu terdiri dari bahan-bahan yang bagus, seperti pembungkus dan daun tembakau yang sangat bagus. Begitu pun proses pembungkusan, cerutu yang dibungkus dengan bantuan mesin biasanya memiliki cita rasa yang kalah baik dibandingkan yang &lt;i&gt;handmade&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Hingga saat ini, cerutu buatan Kuba masih menempati peringkat nomor 1 dari segi kualitas dan cita rasa, disusul cerutu buatan Republik Dominika. &lt;span style="color: black;"&gt;Meski begitu, cerutu Indonesia ternyata &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;juga menjadi salah satu cigar yang popular di Eropa dan Amerika dengan &lt;i&gt;handmade&lt;/i&gt; cigarnya yang ber&lt;i style=""&gt;title&lt;/i&gt; Montague&lt;/span&gt; yang kini telah menjadi cerutu langka, karena telah berhenti diproduksi pada tahun 2000.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;Menikmati Cigar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Cigar terkenal dengan baunya yang bisa membuat pusing kepala bagi mereka yang kurang suka. Karena itu, biasanya para penggemar cigar selalu mencari tempat yang nyaman untuk menikmati cigar dan tidak mengganggu orang lain&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Di Jakarta sendiri, saat ini sudah mulai menjamur klub-klub cerutu yang siap memanjakan para penggemar cigar, salah satunya adalah Club Macanudo Cigar Divan yang terletak di lantai dasar Hotel Shangri-la. Klub ini, selain menjadi tempat kongkow-kongkow para penggemar cerutu, juga sebagai distributor untuk hotel-hotel bintang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang menyediakan cigar lounge. Di samping itu, klub yang berdiri sejak tahun 2001 ini juga menyediakan accessories dan perlengkapan cigar yang sangat lengkap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;"Macanudo Cigar Divan didirikan untuk mengakomodir para penggemar cerutu di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang tingkat pertumbuhan lumayan meningkat," tutur Imran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Syarat untuk menjadi member di Macanudo Cigar Divan cukup mudah. Anda cukup membayar registrasi sebesar 1,5 juta untuk Reguler dan 5 juta untuk Gold. Begitu anda registrasi, anda langsung mendapatkan 1 botol Civas Regall 18 years old untuk Reguler dan 2 botol Civas Regall 18 years old untuk Gold.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;Imran menambahkan, banyak keuntungan yang didapat dengan menjadi member di Macanudo Cigar Diva, antara lain untuk yang Reguler akan mendapatkan potongan harga sebesar 20% pembelian minimal 25 stick atau satu kotak cerutu, diskon 10 % untuk tiap pembelian satu batang cerutu, minuman, dan accessories. Sedangkan untuk yang Gold, akan mendapatkan potongan harga sebesar 25% pembelian minimal 25 stick atau satu kotak cerutu, diskon 15 % untuk tiap pembelian satu batang cerutu, minuman, dan accessories. Selain itu, klub yang memberi kesan &lt;i&gt;homey&lt;/i&gt; itu juga selalu mengundang member dalam setiap event yang diadakan oleh Macanudo Cigar Divan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="rtl" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-2180269581845603982?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/2180269581845603982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=2180269581845603982&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/2180269581845603982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/2180269581845603982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/06/meraih-kenikmatan-lewat-cigar.html' title='Meraih Kenikmatan Lewat Cigar'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-3587498796300759430</id><published>2008-02-28T18:49:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T18:57:11.604-08:00</updated><title type='text'>Rachmat Nugraha</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R8d0JJOt_OI/AAAAAAAAABc/BB2g7erTo0M/s1600-h/DSC03182.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172230397503601890" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R8d0JJOt_OI/AAAAAAAAABc/BB2g7erTo0M/s320/DSC03182.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seorang novelis kelahiran Garut, 19 Februari 1980. Novel-novelnya Karena Cinta Kulakukan Segalanya (2005), Untukmu, Ayu (2005), Cinta, Jangan Pergi! (2006), I’m Sorry! (2007). Tahun 2004 menjadi tim penulis buku Biografi “Mega The President”. Sejak April 2007 menjabat sebagai Direktur Eksekutif Komunitas Penulis Jakarta, Pemimpin Redaksi Buletin sastra Jendela. Sejak Desember 2007 juga menjabat sebagai Redaktur Eksekutif USNI News.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-3587498796300759430?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/3587498796300759430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=3587498796300759430&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3587498796300759430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3587498796300759430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/02/rachmat-nugraha.html' title='Rachmat Nugraha'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R8d0JJOt_OI/AAAAAAAAABc/BB2g7erTo0M/s72-c/DSC03182.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-6870115160221144179</id><published>2008-01-29T20:35:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T20:37:03.913-08:00</updated><title type='text'>Senandung Cinta Dalam Sastra</title><content type='html'>Senandung Cinta Dalam Sastra&lt;br /&gt;Oleh : Rachmat Nugraha*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya membaca cerpen Ressa Novita yang berjudul “Surat Cinta Alice”, saya cukup terhanyut dengan cerita cinta di dalamnya. Dan hal yang sama juga saya rasakan saat membaca cerpen Ressa selanjutnya yang berjudul “Rembulan di Pagi Matahari”. Saya langsung berpikir, cinta memang tak pernah ada hentinya diangkat dalam sebuah karya sastra.&lt;br /&gt;Cinta seperti memiliki tempat tersendiri dalam dunia sastra. Cinta seolah terus menari-nari dengan leluasa dalam sastra.&lt;br /&gt;Ya, cinta dan sastra memang tak dapat dipisahkan. Tak dapat dipungkiri, karya-karya sastra yang mengusung tema cinta telah begitu banyak membuai pembacanya. Tak terkecuali saya. Apalagi jika cerita itu sama persis dengan pengalaman hidup kita. Tentunya kita takkan pernah bosan untuk menikmati karya sastra itu.&lt;br /&gt;Dalam sebuah obrolan, kawan saya pernah berkata kepada saya tentang betapa hebatnya kekuatan cinta yang ada dalam kisah Siti Nurbaya. Dia bilang, “Makanya Mat, elo jangan berhenti bikin cerita soal cinta, karena cinta enggak aka nada matinya”.&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan kawan saya ternyata memang benar. Saya melihat begitu banyak cerpen, novel, dan puisi yang berisikan cinta di dalamnya. Mulai dari novel-novel teenlet, hingga novel karangan penulis sekaliber Gola Gong. Mulai dari puisi para penyair pinggiran, hingga puisi karya penyair sekelas W. S Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Sastra ternyata begitu mampu membuat cinta menjadi dahsyat kekuatannya. Namun, menurut saya, alangkah baiknya jika cinta tidak selalu diangkat sisi baiknya saja dalam sebuah karya sastra. Sesekali cinta juga harus diperlihatkan sisi buruknya.&lt;br /&gt;Sastra harus juga mengajarkan manusia untuk tidak selalu mendewakan cinta. Dan ini merupakan tanggung jawab dari penulis dan penyair. Mereka harus mampu mengajarkan para penikmat sastra untuk memaknai cinta dengan sebenar-benarnya. Mereka harus mengajarkan masyarakat untuk mengekspresikan rasa cinta itu secara wajar.&lt;br /&gt;Harus diingat, sastra sangat bertanggung jawab akan peradaban manusia. Dalam hal ini soal cinta termasuk di dalamnya. Jika sebuah karya sastra menceritakan cinta secara berlebihan, maka itu sama saja menanamkan nilai-nilai yang akan berdampak buruk terhadap manusia yang menikmati karya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Begitulah sebenarnya karya sastra Indonesia yang sangat kaya dengan tema cinta dan cinta itu niscaya terus menyemarakkan khazanah kesusastraan Indonesia. Yang penting adalah bagaimana seharusnya cinta itu disajikan dalam karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Novelis, Direktur Eksekutif Komunitas Penulis Jakarta, Pemimpin Redaksi Majalah Sastra Jendela.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-6870115160221144179?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/6870115160221144179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=6870115160221144179&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6870115160221144179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6870115160221144179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/senandung-cinta-dalam-sastra.html' title='Senandung Cinta Dalam Sastra'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-3567377303838806850</id><published>2008-01-29T20:31:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T20:35:47.884-08:00</updated><title type='text'>Edisi Baru Majalah sastra jendela</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_-lnod9LI/AAAAAAAAABM/DDbhQRfV2wQ/s1600-h/halaman+1+(cover).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161123620237210802" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_-lnod9LI/AAAAAAAAABM/DDbhQRfV2wQ/s320/halaman+1+(cover).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-3567377303838806850?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/3567377303838806850/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=3567377303838806850&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3567377303838806850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3567377303838806850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/edisi-baru-majalah-sastra-jendela.html' title='Edisi Baru Majalah sastra jendela'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_-lnod9LI/AAAAAAAAABM/DDbhQRfV2wQ/s72-c/halaman+1+(cover).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-4135858619892711985</id><published>2008-01-29T20:25:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T20:30:57.431-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_9RHod9JI/AAAAAAAAAA8/PBcE_Ko5fN4/s1600-h/Cover+Depan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161122168538264722" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_9RHod9JI/AAAAAAAAAA8/PBcE_Ko5fN4/s320/Cover+Depan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_9Rnod9KI/AAAAAAAAABE/yhzFJYydvoY/s1600-h/Cover+Crpen+mcus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161122177128199330" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_9Rnod9KI/AAAAAAAAABE/yhzFJYydvoY/s320/Cover+Crpen+mcus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dapatkan di toko buku-toko buku terdekat ya! ini merupakan produk perdana dari Komunitas Penulis Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-4135858619892711985?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/4135858619892711985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=4135858619892711985&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4135858619892711985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/4135858619892711985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/dapatkan-di-toko-buku-toko-buku.html' title=''/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/R5_9RHod9JI/AAAAAAAAAA8/PBcE_Ko5fN4/s72-c/Cover+Depan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-6225096897859656058</id><published>2008-01-05T00:33:00.000-08:00</published><updated>2008-01-05T00:39:03.882-08:00</updated><title type='text'>Syarat-syarat jadi anggota KPJ</title><content type='html'>Tahun ini Komunitas Penulis Jakarta siap menerima kehadiran keluarga baru. buat kamu-kamu yang ingin daftar, berikut syarat-syaratnya (mudah aja kok):&lt;br /&gt;1. Mau aktif Menulis&lt;br /&gt;2. Konsisten&lt;br /&gt;3. Biodata lengkap&lt;br /&gt;4. Foto copy KTP/KTM/Kartu pelajar&lt;br /&gt;5. Pas Photo 3X4 2 lbr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keterangan lebih lanjut hubungi :&lt;br /&gt;(021)685 91335 (Ressa)&lt;br /&gt;(021)92119213 (Kiki)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-6225096897859656058?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/6225096897859656058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=6225096897859656058&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6225096897859656058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/6225096897859656058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/syarat-syarat-jadi-anggota-kpj.html' title='Syarat-syarat jadi anggota KPJ'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-2188517619610421879</id><published>2008-01-03T10:00:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T19:57:20.777-08:00</updated><title type='text'>See, I Can Fly!!!</title><content type='html'>Gedung ini tidak terlalu tinggi, sekitar 20 lantai. Dan aku sudah berdiri di lantai tertinggi tanpa atap, lantai pelindung dalam gedung yang selalu kosong tanpa apapun dan siapapun. Hanya aku yang siap mencobanya.&lt;br /&gt;Rumah Sakit ini, tempat bermainku sehari-hari, malah lebih cocok disebut tempat tinggalku selama ini. Ayahku Dokter Bedah, Ibuku Psikolog, kakak perempuan semata wayangku bekerja sebagai perawat yang mendampingi seorang Dokter Muda yang sebentar lagi akan resmi menikahinya. Keluargaku, semuanya, hidup dibawah gedung yang menjulang tak kalah dengan menara-menara di sekitarnya. Tak terkecuali aku.&lt;br /&gt;Sampai di tepi lantai tertinggi, kurentangkan kedua tanganku sejajar dengan bahu. Kubiarkan angin yang berhembus menghempas tubuhku dari ujung rambut hingga ke ujung jari kaki. Sama sekali tidak terasa dingin, seperti yang kurasakan sebelumnya yang seketika akan memaksaku kembali ke kamar. Hangat dan sedikit sejuk malah.&lt;br /&gt;Kuarahkan pandanganku pada sekelompok dara yang melayang tak beraturan di bawah awan, terlihat indah berbenturan dengan biru oranye dari langit siang hari.&lt;br /&gt;Kuhirup udara dalam-dalam yang kian tanpa rasa. Kuanggap saja oksigen yang dimiliki udara itu sedikit banyak telah menyegarkan kembali sekujur tubuh serta pikiranku. Anggap saja begitu.&lt;br /&gt;Kualihkan pandanganku ke bawah. Halaman yang luas tanpa sedikitpun tanah cokelat yang terlihat. Rerumputan dan bunga liar yang semula sengaja ditanam itu, telah memenuhi halaman tanpa cacat sedikitpun. Cantik sekali.&lt;br /&gt;Tapi mungkin sakit kalau tubuh manusia dibenturkan disana. Yah, tempat itu tujuanku selanjutnya “jika” aku gagal untuk percobaanku yang pertama ini. Mudah-mudahan saja tidak akan terasa apa-apa.&lt;br /&gt;Kulemparkan tubuhku dengan segenap tekad dan keberanian untuk dapat melewati pembatas gedung yang berukuran kurang dari setengah meter itu.&lt;br /&gt;“Aku Terbang!!!” teriakku tanpa bisa mengendalikan rasa gembira bercampur haru yang ada.&lt;br /&gt;Aku menukik lambat ke bawah. Saking lambatnya, aku bingung harus berpikir apa.&lt;br /&gt;Ah, aku gagal lagi! Seharusnya kalau terbang itu ke atas, kalau ke bawah ini namanya jatuh. Ah, aku jatuh! Bagaimana ini?!&lt;br /&gt;Sedikit muncul rasa takut, tiba-tiba. Kupejamkan kedua  belah mataku, pasrah. Aku akan berakhir pasti.&lt;br /&gt;Huh, padahal ini impian yang telah lama kupendam. Impian yang hanya sebatas impian dalam malam ketika aku mulai kehilangan kemampuanku untuk melangkah. Aku tidak bisa melangkah secara tiba-tiba diusiaku yang beranjak remaja! Kedua kakiku lumpuh! Bagaimana mungkin aku melompat untuk belajar terbang?!&lt;br /&gt;Haha! Kamu seperti anak burung dara!&lt;br /&gt;Seseorang pernah mengejekku demikian, setiap kali aku mengungkapkan keinginanku yang tak masuk akal ini. Sekarang aku baru sadar, bagaimanapun memang tidak bisa.&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku merasakan hangat mengalir dalam darahku. Aku berhenti terjatuh akibat gravitasi bumi.&lt;br /&gt;“Perjalananmu menyenangkan, Nona?!” suara yang begitu kukenal memaksaku membuka mata.&lt;br /&gt;“Yoga?!”&lt;br /&gt;Ternyata aku sudah berada di antara kedua tangan Yoga. Tapi, bagaimana caranya ia menangkap tubuhku yang melayang jatuh dari lantai 20 ?!&lt;br /&gt;“Oh, ternyata aku kejatuhan malaikat yang mencoba bunuh diri. Tidak punya sayap. Pantas frustasi. Tapi, kok bisa pas jatuh disini yah! Seharusnya jatuh di sungai, biar langsung di makan buaya!” ocehnya kesal melihat tingkahku.&lt;br /&gt;“Yoga turunin, donk!”&lt;br /&gt;Tanpa banyak tanya lagi, ia menurunkanku duduk di atas rumput yang basah karena gerimis beberapa waktu yang lalu.&lt;br /&gt;“Kok, kamu ringan banget sich?! Tidak punya dosa ya?! Hah, untung saja aku kebetulan lewat dan melihatmu terjun dari atap gedung dan berhasil menangkapmu. Bagaimana kalau tidak?! Sebenarnya apa sich yang kamu inginkan?! Terbang?! Aku kan sudah bilang itu tidak mungkin! Lho?! Lho?! Kamu kok tiba-tiba menangis?!”&lt;br /&gt;“Ka…Kamu sudah sembuh Yoga?!” tanyaku. Kedua tanganku berusaha menggapai wajahnya yang terlihat makin memerah, reaksi dari kondisi tubuhnya yang mulai membaik.&lt;br /&gt;“Entahlah, mukjizat mungkin?! Ada wanita yang berpesan agar jantungnya didonorkan padaku untuk dicangkokkan ke tubuhku jika ia meninggal nanti. Eh, tiba-tiba wanita itu meninggal. Kasihan padahal usianya masih sangat muda. Tapi, berkat wanita itu aku tidak jadi mati deh. Sekarang pasti dia sudah beristirahat dengan tenang! Semoga Tuhan Yang Maha Esa menerimanya disisiNya! Eh, Nadia?!”&lt;br /&gt;“Apa?!”&lt;br /&gt;“Aku harus nyanyi lagu apa agar kamu berhenti menangis?!”&lt;br /&gt;“Tidak ada! Aku mual jika mendengar nyanyianmu, sungguh. Aku hanya terlalu senang, aku kira aku tidak bisa melihatmu lagi. Aku kira, aku akan kehilangan kamu. Aku kira, aku akan sendirian lagi disini. Aku kira, …”&lt;br /&gt;“Aku kira juga begitu! Tapi, seperti semangat yang pernah kamu ucapkan padaku. Tuhan pasti beri jalan!”&lt;br /&gt;“Haha, syukurlah!”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, berhentilah menangis!” ucapnya sambil menyeka airmata di wajahku dengan jemarinya.&lt;br /&gt;“Tidak bisa. Aku sudah kehilangan semangat itu. Tuhan tidak memberikan jalan pada keputusasaanku. Aku tidak bisa terbang! Aku sudah mencoba lompat dari lantai tertinggi, tapi aku tetap tidak bisa terbang. Padahal kan aku…” aku segera menghentikan kata-kataku, begitu aku sadar ada yang tidak perlu ia ketahui saat ini. “Aku ingin sekali terbang!”&lt;br /&gt;“Aku kan sudah bilang itu tidak mungkin! Manusia tidak punya sayap! Kalau aku sudah sehat betul dan kamu sudah bisa berjalan lagi, aku akan ajak kamu terbang naik parasut, bagaimana?!”&lt;br /&gt;“Aku tidak mungkin sembuh! Lagipula aku tidak ingin terbang pakai alat bantu apapun!”&lt;br /&gt;“Dasar keras kepala! Ya sudah, aku kedalam dulu mengambil kursi rodamu! Atau kamu mau aku ngendong ke dalam?! Tapi, lantai 14 itu jauh lho! Kalau lift nya rusak bagaimana?!”&lt;br /&gt;“Jangan banyak alasan! Kamu memang malas mengendongku kan?!”&lt;br /&gt;“Yah, aku kan lagi masa penyembuhan!”&lt;br /&gt;“Sudah, pergi sana! Dan jangan pake lama!”&lt;br /&gt;Kutatap kepergiannya dengan sisa airmataku. Mungkin kamu akan kecewa jika nanti kamu kembali dengan kursi rodaku, Yoga. Atau kamu malah bangga.&lt;br /&gt;Perlahan aku gerakan sendi-sendi kakiku yang semula sengaja kudiamkan. Aku berdiri tegak untuk melangkah ke halaman belakang yang lebih luas. Disana banyak pohon besar, aku akan coba terbang dari sana. Siapa tahu berhasil!&lt;br /&gt;Yoga, kekasihku! Aku akan memperlihatkan padamu, kalau aku benar-benar bisa terbang! Memang aku butuh waktu untuk itu! Tadi Rara bilang begitu sebelum meninggalkanku.&lt;br /&gt;“Nadia!!! Nadia!!! Nadia!!!”&lt;br /&gt;Ah, aku belum menemukan pohon yang cocok. Kenapa Yoga sudah kembali?!&lt;br /&gt;“Nadia… Apa maksud semua ini?! Jelaskan padaku?!”&lt;br /&gt;Kulihat Yoga berlari kearahku. Ia menggendong tubuh seorang gadis, tubuhku, tubuh yang tak lagi bernyawa.&lt;br /&gt;“Jangan mendekat!!!”&lt;br /&gt;Yoga berhenti dan membaringkan tubuhku di bangku taman yang ada di dekatnya.&lt;br /&gt;“Kamu masih bisa kembali ke tubuh ini kan, Nadia?!”&lt;br /&gt;Aku menggeleng lemah.&lt;br /&gt;“Aku akan cari orang pintar yang bisa menggembalikanmu masuk ke tubuhmu”&lt;br /&gt;Aku kembali menggeleng, kali ini dengan airmata yang membanjiri wajahku.&lt;br /&gt;“Aku sudah tidak punya jantung! Apapun cara yang kamu lakukan, aku sudah mati! Aku juga tidak mengerti kenapa kamu bisa menyentuh raga halus ini. Tapi aku benar-benar sudah mati! Tadi aku menggorok nadiku dengan pisau di depan kamarmu. Agar jika mereka menemukan mayatku, mereka bisa menggunakan jantungku untuk menyelamatkanmu”&lt;br /&gt;“Tapi, kenapa Nadia?! Kenapa kamu lakukan ini?!”&lt;br /&gt;“Aku berhutang banyak tawa padamu, Yoga! Kamu telah memberikan nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Jantung yang aku berikan tidak ada apa-apanya! Aku mengaku ingin sekali terbang, itu hanya sekedar harapan kecil. Tiap kali aku naik ke atap gedung, aku hanya ingin melompat untuk mengakhiri semuanya. Karena, apa gunaku?! Berdiri saja aku tidak bisa. Tapi sejak aku bertemu kamu, aku malah kasihan pada diriku sendiri, kamu bilang aku seperti anak burung dara yang berusaha terbang, kamu bilang kamu bersedia menjadi indukku untuk mengajariku terbang, setelah itu kamu mengejekku lagi. Aku kasihan pada diriku sendiri. Setiap saat kamu memberiku semangat agar jangan pernah menyerah, padahal aku tahu kamu sama halnya dengan anak burung dara yang tidak bisa terbang itu. Malah lebih dari itu, kamu anak burung dara yang sudah sekarat. Tapi kamu malah memberiku semangat yang begitu besar. Kamu menghiasi hari-hari yang semula kuanggap tanpa arti. Kamu malaikatku, karena itu aku tidak akan membiarkan malaikatku mati. 3 tahun bersama mu begitu singkat, tapi juga begitu indah. Kuharap kamu tidak akan pernah lupa, kalau kamu pernah melamarku untuk menjadi istrimu. Kamu juga jangan melepas cincin pertunangan ini dari tubuhku ya, aku mau membawa cincin ini ke surga”&lt;br /&gt;“Nadia, kamu ngomong apa sih?! Aku tidak mengijinkan kamu pergi! Tidak akan pernah!!!”&lt;br /&gt;“Nadia! Bagaimana kamu sudah bisa terbang?!” tiba-tiba Rara muncul disampingku. Dia malaikat yang akan mengantarku ke alam baka.&lt;br /&gt;Aku menggeleng pelan padanya.&lt;br /&gt;“Tentu saja karena aku belum memberikan sayap roh padamu”&lt;br /&gt;Malaikat yang sedikit humoris itu tertawa terbahak-bahak karena merasa sudah membuatku melompat dari gedung 20 lantai itu.&lt;br /&gt;“Rara, tadi aku hampir terjatuh!” protesku setengah berbisik pada Rara.&lt;br /&gt;“Kamu tidak perlu lagi naik ke atap gedung atau ke atas pohon untuk terbang!”&lt;br /&gt;Rara menempelkan sebuah sinar putih dari tangannya ke punggungku.&lt;br /&gt;“Sudah bisa digunakan?!”&lt;br /&gt;“Kamu bisa coba sekarang!” usul Rara sambil menepuk-nepuk punggungku.&lt;br /&gt;Seketika sepasang sayap putih besar tumbuh dipunggungku. Mengepak-ngepak siap untuk diterbangkan.&lt;br /&gt;“Ini benar-benar sayap?!” tanyaku tak percaya.&lt;br /&gt;“Sayap yang akan membawamu terbang meninggalkan dunia ini” jawab Rara.&lt;br /&gt;“Yoga, kamu harus lihat aku terbang!”&lt;br /&gt;“Tidak! Kalau kamu terbang, itu artinya kamu tidak akan kembali lagi!”&lt;br /&gt;“Tentu saja aku tidak akan kembali. Tapi, kamu harus lihat aku terbang! Pokoknya aku tidak ijinkan kamu menutup mata!”&lt;br /&gt;“Nadia, sudah waktunya kita pergi! Lihatlah cahaya di atas sana!” perintah Rara.&lt;br /&gt;Aku mengikuti perintah Rara untuk melihat cahaya di atas kepalaku. Perlahan sayap maya di punggungku mengepak cepat. Raga halusku terbang bersamanya. Aku terbang!&lt;br /&gt;“Yoga, aku bisa terbang!”&lt;br /&gt;“Nadia, jangan pergi! Aku mohon! Aku mencintaimu! Jadi jangan pergi!”&lt;br /&gt;“Yoga, aku terbang untukmu… Kamu lihatkan! Kamu cukup membalasnya dengan menjaga jantungku. Aku akan mencekikmu dari alam baka kalau kamu berani merusaknya!” ucapku tanpa sanggup menjaga bendungan airmata. “Yoga, aku mencintaimu! Aku ingin kamu tahu, aku akan selalu mencintaimu. Aku tidak akan melupakan kebahagiaan yang kamu berikan padaku selama ini! Kamu juga tidak boleh lupa!” teriakku untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;Aku melayang semakin tinggi. Kehilangan sosok Yoga juga suaranya yang memanggilku dengan airmata. Sayap-sayapku membawaku menembus cahaya langit itu. Aku harap disana ada surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ÿTamaTÿ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen by, Ressa Novita (Ocha)&lt;br /&gt;Rabu, 8 November 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-2188517619610421879?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/2188517619610421879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=2188517619610421879&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/2188517619610421879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/2188517619610421879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2008/01/doa-ayah.html' title='See, I Can Fly!!!'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-3126283487037139317</id><published>2007-11-05T19:13:00.001-08:00</published><updated>2007-11-05T19:18:05.292-08:00</updated><title type='text'>Launching Novel I'm Sorry! dan Kumpulan Cerpen The Mucus Sukses</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/Ry_crk-g1OI/AAAAAAAAAA0/uYpVGYumZ6I/s1600-h/PA031991.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/Ry_crk-g1OI/AAAAAAAAAA0/uYpVGYumZ6I/s320/PA031991.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129561141816644834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Launching Novel I'm Sorry! karya Rachmat Nugraha dan Kumpulan Cerpen The Mucus karya Ressa Novita(03/11) berlangsung sukses. Acara yang diadakan di Auditorum Universitas Satya Negara Indonesia itu diawali dengan penampilan Taupic Hidayat, pengelola Komunitas Penulis Jakarta yang membawakan musikalisasi puisinya dengan apik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Rachmat Nugraha, sang penulis novel pada saat peluncuran mengatakan, acara launching ini sengaja mengundang pelajar-pelajar guna lebih mendekatkan pelajar dengan sastra yang saat ini kian terpinggirkan dalam kehidupan remaja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selain penampilan sastrawan-sastrawan muda USNI dan anggota Komunitas Penulis Jakarta, acara ini juga dimeriahkan oleh lomba baca puisi dan musikalisasi puisi tingkat SMA se-Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Well, good luck Guys!&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/Ry_cGE-g1MI/AAAAAAAAAAk/FuJjVdLmlms/s1600-h/PA031940.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/Ry_cGE-g1MI/AAAAAAAAAAk/FuJjVdLmlms/s320/PA031940.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129560497571550402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-3126283487037139317?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/3126283487037139317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=3126283487037139317&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3126283487037139317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3126283487037139317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/11/launching-novel-im-sorry-dan-kumpulan.html' title='Launching Novel I&apos;m Sorry! dan Kumpulan Cerpen The Mucus Sukses'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CsUHttTwdH0/Ry_crk-g1OI/AAAAAAAAAA0/uYpVGYumZ6I/s72-c/PA031991.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7921876489696231630</id><published>2007-09-20T01:59:00.000-07:00</published><updated>2007-09-20T02:02:33.233-07:00</updated><title type='text'>Barisan Makna</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ketika Sang Surya elok bersanding mutiara pagi&lt;br /&gt;Itu kasih di balik sayap-sayap hangatnya&lt;br /&gt;Ketika Peri Surga nyanyikan senandung alam&lt;br /&gt;Itu senyum di antara merdu indahnya&lt;br /&gt;Ketika seorang Hawa menarikan jemari dengan sutra&lt;br /&gt;Itu cantik di dalam ketulusannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku melemparkan rasa menjauh dari hati&lt;br /&gt;Itu luka akan kepedihan jiwa&lt;br /&gt;Ketika aku berbisik dalam diam&lt;br /&gt;Itu keluhan lelah akan perjalanan&lt;br /&gt;Ketika aku berdusta dalam kejujuran&lt;br /&gt;Itu tangis dalam tawa kebahagiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika langit hilang cahaya hidup&lt;br /&gt;Itu mimpi untuk hatiku&lt;br /&gt;Itu mimpi untuk semua jiwa&lt;br /&gt;Itu mimpi untuk dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika mimpi terbaring bersama setangkai mawar putihmu&lt;br /&gt;Itu cinta yang akan menghapus barisan makna yang pernah ada dalam goresan penaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Karya Manis oleh : Ressa Novita (Ocha)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7921876489696231630?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7921876489696231630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7921876489696231630&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7921876489696231630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7921876489696231630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/09/barisan-makna.html' title='Barisan Makna'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7111995523726410299</id><published>2007-09-18T20:44:00.000-07:00</published><updated>2007-09-18T21:03:59.395-07:00</updated><title type='text'>Sayap Putih Ini Milikku!!!</title><content type='html'>Sepasang sayap putih ini milikku!&lt;br /&gt;Sang Pencipta Jiwa mengukir namaku di setiap helai bulunya&lt;br /&gt;Ia juga sisipkan doa di setiap sisinya&lt;br /&gt;Supaya kuat aku melayang tanpa beban yang berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang sayap putih ini milikku&lt;br /&gt;Seharusnya arah perjalananku juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dihadiahkan indera sempurna untuk merasa&lt;br /&gt;Baiknya rasa itu menjadi penentu kemana aku harus terbang&lt;br /&gt;Langit ke lima, ke enam, ke tujuh...&lt;br /&gt;Atau tidak kugunakan di atas langit&lt;br /&gt;Seharusnya pilihan ada padaku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Sang Pencipta Jiwa yang menarikku untuk bangkit dan hidup&lt;br /&gt;Menghadiahkan indera sempurna agar kunyaman merasa&lt;br /&gt;Sepasang sayap putih maya agar aku tidak hanya duduk diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya dunia mengerti&lt;br /&gt;Ia juga alami hidup dengan nafas yang sama&lt;br /&gt;Seharusnya dunia mengerti&lt;br /&gt;Seperti gemintang lantunkan semangat untuk malamku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin terbang kemana aku ingin terbang&lt;br /&gt;Sekalipun langit pilihanku menuntut imbalan darah dan airmata&lt;br /&gt;Karena sayap putih ini milikku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Karya : Ressa Novita&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7111995523726410299?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7111995523726410299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7111995523726410299&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7111995523726410299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7111995523726410299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/09/sayap-putih-ini-milikku.html' title='Sayap Putih Ini Milikku!!!'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-864744715209210556</id><published>2007-09-11T19:10:00.000-07:00</published><updated>2007-09-11T19:14:50.824-07:00</updated><title type='text'>Launching novel dan kumpulan cerpen, serta lomba</title><content type='html'>Tanggal 3 November 2007 nanti Komunitas Penulis Jakarta akan mengadakan launching novel I'm Sorry! karya Rachmat Nugraha dan kumpulan cerpen The Mucus karya Ressa Novita di auditorium Universitas Satya Negara Indonesia.  Selain itu, untuk memeriahkan launching tersebut Komunitas Penulis Jakarta juga mengadakan lomba baca puisi dan lomba musikalisasi puisi untuk pelajar SMA.&lt;br /&gt;untuk itu, kami mengundang seluruh pelajar SMA/sederajat di Jakarta untuk datang menghadiri acara tersebut dan mengikuti lomba.&lt;br /&gt;keterangan lebih lanjut :&lt;br /&gt;(021) 710 45557 (ressa)&lt;br /&gt;0899 9925 301 (Rachmat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-864744715209210556?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/864744715209210556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=864744715209210556&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/864744715209210556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/864744715209210556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/09/launching-novel-dan-kumpulan-cerpen.html' title='Launching novel dan kumpulan cerpen, serta lomba'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-3851735653267382045</id><published>2007-09-11T18:55:00.000-07:00</published><updated>2007-09-11T19:09:58.720-07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Penulisan Kreatif perdana KPJ dan USNI sukses</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, berkat kerja sama yang baik antara Komunitas Penulis Jakarta dengan Universitas Satya Negara Indonesia, acara Pelatihan Penulisan Kreatif untuk pelajar SMA yang diselenggarakan pada tanggal 8 September 2007 yang lalu berjalan sukses.&lt;br /&gt;Acara perdana Komunitas Penulis Jakarta ini menghadirkan Bambang Widiatmoko, sastrawan beken sebagai pembicara dan dihadiri oleh sekitar 10 sekolah, antara lain SMK Mardi Bhakti, SMA Tri Arga, SMK 63, SMK PGRI 28,  SMA Yadika 4, SMA 90,  SMA Yadika 2, SMA Yadika 3, SMK 13, dengan jumlah peserta 60 orang.&lt;br /&gt;Acara ini bisa dikatakan sukses, karena dengan persiapan yang hanya 2 minggu dan serba dadakan tapi cukup mendapat respon yang baik dari para pelajar.&lt;br /&gt;Thank's for all&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-3851735653267382045?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/3851735653267382045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=3851735653267382045&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3851735653267382045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/3851735653267382045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/09/pelatihan-penulisan-kreatif-perdana-kpj.html' title='Pelatihan Penulisan Kreatif perdana KPJ dan USNI sukses'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-8967349389252430841</id><published>2007-09-11T18:47:00.000-07:00</published><updated>2007-09-11T18:49:14.202-07:00</updated><title type='text'>Sejarah lewat sastra? Membosankan atau menarik?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sejarah mengungkap fakta. Sastra melestarikannya...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sejarah adalah masa lalu, yang diceritakan kembali sejak kita masih berbaju dan bercelana merah. Oleh sang guru tentunya. Tak jarang kita menahan kantuk atau bosan yang berkepanjangan sampai menunggu bel sekolah yang tak kunjung berbunyi. Tidak begitu banyak pula para pengagum sejarah pada masa kita masih bercelana merah atau bahkan sampai bercelana abu - abu. Sejarah menjadi suatu pilihan yang menarik jika sang guru sangat mahir memainkan kata - katanya dengan intonasi yang berbeda dalam menceritakan kembali kisah tersebut. Jauh lebih seperti dongeng mungkin... maka semua mulut akan dengan tiba - tiba ternganga dan semua mata membelalak dengan lebarnya karena keheranan. Namun tidak banyak pemandangan tersebut saya temui di sela - sela jam sekolah yang mengungkap tentang seluk beluk negara melalui sejarah. Lebih sering kapur yang tiba - tiba melayang dan mendarat di dahi sehingga menyadarkan kita sejenak yang telah membuat sang guru menjadi kesal!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mungkin mendengar pengalaman ini membuat kita berfikir dua kali untuk menjadi guru sejarah. Mungkin... itu hanya perkiraan saya saja yang menilai dari sebagian masa kecil sampai remaja harus mengikuti mata pelajaran sejarah. Jujur, tidak banyak fakta sejarah yang saya ingat sekarang apabila ada pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang seputar sejarah. Kalau dipikirkan lebih dalam, ada perasaan malu... apa saya kurang mencintai sejarah negara saya sendiri sampai - sampai tidak banyak fakta yang saya tahu walaupun saya pernah mengecap pendidikan sejarah. Namun ada hal menarik yang saya temui baru - baru ini setelah saya berkunjung ke sebuah toko buku dan pandangan saya tertuju kepada satu novel fiksi dengan cover yang cukup berbeda dengan yang lainnya. Sebuah novel karya Langit Kresna Heriadi, Gajah Mada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Damai yang menyelimuti bumi Majapahit terkoyak di ujung pagi. Kabut tebal yang mengungkung tak menghentikan genderang perang yang ditabuh oleh para Rakrian Dharmaputra Winehsuka -  menebar tembang duka. Ra Kuti memberontak, menggulingkan pemerintahan Jayanegara yang dilindungi pasukan Bhayangkara. Kemegahan bumi Wilwatika seketika musnah. Bau darah, aroma pembantaian, debu penjarahan bertaburan...&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Itulah sebagian permainan kata - kata yang dituliskan oleh Langit Krisna Heriadi dalam novel fiksinya, Gajah Mada. Sejenak mungkin terasa berat melihat novelnya yang tebal dan judulnya yang mungkin membuat kita berfikir, apakah ini hanya sekedar cerita sejarah yang membosankan? Seperti yang kita dengar di bangku sekolah? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi sebaiknya Anda jangan dulu berkomentar novel ini akan menjadi novel membosankan ataupun tidak menarik sama sekali. Justru dengan membaca novel ini, Anda seakan dibawa ke alam Majapahit dulu. Anda seakan bertemu dengan tokoh - tokoh yang digambarkan di dalam novel tersebut. Novel fiksi ini mencoba mengajak pembaca menelusuri seluk beluk Majapahit dengan sang Gajah Mada yang mungkin cukup dikenal dengan sumpah palapanya saja. Tetapi sudahkah Anda mencari tahu lebih jauh lagi mengenai sang Gajah Mada tersebut?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagi saya pribadi, sejarah mungkin bisa saja menjadi menyenangkan dan menarik untuk digali dalam jika saja sejak di bangku sekolah sudah saya temukan media menarik seperti ini. Sejarah yang diungkap melalui sastra... &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mungkin saja saya akan dengan mudah mengingat banyak data atau informasi serta nama - nama yang terkait dengan sejarah tersebut bila saja saya sudah temukan karya sastra yang mencoba menguak fakta sejarah tersebut. Memang belum banyak penulis yang mengkonsentrasikan dirinya dengan membuat karya sastra yang melibatkan latar belakang sejarah. Tetapi bisa saja Langit Krisna Heriadi dengan novel yang sudah menjadi best seller menjadi penggugah para sastrawan untuk lebih mendalami dan menghasilkan karya sastra yang mengusung tema sejarah &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Inipun menjadi satu penyemangat bagi diri saya pribadi untuk tidak hanya sekedar perduli dalam menghasilkan karya - karya remaja dengan tema yang klise, tetapi juga perduli untuk menciptakan karya yang menguak sejarah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dari sudut pandang yang berbeda. Dengan harapan nantinya akan ada banyak para anak bercelana merah yang antusias mengikuti pelajaran Sejarah di sela - sela jam sekolahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;By: Agustina Sriyani&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-8967349389252430841?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/8967349389252430841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=8967349389252430841&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8967349389252430841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8967349389252430841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/09/sejarah-lewat-sastra-membosankan-atau.html' title='Sejarah lewat sastra? Membosankan atau menarik?'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-5594643512892816330</id><published>2007-08-09T19:46:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T19:48:41.604-07:00</updated><title type='text'>TAK KAN KULAKUKAN SEGALANYA UNTUK CINTA !</title><content type='html'>Tak Kan Kulakukan Segalanya Untuk Cinta !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Ressa Novita (Ocha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rose, aku cuma mau kasih tau kamu kalau Pak Ricky baru aja jadian sama….”&lt;br /&gt;Suara dari speaker telepon genggamku tak lagi terdengar. Sesaat. Hening.&lt;br /&gt;“Merliana. Ehm… Maaf, Rose! Tapi semenjak kamu lulus Merliana tak henti-hentinya mendekati Pak Ricky. Aku ga tau jelas apa penyebab hubungan mereka bisa sampai sejauh ini. Mungkin Pak Ricky…. Halo?! Rose?! Kamu masih disana kan?! Halo?! Rose?!”&lt;br /&gt;Braakkk!!! Sekuat tenaga kulemparkan telepon genggamku ke lantai hingga hancur berkeping-keping.&lt;br /&gt;Kenapa?! Entahlah! Kabar yang baru saja kudengar membuat darah di seluruh tubuhku serasa mendidih dan memenuhi kepalaku. Panas. Sangat panas. Selanjutnya aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi. Ricky. Merliana. Hanya 2 nama itu yang terus bergantian menggema di rongga kepalaku.&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku berlari, berlari dengan cepat, dan terus berlari. Berlari ke Gedung SMU lamaku yang letaknya lumayan jauh dari kampusku. Aku tak peduli apapun. Aku hanya ingin bertemu Ricky. Saat ini juga. Dan memperingatkannya untuk menjauhi Merliana. Karena gadis itu yang dengan cara liciknya telah memisahkan aku dan Ricky.&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;Aku mengenal Ricky 5 tahun yang lalu, saat ia memaksaku membantunya membersihkan Laboratorium Biologi. Ya. Dia adalah guru yang mengajar pelajaran Biologi di SMU ku. Meskipun guru usianya hanya 4 tahun lebih tua dariku dan masih sendiri. Awalnya aku tidak menyukainya, sama seperti murid-muridnya yang lain. Murid-murid men-capnya sebagai guru paling tampan saat pertama kali bertemu, tapi setelah itu tidak ada satupun pujian baik untuknya. Dingin, galak, kejam, dan tidak mau berkomunikasi dengan siapapun di sekolah itu, termasuk rekan seprofesinya. Tapi ternyata sikapnya tidak seperti itu padaku, malah sebaliknya.&lt;br /&gt;Hari berganti hari keakraban pun tumbuh diantara kami. Hanya sebatas akrab. Berawal dari keakrabannya denganku, aku berusaha merubah image nya di depan semua orang dan berhasil. Haha, ternyata dia hanya grogi karena belum terbiasa menghadapi orang banyak yang tidak dikenalnya.&lt;br /&gt;Ditahun kedua keakraban kami, dia bukan lagi guru yang dibenci. Malah begitu banyak gadis yang mengelilinginya, Murid perempuan maupun guru perempuan yang masih lajang. Hubungan kami pun tak lagi sekedar keakraban antara guru dan murid tapi sepasang kekasih. Meskipun kami tidak saling mengungkapkan perasaan kami, tapi kami tahu perasaan kami masing-masing.&lt;br /&gt;Hubungan ini kami jaga rapat-rapat, jangan sampai pihak sekolah mengetahui. Karena statusnya sebagai guru dan statusku sebagai murid dengan prestasi cukup memuaskan. Jika ketahuan terlibat hubungan percintaan, resikonya berat. Dia bisa dipecat sebagai guru, dan bukan tidak mungkin aku pun dikeluarkan.&lt;br /&gt;Ditahun terakhirku sebagai murid SMU, muncul seorang murid baru yang sepertinya mencium rahasia kami. Dialah Merliana, gadis dengan sorot mata yang tajam dipadukan dengan senyuman yang manis. Dia begitu lihai memainkan lidahnya. Sangat menarik. Sampai-sampai ia bisa berada diantara aku dan Ricky tanpa membuat kami curiga. Dalam pikiranku ia hanya seorang gadis yang butuh teman, mungkin Ricky juga berpikir seperti itu.&lt;br /&gt;Tapi ternyata perkiraanku salah. Saat waktuku bersama Ricky menipis karena kesibukanku menjelang ujian akhir. Ricky lebih sering menghabiskan waktunya bersama Merliana. Dan entah apa yang mereka obrolkan setiap saat, berdua. Tapi yang aku tahu perlahan hubunganku dan Ricky merenggang tanpa alasan yang jelas. Dia seringkali melemparkan tatapan benci padaku, bahkan tidak lagi membiarkanku masuk keruangannya. Sampai masa sekolahku ditempat itu berakhir, ia tidak sekalipun menghiraukanku.&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian aku bertemu Arindi. Gadis hitam manis berambut ikal itu, meminta maaf padaku. Ternyata dia adalah sahabat Merliana yang juga satu kelas dengan Merliana. Arindi tidak suka dengan perbuatan Merliana tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menceritakan semua siasat Merliana untuk memisahkanku dan Ricky dari awal sampai akhir. Sampai saat ini kabar tentang Ricky yang disampaikan Arindi menjadi pelepas rindu setiap kali aku teringat kenanganku bersama Ricky. Dan akan terus seperti itu sampai Arindi menyelesaikan sekolahnya.&lt;br /&gt;Tapi kali ini, tidak cukup hanya dengan berdiam diri setelah mendengar kabar Ricky yang baru saja disampaikan Arindi. Aku harus menemui Ricky. Pertemuan pertama setelah hampir 2 tahun aku meninggalkan sekolah itu.&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;“Kamu mau apa kesini?!” Arindi menghadangku di depan pintu gerbang sekolah dengan wajah memerah karena marah.&lt;br /&gt;“Menemui Ricky! Minggir!”&lt;br /&gt;“Aku kasitau kamu bukan untuk mengganggu hubungan mereka!”&lt;br /&gt;“Ndi, aku pernah bersumpah. Siapapun boleh, asal jangan dia! Ga boleh dia! Dia yang telah menghancurkan hubunganku dan Ricky. Dan kamu juga kan yang bilang kalo pacar Meliana tuch dimana-mana. Sedikitpun dia bukan gadis yang baik buat Ricky. Aku ga rela kalo mereka jadian!”&lt;br /&gt;“Kamu ga boleh menemui Pak Ricky! Bagaimanapun juga Meliana sahabatku, dan aku ga akan mengkhianatinya lebih jauh lagi!”&lt;br /&gt;“Kamu ga mau melihat sahabatmu membuat kesalahan kan?! Kamu tahu kan maksud Meliana membina hubungan itu bersama Ricky. Dan tidak perlu dijelaskan lagi kalo Ricky hanya menjadi korban kebenciannya padaku. Aku tidak ingin Ricky terluka! Aku harus menyadarkannya!”&lt;br /&gt;“Apapun alasan kamu, kamu tetap ga berhak mengganggu hubungan mereka!”&lt;br /&gt;“Begitupun dengan Meliana, 2 tahun yang lalu dia juga ga berhak memisahkanku dengan Ricky. Apa salahnya jika sekarang aku sedikit membalas perbuatannya?! Aku ingin yang terbaik buat Ricky meskipun yang terbaik itu bukan aku. Jangan halangi aku!”&lt;br /&gt;Aku mendorong tubuh Arindi sampai nyaris terjatuh dan dengan cepat melangkah masuk ke gedung sekolah.&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;Aku masuk tanpa permisi ke ruang Lab. Biologi tempatnya menghabiskan waktu. Tak peduli meskipun saat itu ia sedang sibuk mengajar murid-muridnya.&lt;br /&gt;“Apa yang kamu lakukan disini?!”&lt;br /&gt;Setelah melihat kemunculanku yang tiba-tiba, dengan sigap Ricky berdiri dari bangkunya dan menarik tanganku untuk segera keluar.&lt;br /&gt;“A… aku ga mau kamu terluka! Ja… jadi tolong akhiri hubungan kalian!” ucapku terbata-bata. Ternyata setelah hampir 2 tahun tidak bertemu hati ini tetap berdebar-debar saat berbicara dengannya. Bahkan lebih dari yang pernah kurasakan saat menghabiskan waktu bersamanya dulu.&lt;br /&gt;“Hubungan apa???” tanya Ricky sambil menahan tawanya dengan tampang serius.&lt;br /&gt;“Lho?! Kok malah tanya hubungan apa?! Ya, hubunganmu dengan Meliana!” tegasku kesal.&lt;br /&gt;“Huahahahhahaha….”&lt;br /&gt;Tawa Ricky tiba-tiba meledak. Tawa seperti tawa yang selalu kulihat saat masih bersamanya. Tawa apa adanya yang dulu hanya diperlihatkannya padaku. Sejenak aku terbuai dengannya. Ada rasa ingin memeluknya. Tapi, ini ga lucu!&lt;br /&gt;“Cukup!!! Jangan tertawa lagi!!!” teriakku marah.&lt;br /&gt;Kemarahanku seketika menghentikan tawanya dan wajahnya kembali terlihat serius.&lt;br /&gt;“Aku datang kesini bukan untuk melihatmu mentertawaiku! Aku cuma mau kamu tahu siapa Meliana yang sebenarnya. Dia adalah orang yang….”&lt;br /&gt;“Membuatku melakukan kesalahan terbesar dengan meninggalkanmu tanpa alasan. Aku tahu itu!”&lt;br /&gt;“Kalau kamu sudah tahu kenapa kamu tetap menjalin hubungan dengannya?!”&lt;br /&gt;“Hubungan apa?!” tanya Ricky sambil kembali tertawa. “Aku tidak pernah mengganti posisimu dihatiku dengan gadis manapun!”&lt;br /&gt;“Jadi yang dikatakan Arindi padaku?!”&lt;br /&gt;“Selama ini aku mendekati semua murid satu persatu hanya untuk mencari tahu tentang kamu yang selama 2 tahun tidak bisa aku temui, yang suaranya saja tidak bisa aku dengar. Akhirnya aku menemukan kabar tentangmu dari Arindi. Aku tahu semuanya dari awal kejadian 2 tahun yang lalu sampai keadaanmu sekarang dari Arindi. Awalnya aku cukup senang, kerinduanmu padamu cukup terobati. Tapi aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku sudah berusaha menemuimu, menghubungimu, tapi kamu tidak pernah sekalipun menghiraukanku. Karena itu aku minta pertolongan Arindi untuk mencari cara agar kamu datang padaku”&lt;br /&gt;“Jadi kamu dan Arindi menjebakku?! Iya?!”&lt;br /&gt;“Kalo tidak dengan cara ini apa kamu mau datang padaku seperti ini?! Kalo tidak dengan cara ini apa kamu mau sekali saja mendengar penjelasanku?! Kalo tidak dengan cara ini mengangkat telepon dariku saja kamu tidak akan sudi kan?! Iya kan?!”&lt;br /&gt;Aku tersenyum puas. Lega. Aku tahu aku baru saja dibohongi. Tapi ini berita baik buat ku. Kenyataannya tidak seperti yang sejak tadi kubayangkan. Tidak ada Merliana. Tidak ada siapapun. Aku senang.&lt;br /&gt;“Jadi kamu dan Meliana ga ada hubungan apa-apa?!” tanyaku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;“Lebih dari itu. Bahkan aku sudah tidak pernah melihatnya lagi. Dia sudah lama pindah sekolah, entah kemana. Arindi, sahabatnya pun tidak tahu dimana dia sekarang. Karena itu, Rose, temani aku mengajar disini seperti dulu lagi. Menghabiskan waktu berdua, hanya kita berdua”&lt;br /&gt;Aku menunduk diam. Kenyataan bahwa tak sekalipun ia melupakanku membuatku sedikit tersentuh. Aku merasakan airmataku mulai membasahi pipiku ketika aku sadari pelukannya mendarat di tubuhku. Dia memelukku. Pelukan yang sangat kurindukan bersamaku sekarang.&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Rose! Aku memang bodoh! Aku sangat bodoh! Bisa-bisanya aku mempercayai ucapan Meliana tentang kamu. Padahal seharusnya aku mempercayaimu. Seharusnya aku percaya kalo kamu tidak seperti yang ia katakan. Rose, aku memang ga pantas mendapatkan kata maaf darimu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa selama ini aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu.&lt;br /&gt;Didalam pelukannya yang begitu hangat, untuk pertama kalinya aku mendengar kata cinta darinya. Kata yang selalu aku nantikan dalam setiap detik waktu yang kulalui bersamanya. Tapi itu dulu, saat aku masih meyakini dia tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi.&lt;br /&gt;Segera aku mendorong tubuh Ricky agar melepaskan pelukannya.&lt;br /&gt;“Maaf, Ricky! Tapi seharusnya kamu katakan itu 2 tahun yang lalu. Bukan sekarang! Kamu tinggal kenangan untukku. Aku ingin melihatmu bahagia. Tapi tidak denganku”&lt;br /&gt;“Kamu ngomong apa sih, Rose?!”&lt;br /&gt;“Aku juga mencintaimu, Ricky. 2 tahun aku mencoba melupakan rasa itu, tapi rasa itu tidak juga hilang. Sampai saat ini aku tetap mencintaimu. Tapi aku bukan pejuang cinta. Cintaku memang tidak pernah mati, mungkin akan ada untuk selamanya. Sayangnya aku sudah lama membunuhmu dalam hatiku. Tidak lagi aku mengharapkan keajaiban untuk dapat kembali padamu. Maaf, Ricky! Seberapapun inginnya kamu kembali padaku, itu sudah tidak mungkin. Karena disini, dihatiku sudah tidak ada lagi tempat untukmu”&lt;br /&gt;“Tapi, Rose….”&lt;br /&gt;“Rose!!!”&lt;br /&gt;Seorang pria berlari kearah kami. Tangannya menenteng tas ransel cantik berwarna hitam. Tas ransel milikku yang kutinggalkan di taman kampus setelah menerima telepon dari Arindi.&lt;br /&gt;“Steve! Kamu kok bisa tau aku ada disini?!” tanyaku sambil tersenyum sumringah menyambut kedatangannya.&lt;br /&gt;“Kamu kemana aja sih?! Aku kan sudah bilang, tunggu aku di taman! Saat aku sampai disana yang tersisa tinggal tas dan serpihan hand phone kamu ini” protes Steve sambil menunjukan serpihan hand phone Nokia kepadaku.&lt;br /&gt;Aku membalas ocehannya dengan senyum nakal tanpa dosa sambil mengambil kembali tas ranselku yang bertengger manis dibahunya.&lt;br /&gt;“Rose, 1 jam lagi kita harus berangkat. Kamu masih lama?”&lt;br /&gt;Tiba-tiba Steve melirik ke arah Ricky yang berada di belakangku.&lt;br /&gt;“Dia….”&lt;br /&gt;“Oh, Steve! Dia Ricky, mantan guru Biologi ku disini” ucapku basa-basi, padahal aku tahu Steve pasti bisa menebak siapa dia dari ceritaku selama ini. Yah, entah kenapa aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya, termasuk masalahku dan Ricky. “Ricky, ini Steve, dia….”&lt;br /&gt;Bibirku kelu. Sanggupkah aku berpisah dengan cara ini. Ricky, baru saja aku mengucap ingin melihatmu bahagia. Tapi apa dengan cara ini kamu akan tersenyum bahagia. Oh, aku ragu. Padahal aku telah memutuskan untuk menanggalkan cinta ku pada Ricky, beberapa menit yang lalu. Tapi kenapa tiba-tiba aku ragu.&lt;br /&gt;“Rose, tidak ada kata terlambat untuk memilih! Hanya kamu yang berhak menentukan jalan hidupmu sendiri! Jika pilihan terakhirmu bukan aku. Aku rela melepaskanmu. Demi cintaku padamu”&lt;br /&gt;Demi cintamu padaku?! Kamu rela melepaskan aku?! Kamu rela aku memilih Ricky?! Benarkah?! Steve?! Apa aku tidak salah dengar?!&lt;br /&gt;Aku menatap wajah Steve. Air mukanya begitu cerah namun sekilas ada kesenduan dibalik senyumannya. Tak dapat kutahan lagi air mataku, saat melihat ketulusan itu. Cinta yang tulus di wajah Steve.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Steve!”&lt;br /&gt;Kubelai rambut pirang kecoklatannya. Kukecup kedua belah pipi Steve. Hangat. Namun saat itu pula kulihat airmata membasahi pipi lembut itu. Airmata yang keluar dari bola mata biru miliknya yang telah bercampur dengan airmataku.&lt;br /&gt;Setelah kukeringkan airmatanya dengan jemariku. Aku menghampiri Ricky yang sejak tadi membisu, namun terukir jelas kemenangan diwajahnya. Ia tahu aku akan berubah pikiran. Tapi tidak!&lt;br /&gt;Aku meraih kedua tangan Ricky, menggenggamnya dengan erat. Seerat mungkin.&lt;br /&gt;“Ricky, aku tidak akan pernah bisa melupakan hari ini. Kata cinta darimu. Juga kebohongan yang membuatku berada disampingmu sekarang. tapi, bersediakah kamu mengucapkan apa yang baru saja Steve ucapkan?!”&lt;br /&gt;“Aku ga akan lepasin kamu lagi, Rose! Ga akan pernah!” tegas Ricky yakin.&lt;br /&gt;Segera aku menarik Ricky ke dalam pelukanku. Memeluknya dengan pelukan terhangat dari semua pelukan yang pernah aku berikan padanya.&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu Ricky!”&lt;br /&gt;Aku mempererat pelukanku. Karena ini pelukan terakhir dariku.&lt;br /&gt;“Aku sangat mencintaimu Ricky!”&lt;br /&gt;Dan ini adalah kata cinta terakhir dariku.&lt;br /&gt;“Aku juga, Rose! Mencintaimu lebih, lebih dari segala-galanya di dunia ini!” balas Ricky.&lt;br /&gt;“Tapi aku ingin hidup bersama Steve. Selamanya. Dia calon suamiku, Ricky. Dia menjagaku dengan cintanya selama ini. Meskipun dia ingin menyerahkanku padamu, tapi aku tidak akan meninggalkannya. Karena aku yakin, hanya bersamanya aku akan hidup bahagia. Relakan aku, Ricky!” ucapku sambil melepaskan pelukanku.&lt;br /&gt;“Rose, kamu pasti bercanda kan?! Aku yakin kamu hanya mencintaiku. Dan kamu tidak mencintainya. Kamu ga mungkin bahagia hidup bersamanya!”&lt;br /&gt;“Jangan bicara lagi, Ricky! Bukannya aku ingin membalas perbuatanmu padaku 2 tahun yang lalu. Bukan! Aku memang tidak mencintai Steve. Tapi aku yakin, Steve tidak akan membuangku hanya karena hasutan gadis lain. Seperti yang kamu lakukan padaku. Saat ini aku tak punya hati untuk meninggalkannya hanya untuk memilihmu”&lt;br /&gt;“Rose….”&lt;br /&gt;“Hari ini aku akan ikut Steve ke Inggris. Minggu depan kami akan resmi menjadi suami istri. Setelah itu kamu tidak akan menemukanku lagi di Indonesia. Jadi lupakan aku. Seperti aku yang akan melupakan rasa cintaku padamu mulai detik ini. Selamat tinggal, Ricky!”&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;“Rose….”&lt;br /&gt;Steve menarik tanganku dan berusaha menghentikan langkahku yang hendak menuju sedan milik Steve yang terparkir dekat gerbang sekolah.&lt;br /&gt;“Tadi kan kamu bilang kalo 1 jam lagi kita berangkat. Ini udah lewat 1 jam lho!”&lt;br /&gt;“Kamu serius ga mau kembali sama dia?!”&lt;br /&gt;“Jadi kamu ga mau nikah sama aku?!” protesku sambil cemberut. “Ya udah, pulang sana ke Inggris! Dan jangan cari aku lagi!”&lt;br /&gt;Aku melangkah melewati mobilnya menuju jalan raya.&lt;br /&gt;“Rose, kamu mau kemana?!”&lt;br /&gt;“Kemana aja!”&lt;br /&gt;“Tapi kamu kan ga punya siapa-siapa lagi disini!”&lt;br /&gt;“Makanya jangan buang aku! Aku kan sudah meninggalkan cintaku hanya demi kamu!”&lt;br /&gt;“Aneh! Ya udah, ayo masuk ke mobil!”&lt;br /&gt;Aku tidak aneh. Hanya saja aku tidak akan melakukan segalanya untuk cinta. Karena apa?! Karena Steve adalah jawaban dari doaku pada Sang Pencipta. 3 tahun yang lalu, saat Ricky meninggalkanku dan aku merasa aku tak lagi punya harapan untuk kembali bersamanya, aku berdoa pada Tuhan.&lt;br /&gt;“Tuhan, aku mohon turunkanlah malaikat yang paling mencintaiku dalam wujud yang nyata! Maka apapun yang terjadi, aku tidak akan lagi mengharapkan cinta dari seorang pria bernama Ricky”&lt;br /&gt;Dalam doa itu aku bersumpah, jika terkabul aku akan melupakan Ricky. Dan ternyata dalam waktu singkat doa itu terkabul, atau memang Tuhan telah menyiapkannya untukku. Entahlah. Yang kutahu dan kuyakini. Steve adalah malaikat yang Tuhan turunkan untukku. Malaikat yang paling mencintaiku. Bahkan rela berkorban demi kebahagiaanku. Dan aku tidak boleh mengecewakannya.&lt;br /&gt;“Kalo memang kamu memilihku, kenapa harus melakukan adegan seperti tadi?! Atau kamu sengaja ingin membuatku menangis?!”&lt;br /&gt;“Diam! Ga usah dibahas!”&lt;br /&gt;Suatu hari, entah kapan?! Aku yakin. Aku pasti jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;~  TamaT  ~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-5594643512892816330?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/5594643512892816330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=5594643512892816330&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5594643512892816330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5594643512892816330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/tak-kan-kulakukan-segalanya-untuk-cinta.html' title='TAK KAN KULAKUKAN SEGALANYA UNTUK CINTA !'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-1320419533701625860</id><published>2007-08-09T19:36:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T19:46:43.285-07:00</updated><title type='text'>SURAT CINTA ALICE</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Surat Cinta Alice&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika kabar cinta tersampai lewat kata-kata…&lt;br /&gt;Kertas putih sebagai saksi…&lt;br /&gt;Cinta didalam sana yang terindah…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;OLEH : RESSA NOVITA (OCHA)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Goreskan pena mu di atas selembar kertas biru… Layangkan untukku bersama namamu… Maka aku akan merasakan… Keindahan cinta yang kini melekat di hidupmu…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Pos!!!”&lt;br /&gt;“Terima kasih, pak!”&lt;br /&gt;Minggu pagiku yang cerah diawali dengan datangnya surat cinta dari sahabatku, Alice, yang saat ini berada jauh di Biak.&lt;br /&gt;Sambil berjalan masuk ke teras rumah, aku merobek amplop putih itu dan mengeluarkan selembar kertas putih dari dalamnya. Dengan hati-hati kubuka lipatan kertas tipis itu dan membaca tulisan berpena biru itu dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dear Ariessa,&lt;br /&gt;Akhirnya hari ini datang juga. Ini adalah surat cinta yang pernah kita sepakati 5 tahun yang lalu…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Yup! Ini bukan sembarang surat cinta. Kesepakatan yang pernah aku buat bersama sahabatku 5 tahun yang lalu, surat cinta adalah surat yang akan mengabarkan satu sama lain tentang cinta yang kami rasakan dan kami yakinkan untuk selamanya.Keyakinan besar akan cinta yang sulit untuk didapatkan. Tapi hari ini untuk pertama kalinya surat itu datang diantara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;…tapi sebelum itu bagaimana kabarmu, Ka Ardon dan teman-teman yang lain, Floren, Febrian, Aldi,  Anne, Erick, my sweet brother Ka Ajie, Ka Hedy, Ka Iyos, Ka Beni, Ka Reki, dan Ka Odie? Kalian pasti baik-baik saja kan? Aku sangat merindukan kalian semua. Oh iya, bagaimana keadaan my prince Gama…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Aku melipat kembali surat yang belum selesai kubaca itu setelah membaca nama Gama menghiasi kalimat di kertas itu. Nama itu mengingatkanku pada masa-masa sekolahku bersama sahabatku.&lt;br /&gt;Alicia Martina Leva, yang biasa kupanggil Alice adalah seorang gadis yang terlihat begitu dewasa, anggun, penuh percaya diri dan selalu menginginkan kesempurnaan. Ia baru merasakan kenyamanan di sekolahnya sendiri, ketika ia bertemu denganku dan orang-orang yang namanya disebutkan di surat itu. Tapi paling membuatnya mengagumi bahkan memuja SMU Gaeshiera adalah seseorang yang bernama Gama Abife Farghesa.&lt;br /&gt;Di tahun keduanya di sekolah swasta itu, Alice yang saat itu menjabat sebagai ketua klub Tari bertemu dengan Gama salah seorang anggota klub basket.&lt;br /&gt;Biasanya Alice senang menghabiskan waktunya di sekret klub tari bersamaku, Anne dan Floren yang sama-sama bergelut di klub yang sama. Tapi, siang itu Anne dan Floren tidak menampakkan batang hidung mereka dan karena bosan aku mengajaknya ke sekret klub Basket yang letaknya tepat disebelah sekret klub tari. Aku punya banyak teman di klub ini, selain itu kakakku adalah kapten klub Basket ini, namanya Ka Ardon. Di sanalah untuk pertama kalinya Alice bertemu dengan Gama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Alice, kita duduk disini aja!” pintaku sambil menarik Alice dengan sedikit memaksa untuk bergabung bersama beberapa anggota klub Basket. ”Ehm… Boleh ga kami numpang duduk disini?” tanyaku basa-basi pada Erick yang saat itu sedang santai-santai sambil mendengar musik.&lt;br /&gt;“Tentu saja! Masa sih adik kesayangan pak kapten tidak boleh main disini! Duduk disebelahku, Rica sayang!” jawabnya ramah sambil membetulkan kursi disebelahnya.&lt;br /&gt;“Ariessa Rislany! Bukan Rica! Emangnya makanan!” protesku sambil menggeser kursi yang tersedia untuk…&lt;br /&gt;“Riessa!!! Jauh-jauh dari Erick!!! Pria itu beracun!!!” teriak Ka Ardon yang suaranya menggema dari ruangan bagian dalam. (Warning : Riessa panggilan sayang My Sweet Brother, Ka Ardon). Tentunya aku menggeser kursi untuk mencegah teriakan tadi, tapi…ya sudahlah…&lt;br /&gt;Berusaha untuk tidak menghiraukan teriakan kakakku, seketika aku pun asik berbincang dengan pria tampan yang selalu berjaket biru itu. Dan Alice.&lt;br /&gt;Lho?! Kenapa suara Alice tiba-tiba menghilang dari peredaran telingaku?! Menyadari hal itu aku memutar badanku kesegala arah untuk menemukan di mana Alice duduk. Dan aku segera menemukannya asik berbincang dengan seorang anggota klub basket bernama Gama.&lt;br /&gt;Selama ini aku selalu tak sungkan bergabung dengan teman-teman kakak di klub Basket, karena aku akrab dengan mereka semua. Tapi Gama, aku tidak terlalu mengenalnya, bahkan aku belum pernah bertegur sapa dengannya. Gama terlihat dingin, pendiam dan tidak mudah akrab dengan orang lain. Aku jadi malas mendekatinya. Karena itu aku sedikit terkagum-kagum melihat kedua orang itu tiba-tiba ngobrol asik tanpa memperdulikan apapun disekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hari-hari berikutnya sejak kejadian itu aku masih melihat kewajaran dalam diri Alice. Si Miss Pe-De ini terus menggoda Gama dengan daya tariknya. Alice yang biasanya, memang seperti itu bila sudah menangkap kelebihan tampang seorang pria. Dan aku akui komentar Alice benar, Gama punya wajah yang sangat manis apalagi dipadukan dengan kulit gelap dan matanya yang indah.&lt;br /&gt;Tapi keadaan itu tak bertahan lama. Kira-kira satu bulan kemudian, aku mulai melihat gelagat aneh Alice didepan pria itu. Ia menunduk malu dan tak jarang salah tingkah setiap kali bertemu dengan Gama. Bahkan setiap Alice melihatnya dari kejauhan, ia selalu histeris malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Gama?! Oh, my God! Oh, my God! He’s so sweet!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Komentar manis yang disertai dengan wajah memerah tentunya.&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti, Alice mengakui bahwa ia menyukai Gama, bahkan perasaannya mungkin lebih dari sekedar suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Ariessa!!!”&lt;br /&gt;Alice berlari cepat kearahku yang sedang asik melamun sendirian di sekret klub Tari.&lt;br /&gt;“Kenapa sih?” tanyaku bingung.&lt;br /&gt;“Gama! Gama!” Alice mendesahkan nama pria itu pelan sambil mengatur nafasnya. “Manis! Manis banget! Dipadukan dengan topi dan jaket hitamnya. Hari ini dia manis banget!”&lt;br /&gt;“Yee… Kirain kenapa” jawabku kecewa.&lt;br /&gt;“Ar, kayaknya aku jatuh cinta deh sama dia!”&lt;br /&gt;“Udah tau tuh!” kataku santai tak menghiraukan.&lt;br /&gt;“Lho?! Kok reaksi kamu gitu sih?!”&lt;br /&gt;“Ga usah kamu kasih tau, aku juga udah tau, Ne!”&lt;br /&gt;“Aku kan baru kasih tau kamu hari ini, kenapa kamu bisa tau duluan?”&lt;br /&gt;“Seorang Alice yang penuh percaya diri, riang, yang selalu mudah beradaptasi dengan siapapun, yang pintar, dewasa, bijaksana dan penuh wibawa. Dalam hitungan detik berubah menjadi Alice yang tidak aku kenal, yang pemalu, mudah gugup, selalu kehilangan kata-kata dan bertindak ceroboh setiap kali bertemu dengan manusia bernama Gama. Bukankah itu berarti ada sesuatu yang terjadi didalam dirimu?! Kalau bukan cinta, apalagi?!”&lt;br /&gt;“Ariessa, terus aku harus gimana?” rengeknya cemas.&lt;br /&gt;“Ya, ga harus gimana gimana! Tapi cuma satu hal yang bikin aku bingung. Apa kamu sudah tidak  mencintai Arga lagi?!”&lt;br /&gt;Alice terdiam, seolah tak ada kata yang dapat menjawab pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arga, teman cowok Alice sejak Alice masih duduk di bangku SMP. Sebelum dilanda virus Gama, aku masih mendengar Alice bercerita tentang pria yang belum lama ini kembali dekat dengannya dan Alice pun mengaku sangat mencintainya. Namun semakin sering mereka bersama, semakin tidak jelas hubungan mereka. Alice yakin Arga juga mencintainya dari perhatian dan pengorbanan yang diberikannya selama ini, tapi Alice tidak pernah berhasil membuat Arga mengungkapkan perasaannya. Sampai akhirnya Alice mengeluh bosan.&lt;br /&gt;Dan sejak kemunculan Gama, aku merasa perlahan sosok Arga mulai menghilang dari ingatan Alice, terlihat dari frekuensi Alice menyebutkan nama Arga yang kalah rekornya dengan nama pria pendatang baru itu (Gama pendatang baru didunia Alice, maksudku) . Bahkan tanpa ragu Alice meninggalkannya cinta yang tak pasti itu. Dengan kata lain, kali ini Alice benar-benar serius dengan perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;“Ka, Gama itu orangnya seperti apa sih? Baik ga? Dia udah punya pacar belum?”&lt;br /&gt;“Riessa!!!” melongo aneh.&lt;br /&gt;Reaksi kakakku sedikit membuatku tersentak kaget. Sedikit.&lt;br /&gt;“Enggak! Kakak ga ijinin kamu jadian sama anak itu. Ga cocok tau! Kakak malah lebih setuju kalo kamu jadian sama Samuel, dia tuh baik, romantis, perhatian dan penyabar, cocok banget deh sama kamu”&lt;br /&gt;Samuel?! Siapa?! Ga kenal!&lt;br /&gt;Ah, sudahlah! Ga penting!&lt;br /&gt;“Kakak, bukan aku tapi Alice”&lt;br /&gt;Ka Ardon terdiam mendengar kata-kataku.&lt;br /&gt;Aku mengerti dan memaklumi reaksinya kali ini, karena kakakku sempat mengagumi seorang Alice, tapi dia sudah punya Rini, apapun yang terjadi Ka Ardon tidak boleh melukai gadis pilihannya itu.&lt;br /&gt;“Ka…” panggilku untuk menghentikan keheningan yang dibuatnya.&lt;br /&gt;“Gama itu pria yang baik tapi dia sangat tertutup pada orang lain. Dia sudah punya pacar atau belum? kakak ga tau, karena seperti yang kakak bilang, dia sangat tertutup. Kayaknya sih belum. Tapi satu hal yang menarik dari Gama, sampai-sampai kakak ga bisa tidur dibuatnya, dia itu terlalu manis. Gama…Oooh…Gama…”&lt;br /&gt;“Kakak… masih normal kan???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasa suka Alice terhadap Gama membawa kebaikan lain, ia pun bertambah akrab dengan sebagian anggota klub basket. Mereka adalah nama-nama yang disebutkan Alice dalam suratnya. Bahkan Ka Ajie salah seorang alumni klub basket yang semula tidak dikenalnya sekarang sudah seperti kakaknya sendiri. Ini terjadi karena keinginan Alice sendiri yang awalnya berharap akan dapat mengorek keterangan tentang Gama dari mereka. Beberapa dari mereka setelah tahu hal itu tidak berdiam diri, mereka melakukan berbagai macam cara untuk memperdekat Alice dan Gama.&lt;br /&gt;Salah satunya yaitu ketika suatu hari dari kejauhan aku menyaksikan Alice duduk berdua dengan Gama. Saat itu aku tersenyum bangga, aku pikir Alice ada sedikit kemajuan. Tapi tiba-tiba dari belakangku muncul Ka Ajie dengan senyum nakalnya yang ditujukan ke arah mereka. Entah apa yang telah dilakukan Ka Ajie, tapi aku sangat berterimakasih atas usahanya sehingga seorang Gama yang sangat disukai Alice saat itu juga duduk dan tersenyum manis didekatnya.&lt;br /&gt;Semakin hari baik sengaja maupun tidak disengaja, keajaiban selalu datang mempertemukan Gama dan Alice. Alhasil, hubungan mereka berdua semakin dekat. Tapi satu hal yang tidak pernah sekalipun  berhasil diatasinya adalah bersikap tenang didepan Gama.&lt;br /&gt;Dengan dukunganku dan yang lain, Alice menumbuhkan tekad suatu saat akan menyatakan perasaannya pada Gama. Selain itu Alice selalu mewujudkan perasaan sayang dan perhatiannya kepada Gama tanpa henti. Sekaleng Pocari yang selalu diberikannya sehabis latihan rutin adalah salah satunya. Itulah yang membuat kami bangga. Alice selalu berusaha dan tidak pernah menyerah. Aku semakin semangat membantu Alice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Satu tiket aku hadiahkan untukmu. Filmnya bagus lho!”&lt;br /&gt;“Malas ah, nonton sendirian”&lt;br /&gt;“Ya, enggaklah. Aku, Floren, Febrian dan Ka Ardon juga ikut. Kita ketemuan jam 7 di depan Mc D. Oke!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Tiket itu hanya alasan agar Alice dapat kencan berdua dengan Gama. Dengan bantuan Ka Ardon, satu tiket lagi sudah berada ditangan Gama. Dan aku yakin Alice tidak akan mengecewakan pengorbanan kami. Dia pasti menyatakan perasaannya malam itu.&lt;br /&gt; Tapi kenyataan berkata lain. Hari itu juga Alice kehilangan semangat dan tekadnya. Alice merasa tidak lagi memiliki harapan untuk meraih cintanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Apa?! Jadi semalam kamu ga ngomong apa-apa ke dia?” marah Ka Ardon.&lt;br /&gt;Alice hanya menggeleng pelan dengan penuh penyesalan.&lt;br /&gt;“Biar aku pergi tanpa pernah dia tahu perasaanku” ucapnya sendu dengan mata berkaca-kaca.&lt;br /&gt;“Apa?!” tanya Ka Ardon kesal.&lt;br /&gt;“Pergi?! Pergi kemana maksudmu?!” tanyaku melanjutkan pertanyaan Ka Ardon.&lt;br /&gt;“Aku harus meninggalkan kota ini, selamanya”&lt;br /&gt;Pernyataan Alice saat itu juga membuatku dan Ka Ardon tak sanggup berkata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Karena beberapa hal, orangtua Alice memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka di Manado dan meninggalkan kota yang telah menghidupi mereka selama 6 tahun ini. Alice tidak dapat menolak keputusan itu, karena bagaimana mungkin Alice dapat tinggal di kota ini tanpa kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kamu harus menyatakan perasaanmu!”&lt;br /&gt;“Buat apa?! Toh aku akan pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Rencana keberangkatan Alice membuat semuanya berakhir. Hari-harinya menjelang keberangkatannya pun diwarnai dengan kesedihan. Dan Alice memutuskan untuk mundur sebelum sempat maju ke garis start. Teman-teman pun tidak dapat berbuat apa-apa setelah mendengar rencana kepergiannya itu. Tapi tidak bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku akan membuktikan bahwa masih ada harapan.&lt;br /&gt;“Dibalik kisah ini tersimpan sebuah harapan dari sebait doa tulusku. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi sekalipun itu hanya sebuah kisah dongeng. Nah, gimana kalau novel itu kamu baca dulu sebelum kamu berangkat!”&lt;br /&gt;Sedikit malas ia membuka lembaran pertama. Tentu saja, karena membaca bukanlah salah satu dari hobinya. Tapi yang satu ini dia pasti suka.&lt;br /&gt;Aku terus memperhatikannya membaca dengan serius, sesekali ia tersenyum, sesekali ia menatapku kesal. Tak sabar ingin mengetahui akhir kisah itu, ia tiba-tiba menutup buku itu dan membukanya kembali dari belakang. Di tariknya nafas dalam-dalam dan dibacanya halaman terakhir dengan penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan gerbang sekolah.&lt;br /&gt;Setelah Alice menyatakan perasaan yang selama ini dipendamnya dalam-dalam kepada pria manis bernama Gama. Alice akhirnya melangkahkan kakinya pelan kearah Taksi Bandara yang menjemputnya tanpa berani mengharapkan jawaban dari Gama. Tiba-tiba langkah Alice bertambah berat. Ia tahu alasannya, hatinya butuh jawaban namun ia tak berani kembali untuk bertanya, ia pun tak sanggup berhenti sesaat untuk menunggu.&lt;br /&gt;“Gama, seandainya kamu berkata ‘iya’ tanpa ku bertanya. Aku akan melangkah kembali dan membatalkan keberangkatanku saat ini juga sekalipun tanpa seizin Mama” tekad Alice dalam batinnya.&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi dan mungkin untuk yang terakhir kalinya Alice mengubah tekad dalam batinnya.&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah! Mungkin ini jalan yang memang harus aku pilih, yaitu meninggalkanmu”&lt;br /&gt;Alice menatap pintu taksi yang terbuka lebar tepat didepannya. Ditariknya nafas dalam-dalam sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam taksi. “Selamat tinggal, Jakarta!”&lt;br /&gt;“Alice!!! Kembali!!!”&lt;br /&gt;Perintah tegas yang tiba-tiba keluar dari mulut Gama seketika membuat Alice menghentikan gerak tubuhnya. Namun Alice tidak membalikkan tubuhnya, ia hanya terdiam kaget, tak percaya dengan suara yang baru saja didengarnya. Gama memintanya kembali.&lt;br /&gt;“Alice… Aku akan mengatakan ‘aku mencintaimu’ jika itu dapat membuatmu tidak meninggalkan Jakarta selangkahpun! Kamu harus tetap disini! Alice… Jangan pergi! Aku tidak ingin kehilangan kamu!”&lt;br /&gt;Tanpa disadari, airmata Alice telah mengalir melewati bibirnya.&lt;br /&gt;“ALICE…. AKU JUGA MENCINTAIMU…. AKU SANGAT MENCINTAIMU….”&lt;br /&gt;Tiba-tiba pelukan hangat mendarat ditubuh Alice. Alice menemukan wajah cantik mamanya yang memeluknya dengan mata berlinang.&lt;br /&gt;“Nak, jangan pernah melakukan sesuatu dengan keraguan! Tentukan pilihanmu sekarang! Tinggallah disini, jika menurutmu itu yang terbaik!”&lt;br /&gt;Alice tersenyum bahagia menatap sang mama yang akhirnya mengizinkannya tinggal di Jakarta lebih lama lagi.&lt;br /&gt;“Pergilah, Nak!!! Temui pangeranmu!”&lt;br /&gt;Segera, Alice membalikkan badannya, menatap lekat kearah Gama yang berdiri membelakangi teman-temannya yang lain. Dilihatnya kedua tangan Gama bergerak terbuka lebar, seolah mengundang Alice untuk segera mengisi pelukannya. Dan Alice mengerti isyarat itu. Gama bersedia membalas cintanya.&lt;br /&gt;Berlari, Alice menghampiri pria yang tersenyum manis itu dan meraih uluran tangannya. Memeluknya dengan penuh kehangatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menutup buku itu setelah selesai membaca akhirnya. Tanpa ia sadari airmata telah memenuhi wajahnya yang putih bersih. Ia menatapku dengan senyum haru dan menarikku kepelukannya, sesaat namun erat.&lt;br /&gt;“Seandainya saja kisah itu dapat terwujud”&lt;br /&gt;“Karena itu, jangan katakan tidak. Kamu harus menyatakan perasaanmu padanya! Karena tidak ada yang tidak mungkin” aku mendorong Alice masuk ke ruang klub Basket. “Katakan sekarang juga! Aku tahu kamu bukan gadis lemah yang gampang menyerah pada keadaan, Alice”&lt;br /&gt;“Tapi, Ar, aku takut, bagaimana kalau dia…”&lt;br /&gt;“Alice. Now or never!”&lt;br /&gt;Alice dengan wajahnya yang pucat memasuki ruangan. Sesaat kemudian semua penghuni ruangan kecuali Gama meninggalkan ruangan itu, sebagian dari mereka yang tah permasalahannya menemaniku diluar. Aku berdiri cemas didepan pintu ruangan itu, sesekali kupekakan telinga agar terdengar pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;“Hei, kenapa kalian berdiri di depan pintu? Ayo kita ma…”&lt;br /&gt;Aku menarik tubuh Ka Ardon menjauhi pintu masuk ruangan itu.&lt;br /&gt;“Ka, Gama dan Alice didalam” bisikku.&lt;br /&gt;“Berarti, novel yang kamu buat berhasil meyakinkan Alice untuk mengungkapkan perasaannya?”&lt;br /&gt;Aku tersenyum mengiyakan.&lt;br /&gt;“Kamu memang adikku yang paling hebat!” pujinya sambil mengelus rambut panjangku.&lt;br /&gt;Pujian Ka Ardon mengakhiri kebisingan tempat itu, sesayup kalimat terdengar dari dalam ruangan. Kalimat yang membuat kami semua tercengang kaget.&lt;br /&gt;“Aku sangat senang mendapatkan perhatianmu selama ini, tapi saat ini bukan kamu gadis yang aku sukai. Aku tidak bisa membalas rasa sukamu”&lt;br /&gt;Jawaban Gama atas pernyataan Alice.&lt;br /&gt;Sesaat kemudian Alice berlari keluar dari ruangan klub sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sebuah kisah yang telah menumbuhkan kembali semangat Alice, ternyata hanya sebatas goresan pena. Kenyataannya tidaklah seindah itu. Keadaan saat itu malah semakin memburuk dan semuanya karena aku, karena semangat salah yang telah aku berikan. Keputusan semula Alice benar, sebaiknya tak usah dikatakan, dan aku telah menghancurkan segalanya. Bahkan sampai saat ini aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masa lalu…&lt;br /&gt;“Sudahlah, Ariessa, jangan menangis!”&lt;br /&gt;“Tapi ini semua gara-gara aku!”&lt;br /&gt;“Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Kamu benar karena telah membuatku kuat. Apapun yang terjadi, aku tidak peduli, yang penting kini aku merasa lega, aku telah mengungkapkan perasaanku padanya, dan aku berhasil melakukannya karena kamu”&lt;br /&gt;“Tapi kan…”&lt;br /&gt;“Sudahlah, jangan buat aku semakin sedih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kembali ke masa kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Alice pun meninggalkan Jakarta dengan membawa luka hatinya. Tak seorang pun dari kami diijinkannya untuk mengantar sampai bandara, dia tidak ingin kami melihatnya menangis.&lt;br /&gt;Tapi kami yakin suatu hari nanti Alice mampu melupakan Gama dan menyimpannya hanya sebagai kenangan. Sekaranglah bukti nyata Alice telah mendapatkan seseorang pengganti Gama dihatinya.&lt;br /&gt;Tersenyum sejenak, aku kembali membuka lipatan surat itu dan melanjutkan membaca kalimat selanjutnya. Dan aku dikejutkan dengan kata-kata lanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kamu tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Karena dia ada disini bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?! Tidak mungkin!!!”&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini aku memang tidak lagi mendengar kabar Gama. Yang terakhir kudengar dari Ka Ardon, sekarang ia sudah menyelesaikan kuliah S1 nya dan bekerja berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain. Tapi, apa ini jawaban atas ketulusan cinta Alice untuknya selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Setibanya aku di Biak, aku bekerja di toko roti milik mamaku. Dalam waktu singkat toko roti itu mempunyai banyak pelanggan dan kelezatannya terkenal diseluruh pelosok kota ini. Toko roti ini pula yang 4 tahun kemudian mempertemukan aku dengan Gama. Gama dipindah tugaskan ke Biak, suatu hari dia melihatku didepan toko dan tanpa ragu menemuiku. Alhasil, perasaan ini dimulai kembali. Tapi kali ini bukan hanya perasaan sepihak,  karena kami sudah bertunangan.&lt;br /&gt;Semua ini juga karena kamu, Ariessa. Harapan yang kamu goreskan dalam kisah itu, memberikanku kekuatan untuk tidak berputus asa. Karena tidak ada yang tidak mungkin.&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan kamu? Kapan aku akan membaca surat cintamu? Aku sangat menantikannya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Surat cintaku?! Aku sendiri tidak tahu kapan akan kukirimkan. Karena aku belum merasakan cinta seindah yang kau rasakan saat ini, Alice.&lt;br /&gt;“Hiks hiks hiks… Gama dan Alice sudah bertunangan. Lalu bagaimana denganku. Huaaaaa…Alice…”&lt;br /&gt;Lho?! Ternyata kakakku ikut membaca dibelakangku dan dia berteriak histeris setelah mengetahui kabar bahagia itu.&lt;br /&gt;Setelah pisah dari Rini dua tahun yang lalu sepertinya Ka Ardon berharap suatu saat akan mendapatkan cinta Alice, tapi sayang sudah terlambat.&lt;br /&gt;“Riessa… tinggal kamu seorang yang bisa mendampingi kakakmu yang malang ini! Jangan tinggalkan kakak ya, sayang!” pintanya sambil memelukku erat-erat.&lt;br /&gt;“Pos!!!”&lt;br /&gt;Kami terhentak kaget mendengar suara pak pos yang kali ini melengking aneh.&lt;br /&gt;Aku segera menghampiri si tukang pos yang datang untuk kedua kalinya itu.&lt;br /&gt;“Lho, pak?! Kok datang lagi?! Ada yang tertinggal?”&lt;br /&gt;“Ada satu surat lagi untuk Nona Ariessa! Ditambah dengan setangkai mawar merah ini” jawab pria itu sambil menyerahkan surat beramplop merah muda serta setangkai mawar merah.&lt;br /&gt;“Dari siapa, pak? Kok ga ada perangkonya?”&lt;br /&gt;“Dari aku!”&lt;br /&gt;Seorang pria berpakaian rapi dengan jaket birunya tiba-tiba muncul dihadapanku.&lt;br /&gt;“Masih ada kesempatan untukku mencintaimu, Rica?”&lt;br /&gt;“Erick?!”&lt;br /&gt;“Didalam surat itu aku mengabadikan cintaku dan menunggu balasan darimu…”&lt;br /&gt;Aku menatap Erick sedikit bimbang. Berawal dari kebetulan kami melanjutkan di universitas yang sama hubungan kami semakin dekat. Sampai saat ini aku sangat mencintainya tapi dia tidak pernah memberiku kepastian tentang ungkapan perasaanku selama ini.&lt;br /&gt;Beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk melupakannya. Karena aku pikir selama 5 tahun ini aku hanya terlalu melebih-lebihkan sikap manisnya padaku. Tapi sekarang  dia tiba-tiba datang padaku. Mengucap kata yang selama ini aku nantikan. Apa aku punya keberanian untuk menolaknya?&lt;br /&gt;“Ariessa Rislany! Bukan daging Rica-Rica! Tapi aku senang hanya kamu yang memanggilku seperti itu” senyumku penuh arti. “Masuk! Kita ngobrol didalam”&lt;br /&gt;Alice, mungkin pria ini yang suatu saat nanti akan kutuliskan namanya didalam surat cintaku untukmu.&lt;br /&gt;Mengiringi langkah Erick  memasuki ruang tamu, aku tersenyum nakal penuh arti kepada pria sister complex (pecinta adik sendiri) itu.&lt;br /&gt;“Oh, tidak!!! Erick, sekali lagi aku peringatkan!!! Jangan rebut adikku!!!”&lt;br /&gt;“Siapa elu nyuruh-nyuruh gua?!” balas Erick tersenyum riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;♥ TaMaT ♥&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-1320419533701625860?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/1320419533701625860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=1320419533701625860&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1320419533701625860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/1320419533701625860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/surat-cinta-alice.html' title='SURAT CINTA ALICE'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7808261141318068711</id><published>2007-08-09T07:24:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T07:25:56.871-07:00</updated><title type='text'>REMBULAN DI PAGI MATAHARI (PART 1)</title><content type='html'>Ia datang setiap saat langit berganti&lt;br /&gt;Ketika semua nafas kembali dalam sadar&lt;br /&gt;Ia serukan kekalahannya pada dunia&lt;br /&gt;Dan membangunkan lawannya&lt;br /&gt;Bukan untuk mengeluh atau memaki penuh benci&lt;br /&gt;Tapi untuk berikan semangat dan kekuatan&lt;br /&gt;Pada lawan yang begitu bersinar baginya&lt;br /&gt;Demikianlah yang dilakukan Rembulan di pagi Matahari&lt;br /&gt;Di setiap hari yang mereka lalui&lt;br /&gt;Di atas langit yang sama&lt;br /&gt;Juni 2007&lt;br /&gt;By, Ressa Novita (Ocha)&lt;br /&gt;Pukul 6 sore, pada jam-jam itulah Matahari merasakan kantuk menyerangnya dengan begitu dashyat. Saat itu tanpa berpikir panjang ia segera mengucap salam perpisahan pada sahabatnya, para awan, melambaikan tangan pada kawan-kawan burung yang hendak kembali ke sarang, setelah itu meredupkan sedikit sinarnya kemudian menutup mata dari indahnya dunia. Dan semua itu berulang setiap hari yang ia lalui.&lt;br /&gt;Ia sadar tak akan selalu semudah itu ia terlelap, karena itu seringkali ia memanggil sekelompok Angin untuk menyejukkan tubuhnya dan tak lupa meminta beberapa Bintang yang lebih dahulu datang untuk menyanyikan sebuah lagu tidur dengan melodi nan lembut untuknya. Maka ia pun akan benar-benar pulas dalam peraduannya yang mulai mendingin.&lt;br /&gt;Matahari tidak pernah memikirkan ataupun perduli pada dunia yang baru saja ia sembunyikan cahayanya. Ia tak pernah tahu dan tak pernah mau tahu, bahwa ketika ia bernafas lega dalam tidur nyenyaknya, dunia lemah, begitu juga dengan segala isi yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;          Saat itulah Rembulan datang, mencoba berdiri menggantikan posisi Matahari. Tapi sayangnya Rembulan begitu dingin, tak sedikitpun kehangatan Matahari yang ada padanya. Lalu bagaimana ia dapat menghangatkan dunia? Bagaimana pula ia dapat memberikan cahaya untuk mengusir kegelapan ini? Dalam lamunannya Rembulan putus asa. Ia sadar, ia tak sehebat Matahari. Ia pun tak akan mendapat pujian sebanyak yang didapat Matahari. Matahari hanyalah angan-angan bagi Rembulan.&lt;br /&gt;“Jangan sedih!” suatu hari sebuah Bintang berbisik padanya.&lt;br /&gt;Saat itu Rembulan melemparkan tatapan sinis pada si Bintang.&lt;br /&gt;Ia begitu mungil, seratus bintang macam ia pun tak akan mengalahkan ukuran tubuhku. Tapi ia memiliki apa yang selama ini aku inginkan, cahaya. Ia bahkan memiliki cahaya yang amat terang. Dunia dan isinya pasti akan sangat menikmati keindahannya. Jujur, aku iri padanya. Batin Rembulan.&lt;br /&gt;“Ambillah cahaya Matahari sebanyak yang kamu mau!”&lt;br /&gt;Mendengar lanjutan kata-kata Bintang, Rembulan segera menghilangkan pemikirannya tentang Bintang yang semula membuatnya terlihat sedikit tidak ramah.&lt;br /&gt;“Tapi, bagaimana dengan Matahari?! Apa dia akan baik-baik saja jika aku mengambil cahayanya?!” Tanya Rembulan gelisah.&lt;br /&gt;“Hahaha…” Bintang tertawa kecil.&lt;br /&gt;Bagi Bintang baru kali ini ia melihat mahluk langit yang sedemikian polos dan bodohnya. Apakah mahkluk langit memiliki perasaan sepeka manusia?! Mengkhawatirkan mahkluk lain! Apa mungkin?! Batin Bintang.&lt;br /&gt;“Kita mahkluk langit, bukan manusia atau sejenisnya yang hidup dan melangkah secara horizontal. Memiliki apa yang kita inginkan lebih penting dari apapun. Kenapa kamu harus memikirkan yang akan terjadi pada Matahari?! Toh, ia tidak akan tahu. Ia tak akan terbangun sebelum Ayam-ayam di bumi berkokok. Lagipula kamu kan tahu sendiri, cahayanya tidak akan pernah habis. Tuhan memberinya kepercayaan untuk menyinari seluruh Bima Sakti ini. Ia dianugrahi cahaya abadi yang tak akan redup sekalipun kiamat datang berulangkali dan menghancurkan kita semua”&lt;br /&gt;“Tapi…”&lt;br /&gt;“Tapi apalagi?! Maksud kamu kan baik, ingin memberi kebahagiaan pada dunia di saat Matahari tidak memperdulikan mereka lagi. Ambillah sebanyak mungkin cahayanya! Maka dunia akan mencintai kamu seperti dunia mencintai Matahari”&lt;br /&gt;Bintang berhenti bicara. Membiarkan Rembulan larut dalam pikirannya untuk mempertimbangkan saran Bintang.&lt;br /&gt;Satu hari, satu minggu, satu bulan. Akhirnya Rembulan bertekad bulat untuk mengambil cahaya Matahari. Lebih tepatnya mencuri. Tapi, sungguh Rembulan tidak ingin melebihi Matahari, karena ia sangat mengagumi kehangatan tunggal yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Lahirlah Rembulan sebagai sosok yang baru. Dengan cahaya redup yang indah. Cahaya yang menyelimuti tubuhnya bahkan tak setengah dari yang dimiliki Matahari. Ruang kehidupan ini tetap gelap, namun semua makhluk akan merasakan cahayanya setiap kali menatap langit. Dan sejak saat itu ia begitu dikagumi kala Matahari meninggalkan dunia dalam keadaan gelap tanpa cahaya.&lt;br /&gt;Bintang-bintang menjadi mahluk langit yang paling bahagia, kini mereka dapat menikmati cahaya yang begitu hebat, harapan yang tak akan terwujud jika mereka terus menanti keajaiban datang dan membangunkan Matahari sebelum waktunya.&lt;br /&gt;Para Awan menari kegirangan, mereka senang karena selama 24 jam mereka bermandikan cahaya. Makhluk bumi tak akan menganggap mereka hilang bersama Matahari lagi. Biar mahluk bumi tahu, ada atau tidak Matahari, para Awan tak pernah meninggalkan mereka.&lt;br /&gt;Burung-burung malam menyerukan puji-pujian kepada Rembulan. Akhirnya mereka tak lagi kesulitan mencari mangsa. Cahaya Rembulan bagi mereka sangat cukup untuk membantu mereka. Terang namun dingin. Itu lebih baik dibandingkan Matahari yang akan membunuh mereka dengan cahaya panasnya.&lt;br /&gt;Serangga-serangga malam tak henti-hentinya bernyanyi. Mereka menghabiskan waktu sambil menikmati keindahan langit dengan cahaya redup Rembulan dipadu dengan kilauan Bintang-bintang dan tarian Awan nan lembut. Mereka sangat menyukai kehadiran Rembulan. Dan berharap untuk selamanya akan terus seperti ini.&lt;br /&gt;Kebanggaan terbesar dirasakan Rembulan ketika semua manusia mengelu-elukan keindahan cahayanya. Mereka tak sekalipun melupakan kehangatan redup yang mengantar mereka memasuki gerbang di alam yang berbeda, alam mimpi yang penuh dengan keajaiban dan harapan.&lt;br /&gt;Rembulan bagaikan surga bagi mereka semua yang dianugrahi penglihatan sempurna, kecuali Matahari. Si pemilik cahaya Rembulan.&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;          Ketidaktahuan menaungi cahaya indah Matahari di pagi hari. Seperti biasa ia akan terbangun dengan keengganan menyapa dunia. Biasanya ia akan bergumam barang sejenak setelah ia merasa mual untuk terus menutup mata. Kadang mengeluh akan jenuhnya hidup, kadang berkomentar tentang ketidakadilan dunia yang seringkali dilihatnya, bahkan kadang ia mencibir pelan kepada makhluk-makhluk di sekitarnya yang menurutnya janggal atau terlihat menyebalkan. Setelah selesai dengan rutinitas demikian, ia akan kembali kepada dirinya semula. Yang setiap kali menatap luasnya langit, birunya laut, tingginya gunung dan megahnya kota-kota ciptaan manusia , dengan riang ia akan berseru “Oh, alangkah indahnya dunia!”&lt;br /&gt;          Suatu pagi, ia terbangun sebelum Ayam-ayam milik Manusia-manusia di bumi membangunkannya. Sapaan hangat dengan suara yang begitu merdu melintasi pendengarannya.&lt;br /&gt;          “Selamat pagi, Matahari!” untuk ke tiga kalinya suara itu datang, membuat Matahari benar-benar harus membeningkan pandangannya yang masih terasa berat.&lt;br /&gt;          Segera Matahari menatap ke atas langit. Saat ia berhasil menajamkan mata, ia menemukan bola angkasa yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Bola itu mengeluarkan cahaya, sedikit redup, dan jika terus diperhatikan cahaya itu terus meredup.&lt;br /&gt;          Saat melihat cahaya bola itu terus meredup, ia teringat dengan kata-kata Tuhan yang diucapkan padanya milyaran tahun yang lalu, ketika Ia selesai menciptakan bumi.&lt;br /&gt;“Tidak ada cahaya yang dapat menandingi cahaya tubuhmu, kecuali cahaya tunggal Ku. Cahaya apapun akan terus meredup dan mati tanpa sisa, jika bertemu dengan cahayamu. Termasuk bintang, pelangi maupun cahaya-cahaya hebat buatan manusia”&lt;br /&gt;          Ah, benar. Dia meredup karena aku terbangun. Mungkin dia akan bersinar lebih lama seandainya saja ia tidak membangunkanku. Padahal dia memiliki cahaya yang sangat cantik, meskipun tidak banyak. Batin Matahari.&lt;br /&gt;          Dan dia sangat ramah. Dia tak henti tersenyum padaku.&lt;br /&gt;          “Selamat pagi!” Matahari membalas sapaan bola cantik yang tak dikenalnya itu dan tak lupa melemparkan senyuman tanda bahwa Matahari amat senang bertemu dengannya.&lt;br /&gt;Setelah itu Matahari tak lepas memandangnya. Ia bahkan melupakan rutinitasnya di setiap pagi. Dan tidak menyerukan keindahan dunia. Ia terbuai keindahan sesosok cahaya yang sama sekali tidak dikenalnya. Mendengar perihal keberadaannya pun tidak.&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;          “Ada apa dengan mu, Matahari?! Kamu lupa menyapaku pagi ini! Beberapa pagi sebelumnya juga! Kamu bahkan tidak menghiraukan kedatanganku!” tanya seekor kelelawar dengan nada sedikit meninggi. Maklum, sejak tadi Kelelawar sengaja berdiri di depan Matahari, namun sedikitpun Matahari tidak menyadari kehadirannya. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya bagi Kelelawar.&lt;br /&gt;          “Matahari!” ulang Kelelawar.&lt;br /&gt;          “Ah, pagi Kelelawar!” sapa Matahari singkat.&lt;br /&gt;Setelah itu ia kembali menghiraukan Kelelawar dan melanjutkan rutinitas barunya yang sama sekali belum dimengerti teman-temannya, tak terkecuali Kelelawar.&lt;br /&gt;          “Matahari!” panggil Kelelawar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.&lt;br /&gt;          “Ehm?!” sahut Matahari ringan. Dan ia masih belum benar-benar menghiraukan Kelelawar.&lt;br /&gt;          “Apa sih yang kamu lihat sampai-sampai kamu melupakan segalanya?!”&lt;br /&gt;          “Aku tidak melupakan apapun!”&lt;br /&gt;          Kelelawar mencoba mengikuti arah pandangan Matahari. Dan ia tak melihat apapun yang menarik kecuali langit yang hampir seluruhnya bermandikan cahaya Matahari.&lt;br /&gt;          “Ah, sudahlah! Kamu semakin panas dan membuat pandanganku semakin gelap. Kalau aku harus menunggumu menjawab pertanyaan sederhanaku. Bisa-bisa aku mati terbakar disini”&lt;br /&gt;           Tanpa memperdulikan Matahari yang juga tidak memperdulikannya, Kelelawar mulai mengepakkan sayap-sayap tipisnya untuk terbang kembali ke pohon tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;          “Eh, tunggu!”&lt;br /&gt;          Tahan Matahari, tiba-tiba. Hampir saja Kelelawar hilang keseimbangan mendengar perintah Matahari.&lt;br /&gt;          “Apa?!” tanya Kelelawar, judes.&lt;br /&gt;          “Apa ada bola angkasa bercahaya yang menyerupai aku di malam hari?”&lt;br /&gt;          “Maksudmu Rembulan?!”&lt;br /&gt;          “Oh, jadi namanya Rembulan. Berarti sekarang dunia tidak lagi gelap saat aku tertidur?”&lt;br /&gt;          “Kamu salah! Dunia selalu gelap saat kamu tertidur, sekalipun ada 100 Rembulan yang menggantikanmu. Dia begitu kecil dan redup, bahkan aku tidak yakin kalau cahaya yang dimilikinya alami. Tidak seperti kamu. Duh, aku pulang dulu ya! Panas nih!”&lt;br /&gt;          “Dan dia akan pergi saat aku terbangun?!”&lt;br /&gt;          “Bukannya pergi, tapi tak terlihat. Seperti kamu membuat bintang-bintang tak terlihat. Sudah ah! Jangan tanya lagi!”&lt;br /&gt;          “Dan dia tidak terdengar lagi suaranya?!”&lt;br /&gt;          “Itu karena kamu berotasi menjauhinya!”&lt;br /&gt;          Setelah Kelelawar berlalu, Matahari kembali menatap ke arah bola angkasa yang kini dia kenal sebagai Rembulan. Tapi, terlambat, ia sama sekali tidak dapat melihatnya lagi.&lt;br /&gt;          “Oh, padahal aku ingin terus melihatmu di langit ini, Rembulan!”&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;          Pagi ini Matahari terbangun oleh sapaan Rembulan, sama seperti 100 pagi yang ia lalui sejak kehadiran Rembulan di langit fajar yang seharusnya hanya miliknya. Matahari rela berbagi dengannya, toh ia tidak bertahan lebih dari 30 menit. Lagipula Matahari merasa teramat lebih baik setiap kali terbangun dengan sapaan Rembulan. Membuka mata disertai senyuman bagi Matahari sudah sangat mewakili kalimat yang biasa diucapkannya sebelum kehadiran Rembulan “Oh, indahnya dunia!”.&lt;br /&gt;          100 hari berlalu hanya dengan sapaan selamat pagi dari kedua belah pihak, dan keadaan itu terlihat sangat membosankan bagi setaman bunga matahari yang setiap saat mengikuti gerak-gerik Matahari. Mereka sepakat mendorong Matahari untuk memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;          “Tanyakan padanya, apa yang dia lakukan dihari sepagi ini?” saran setangkai bunga matahari.&lt;br /&gt;          “Jangan! Jangan! Mulailah pembicaraan dengan memuji keindahannya!” saran setangkai bunga matahari yang lainnya.&lt;br /&gt;          “Bukan begitu! Berbasa-basilah! Tanyakan, apa kamu tidak lelah membangunkanku setiap pagi?”&lt;br /&gt;          “Sudah-sudah! Biar aku bertanya sendiri, kalian tidak usah mengajariku!”&lt;br /&gt;Pagi-pagi dengan menghemat kata telah berakhir. Matahari tak lagi sungkan meneriakkan nama Rembulan. Rembulan pun dengan senang hati menceritakan kisah-kisah lucu karangannya sendiri dan membuat pagi Matahari penuh tawa.&lt;br /&gt;“Terimakasih, Rembulan! Kamu selalu ada setiap kali aku membuka mata!”&lt;br /&gt;“Jangan sungkan, apa yang aku lakukan tidak seberapa dibandingkan pengorbananmu pada dunia dan seluruh isi bima sakti ini”&lt;br /&gt;“Ah, apa benar? Mahluk bumi bermimpi saat tidur di malam hari”&lt;br /&gt;“Yah, dan mereka menikmati mimpi mereka”&lt;br /&gt;“Seberapa banyak Bintang yang menemanimu? Oh, senangnya! Mereka begitu indah. Tapi mereka tidak bisa menemaniku. Aku terlalu silau dan panas”&lt;br /&gt;Jika bukan karena bujukan setaman bunga matahari mungkin Matahari tidak akan mengenal Rembulan lebih dari kekaguman akan keindahannya. Begitu juga dengan Rembulan.&lt;br /&gt;          Kini, pagi adalah 30 menit penuh arti bagi mereka berdua. Menit berikutnya menjadi lebih berarti bagi Matahari, karena ia percaya Rembulan tak akan pergi meninggalkan pagi miliknya. Sekarang, esok, ataupun lusa. Akan mereka rajut cinta, bersama. Untuk persembahkan kehangatan cahaya pada dunia di dua waktu yang berbeda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7808261141318068711?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7808261141318068711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7808261141318068711&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7808261141318068711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7808261141318068711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/rembulan-di-pagi-matahari-part-1.html' title='REMBULAN DI PAGI MATAHARI (PART 1)'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-898996114893328763</id><published>2007-08-09T07:23:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T07:24:21.400-07:00</updated><title type='text'>AYAM KAMPUS</title><content type='html'>AYAM KAMPUS&lt;br /&gt;Oleh     : Rachmat Nugraha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, keringat mengucur deras membasahi tubuh kami. Deru nafas terdengar begitu hebat. Berpacu memburu nafsu. Kami sama-sama tenggelam dalam kenikmatan birahi.&lt;br /&gt;“Kang, peluk aku lebih erat” Desah Imas.&lt;br /&gt;Dengan penuh kelembutan, kupeluk tubuh sintal itu erat-erat. Sambil terus berjuang untuk mencapai titik puncak, aku telusuri setiap jengkal manis wajahnya dengan bibirku.&lt;br /&gt;“Kang, cepetan! Aku udah enggak tahan….. Aku lapar nih”&lt;br /&gt;“Lho?” Aku kembali ke alam sadar dimana aku berada dalam sebuah ruangan yang sempit. Ruang kerjaku. Didepanku, Rani sudah menampakkan raut wajah kelaparan.&lt;br /&gt;“Cepetan dong!” Rengeknya manja.&lt;br /&gt;“Iya… iya! sebentar lagi juga selesai” Kataku sambil melanjutkan kembali catatan hasil liputan yang sempat terhenti akibat lamunan tadi.&lt;br /&gt;Aku adalah lelaki tulen, produktif, dan bertubuh kekar (Penting?). Aku bekerja di sebuah majalah Lifestyle sebagai reporter. Rani adalah kekasihku yang sudah hampir 2 tahun ini mewarnai setiap hari-hariku. Dia berprofesi sebagai accounting si sebuah perusahaan swasta di Jalan Ahmad Yani, Garut kota. Sudah satu jam dia menungguku menyelesaikan ketikan hasil liputanku.&lt;br /&gt;Dan Imas, gadis yang barusan memasuki setiap jengkal pikiranku. Dia adalah seorang mahasiswi di Universitas Tanah Kuring yang berprofesi ganda sebagai ayam kampus (You knowlah!). Aku mengenalnya ketika sedang melakukan liputan tentang lika-liku kehidupan ayam kampus di Garut. Orangnya begitu terbuka dalam hal apapun. Termasuk untuk urusan “itu”. Dia amat terbuka. Dan yang pasti, senyumnya itu lho! Sangat menggoda. Baik birahi, maupun isi dompet. Tapi sayang,   adegan“panas” itu hanya ada dalam ruang anganku saja. Karena, aku bukanlah tipe lelaki yang suka mengorbankan cinta demi nafsu sesaat.&lt;br /&gt;Pikiranku kembali melayang pada pertemuan dengan Imas semalam. Waktu itu, jam menunjukkan pukul 12 malam saat aku tiba Labuan, sebuah diskotik ternama di Garut.  Seorang wanita cantik datang menghampiriku.&lt;br /&gt;“Puenten, Kang! Akang yang namanya Dadan, kan?” Sapa wanita bertubuh sintal itu.&lt;br /&gt;Aku mengangguk mengiyakan. Dan ketika dia menggandeng tanganku, mengajakku memasuki ruangan yang dipenuhi dengan lampu warna-warni yang kelap-kelip disetiap sudut ruangan, aku menurut saja.&lt;br /&gt;“Silahkan duduk, Kang”&lt;br /&gt;“Makasih” Aku langsung menjatuhkan pantatku di sofa empuk.&lt;br /&gt;Setelah    memesan      minuman,&lt;br /&gt;kami pun ngobrol. Belakangan aku baru tahu kalau ternyata wanita cantik yang bernama Imas itu adalah mahasiswi Universitas Tanah Kuring yang dijanjikan oleh Rajib untuk menemuiku. Sangat menggoda. Itulah kesan pertama yang kudapat.  Dan yang pasti, dihadapan Imas aku tidak mengaku sebagai wartawan. Aku takut tidak akan mendapatkan informasi yang aku perlukan untuk liputanku.&lt;br /&gt;“Akang berani bayar berapa?”&lt;br /&gt;“Satu juta!” Jawabku.&lt;br /&gt;“Kurang atuh, Kang! Kalo segitu sih cuma buat short time” Desisnya sembari mengelus pipiku.&lt;br /&gt;“Terus, berapa?”&lt;br /&gt;“Satu setengah!”&lt;br /&gt;“Setuju!”&lt;br /&gt;“Ya udah, kalo gitu sekarang kita…..ke warung”&lt;br /&gt;“???” Lagi-lagi aku kembali ke alam sadar.&lt;br /&gt;“A! Aa dengerin Rani enggak, sih?”&lt;br /&gt;“Iya, Aa dengar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Malam ini, aku kembali menemui Imas guna menyelesaikan tugas liputanku. Dan kali ini, kecanggungan yang kemarin terasa sudah mulai lenyap.&lt;br /&gt;“Akang mau long time lagi?”&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;“Tapi Kang, kali ini Imas dicicipi kek! Masa Imas cuma diajak ngobrol kayak kemarin sih?!”&lt;br /&gt;Aku tersenyum datar. Aku?! bercinta dengan wanita yang memberikan kehormatannya untuk kepentingan umum?!. It’s possible, you know!&lt;br /&gt;“Ngomong-ngomong kita kemana, Kang?”&lt;br /&gt;“Kita ke Cipanas, yuk!”&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi lagi, Imas langsung menarik tanganku. Kami langsung keluar diskotik dan pergi menuju Cipanas.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, kami banyak ngobrol. Mulai dari asal muasal dia bisa terjerumus ke lembah hitam, sampai bagaimana dia pernah mencoba berjuang dengan keras untuk dapat meninggalkan dunia malam yang telah menjauhkannya dari kehidupan normal yang sangat didambakannya.&lt;br /&gt;Sungguh, pemandangan yang indah sekaligus mengharukan ketika melihatnya menangis. Indah, karena wajah cantiknya tetap memancarkan pesona yang luar biasa  meski  sedang   menangis. Mengharukan, karena aku tidak mengira jika dibalik kebinalannya tersimpan keinginan untuk melepaskan diri dari jerat kenistaan.&lt;br /&gt;“Terus, kenapa kamu menyerah?”&lt;br /&gt;“Nanggung, Kang! Sudah basah, lebih baik nyelam sekalian”&lt;br /&gt;Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Kalau saja aku belum memiliki Rani, mungkin aku akan menjadikan Imas istriku sehingga dia dapat keluar dari lembah nista ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;“A,  kamu mau kemana lagi malam-malam begini?”  Suara Rani terdengar datar di ujung telepon. Dia BT&lt;br /&gt;“Ee...ee... Anu.... Aa mau cari berita” (Bohong)&lt;br /&gt;“Lho, bukannya Aa libur?!”&lt;br /&gt;“Tadinya, tapi Aa harus gantiin Fahmi”&lt;br /&gt;Akhirnya setelah dua jam usaha meyakinkan Rani berhasil juga. Dan itu semua aku lakukan hanya demi Imas. Ya, aku bertekad akan mengembalikan dia ke kehidupannya yang dulu. Demi rasa kemanusiaanku yang selama ini seringkali aku abaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Tepat pukul 11 malam aku tiba   di diskotik Labuan. Kulihat Imas tengah duduk berdiri di dekat pintu masuk. Menunggu para pria hidung belang yang ingin mencicipi kehangatan tubuhnya. Tonight, she’s look more beautiful.&lt;br /&gt;“Akang!” Imas melirik ke arahku.&lt;br /&gt;Bergegas dia meng-hampiriku dan mengajakku duduk.&lt;br /&gt;“Kok enggak ngomong-ngomong mau datang?”&lt;br /&gt;“Maklum, dadakan”&lt;br /&gt;Aku langsung ajak dia keluar diskotik, dengan sedikit uang pelicin untuk sang germo tentunya.&lt;br /&gt;Semalaman aku banyak ngobrol dengannya dan kali dia  tidak lagi memaksaku untuk menikmati tubuhnya.&lt;br /&gt;Aku terus membujuknya untuk meninggalkan kehidupannya yang kelam dan kembali seperti wanita lainnya yang memiliki kehidupan normal.&lt;br /&gt;“Gimana, kamu mau enggak ninggalin semua ini?”&lt;br /&gt;“Tapi aku enggak punya keahlian apa-apa untuk membiayai hidupku”&lt;br /&gt;“Enggak usah takut, aku akan carikan kamu kerjaan”&lt;br /&gt;Imas memandangku dengan senyum. “Beneran, Kang?”&lt;br /&gt;Aku menggangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Hari ini aku kembali menemui Imas dan kali ini bukan di diskotik, tempat biasa dia menghabiskan malamnya. Melainkan di alun-alun kota Garut.&lt;br /&gt;Dia sudah bertekad untuk meninggalkan dunia hitamnya dan meminta bantuanku untuk melarikan diri dari genggaman sang germo.&lt;br /&gt;“Sudah siap?” Tanyaku begitu bertemu Imas.&lt;br /&gt;Imas mengangguk.&lt;br /&gt;Kami kemudian bergegas meninggalkan alun-alun dan pergi menuju Bandung.&lt;br /&gt;“Nanti kamu aku titipin sama Lina. Dia temen kuliahku dan dia bersedia bantu kamu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Jam 1 siang aku sampai di rumah  Lina di daerah Cicadas.&lt;br /&gt;Lina yang memang sudah mengetahui kedatangan kami langsung menyambut di depan rumah.&lt;br /&gt;“Hallo, Dan! Apa kabar?” Sapa Lina sambil mengulurkan tangannya padaku.&lt;br /&gt;“Baik! Makasih ya sudah mau bantu” Balasku sedikit basa-basi. “Ohya, kenalin, ini Imas”&lt;br /&gt;Setelah mereka berkenalan, kami lalu diajak masuk oleh Lina ke dalam rumah. Cukup lama kami ngobrol, hingga akhirnya aku pamit karena aku harus sudah berada lagi di Garut pukul 7 malam.&lt;br /&gt;“Lin, aku titip sama kamu ya”&lt;br /&gt;Lina mengangguk tersenyum.&lt;br /&gt;“Nah, Imas! Kamu baik-baik ya di sini”&lt;br /&gt;“Ya, Kang! Makasih ya”&lt;br /&gt;Aku lalu pergi meninggalkan rumah Lina. Meninggalkan Imas dengan harapan-harapan barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Dua bulan berlalu. Hari ini aku menerima surat dari Imas. Dia mengatakan bahwa kini dia sudah bekerja di perusahaan Lina dan berangsur kehidupannya kian membaik. Bahkan, dia sudah tidak lagi tinggal menumpang bersama Lina. Dia mengontrak rumah petak tidak jauh dari rumah Lina dan dia sepertinya lebih bahagia dengan kehidupannya sekarang.&lt;br /&gt;“Derrrrrt.....derrrrrrt” Getar handphone mengusikku.&lt;br /&gt;“Hallo”&lt;br /&gt;“Aa, kok ngangkatnya lama banget sih?!” Terdengar suara Rani di ujung telepon. “Cepetan, katanya mau jemput!”&lt;br /&gt;“Iya....ya! Aa berangkat sekarang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Tamat--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-898996114893328763?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/898996114893328763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=898996114893328763&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/898996114893328763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/898996114893328763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/ayam-kampus.html' title='AYAM KAMPUS'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-267710137264401792</id><published>2007-08-09T07:22:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T07:23:03.360-07:00</updated><title type='text'>Aku Tunggu Di Tepi Anyer!</title><content type='html'>Aku Tunggu Di Tepi Anyer!&lt;br /&gt;Oleh : Ressa Novita (Ocha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri tegak di depan meja riasku. Kursi cantik berwarna biru muda yang tergeletak menyertai meja rias ini, aku biarkan kosong tanpa guna. Kutatap wajah putihku yang terlihat segar tanpa dihiasi sedikitpun bercak noda. Lalu kucoba tersenyum.&lt;br /&gt;Yah, inilah aku! Apa ada yang salah?!&lt;br /&gt;Sekilas wajah ini terlihat seperti bukan wajah milik seorang gadis yang ramah. Memang benar. Banyak orang yang berkata dengan sinis untuk air muka yang sebenarnya tidak aku buat-buat. Tapi, Tuhan Maha Pengasih. Aku diberikan satu kelebihan dari wajah tidak ramahku ini. Sebuah popularitas. Dan aku bahagia dengan kelebihan itu.&lt;br /&gt;Aku jadi semakin gemar tersenyum pada semua pria yang menyapaku dengan nakal. Dan dapat kumeyakinkan pada siapa saja yang bertanya padaku, aku menyukai mereka. Apalagi jika diantara mereka ada wajah yang terlihat indah untuk dipandang lebih lama dipadu dengan potongan tubuh yang sempurna. Ehm, aku suka sekali. Dan saat memandang mereka aku akan bergumam dalam hati ‘oh, indahnya hidup!’. Maka akupun tak akan ragu untuk balik menggoda pria-pria indah itu.&lt;br /&gt;Yah, sekali lagi aku katakan. Inilah aku! Dan bagiku tidak ada yang salah pada diriku!&lt;br /&gt;Tapi saat ini…&lt;br /&gt;“Dreeet…dreeet…dreeet…”&lt;br /&gt;Getar tanpa nada yang keluar dari telepon genggamku seketika membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;Tak segera kutekan tombol penjawab pada handphone sony ericson itu. Aku hanya menatap layarnya yang mengeluarkan cahaya terang dengan inisial nama Chayankku yang tak henti berkedap-kedip. Itu inisial pacarku yang tersimpan di memori handphone. Terkadang aku memanggilnya demikian. Dan itu sebuah kemunafikan yang berpadu dengan kebohongan yang manis.&lt;br /&gt;Tiap kali aku melihat nama kebohongan itu menghiasi layar handphoneku. Aku akan teringat sampai hal-hal terkecil yang tersusun dan mengisi kebohongan itu.&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang aku me-reject panggilan itu. Dan segera menon-aktifkan handphoneku.&lt;br /&gt;Maaf, Geral! Tapi hidup ini cuma panggung sandiwara. Begitu juga hubungan kita selama ini. Aku hanya ingin menampilkan sisi romantis dari drama cinta yang kubuat. Aku hanya tinggal menunggu waktu untuk membuat babak penutupnya. Masalah endingnya bahagia atau tidak, itu tergantung kehendakku sebagai sang penulis naskah yang juga merangkap sebagai sutradara dan pemeran utamanya.&lt;br /&gt;“Tok…Tok…Tok…”&lt;br /&gt;Lagi-lagi ada yang membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;“Devi… Ada telepon dari Geral!”&lt;br /&gt;Mendengar lanjutan ketokan pintu itu, dengan sigap aku meraih handphoneku yang masih dalam keadaan tak bernyawa (non-aktif) dan memasukkannya kedalam tas ranselku.&lt;br /&gt;Aku menenteng tas ranselku dan bergegas keluar kamar. Tapi bukan untuk menjawab telepon dari Geral.&lt;br /&gt;“Mah, udah ga ada waktu lagi nich!” teriakku sambil menunjuk kaca jam tangan hitam yang menghiasi pergelangan tangan kananku.&lt;br /&gt;Mendengar jawaban tidak enak dariku, mama terlihat sedikit terkejut. Tapi akhirnya ia mengangguk tanda setuju saat aku mencium pipi kanannya sebagai permohonan doa restu sebelum pergi untuk menuntut ilmu.&lt;br /&gt;Hah, Geral! Sekali lagi maaf ya! Bukannya aku tidak ingin berbicara denganmu, tapi belum saatnya aku kembali membuka tirai panggung sandiwara ini. Aku masih memikirkan adegan selanjutnya yang harus aku mainkan sebagai babak penutup drama cinta ini.&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;“Hei, Dev! Makin cerah aja nih!”&lt;br /&gt;Sapaan seorang mahasiswi membuatku berhenti melangkah dan menyempatkan diri untuk menoleh kearahnya. Sekedar untuk membalas sapaannya dengan senyuman khas ala Devi.&lt;br /&gt;Kampusku pagi ini terlihat lebih ramai. Dan tidak biasanya pemilik suara yang kukenal sudah bertengger manis di depan laboratorium bahasa lantai 4 di jam-jam sepagi ini.&lt;br /&gt;Saat kumenoleh, terlihat 3 orang gadis berpakaian serba modis. Mereka teman-teman sekelasku. Si pemilik suara bernama Fiar, si hitam manis yang selalu ramah terhadap siapapun, tak terkecuali padaku. Disebelahnya berdiri, Reny, gadis yang kecantikannya diakui di seantero kampus namun terkenal dengan mulut pedasnya. Dan yang satu lagi Gemma, satu-satunya gadis di kelasku yang sangat aku sukai namanya, tapi sayang dia salah satu orang yang selalu menatapku dengan pandangan sinis, entah apa alasannya.&lt;br /&gt;“Yo, jelas! Lihat di keningnya kan ada susuk! Jadi dia bisa menggaet puluhan pria sekaligus dengan satu senyumannya. Pasti hidup kamu bahagia sekali ya! Dikelilingi banyak pria! Oh iya, sekarang pacar kamu ada berapa?”&lt;br /&gt;Kata-kata yang dilontarkan Reny seketika merubah mood ku yang semula baik-baik saja. Apalagi ditambah tatapan sinis Gemma yang seolah-olah meng’iya’kan komentar sahabatnya.&lt;br /&gt;Dasar cewek sialan! Kalau aku dilahirkan sebagai ‘Dukun Sunat’. Udah ku sunat tuch lidah yang keliwat kotor! Sayangnya, aku dilahirkan dengan sopan santun yang memadai. Jadi apapun alasannya, aku hanya mampu ‘Tersenyum Manis’ pada cewek yang juga bermulut sangat sangat sangat manis itu.&lt;br /&gt;Ditambah sedikit jawaban yang diucapkan dengan manis juga tentunya.&lt;br /&gt;“Uhm… Aduh, ga keitung tuch berapa banyak pacarku sekarang! Tapi tenang aja! Aku ga pernah lupa kok sama kamu! Aku ga akan tega membiarkanmu ‘Jomblo’ seumur hidup. Jadi kalo aku bosen sama salah satu dari mereka, aku pasti rekomendasiin kamu buat jadi pemilik baru mereka. Fiar, Gemma, kalian juga mau kan? Pokoknya semau kebagian dech! So, jangan sedih ya!”&lt;br /&gt;Setelah insiden ringan tak berarti itu, aku segera melanjutkan langkahku menuju kelas yang pada hari ini akan kupergunakan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu.&lt;br /&gt;“Devi…”&lt;br /&gt;Belum sampai aku ke tempat tujuan, teriakan berat seseorang membuatku berhenti melangkah karena sedikit terkejut. Dia Nuri sahabatku, aku kenal betul tingkahnya yang seringkali memanggil namaku dengan suara yang sengaja diubah supaya mirip dengan suara laki-laki. Dan pastinya dia tak pernah berhasil, karena sejak awal dia berjenis kelamin wanita. Dia mungkin akan berhasil mengelabuiku jika ia juga berinisiatif untuk mengubah jenis kelaminnya.&lt;br /&gt;“Oiy, cerah banget hari ini! Lagi seneng ya!” lanjutnya setelah berhasil menyamai langkahku.&lt;br /&gt;“Jangan ngomong yang macem-macem dech! Nanti aku sunat tuch lidah!”&lt;br /&gt;“Apaan sich?! Kok jawabnya kayak gitu! Aku kira Devi yang aku kenal benar-benar manis. Ga taunya…”&lt;br /&gt;“Eh, enggak! Bukan gitu maksudku. Tadi aku mau ngomong kayak gitu ke mereka, tapi secara aku manis ga mungkin dong aku ngomong sembarangan ke orang sembarangan. Begitcu…” ralatku sambil mencubit sebelah pipinya, setelah itu aku segera nyelonong masuk ke dalam kelas yang sejak tadi sangat aku nantikan (AC-nya).&lt;br /&gt;“Tadi aku ketemu Geral tuch! Dia kayaknya kebingungan nyariin kamu. Emangnya kamu belum nemuain dia buat ceritain yang sebenarnya tentang…”&lt;br /&gt;“Hush!” aku segera membekap mulut Nuri dengan telapak tanganku. Sebelum ia berhasil menyelesaikan kalimat yang sangat terlarang untuk dikatakan di tempat umum seperti ini. “Aku kan udah bilang, ini rahasia. Kamu kan tau seperti apa imageku di mata anak-anak cewek di kelas ini! Biarkan mereka semua hanya tahu gosip, tapi jangan sampai mereka tahu berita actual apapun tentangku. Bahaya, bisa-bisa aku hilang kendali dan menyunat lidah mereka satu per satu”&lt;br /&gt;“Okey, lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”&lt;br /&gt;“Masih aku pikirkan. Aku harus membuat ending yang benar-benar manis untuk hubunganku dan Geral”&lt;br /&gt;“Gila! Kamu pikir semua cowok itu ga punya perasaan! Hampir satu bulan kamu menghindarinya dan sekarang kamu benar-benar ingin meninggalkannya?!”&lt;br /&gt;“Hush! Jangan keras-keras!”&lt;br /&gt;“Biarin! Biar orang semua tahu kejamnya seorang Devina Ekaputri!” teriaknya marah.&lt;br /&gt;“Nuri, dengar dulu!”&lt;br /&gt;“Apalagi yang harus aku dengar. Seorang Devi yang terkenal sebagai pemikat cowok, sekarang melanjutkan aksinya dengan menjelma sebagai cewek buaya darat”&lt;br /&gt;“Nuri, dengar dulu! Aku ga pernah bermaksud seperti itu! Aku memang salah telah membohongi Geral. Tapi itu semua kulakukan semata-mata karena aku tidak ingin terus seperti ini. Aku ingin ada seorang pria yang benar-benar mencintaiku dan membuatku berubah menjadi gadis biasa yang tidak lagi disebut sebagai gadis murahan, gadis pemikat, pemakai susuk dan sebagainya. Karena itu aku menerima Geral saat untuk ke 3 kalinya ia mengungkapkan kata yang sama. Aku pikir dia serius menyayangiku. Tapi ternyata enggak. Geral sama seperti pria-pria yang selama ini menggodaku. Dia hanya memandangku dari fisik bukan hati. Dan aku tidak pernah merasa nyaman bersamanya. Aku hanya berusaha bersikap romantis, tapi sebenarnya semua itu hanya kebohongan. Kebohongan yang aku tata dengan rapi sehingga terlihat begitu manis. Hingga waktunya tiba untuk mengungkapkan semua kebohongan itu”&lt;br /&gt;“Karena alasan itu kamu menduakannya?!”&lt;br /&gt;Aku menundukkan kepalaku, sedikit terpukul dengan kata-kata yang diucapkannya. Aku tidak pernah sekalipun berniat untuk menduakannya. Tapi keadaan memaksaku melakukan kejahatan ini.&lt;br /&gt;“Aku tunggu di tepi Anyer malam ini! Karena kamu sahabatku, aku ingin kamu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan selama ini. Perasaan yang dirasakan hati kecilku selama aku menjadi seorang Devi yang selalu memikat semua pria dengan senyuman nakalnya”&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;Saat pembicaraan dengan Nuri pagi tadi, tanpa sadar aku telah menetapkan ending yang harus aku jalani. Yah, Anyer adalah setting tempat yang aku pilih untuk satu babak terakhir dari sandiwara ini. Bukankah tempat itu indah. Maka endingnya pun akan terlihat sangat indah.&lt;br /&gt;“Aku tunggu di tepi Anyer malam ini!”&lt;br /&gt;Pesan singkat lewat sms aku kirimkan ke nomor milik Geral. Satu kalimat itu sudah cukup menegaskan suatu perintah, bukan sekedar permohonan. Dan aku yakin dia pasti datang dan juga Nuri tidak akan menolak perintah itu.&lt;br /&gt;Hari itu masih cukup siang. Tapi aku mulai bersiap-siap untuk berangkat ke panggung sandiwaraku.&lt;br /&gt;Yup! Aku kan tokoh paling penting. Aku juga bertindak sebagai sutradara. Jadi aku harus datang paling awal untuk mempelajari kondisi panggung sekaligus beradaptasi agar adegan yang akan aku lakonkan nanti. Supaya benar-benar sesuai dengan apa yang aku inginkan.&lt;br /&gt;Ah, mungkin penjelasan ini agak sulit dimengerti. Intinya, aku ingin datang lebih dahulu ke tempat indah itu untuk memikirkan masak-masak apa yang akan aku katakan pada mereka. Sekaligus aku ingin menikmati pemandangan pantai dan merasakan sejuknya udara Anyer agar kepenatan ini sedikit berkurang.&lt;br /&gt;Okey! Semangat Devi!&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;Matahari hampir tenggelam saat aku sampai ke tepi pantai Anyer. Satu-satunya yang aku cari setiap kali aku datang ke tempat ini, ya hanya cahaya yang satu itu.&lt;br /&gt;Cahaya redup berwarna oranye berpadu dengan biru pekat air laut, dengan latar belakang langit kelabu yang berhiaskan beberapa bintang senja. Indah. Ciptaan Tuhan yang luar biasa hebatnya. Rasanya tak ingin waktu cepat berlalu. Ingin mengabadikan keindahan itu.&lt;br /&gt;Tapi dalam hitungan menit yang singkat, langit kelabu pun berubah gelap. Rembulan perlahan meninggi dan bintang-bintang terus bertambah. Menjadi kilauan cahaya yang memantul di lautan. Hembusan angin terasa semakin kuat, mendorong ombak semakin mendekati telapak kakiku yang telanjang.&lt;br /&gt;Menguatkan rasa dalam diriku. Dingin. Sepi. Dan semakin ingin lari. Lari dari kenyataan yang sebentar lagi akan mengakhiri sandiwara ini.&lt;br /&gt;Aku menutup kedua belah mataku. Menghirup segarnya udara pantai. Mencoba kembali menenangkan pikiran yang mulai mengeluh tak mampu. Kutatap satu per satu bintang di langit malam. Kunikmati deburan ombak yang berpadu dengan hembusan angin yang terdengar mendayukan irama alam nan lembut.&lt;br /&gt;“Kalau seperti ini rasanya aku ingin meninggalkan Jakarta dan mencari rumah tinggal untuk menetap di Anyer” gumamku pelan.&lt;br /&gt;“Aku juga mau!”       &lt;br /&gt;“Nuri…”&lt;br /&gt;“Kenapa harus di tepi Anyer?”&lt;br /&gt;“Karena… aku pertama kali bertemu dengannya disini. Saat LDO Fakultas. Tapi aku tak pernah tahu namanya. Yang aku tahu dia orang Kepresidenan Mahasiswa di kampus kita. Wajahnya tampan namun terlihat begitu lembut dan senyumannya sangat tulus”&lt;br /&gt;(LDO=Latihan Dasar Organisasi)&lt;br /&gt;“Yah, kamu pernah menyebutnya dalam daftar pria yang menurutmu tampan dan perlu di dekati. Kamu bahkan bertanya namanya padaku. Lalu apa bedanya?! Dia sama seperti Geral. Kamu sama menyukainya seperti rasa sukamu pada Geral. Kamu hanya menyukai ketampanannya!”&lt;br /&gt;“Tidak! Kamu salah! Awalnya aku memang memperlakukannya sama seperti pria-pria tampan yang lain. Aku hanya memuja keindahan wajahnya. Tapi waktu itu aku mulai memperhatikannya ketika aku menyaksikan satu hal yang menurutku sangat ganjil dilakukan pria setampan dia. Aku melihatnya membersihkan lantai di salah satu ruangan kampus”&lt;br /&gt;“Dia membersihkan ruang Kepresidenan, aku pernah melihatnya sekali”&lt;br /&gt;“Yah, mulai saat itu entah kenapa aku terus memperhatikannya. Mataku tak pernah lepas untuk mencari sosoknya. Anehnya apa yang biasa kulakukan terhadap pria-pria tampan yang aku sukai, tidak bisa aku lakukan padanya. Aku tidak punya keberanian secuil pun untuk sekedar berkata ‘hai’ padanya. Aku ga tahu kenapa? Aku ga tahu! Hanya dia pria yang berhasil melumpuhkanku. Dia membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Seharusnya kamu melihat itu, Nuri. Karena kamu seringkali bersamaku. Seharusnya kamu mengerti apa yang aku rasakan. Aku…aku mencintainya…”&lt;br /&gt;“Devi… Kamu bilang apa?!”&lt;br /&gt;“Aku mencintainya, Nuri! Perasaan yang ada hanya karena dan untuknya! Bukan seperti yang kamu lihat selama ini menghiasi hidupku. Bukan kebohongan. Bukan kemunafikan. Hanya aku miliki disini!”&lt;br /&gt;Sambil menunjukkan jari ke dadaku, aku melangkah pelan mendekati Nuri.&lt;br /&gt;Kulihat Nuri tersenyum manis, seolah memberikan komentar yang menggembirakan. Airmatanya jatuh perlahan dan ia menghapusnya dengan telapak tangannya masih dengan disertai senyuman.&lt;br /&gt;“Haha, aku bego banget ya! Ternyata aku selama ini belum bertindak sebagai sahabatmu. Bahkan aku tidak tahu bahwa selama ini si gadis pemikat memendam perasaannya pada seorang pria!” ucapnya sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;Aku balas tertawa.&lt;br /&gt;“Yah, pada seorang Rivan!”&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt; “Rivan???” Geral yang saat itu sudah berdiri diantara kami terkejut mendengar nama yang keluar dari bibirku yang telah mengucap yakin.&lt;br /&gt;Kedatangan Nuri yang lebih dulu dari Geral membuatku lebih berani. Yah, cukup berani untuk menyakiti seorang Geral.&lt;br /&gt;“Yah, lengkapnya Rayn Rivanno, kelas sore, tingkat 4”&lt;br /&gt;“Jadi selama ini?!”&lt;br /&gt;Aku mendekati Geral. Sangat dekat. Serasa jiwa nakalku kembali saat melihat wajah tampannya yang cemas.&lt;br /&gt;“Kamu tampan Geral. Manis. Indah. Aku suka sama semua yang terlihat ‘Beauty’. Termasuk kamu. Makanya ketika aku merasa mustahil untuk memiliki Rivan dan mulai putus asa, akhirnya aku menerimamu. Cowok tampan yang menurutku ‘boleh juga’ sekedar untuk mengisi kekosongan. Saat aku mulai terbiasa dengan sandiwaraku bersamamu. Tiba-tiba Rivan datang padaku. Dan dengan caranya ia mengisi hari-hariku yang penuh kepalsuan. 3 bulan aku menduakanmu, dan sekarang waktunya aku bicara jujur. Aku hanya menginginkannya. Tidak yang lain! Jadi…”&lt;br /&gt;Geral menatapku tajam. Wajahnya terlihat sangat kesal. Pastinya dia sudah tahu kelanjutan kata-kataku. Tapi kenapa dia masih diam saja?! Apa masih perlu aku melanjutkan kata-kataku?! Huh…&lt;br /&gt;“Jadi, aku ingin mengakhiri sandiwara ini! Sekarang juga!”&lt;br /&gt;*  *  *&lt;br /&gt;“Gimana?! Sandiwaraku hebat kan?!” tanyaku sambil merangkul hangat tubuh jangkung Nuri.&lt;br /&gt;Kaki kami melangkah menyusuri tepi Anyer, setelah meninggalkan Geral dan kekesalannya di ujung pantai sana.&lt;br /&gt;“Jadi penjelasan yang kamu berikan pada Geral cuma sandiwara?!”&lt;br /&gt;“Huh, si eNeng lemot! Coba inget-inget, tadi siang aku bicara apa!”&lt;br /&gt;“Apa yah?! Ah, lupakan! Biarlah dia tertelan ombak dan menghilang bersama buih samudera” jawab Nuri tak mau pusing.&lt;br /&gt;“Hei, dia bukan putri duyung!”&lt;br /&gt;“Tapi bukankah dia patah hati seperti kisah putri duyung?!”&lt;br /&gt;“Uhmmm… Hahaha…” tawaku meledak seolah tanpa dosa.&lt;br /&gt;“Eittt…aku lupa belum menanyakan satu hal, hal yang penting banget”&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;“Bukankah pacarnya Rivan cewek judes yang namanya Asta?!”&lt;br /&gt;“Dulu. Sekarang Rivan pacarku! Cewek Rivan sekarang ya si manis Devi!”&lt;br /&gt;“Syukurlah! Aku kira sahabatku alih profesi sebagai gadis perusak hubungan sepasang kekasih!”&lt;br /&gt;“Sialan kamu! Aku ini perempuan baik-baik tauuu…”&lt;br /&gt;“Huuu… Dasar… Eh, ngomong-ngomong siapa yang nembak duluan? Rivan atau kamu?”&lt;br /&gt;“Udah aku bilang, aku mati kutu didepan dia. Emang dia yang tiba-tiba deketin aku. Aku sendiri malah bingung kenapa kisahku berbalik seperti ini. Aku pikir selamanya aku tidak akan mengenal Rivan lebih dari tatapan jarak jauh. Tapi ternyata sekarang…”&lt;br /&gt;Aku menatap langit. Bintang-bintang terasa semakin indah untuk dinikmati sinarnya. Seindah perasaanku hari ini.&lt;br /&gt;“Nur, ternyata selain cakep, keren, dia juga baik banget, baik banget… Oh, bagaikan seorang malaikat yang turun dari langit. Thanks to You God…”&lt;br /&gt;“Heh, udah deh… Lama-lama jijik tau ga liat muka kamu yang kayak gitu!”&lt;br /&gt;Aku tak memperdulikan protesan Nuri. Aku masih tersenyum bahagia sambil terus menatap keindahan langit dengan lekat.&lt;br /&gt;“Cukup Devi! Aku tinggal nih! Kamu bilang Rivan nunggu kamu di seberang jalan sana! Jalannya cepetan donk! Atau kamu mau membagi Rivan untukku?!”&lt;br /&gt;“Enak aja! Rivan hanya milikku!”&lt;br /&gt;Sekarang dan kuharap juga untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  *  *  The End  *  *  *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-267710137264401792?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/267710137264401792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=267710137264401792&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/267710137264401792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/267710137264401792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/aku-tunggu-di-tepi-anyer.html' title='Aku Tunggu Di Tepi Anyer!'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-5766958739147793575</id><published>2007-08-09T07:19:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T07:21:55.673-07:00</updated><title type='text'>MINAT BACA DI INDONESIA</title><content type='html'>MINAT BACA DI INDONESIA&lt;br /&gt;Oleh : redaksi Jendela&lt;br /&gt;Kurangnya kesadaran remaja di Indonesia akan pentingnya sebuah buku bukanlah faktor utama minat baca generasi muda kita rendah.&lt;br /&gt;Ada hal-hal lain yang sangat mempengaruhi minat baca remaja. Salah satunya koleksi buku-buku di perpustakaan sekolah yang kurang up to date. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman pengelola pendidikan akan arti penting dari sebuah perpustakaan.&lt;br /&gt;Tak heran, ketika siswa datang ke perpustakaan untuk mencari buku terkadang mendapat jawaban, “Maaf, buku yang anda cari tidak ada”.&lt;br /&gt;Tak perlu susah-susah untuk menebak imej perpustakaan dlaam benak umumunya orang Indonesia. Yang terbayangkan adalah kesan sumpek, tidak terawat, sepi, dan membosankan..&lt;br /&gt;Sudah begitu, imej perpustakaan kian buruk karena pelayanan yang tidak professional disebabkan untuk pengelolaannya diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya.&lt;br /&gt;Disamping itu, kurangnya produktivitas penulis untuk membuat buku. Bayangkan saja, seorang penulis di Indonesia dalam  setahun paling-paling hanya mampu menerbitkan karyanya sekitar 1 – 3 judul.&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan, pertama, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan  di luar menulis. Kita cukup tahu, di Indonesia, pekerjaan menulis masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan dan belum bisa menjamin hidup seseorang secara ekonomi. Sebab, belum tentu bukunya laku. Dari setiap eksemplar buku yang terjual, penulis hanya mendapat 10 persen saja. Itu pun kalau penerbitnya jujur dan memenuhi hak penulis.&lt;br /&gt;Kedua, minimnya kemampuan penerbit. Sudah menjadi rahasia umum bahwa penerbit di Indonesia selalu terbentur dengan masalah ongkos produksi yang sangat besar, seperti harga kertas dan tinta yang kian menggila, media promosi yang cukup besar, hingga bayar  honor penulis,  editor, layout, dan pajak. Sedangkan, jika mereka  mematok      &lt;br /&gt;harga tinggi akan  mem-        persulit masyarakat untuk mendapatkan buku. Dikarenakan kondisi ekonomi masyarakat yang masih belum stabil benar sejak krisis ekonomi melanda Indonesia sembilan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, untuk meningkatkan minat baca di Indonesia, harus ada komitmen dari seluruh pihak.&lt;br /&gt;Pertama, pengelola pendidikan harus meng- up to date buku-buku di perpustakaan, membuat nyaman pengujung, dan mengisi dengan orang-orang yang mengerti bagaimana cara mengelola perpustakaan dengan benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-5766958739147793575?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/5766958739147793575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=5766958739147793575&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5766958739147793575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5766958739147793575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/minat-baca-di-indonesia.html' title='MINAT BACA DI INDONESIA'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-8501067563529929438</id><published>2007-08-09T07:17:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T07:19:18.278-07:00</updated><title type='text'>Hurt In My Heart</title><content type='html'>Hurt In My Heart&lt;br /&gt;Oleh : Ressa Novita&lt;br /&gt;Hati ini gelap, aku seolah mencinta, tanpa pernah belajar mencinta. Sebenarnya apa yang aku inginkan?! Kasih sayang? Cinta? Bukan! Yang aku ingin hanya kepuasan batinku. Bayang-bayang semu yang aku anggap nyata dibalik sosoknya.&lt;br /&gt;Hebatnya aku! 5 tahun berlalu dan wajah ini hanya milik seorang actor professional. Kebohongan menjadi penopang utamaku dalam menjalani sandiwara hidup ini. Tapi, apakah panggung kebahagiaan ini dapat kupertahankan untuk selamanya?!&lt;br /&gt;“Alena, maukah kamu menikah dengan ku?”&lt;br /&gt;Ketika apa yang ada didepan mata, adalah kesungguhan. Ketika sang actor lainnya bermain tanpa seolah bermain. Ketika semua actor selain aku menghidupi panggung ini dengan kejujuran dan ketulusan hati.&lt;br /&gt;“Aku…”&lt;br /&gt;Pantaskah aku terus bermanis dengan dusta. Menyakiti hatinya. Lagi dan lagi.&lt;br /&gt;“Alena…”&lt;br /&gt;Geon mengeluarkan kotak kecil cantik berwarna merah dari saku jaketnya. Dan aku dapat menebak apa isinya. Tapi Geon, apa pantas aku menerimanya? Padahal aku belum sedikitpun menerima hatimu dengan ketulusan. Selama ini aku hanya berdusta. Berdusta pada diriku sendiri, padamu, Rena dan pada semua orang. Tidak, aku tidak bisa menerimanya. Tapi bagaimana aku menolaknya?!&lt;br /&gt;Geon hendak membuka kotak kecil itu untuk menunjukan isinya.&lt;br /&gt;“Uhm, Geon… Aku belum siap!” jawabku segera, sambil meraih tangannya yang hampir saja membuka kotak itu.&lt;br /&gt;Mendengar jawabanku yang mungkin sedikit membingungkan untuknya, ia memasukkan kembali kotak kecil itu ke saku jaketnya. Wajahnya berubah sendu. Seolah baru saja kehilangan semangat hidup yang semula tak pernah lepas dari raut wajahnya yang tampan itu.&lt;br /&gt;“Maafkan aku Geon, tapi aku belum siap!” ucapku sekali lagi.&lt;br /&gt;Geon tersenyum lembut setelah mencerna kata-kataku dengan lebih bijaksana. Kesenduannya pun hilang seketika. Kembali menjadi Geon yang aku kenal.&lt;br /&gt;“Tak apa, sayang! Asalkan kamu tidak memintaku pergi dari sisimu. Coz, I love you!”&lt;br /&gt;Geon mengecup keningku dengan lembut. Kecupan yang hanya dapat kubalas dengan satu senyuman tanpa rasa.&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;“Apa? Geon melamarmu?! Bagus donk kalo gitu! Selamat ya!”&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepalaku tanda tak setuju dengan pendapat yang baru saja dilontarkan Rena. Uluran tangannya untuk menyelamati ku tidak kuraih. Yah, pikirku untuk apa kata selamat. Ini bukan sesuatu yang pantas dirayakan. Karena ini luka baru untukku.&lt;br /&gt;“Maaf, Rena! Tapi aku menolak lamarannya!” ucapku pelan.&lt;br /&gt;“Apa?!”&lt;br /&gt;Keterkejutan Rena membuatku sepuluh kali lebih terkejut. Jantungku hampir saja terpisah dari tubuhku. Memang Rena pantas terkejut dan dia pantas marah jika ia tahu alasan apa yang membuatku menolak lamaran seorang pria yang selama ini semua orang tahu sangat aku cintai melebihi apapun.&lt;br /&gt;“Alena! Jadi tebakanku selama ini benar?! Kamu mengejarnya, kamu membuatnya mencintaimu, kamu menerima cintanya, dan menjalani hubungan selama 5 tahun, hanya untuk menutupi luka dihatimu. Menggantikan Rion mengisi hari-harimu. Berkhayal kalo kamu ada disamping Rion, dan kamu akan terus disamping Rion. Benar kan?!”&lt;br /&gt;Aku mengangguk pelan mengiyakan kata-kata yang tanpa disangka keluar begitu saja dari mulut Rena. Padahal aku baru saja ingin mengakui semua itu, tapi ternyata ia sudah tahu, bahkan ia lebih tahu.&lt;br /&gt;“Braakkk!!!”&lt;br /&gt;Meja kayu tempatku menyanggahkan kedua tanganku bergetar bersamaan dengan tangan Rena yang dibenturkan sangat keras ke muka meja.&lt;br /&gt;“Rion sudah mati! Dan luka di hati kamu tak akan pernah terhapus selama kamu belum menghapus kemelekatan kamu terhadap Rion. Lupakan Rion! Sejak dulu aku sudah bilang, lupakan Rion! Kamu memang cinta mati sama dia, tapi bukan berarti saat Rion mati kamu menganggap semua pria itu Rion. Karena Rion tidak bisa disamakan dengan pria manapun. Rion hanya satu Rion. Dan dia tidak akan kembali apapun yang kamu lakukan, dia tidak akan kembali. Dia sudah mati!”&lt;br /&gt;“Cukup! Rion ga pernah mati! Aku percaya kalo dia sudah mati! Tapi dia masih hidup! Dan dia sekarang hidup dalam diri Geon!”&lt;br /&gt;“Rion sudah mati, Alena! Dan tidak ada Rion di dalam diri Geon! Hentikan khayalan kamu! Kamu hidup di dunia nyata! Saat ini yang kamu miliki adalah Geon, yang ada di sisi kamu adalah Geon, yang paling mencintai kamu adalah Geon, dan yang kamu butuhkan adalah Geon. Bukan Rion, atau pria manapun yang seharusnya sudah terkubur dalam-dalam di masalalu mu!”&lt;br /&gt;Aku menangis, airmataku berjatuhan dengan sangat deras saat mendengar semua yang diucapkan Rena padaku. Semua tanpa satupun kesalahan.&lt;br /&gt;“Selama ini aku sudah menyadari kebohonganmu pada Geon, sejak kamu berusaha menemuinya padahal dulu kamu sama sekali tidak mengenalnya. Aku tahu ini semua salahku. Aku yang salah pernah mengatakan kalau mata Geon murip dengan mata Rion. Aku yang salah. Tapi aku mohon, Al! Hentikan! Kamu hanya memperparah luka di hatimu! Kamu juga akan membuat luka di hati Geon! Di hatiku, juga di hati Rion yang mengawasimu dari alam sana. Kamu melukai dirimu dan semua orang! Karena itu hentikan! Aku mohon!”&lt;br /&gt;Aku mengangguk tanda setuju. Dibalas senyuman dan pelukan hangat dari Rena, sahabatku.&lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;“Al, selama 3 hari aku akan pergi ke Singapore! Aku harus…”&lt;br /&gt;“Ga boleh!” perintah tegas itu tiba-tiba terlontar dari mulutku.&lt;br /&gt;Geon ga boleh pergi ke tempat itu. Pikiran melayang ke masa lalu. Ketika Rion berpamitan untuk pergi ke Singapure untuk menjenguk kerabatnya yang sedang sakit parah selama 3 hari.&lt;br /&gt;“3 hari lagi aku kembali ke Jakarta, aku tunggu kamu di bukit jam 7 malam. Aku ada sesuatu buat kamu”&lt;br /&gt;Dan Rion pergi tanpa sedikitpun usahaku untuk menahannya. Dan dia…&lt;br /&gt;“Al, aku harus…”&lt;br /&gt;“Kamu ga boleh pergi ke Singapore!”&lt;br /&gt;“Kamu ini kenapa sih?!”&lt;br /&gt;3 hari kemudian aku menerima sms dari Rion. Yang isinya mengulangi permintaannya sebelum ia berangkat. Ia ingin aku menemuinya di bukit jam 7 malam. Tanpa firasat apapun aku memenuhi keinginannya. Tapi yang aku temui di bukit itu bukan Rion.&lt;br /&gt;“Ri…Rion…”&lt;br /&gt;Terkejut. Aku melihat sebidang tanah dengan nisan marmer bertuliskan nama Rion dipermukaannya. Diatasnya berserakan kelopak-kelopak bunga yang masih segar.&lt;br /&gt;“Haha…Jangan becanda deh! Ga lucu tau! Rion cepet keluar!”&lt;br /&gt;Akupun yakin dia pasti sedang bersembunyi dan mengawasiku dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dia pasti menungguku menangisi makam palsu yang dibuatnya.&lt;br /&gt;“Rion! Udah deh! Cepet keluar! Kalo ga aku pulang nih!”&lt;br /&gt;Tapi dia tetap tidak muncul.&lt;br /&gt;“Alena, maafkan aku!”&lt;br /&gt;Suara Rion.&lt;br /&gt;“Rion, ayo keluar! Jangan permainkan aku lagi!”&lt;br /&gt;“Alena…”&lt;br /&gt;Suara itu terdengar semakin pelan. Dan terus terdengar sayup-sayup lalu hilang tertelan hembusan angin..&lt;br /&gt;Aku mulai berpikiran jelek. Aku kembali menatap batu nisan itu dengan teliti untuk menghilangkan keraguanku.aku meraba setiap ukiran huruf yang menghiasi nisan itu. Nama, tanggal lahir, tanggal kematian,dan…&lt;br /&gt;“Sebuah cincin?!”&lt;br /&gt;Cincin cantik aku temukan tergantung di sebuah paku yang menancap diantara huruf-huruf di nisan itu.&lt;br /&gt;“Jadi ini yang ingin kamu tunjukan?! Baiklah, sekarang keluar! Aku sudah menemukan hadiahmu! Rion…”&lt;br /&gt;Ga! Aku ga bisa bersabar lagi! Dia keterlaluan!&lt;br /&gt;“Cukup! Cukup Rion! Keluar!!! Jangan membuatku takut!!! Rion keluar!!! Aku ingin memelukmu… Aku ingin kamu memasangkan cincin ini di jariku…”&lt;br /&gt;Aku menangis tiba-tiba. Entah atas dasar apa. Aku hanya ingin melihat wajahnya yang muncul dan mentertawaiku. Tak apa! Aku hanya ingin melihatnya.&lt;br /&gt;“Maaf, Alena…”&lt;br /&gt;“Rion…”&lt;br /&gt;Aku menoleh keasal suara dan mendapati sosok pria yang menyerupai Rion.&lt;br /&gt;“Rion…”&lt;br /&gt;“Alena, ini aku Dion. Kakak Rion! Maaf aku terlambat!”&lt;br /&gt;“Kak Dion! Rion mana?!”&lt;br /&gt;“Itu, yang kamu pegang”&lt;br /&gt;Aku menatap nisan yang tanpa sadar masih terus kulekatkan dengan telapak tanganku.&lt;br /&gt;“Hah, kak Dion! Jangan becanda deh! Mana Rion?!”&lt;br /&gt;“Alena…”&lt;br /&gt;Aku melihat airmata berjatuhan dari kelopak mata Dion. Bibirnya terlihat kelu untuk melanjutkan kata-katanya.&lt;br /&gt;“Kak Dion jangan becanda! Rion ga mungkin… Ga mungkin… Dia janji ga akan ninggalin aku… Ga mungkin…”&lt;br /&gt;“Saat mobil kami melewati pertokoan, Rion melihat sebuah boneka tedy bear berukuran sangat besar terpajang di etalase toko. Dia bilang kamu sangat menginginkan boneka seperti itu. Lalu dia menghentikan mobil yang dikendarainya dan berlari menyebrangi jalan menuju toko itu. Ia membeli boneka itu, tapi saat ia kembali menyabrangi jalan, ia lengah. Sebuah taksi menabraknya dengan kencang. Dan dia…”&lt;br /&gt;“Rion meninggal di Singapore… Karena itu kamu jangan pergi, kamu ga boleh pergi!”&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku sudah memeluk Geon dengan sangat erat dan menangis di pangkuannya. “Siapa Rion?!”&lt;br /&gt;Pertanyaan itu tiba-tiba membuatku terhentak. Geon bertanya siapa Rion. Apa yang harus aku katakan padanya tentang Rion.&lt;br /&gt;“Alena, siapa Rion?!” ulangnya.   &lt;br /&gt;*   *   *&lt;br /&gt;Akupun menceritakan semuanya. Yah, aku tidak boleh melanjutkan kebohongan ini. Aku harus mengakhirinya.&lt;br /&gt;“Maaf, Geon! Selama ini aku sudah jahat sama kamu! Aku menyayangimu, tapi aku tidak pernah mencintaimu! Aku hanya memanfaatkan kemiripanmu untuk menutupi kesedihanku yang telah kehilangan dia, orang yang aku cintai. Dan aku sadar, kamu tidak bisa selamanya hidup dengan kebohongan, kepura-puraan. Aku harus mengakhiri semuanya!”&lt;br /&gt;“Al…”&lt;br /&gt;“Kamu boleh marah! Kamu boleh benci! Kamu boleh memukulku! Tapi maaf kan aku! Aku sudah banyak melukai hatimu! Aku jahat! Aku egois!”&lt;br /&gt;“Tapi kebohongan itu manis, sayang! Dan aku bahagia! Selama ini kamu bersandiwara sebagai orang yang paling mencintaiku, walaupun hanya sandiwara, tapi aku bahagia. Aku sedih! Tapi aku ga akan marah, ga akan membencimu. Apapun kenyataannya. Kebohongan, kepura-puraan, apapun yang kamu berikan. Aku senang. Karena di dalam sini hanya ada satu perasaan. Cinta yang tak akan pernah hilang”&lt;br /&gt;Baiknya pria ini, kenapa selama ini aku tidak pernah menyadari ketulusannya? Kenapa selama ini aku tidak pernah benar-benar mengenali dia yang sesungguhnya? Dan kenapa aku tega melukainya?&lt;br /&gt;Aku menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Aku menangis dibahunya. Aku menyesal telah melakukan semua ini padanya. Aku menyesal tidak pernah menghargai perasaannya. Aku menyesal telah tidak pernah tersenyum tulus padanya. Aku menyesal tidak pernah mencintainya. Aku menyesal telah menyimpan bayang-bayang Rion dibalik sosoknya. Dan ribuan penyesalan yang tak akan pernah terhapuskan dengan satu kata maaf.&lt;br /&gt;“Lagi pula, tadi kamu melarangku pergi karena teringat masa lalumu dengan Rion. Aku percaya, itu tandanya kamu menyayangiku sama seperti kamu menyayangi Rion. Iya kan?!”&lt;br /&gt;Aku membenarkan kata-kata Geon didalam hati. Dia benar, aku mulai menyayanginya. Dan aku ga ingin kehilangan dia seperti dulu aku kehilangan Rion.&lt;br /&gt;“Jangan tinggalkan aku, Alena! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Aku benar-benar mencintaimu!”&lt;br /&gt;“Aku ga pernah bilang ingin meninggalkanmu kan?”&lt;br /&gt;Geon memelukku lebih erat saat mendengar jawabanku.&lt;br /&gt;“Terima kasih, sayang!”&lt;br /&gt;“Tapi, biarkan aku mengulanginya dari awal! Dari toko buku Fraza”&lt;br /&gt;“Apa?!”&lt;br /&gt; “Aku bersedia menikah denganmu!”&lt;br /&gt;“Benarkah?!”&lt;br /&gt;Geon hampir melompat dari tempatnya duduk manis.&lt;br /&gt;“Yup, jika kamu bersedia memulainya dari awal pertama kali kita bertemu”&lt;br /&gt;Karena saat itu aku akan menyapamu tidak sebagai Rion atau siapapun. Tapi akan ku sapa dirimu sebagai malaikat yang akan menyembuhkan luka di hati ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** TamaT***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-8501067563529929438?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/8501067563529929438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=8501067563529929438&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8501067563529929438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8501067563529929438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/hurt-in-my-heart.html' title='Hurt In My Heart'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-2278071686641826142</id><published>2007-08-09T07:14:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T07:17:50.077-07:00</updated><title type='text'>HIV/AIDS, I HATE YOU!</title><content type='html'>HIV/AIDS, I HATE YOU!&lt;br /&gt;Oleh    : RACHMAT NUGRAHA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudhis Nataadmaja. Aku biasa memanggilnya Adis. Dia sahabatku. Anaknya tinggi, putih, dan memiliki potongan rambut ala To Ming Se, tokoh utama dalam film seri Meteor Garden. Diantara kami berdua, dialah yang selalu paling modis penampilannya.  Maklum, dia selalu mengikuti trend dibanding aku. Segala model terbaru, pasti diikutinya. Dari model rambut, baju, sampai gaya omongan terbaru. Sedang aku, tak begitu berminat dengan yang namanya trend. Bahkan, dalam penampilan pun aku selalu seenaknya. Yang menurutku itu bagus, itulah yang kupakai. Sedang aku, adalah wanita yang tidak pernah sedikitpun menampakan sisi kewanitaanku. Itulah sebabnya, banyak teman-teman kuliahku sesama wanita yang agak enggan berteman baik denganku. Padahal, aku sudah memproklamirkan diriku sebagai wanita yang tidak menyukai sesama jenis. Tapi, rupanya mereka kadung (terlanjur) tidak percaya.&lt;br /&gt;Ohya, namaku sendiri Citra. Lengkapnya Lia Triani Citrasari. Aku kuliah di jurusan vokal Sekolah Tinggi Musik Tatar Sunda, di Bandung. Sedang Yudhis, begitu lulus SMU dia lebih memilih kuliah di jurusan teknik sipil Universitas Mangkunegara yang letaknya sekitar 10 kilometer dari kampus tempatku menuntut ilmu.&lt;br /&gt;Aku dan Yudhis sudah bersahabat sejak kami sama-sama masih duduk di kelas 1 (berdasarkan pembagian tingkatan kelas sebelum berlakunya KBK) di SMU Harapan Bangsa, di daerah Ledeng, Bandung. Dan kami tak pernah sedikitpun ada niat untuk mengakhiri persahabatan kami. Cause friendship is never die, Right!. Setidaknya itulah yang selalu kami kumandangkan, sebelum Tuhan mengambil Yudhis dari sisiku.&lt;br /&gt;Ya, Yudhis sudah tiada. Dia meninggal seminggu yang lalu di rumah sakit Kurnia karena penyakit HIV/AIDS yang dideritanya sejak kuliahnya baru menginjak semester pertama. tepatnya empat tahun silam.  Semua itu gara-gara pergaulannya yang salah. dan itu bermula dari perceraian kedua orang tuanya. Sering aku mencoba menasihatinya. Tapi, pergaulannya sepertinya telah menutupi akal sehatnya sehingga sulit untuk mendengar nasihaku. Ohhh… I hate AIDS!. mengingat itu aku kembali larut dalam kesedihan. Tanpa terasa aku terhanyut dalam kenangan masa lalu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Waktu itu, sabtu sore. lima tahun lalu.&lt;br /&gt;Aku asyik membaca majalah remaja sambil menikmati jus alpukat yang kubuat sendiri di teras rumah. Yudhis datang dan langsung menjatuhkan pantatnya disampingku.&lt;br /&gt;“Aduh, kamu Dis! Ngagetin aja” Aku memasang muka masam.&lt;br /&gt;Tapi, Yudhis diam saja. Wajahnya memancarkan kesedihan.&lt;br /&gt;“Kamu kenapa, Dis?”&lt;br /&gt;Yudhis tidak menjawab. Ia menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam. Baru kali itu aku melihatnya merokok. Biasanya dia tidak pernah sedikitpun menyentuh racun itu.&lt;br /&gt;“Ada masalah?”&lt;br /&gt;Yudhis menghela napas panjang. “He-em”&lt;br /&gt;“Orang tua kamu?”&lt;br /&gt;Yudhis mengangguk. “Mereka mau cerai, Cit”&lt;br /&gt;“Apa?” Mataku langsung terbelalak. “Kenapa?”&lt;br /&gt;“My father! He had a another woman!”&lt;br /&gt;“Your kidding, right?”&lt;br /&gt;“No! I’m seriously”&lt;br /&gt;Kepadaku, Yudhis lalu menceritakan semuanya. Sesekali, dia berhenti sejenak. Menghisap rokok yang terselip di jarinya. Guratan wajahnya menunjukkan kesedihan. Kurasakan ada luka yang mendalam di hatinya.&lt;br /&gt;“Yang tabah ya, Dis” Hanya itu yang mampu keluar dari mulutku.&lt;br /&gt;Aku sendiri tidak tahu harus berkomentar apa. Aku telah ikut terhanyut dalam kesedihannya.&lt;br /&gt;“Cit… rasanya aku udah enggak tahan dengan semua ini….. celana dalamku mana?”&lt;br /&gt;“Lho?” Aku kembali ke alam sadar dan mendapatkan Rani, adikku semata wayang  yang baru saja beranjak remaja sudah menampakkan raut wajah manja.&lt;br /&gt;            “Mana?”&lt;br /&gt;“Apaan?”&lt;br /&gt;“Celana dalamku yang ada gambar Winnie The Pooh-nya”&lt;br /&gt;“Mana kaka tau, cari aja di tempat gosokan sana! ganggu aja”&lt;br /&gt;“Huuuhhh….” Rani pergi dengan mulut manyun.&lt;br /&gt;Kulihat jam dinding sudah menunjukkan angka 11 malam. Karena takut kesiangan, akhirnya kuputuskan untuk beranjak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;            “CIT, AWAS!”&lt;br /&gt;            “BRUKK! ADUH!”&lt;br /&gt;            Aku jatuh tertelungkup diatas tubuh gempalnya Sifa. Dan Sifa tergencet antara aku dan sepedanya. Aku meringis menahan sakit. Dengkulku yang belum sembuh dari memar akibat main bola bersama anak-anak SD di lapangan seberang rumahku beradu dengan batang sepeda milik Sifa.&lt;br /&gt;            “Citra, kamu enggak apa-apa?” Rendy, teman kampusku datang menolong.&lt;br /&gt;            “Enggak… enggak apa-apa”&lt;br /&gt;            “Aku yang kenapa-napa!”&lt;br /&gt;            “Ya, ampun!” Aku langsung bangkit berdiri. Aku dan Rendy lalu membantu membangunkan sepeda. Upss, maksudku Sifa.&lt;br /&gt;            “Tega!”&lt;br /&gt;            “Sori Fa, keenakan”&lt;br /&gt;            Setelah memastikan bahwa tidak ada apa-apa dengan Sifa, terutama sepedanya,  aku dan Rendy kemudian beranjak menuju kelas yang berada di pojok belakang gedung untuk mengikuti praktek olah vokal. Sebuah ruangan yang sebenarnya tak pernah sedikitpun aku berminat memasukinya. Aku pernah mengajukan usulan perpindahan kelas pada Bu Necy Astrea, dosen olah vokalku. Tapi, beberapa kali ditolaknya dengan alasan diruangan kelas yang lain dia tidak dapat menyalurkan hasrat pipisnya yang menyerangnya setiap sepuluh menit sekali dengan cepat (seriously?). Karena hanya kelas itu yang memiliki jarak terdekat dengan WC. Dan bagiku, aroma WC itulah yang membuatku kehilangan selera untuk mengikuti kuliah.&lt;br /&gt;            Hari sudah semakin siang. Dosen belum juga datang. Sambil menunggu, kugunakan waktuku dengan mendengarkan musik dari MP3-ku. Aku terdiam. Lagu “Kisah Klasik”nya Sheila On 7 membuatku kembali teringat Yudhis. Lagu ini kesukaannya. Aku ingat benar, Yudhis sering menyanyikannya didepanku. Tak terasa aku larut dalam kenanganku bersama Yudhis….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;            Waktu itu, malam-malam. Yudhis datang ke rumahku dengan penampilan yang lebih rapih dari biasanya. Aku agak heran melihatnya. Karena malam itu, seharusnya dia berada di aula, sekolah kami. Ya, malam itu ada acara pesta sekolah. Aku sendiri tidak datang , karena acara tersebut mewajibkan seluruh siswa berpasangan. Jelas saja aku tidak bisa. Pacar saja aku tidak punya.&lt;br /&gt;            “Kamu enggak datang ke pesta sekolah?”&lt;br /&gt;            “Mau…. Aku mau datang kesana”&lt;br /&gt;            “Lho, terus kenapa kesini? Si Widi, mana?”&lt;br /&gt;            “Widi enggak bisa datang, nganter Ibunya ke Bogor” Yudhis lalu duduk dikursi. “Kamu ganti baju sana! kita pergi”&lt;br /&gt;            “Kemana?” Aku bingung.&lt;br /&gt;            “Ya, ke pesta sekolah dong, Non! Emangnya kemana lagi, udah sana cepetan”&lt;br /&gt;            Buru-buru aku berlari ke kamar dan mengganti pakaianku. Gaun hadiah dari Ayahku setahun yang lalu menjadi pilihanku malam itu. Dan ketika aku menemui Yudhis kembali, dia memandangku dengan terkesima.&lt;br /&gt;            “Kenapa?”&lt;br /&gt;            “Aku enggak nyangka, ternyata kamu cantik banget kalau dandan”&lt;br /&gt;            Itu adalah pujian pertama yang kudengar dari mulut Yudhis. Maklum, biasanya dia selalu mengejekku karena selalu berpakaian seenaknya dan tidak pernah dandan layaknya seorang wanita.&lt;br /&gt;            “Ya udah, ah! jalan yuk, ntar terlambat lagi” Ajakku.&lt;br /&gt;            Dengan mobil CR-V milik Yudhis, kami pun beranjak menuju sekolah. Malam itu, jalanan begitu sepi. Hujan yang mengguyur kota Bandung tadi sore membuat udara menjadi dingin, hingga orang-orang segan untuk keluar rumah. Yang ada hanyalah segelintir binatang malam yang dengan penuh semangat hidup mencari makan di keremangan malam.  Sambil terus menyetir, kulirik Yudhis sesekali menggerakkan bibirnya mengikuti alunan lagu “Kisah Klasik” milik Sheila On 7. Agak tersenyum geli aku memperhatikannya. Aku yakin, jika saja banyak orang yang mendengarkannya, maka setelah malam itu omset penjualan kaset Sheila On 7 akan mengalami penurunan yang drastis.&lt;br /&gt;            “Kenapa senyum-senyum?” Yudhis melirikku ketika mobil kami terhenti oleh lampu merah. “Kamu pasti mau ngeledek suaraku, ya?”&lt;br /&gt;            Aku menggeleng. Bohong. “Enggak… suara kamu bagus kok!”&lt;br /&gt;            “Makasih! Baru tau, ya?”&lt;br /&gt;            “Lebih bagus lagi kalau diam”&lt;br /&gt;            Sejam kemudian akhirnya kami tiba. Malam itu sekolah benar-benar ramai tak seperti biasanya. Suara alunan musik berdentum keras dari aula yang dirubah menjadi tempat pesta. Aku dan Yudhis bergegas turun dari mobil dan menuju aula sekolah.&lt;br /&gt;            Malam itu, kami benar-benar larut dalam meriahnya pesta. Kami seperti terbebas dari segala beban yang selalu menguntit kami selama 3 tahun kami belajar di sekolah. Maklum aja, malam itu adalah malam perpisahan kami dengan sekolah.&lt;br /&gt;            Lamunanku langsung buyar ketika Rendy menepuk pundakku memberitahukan kalau Bu Necy Astrea sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Jam 5 sore, aku tiba di rumah. Sepi. Tidak ada satupun orang di rumah. Di meja tamu kudapati secarik kertas berisikan pesan dari Ibu. Rupanya Ibu dan Rani pergi ke rumah Tante Yanti, teman Ibu semasa sekolah.&lt;br /&gt;Dengan langkah agak gontai, kumasuki kamarku. Kurasakan, letih dan penat setelah seharian bergelut dengan tiga mata kuliah terus menggelayuti tubuhku. Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Fiiuuuhh…..I’m very tired this day. Mataku begitu perih. &lt;br /&gt;Setelah istirahat sebentar, aku kemudian mandi dan ganti baju. Kemudian aku berjalan keluar kamar menuju teras rumah. Dan lagi-lagi aku teringat pada Yudhis. Entah kenapa sosoknya masih terus menggerayangi pikiranku. Sepertinya aku masih tidak dapat mempercayai kematiannya. Ingatanku pun kembali hari dimana Yudhis menghembuskan nafas terakhirnya dihadapanku.&lt;br /&gt;Waktu itu, mega terlihat mulai memerah menyambut datangnya malam ketika aku sampai di rumah sakit Kurnia. Dengan hati yang terus gelisah, aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panjang. Kabar yang kudengar dari orang tua Yudhis telah membuatku resah sejak perjalanan tadi.&lt;br /&gt;Setibanya di ruang ICU, aku menghentikan langkahku. Kulihat kedua orang tua Yudhis sedang berdiri dengan raut wajah yang sangat sedih di depan kaca yang memisahkan mereka dengan Yudhis yang tengah terbaring tak berdaya di dalam ruangan berukuran cukup besar, berdampingan pada sebuah kursi panjang di luar kamar rawat.&lt;br /&gt;            “Citra, kok malah bengong? Kesini!” Rupanya Orang tua Yudhis menyadari kedatanganku.&lt;br /&gt;Aku menurutinya. Dengan berat, kulangkahkan kakiku menghampiri kedua orang tua Yudhis. Setelah ngobrol sejenak, kami lantas masuk dalam ruangan dengan mengenakan masker dan jas demi menjaga ruangan tetap steril.  Dengan perlahan, kami menghampiri Yudhis yang masih terbaring tak berdaya. Sungguh memilukan. Tubuhnya yang dulu gemuk dan sehat kini berubah tinggal tulang berbalut kulit.&lt;br /&gt;“Yudhis, ini Citra datang!”&lt;br /&gt;Tapi Yudhis tidak menyahut. Jangankan menengok, membuka mata saja tidak. Menyaksikan kondisi Yudhis yang memprihatinkan, aku tak mampu membendung air matanya. Aku pun menangis terisak. Tak kuasa diriku menahan pilu.&lt;br /&gt;Suasana malam itu berubah sunyi. Yang terdengar hanyalah isak tangisku dan orang tua Yudhis. Kami seperti tak percaya jika Yudhis menderita HIV/AIDS. Selama ini Yudhis terlihat sehat-sehat saja di depan kami. Tidak ada hal yang ganjil pada diri Yudhis.&lt;br /&gt;Disaat aku terus menangis, tiba-tiba saja jemari Yudhis bergerak. Matanya perlahan membuka. Lalu melirik ke arahku. &lt;br /&gt;            “Cit…Cit…Citra,” Suara Yudhis terbata-bata.&lt;br /&gt;            “Iya… iya, ini aku, Citra!”&lt;br /&gt;            “Ma… Ma…. Maafin aku ka… ka….karena enggak dengar nasihat kamu”&lt;br /&gt;            Aku mengangguk sambil terus terisak.&lt;br /&gt;            Setelah itu Yudhis kembali memejamkan matanya. Tapi, bukan tidur. Yudhis memejamkan mata untuk selamanya. Menyaksikan hal itu, aku semakin tidak mampu membendung air mataku. Begitu juga dengan kedua orang tua Yudhis. Mereka menangis begitu histeris. Sekejap ruangan itu berubah menjadi lautan air mata.&lt;br /&gt;            Aku benar-benar terpukul dengan kepergian Yudhis. Sejak itu, entah kenapa aku jadi begitu benci dengan yang namanya HIV/AIDS. Sejak itu pula aku jadi aktif di Stigma, sebuah lembaga yang sangat giat dalam memerangi HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-2278071686641826142?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/2278071686641826142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=2278071686641826142&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/2278071686641826142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/2278071686641826142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/hivaids-i-hate-you.html' title='HIV/AIDS, I HATE YOU!'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-8623050052672567068</id><published>2007-08-08T07:16:00.000-07:00</published><updated>2007-08-08T07:24:34.356-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#3333ff;"&gt;The funny feeling...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Hate this feeling...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;The funny feeling that just won't go away!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;It bothers me!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;It is annoying!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;But I feel kind of miss it sometimes...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Sometimes I want it to go away...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;But sometimes, no! I want it to stay here...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Then I beg you to stay here, please...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;by; &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:Y@nie"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;Y@nie&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Puisi ini mungkin lebih tepat ditujukan kepada yang sedang jatuh cinta... :)&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff99ff;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-8623050052672567068?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/8623050052672567068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=8623050052672567068&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8623050052672567068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/8623050052672567068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/08/funny-feeling.html' title=''/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-5581196677660508535</id><published>2007-07-31T21:28:00.000-07:00</published><updated>2007-07-31T21:29:24.509-07:00</updated><title type='text'>Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung</title><content type='html'>Senin, 2007 Juli 23&lt;br /&gt;&lt;a name="3757869521821923733"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lelakitulen.blogspot.com/2007/07/pernyataan-sikap-sastrawan-ode-kampung.html"&gt;PERNYATAAN SIKAP SASTRAWAN ODE KAMPUNG&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Sikap SastrawanOde KampungSerang, Banten, 20-22 Juli 2007:Kondisi Sastra Indonesia saat ini memperlihatkan gejala berlangsungnya dominasi sebuah komunitas dan azas yang dianutnya terhadap komunitas-komunitas sastra lainnya. Dominasi itu bahkan tampil dalam bentuknya yang paling arogan, yaitu merasa berhak merumuskan dan memetakan perkembangan sastra menurut standar estetika dan ideologi yang dianutnya. Kondisi ini jelas meresahkan komunitas-komunitas sastra yang ada di Indonesia karena kontraproduktif dan destruktif bagi perkembangan sastra Indonesia yang sehat, setara, dan bermartabat.Dalam menyikapi kondisi ini, kami sastrawan dan penggiat komunitas-komunitas sastra memaklumatkan Pernyataan Sikap sebagai berikut:1. Menolak arogansi dan dominasi sebuah komunitas atas komunitas lainnya.2. Menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika.3. Menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.Bagi kami sastra adalah ekspresi seni yang merefleksikan keindonesiaan kebudayaan kita di mana moralitas merupakan salah satu pilar utamanya. Terkait dengan itu sudah tentu sastrawan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat (pembaca). Oleh karena itu kami menentang sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupun kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat, misalnya tragedi lumpur gas Lapindo di Sidoarjo. Kami juga mengecam keras sastrawan yang nyata-nyata tidak mempedulikan musibah-musibah tersebut, bahkan berafiliasi dengan pengusaha yang mengakibatkan musibah tersebut.Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat sebagai pendirian kami terhadap kondisi sastra Indonesia saat ini, sekaligus solidaritas terhadap korban-korban musibah kejahatan kapitalisme di seluruh Indonesia.Kami yang menyuarakan dan mendukung pernyataan ini:01. Wowok Hesti Prabowo (Tangerang)02. Saut Situmorang (Yogyakarta)03. Kusprihyanto Namma (Ngawi)04. Wan Anwar (Serang)05. Hasan Bisri BFC (Bekasi)06. Ahmadun Y. Herfanda (Jakarta)07. Helvy Tiana Rosa (Jakarta)08. Viddy AD Daeri (Lamongan)09. Yanusa Nugroho (Ciputat)10. Raudal Tanjung Banua (Yogya)11. Gola Gong (Serang)12. Maman S. Mahayana (Jakarta)13. Diah Hadaning (Bogor)14. Jumari Hs (Kudus)15. Chavcay Saefullah (Lebak)16. Toto St. Radik (Serang)17. Ruby Ach. Baedhawy (Serang)18. Firman Venayaksa (Serang)19. Slamet Raharjo Rais (Jakarta)20. Arie MP.Tamba (Jakarta)21. Ahmad Nurullah (Jakarta)22. Bonnie Triyana (Jakarta)23. Dwi Fitria (Jakarta)24. Doddi Ahmad Fauzi (Jakarta)25. Mat Don (Bandung)26. Ahmad Supena (Pandeglang)27. Mahdi Duri (Tangerang)28. Bonari Nabonenar (Malang)29. Asma Nadia (Depok)30. Nur Wahida Idris (Yogyakarta)31. Y. Thendra BP (Yogyakarta)32. Damhuri Muhammad (Depok) 33. Katrin Bandell (Yogya)34. Din Sadja (Banda Aceh)35. Fahmi Faqih (Surabaya)36. Idris Pasaribu (Medan)37. Indriyan Koto (Medan)38. Muda Wijaya (Bali)39. Pranita Dewi (Bali)40. Sindu Putra (Lombok)41. Suharyoto Sastrosuwignyo (Riau)42. Asep Semboja (Depok)43. M. Arman AZ (Lampung)44. Bilven Ultimus (Bandung)45. Pramita Gayatri (Serang)46. Ayuni Hasna (Bandung)47. Sri Alhidayati (Bandung)48. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)49. Riksariote M. Padl (bandung)50. Solmah (Bekasi)51. Herti (Bekasi)52. Hayyu (Bekasi)53. Endah Hamasah (Thullabi)54. Nabila (DKI)55. Manik Susanti56. Nurfahmi Taufik el-Sha’b57. Benny Rhamdani (Bandung)58. Selvy (Bandung)59. Azura Dayana (Palembang)60. Dani Ardiansyah (Bogor)61. Uryati zulkifli (DKI)62. Ervan ( DKI)63. Andi Tenri Dala (DKI)64. Azimah Rahayu (DKI)65. Habiburrahman el-Shirazy66. Elili al-Maliky67. Wahyu Heriyadi68. Lusiana Monohevita69. Asma Sembiring (Bogor)70. Yeli Sarvina (Bogor)71. Dwi Ferriyati (Bekasi)72. Hayyu Alynda (Bekasi)73. herti Windya (Bekasi)74. Nadiah Abidin (Bekasi)75. Ima Akip (Bekasi)76. Lina M (Ciputat)77. Murni (Ciputat)78. Giyanto Subagio (Jakarta)79. Santo (Cilegon)80. Meiliana (DKI)81. Ambhita Dhyaningrum (Solo)82. Lia Oktavia (DKI)83. Endah (Bandung)84. Ahmad Lamuna (DKI)85. Billy Antoro (DKI)86. Wildan Nugraha (DKI)87. M. Rhadyal Wilson (Bukitingi)88. Asril Novian Alifi (Surabaya)89. Jairi Irawan ( Surabaya)90. Langlang Randhawa (Serang)91. Muhzen Den (Serang)92. Renhard Renn (Serang)93. Fikar W. Eda (Aceh)94. Acep Iwan Saidi (Bandung)95. Usman Didi Hamdani (Brebes)96. Diah S. (Tegal)97. Cunong Suraja (Bogor)98. Muhamad Husen (Jambi)99. Leonowen (Jakarta)100. Rahmat Ali (Jakarta)101. Makanudin RS (Bekasi)102. Ali Ibnu Anwar ( Jawa Timur)103. Syarif Hidayatullah (Depok)104. Moh Hamzah Arsa (Madura)105. Mita Indrawati (Padang)106. Suci Zwastydikaningtyas (Bandung)107. Sri al-Hidayati (Bandung)108. Nabilah (DKI)109. Siti Sarah (DKI)110. Rina Yulian (DKI)111. Lilyani Taurisia WM (DKI)112. Rina Prihatin (DKI)113. Dwi Hariyanto (Serang)114. Rachmat Nugraha (Jakarta)115. Ressa Novita (Jakarta)116. Sokat (DKI)117. Koko Nata Kusuma (DKI)118. Ali Muakhir (Bandung)119. M. Ifan Hidayatullah (Bandung)120. Denny Prabowo (Depok)121. Ratono Fadillah (Depok)122. Sulistami Prihandini (Depok)123. Nurhadiansyah (Depok)124. Trimanto (Depok)125. Birulaut (Pusat)126. Rahmadiyanti (Pusat)127. Riki Cahya (Jabar)128. Aswi (Bandung)129. Lian Kagura (Bandung)130. Duddy Fachruddin (Bandung)131. Alang Nemo (Bandung)132. Epri Tsaqib Adew Habtsa (Bandung)133. Tena Avragnai (Bandung)134. Gatot Aryo (Bogor)135. Andika (Jambi)136. Widzar al-Ghiffary (Bandung)137. Azizi Irawan Dwi Poetra (Serang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-5581196677660508535?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/5581196677660508535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=5581196677660508535&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5581196677660508535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/5581196677660508535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/07/pernyataan-sikap-sastrawan-ode-kampung.html' title='Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8975792237064888760.post-7146113399150824845</id><published>2007-07-31T21:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-31T21:28:15.473-07:00</updated><title type='text'>Buletin Jendela, sebuah kreatifitas anak muda dari Komunitas Penulis Jakarta</title><content type='html'>Jumat, 2007 Juli 13&lt;br /&gt;&lt;a name="5383378110860112060"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://lelakitulen.blogspot.com/2007/07/buletin-jendela-sebuah-kreatifitas-anak.html"&gt;Buletin Jendela, sebuah kreatifitas anak muda dari Komunitas Penulis Jakarta&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“JENDELA” memang beda . Kupasan atau isi buletin “JENDELA” selalu dalam lingkup sastra dan lebih banyak merupakan sarana untuk menampilkan karya-karya sastra berupa cerpen dan puisi.Tujuh Edisi buletin “JENDELA” sejak berdirinya pada tanggal 6 April 2007 lalu secara jelas menunjukkan hal itu. Kehadiran rubrik-rubrik seperti Focus-Line, Tips, Legenda, dan Lentera, memang pelengkap. Lihatlah karya-karya sastra yang mendominasi setiap halaman dari buletin “JENDELA”.Selain itu, buletin “JENDELA” yang dirintis oleh Rachmat Nugraha dan Ressa Novita semakin hari semakin tampil sempurna dari segi fisik (layout). Hal ini terbukti dengan meningkatnya oplah buletin “JENDELA” dan tak heran jika kemudian buletin “JENDELA” lambat laun menjadi buletin yang paling diminati dan ditunggu-tunggu kehadiran oleh anggota dan simpatisan Komunitas Penulis Jakarta sejak terbitannya pertama kali. Terbukti dengan adanya perubahan waktu penerbitan dari semula rencananya satu bulan sekali menjadi dua minggu sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;tawalangit.blogspot.com&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8975792237064888760-7146113399150824845?l=komunitaspenulisjakarta.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/feeds/7146113399150824845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8975792237064888760&amp;postID=7146113399150824845&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7146113399150824845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8975792237064888760/posts/default/7146113399150824845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://komunitaspenulisjakarta.blogspot.com/2007/07/buletin-jendela-sebuah-kreatifitas-anak.html' title='Buletin Jendela, sebuah kreatifitas anak muda dari Komunitas Penulis Jakarta'/><author><name>Komunitas Penulis Jakarta</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16602299653411387233</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
